Membuktikan Ketangguhan Oli Enduro di Barat Laut Pulau Jawa


Hari Sabtu pagi adalah hari yang cukup berat bagi saya untuk segera bangkit dari tempat tidur. Hal itu dikarenakan ada gaya tarikan kuat yang bernama “malas”. Ketika tersadar dari tidur, saya langsung teringat akan rencana hari ini untuk traveling ke Cilegon. Itulah yang menjadi pemicu saya untuk menghancurkan rasa malas tersebut. Segala bayangan yang indah akan segera hadir sepanjang perjalanan sampai ke destinasi tujuan.

Setelah menyiapkan sepeda motor dan perlengkapan keselamatan seperti helm, sepatu, sunglasses, sarung tangan, dan masker, saya bergegas untuk berangkat. Menurut perkiraan, waktu tempuh dari Lebak Bulus sampai Cilegon adalah sekitar 3 jam kalau lancar dan gak banyak berhenti. Jalur yang saya pilih adalah melalui Pamulang, BSD, hingga ke Jl. Raya Serang.


Sesaat setelah motor melaju, saya merasakan ada yang tidak beres dengan mesinnya. Suaranya agak kasar dan tarikannya jadi berat. Dari situ saya baru ingat kalau ini waktunya untuk GANTI OLI !

“Oh may gosh, apa yang saya lakukan ? Mau perjalanan jauh tapi belum ganti oli ?!” konyol sekali pikirku.

Di dunia otomotif, perkara ganti oli memang terkesan sepele, tapi dampaknya sangat besar bila diabaikan. Dulu saat tinggal di Jogja, saya pernah melakukan kesalahan tersebut. Saat waktunya ganti oli saya selalu berpikiran,

“Nanti dulu ahh”.

“Besok-besok aja deh kalo inget lagi”.


Yang terjadi kemudian adalah, knalpot saya jadi mesin fogging kelurahan. Sepanjang jalan yang saya lewati penuh dengan asap putih dari knalpot, sampai-sampai beberapa pengendara lain mengeluhkan masalah tersebut karena menyebabkan polusi udara. Setelah itu saya memeriksakan motornya ke bengkel, oleh mekaniknya, motor tersebut didiagnosa mengidap aus pada piston dan beberapa komponen lainnya, akibat olinya kering. Walhasil motornya harus menginap karena harus bongkar mesin, dan ternyata ini membutuhkan biaya yang cukup besar karena harus ganti berbagai macam suku cadang.

Dulu sih sekitar tahun 2011 habisnya sekitar sejuta sekian ratus. Bagi saya yang saat itu masih kuliah, sangat mahal sekali dan cukup memberatkan. Saya pun dimarahi setelah papa tahu kejadiannya. Padahal jauh-jauh hari beliau selalu mengingatkan untuk mengganti oli, jangan sampai telat. Dan inilah hasilnya karena mengabaikan pesan orang tua. Dari situ saya baru sadar kalau mesin itu bagaikan organ tubuh manusia yang harus mendapatkan asupan.




Balik lagi ke perjalanan....

Ketika sudah sadar adanya ketidakberesan akan mesinnya, yang harus saya lakukan adalah mencari bengkel terdekat untuk ganti oli. Kebetulan saat itu posisi saya berada di Ciputat lalu coba belok ke SPBU Pertamina untuk cari oli. Dan tepat dugaan saya, kios kecil yang bernama Bright Olimart itu selain bisa mengisi nitrogen juga melayani ganti oli. Tapi kebetulan  saat itu stok olinya sedang habis dan saya dianjurkan untuk belinya di Bright Mart yang masih berada di dalam SPBU tersebut.



Sebenernya saya cukup awam dengan per-olian. Ada beberapa pilihan oli yang tersedia, tapi yang sangat familiar adalah Fastron dan Enduro, keduanya pun punya kategori untuk berbagai tipe motor. Untungnya kasir di minimarket ini memberi rekomendasi, karena pakai motor bebek manual, akhirnya saya pilih PERTAMINA ENDURO 4T Racing yang merupakan produk terbaru. Untuk produk sejenis, harga oli motor Enduro ini terbilang murah, Rp 45.000 ukuran 1 liter, dan Rp 35.000 ukuran 0,8 liter, jadi tinggal disesuaikan dengan kapasitas motor masing-masing. Setelah membayar, saya pun kembali ke kios untuk digantikan olinya.

Dipilih...dipilih, mau berbagai macam oli tersedia di sini.

Biasanya sih saya pakai produk oli motor lain, dan ini adalah kali pertama saya pakai oli Enduro produknya Pertamina asli Indonesia. Saya ingin coba membuktikan bagaimana ketangguhannya di jalanan secara langsung.

“Kalo beli oli di sini dijamin asli mas, soalnya sekarang ada yang memalsukan” kata mekaniknya meyakinkan.

Ternyata, cara membedakan produk oli asli dengan yang palsu itu gampang. Diliat aja dari tutup dan leher botolnya, di situ ada nomor seri, posisi, serta fontnya harus sama. Selain itu juga oli Enduro itu warnanya biru dan wangi banget kayak aroma permen karet. Seumur-umur saya baru tau ada oli yang wangi kayak gini.




