Instagram merupakan salah satu platform yang digandrungi anak muda masa kini. Tak hanya untuk berbagi karya fotografi dan aktivitas sehari-hari, juga banyak yang menggunakannya untuk mempromosikan usahanya.

Hal tersebut bisa dibilang sangat efektif karena sebagian besar pengguna sosmed menggunakan waktu luangnya untuk mencari informasi maupun hiburan lewat Instagram. Salah satu strategi brand untuk meningkatkan jumlah follower dan meningkatkan pembelian adalah mengadakan giveaway / kuis / kompetisi semacamnya itu dengan iming-iming hadiah menarik. Dari situ terlihat banyak sekali para pengguna yang tertarik mengikutinya agar mendapatkan hadiahnya itu.

Perlu diketahui bahwa giveaway atau kuis di Instagram sifatnya adalah "ringan". Jadi berbeda dengan kompetisi fotografi yang terkesan sangat serius dengan menitikberatkan penilaian pada konsep, teknis fotografi, jangka waktu pengambilan gambar, dan juga akan dipertanggungjawabkan yang memotret atau yang memencet tombol shutter. Karena ini menyangkut hak cipta pada foto tersebut.

Sedangkan dalam giveaway Instagram beberapa hal tersebut ditiadakan. Jadi tidak masalah jika foto yang diikutkan kompetisi itu yang memotret orang lain, dan kita bertindak sebagai modelnya.

Banyak yang tanya bagaimana cara dapet informasi tentang kuis-kuis tersebut.

“Mas, gimana sih, kok bisa tau kalo ada kuis gitu ?”

Gini lho dek, sekarang kan udah ada akses internet, dan kita bisa dengan mudah cari informasinya. Caranya coba cari aja di Instagram dengan mengetikkan keyword “Kuis” di kolom Searching, nanti bakal muncul beberapa pilihan akun yang isinya tentang kuis, tinggal follow deh.


Tapi ada cara lain sih, yaitu kita sering-sering aja cek atau follow brand-brand besar, mulai dari Fashion, E-commerce, Online Travel Agent, Perbankan, dan yang paling banyak sih produsen makanan dan minuman ringan. Biasanya kalo mereka ngadain kuis gitu tiba-tiba suka nongol iklannya di timeline kita maupun Instastory, meskipun kita gak follow. Makanya itu jangan lupa langsung di-save dan follow akunnya.


HADIAHNYA APA ?

Cem-macemlah…mulai dari Hampers sebagai hadiah hiburan, voucher belanja, voucher hotel, voucher makan, pakaian, gadget, tiket, uang tunai puluhan juta, paket liburan, hingga kendaraan berupa sepeda motor lho. Kan lumayan banget buat mengisi perabotan rumah atau dijual kembali buat tambahan menghidupi keluarga.

Nah, untuk memenangkan giveaway atau kuis Instagram perlu strategi khusus yang bisa diterapkan oleh siapa saja. Yukk simak tipsnya berikut :

1. MENCOBA
Semua itu berawal dari niat yang baik dan rasa yang optimis. Banyak sekali teman-teman saya yang belum mencoba tapi udah takut kalah duluan.

“Duhh, pengen sih ikutan kuis Instagram, tapi takut kalah. Apalagi saingannya fotonya bagus-bagus. Gak jadi deh kalo gitu”.

Nyett, gimana kita tau kalo kita bakal menang, kalo kita aja gak pernah NYOBA untuk ikutan. Ini sama aja mengharapkan uang banyak, tapi kita gak bekerja, atau mencoba membuat usaha. Mau melihara tuyul ??

Saya sampai bosen ditanya, “Lo gimana sih bisa sering menang kuis ?”. Ya elu nyobalah ikutan, kalo diem-diem bae ya gak bakal tau hasilnya. Belum apa-apa udah ngeluh, dasar mental pemalas.

“Gw udah ikutan kok gak pernah menang yaa ?”.

Lo kira main sulap kali langsung bisa dapet. Semua itu butuh proses. Kalah menang itu adalah hal yang wajar. Yang gak wajar adalah kalo lo punya orang dalem buat menangin.
Nihh yaa…dari sekian ratus saya ikutan kuis Instagram, puluhan kali mengalami kekalahan dan itu gak menghalangi saya untuk ikutan lagi. Hingga akhirnya perbandingannya kisaran 10 kali ikutan, dan 5 kali meraih kemenangan. Sangat lumayan sekali, karena udah cukup sering. Maka dari itu tetaplah berusaha, niscaya rejeki akan datang sendirinya.

2. BACALAH !

Pada tahap ini banyak sekali peserta yang gagal menang karena malas membaca secara lengkap. Maka dari itu bacalah dan pahami, lalu patuhi semua rules atau aturannya.

3. ATUR TIMELINE
Buatlah catatan atau reminder kapan deadline kuisnya dan kapan kita mulai mengeksekusinya. Jangan terlalu terburu-buru posting, dan jangan terlalu mepet, apalagi telat, karena kalo terlalu banyak pesertanya dan bagus-bagus, biasanya juri udah punya kandidat sendiri, jauh sebelum deadline.