Wahh, jadi harus lebih teliti nih untuk mengecek keaslian olinya, siapa tau saat ganti di tempat lain ada oknum mekanik yang nakal. Jadinya kita rugi besar dan membahayakan juga. Ibarat manusia asupannya itu harus jelas dan sesuai, karena kalau sampai salah akan mengakibatkan masalah pencernaan. Sama halnya dengan oli, kalau tidak cocok bisa bikin mesin jadi ngadat bahkan rusak.



Siang itu saya dan sang mekanik berdiskusi banyak soal oli. Saya yang sangat awam ini jadi lebih tercerahkan soal oli. Dia menjelaskan tentang arti dari 10W - 40 pada botol olinya. Ternyata itu adalah ukuran standar kekentalan oli yang diakui secara internasional. Jadi formulasi ini disesuaikan dengan musim dingin, sehingga saat suhu motor dingin, olinya tidak mengental.

Angka di sebelah huruf "W" menunjukkan tingkat kekentalan oli pada suhu dingin, sedangkan angka setelahnya adalah tingkat kekentalan ketika mesin sedang bekerja atau dalam keadaan panas. Semakin besar angkanya maka semakin kental juga olinya. Logikanya ini mirip seperti ISO kepekaan cahaya pada fotografi. Untuk negara Indonesia yang beriklim tropis ini yang disarankan adalah 10W - 40 sampai 15W - 50.

Tak lama kemudian penggantian oli selesai dan biaya jasanya pun tak mahal hanya Rp 10.000, sudah termasuk “konsultasi”.


***

Waktunya melanjutkan perjalanan ke Cilegon. Beberapa lama setelah motor melaju, saya pun merasakan perbedaan setelah ganti oli ke Pertamina Enduro.

“Ehh gilee, suaranya halus dan tarikannya lebih kencang” dalam hati saya.

Jadi gak ragu banget untuk memacu kecepatan karena yakin sekali mesinnya bakal terlindungi dan mengurangi panas karena gesekan mesin. Tapi tetap dong, saya melaju pada batas yang wajar sesuai dengan aturan lalu lintas yang ada.

Tiga jam berlalu dan saya sampai tepat waktu di Cilegon. Di sini saya istirahat sejenak sambil jemput Lia dan Epil buat nemenin ke Suralaya.

“Tumben cepet banget jam segini udah sampe” tanya mereka keheranan.

“Iyalah, soalnya tadi sebelum berangkat ganti oli dulu, ternyata mesinnya jadi enak banget, makanya bisa lancar sampe sini” jawabku.


Menuju Destinasi Baru

Sebagian besar orang luar Banten mengenal Cilegon sebagai kota industri yang banyak berdiri pabrik-pabrik, sehingga jarang ada tempat wisata alam yang bagus. Namun siapa sangka, di ujung barat lautnya terdapat sebuah bukit yang indah, Bukit Kembang Kuning namanya. Banyak orang yang menyebut juga dengan Bukit Teletubbies. Untuk mencapai ke sana dari Cilegon masih membutuhkan waktu 45 menit. Arah yang dituju melalui jalan raya Merak. Setelah sampai di pelabuhannya masih lurus terus hingga ke Suralaya. Meskipun cukup jauh, lokasi ini masih kawasan Kota Cilegon.



Sepanjang Jalan Raya Merak hingga ke Suralaya didominasi dengan bis AKAP, serta truk-truk besar dan panjang. Jadi perlu kehati-hatian yang ekstra jika melewati jalan ini, belum lagi ada rintangan berupa jalan yang berlubang. Sesampainya di kawasan Suralaya, jalan pun berubah jadi kecil. Jalur menuju ke bukit tersebut memang agak sempit dan menanjak, karena melewati jalan desa. Tanjakan yang cukup menantang dan berkelok sempat membuat saya ciut, namun ketika dicoba ternyata lancar sekali tanpa tersendat dan mengeluarkan suara kasar. Hhmmm…Ini pasti karena pengaruh oli Pertamina Enduro.


Siang hari yang terik, akhirnya saya sampai di kaki bukit untuk memarkirkan motor di warung untuk melanjutkan perjalanan ke puncak bukit dengan jalan kaki. Tak butuh waktu  lama untuk sampai di puncak bukit, hanya 15 menit saja. Sesampainya di atas, saya bisa bersyukur sekali bisa menikmati pemandangan indah ini dengan bentang alam berupa perbukitan dan laut Selat Sunda. Saya menyukai traveling karena sangat menikmati segala proses yang ada. Karena dari situ kita bisa banyak belajar dari pengalaman dan bisa mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari.

Perjalanan lancar berkat oli ini.

Bagi saya, ini adalah salah satu bentuk mensyukuri nikmat Tuhan karena telah diberi nikmat kesehatan dan alam yang indah. Memang benar kata orang-orang, sakit itu mahal, karena lebih baik mencegah dengan cara hidup sehat daripada mengobati. Begitu juga kendaraan, lebih baik melakukan perawatan secara rutin daripada terlanjur rusak. Jangan pernah menyepelekan peran keaslian oli dalam berkendara karena itu salah satu penunjang hidup kendaraan. Saya sendiri telah membuktikan bagaimana ketangguhan Oli Pertamina Enduro melindungi mesin dalam melibas berbagai tanjakan. Tak salah memang oli motor terbaik di kelasnya layak disandang Enduro. Kalau sampai salah pilih oli, bukan tidak mungkin traveling ke barat laut Pulau Jawa ini gagal terencana.




No comments:

Post a Comment