4. PETAKAN KEKUATAN
Widihh, udah kayak perang aja nih. Eh, tapi emang iya, kita harus bisa memetakan kekuatan lawan lho. Mana yang konsepnya bagus tapi eksekusi biasa aja, mana yang biasa semuanya, dan mana yang eksekusinya bagus banget.

Setelah mengetahui potensi kekuatan lawan, kita bisa dong mengukur kemampuan sendiri. Misalnya, peralatan foto kita dan propertinya kurang, tapi kita gak bisa maksain untuk jadi perfect, pakai lighting di sana sini, lensa mahal, lokasinya bagus. Cukup eksplorasi dari konsepnya aja agar lebih “mengena” terhadap pesan yang ingin disampaikan brand tersebut. Hal ini bisa juga didukung dengan copywriting caption yang baik. Maka dari itu kita harus riset kecil-kecilan pada produk atau jasa perusahaan yang mengadakan kuis tersebut. Ibaratnya, maksimalkan kelebihan agar kelemahan bisa tertutupi. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah.

Dengan memetakan kekuatan lawan, kita bisa juga mendapatkan referensi baru, jadi kita udah tau gambaran eksekusinya nanti seperti apa.


5. TELITILAH SEBELUM MEMBELI
Khusus untuk kuis berupa produk, sebelum membeli alangkah baiknya diteliti terlebih dahulu tentang produk yang akan dilombakan. Jangan sampai ketika sudah dieksekusi harusnya beli produk rasa stroberi, eh belinya malah rasa coklat. Kan lumayan buang-buang waktu dan uang. Begitu juga perhatikan dengan seksama, dimanakah kewajiban untuk membeli produk, apakah di Indomacet atau di Alphamaz, karena pihak produsen biasanya bekerjasama dengan beberapa supermarket. Dan jangan lupa untuk menyimpan struknya sebagai bukti, biasanya juga diwajibkan untuk menyantumkan kode unik transaksinya.

6. IKUTI KUIS YANG TIDAK POPULER
Bagi yang udah kebelet pengen ngerasain gimana menang giveaway, cobalah ikutan giveaway atau kuis yang tidak populer. Carilah brand-brand yang tidak terlalu populer atau jadi favorit, biasanya parenting atau rumah tangga, meskipun hadiahnya berupa voucher atau hampers yang
tidak seberapa. Tak ada salahnya untuk dicoba.
Untuk pesertanya, kebanyakan sih ibu-ibu, bisa dicek seberapa banyak peserta melalui hashtag. Ibu-ibu biasanya motret "sekenanya" tanpa memikirkan teknis dan estetika lebih dalam. Maka dari itulah celah yang baik untuk membuat foto yang lebih bagus.

7. EKSEKUSI YANG BAIK
Memotret yang baik bukan sekadar visual yang tajam dan terang semata. Tapi juga mampu menggugah orang lain akan foto yang kita ciptakan. Persiapkanlah segala properti penunjang foto, kalau bisa totalitaslah. Tapi jangan norak atau alay. Seleramu menentukan imejmu sendiri. Biasanya juri sangat menghargai peserta yang sudah melakukan totalitas.

Untuk mendapatkan hasil yang baik kadang memang butuh modal lebih. Cobalah pergi ke tempat-tempat wisata atau tempat yang unik untuk mendapatkan background penunjang yang menarik sesuai dengan tema. Buatlah stok yang banyak, dengan dan tanpa produk, karena biasanya suatu saat foto yang tanpa produk bisa terpakai di kuis yang lain, jadi tidak rugi bolak-balik.

Contohnya : Saya akan melakukan perjalanan mudik via udara dari Jakarta ke Yogyakarta. Selama perjalanan saya bisa memaksimalkan bisa untuk foto produk makanan, minuman ringan, obat-obatan, maskapai, asuransi perjalanan, OTA, fashion, dan lain-lain, di beberapa spot bandara maupun dalam pesawat. Maka dari itu kita harus tau kuis apa yang akan dieksekusi.

Perhatikan proporsi produk. Usahakan tidak ada hal lain yang mengganggu keberadaan produk, apalagi sampai ada merk kompetitor. Pahami tema apa yang dimaksud, lalu bebaskanlah berekspresi dengan memperhatikan komposisi agar terlihat menarik dan dramatis. Jika itu produk makanan atau minuman, cobalah ajak temanmu untuk in frame berinteraksi bersama, akting seolah-olah bahagia ((bahagia)).

Harus berani malu itu pasti. Tapi jangan sampai malu-maluin. Buatlah foto yang "berani" jika lokasinya di tempat umum. Sesuaikan lokasi, properti, dengan tema yang diangkat.

Jika menggunakan kamera ponsel, jangan memotret menggunakan flash built in-nya, karena hasilnya akan flat, cahayanya akan keras dan tidak rata. Tapi coba gunakanlah cahaya alami seperti matahari, atau bisa juga pakai lampu belajar yang berwarna putih, sehingga bisa diatur posisi arah datangnya cahaya.


Namun jika dirasa kurang meyakinkan, ya apa boleh buat. Sewalah fotografer profesional, agar bisa lebih tenang berekspresi.


Untuk beberapa brand besar, mereka punya kualitas tersendiri dalam menentukan pemenang. Pelajari dulu temanya, banyak dari mereka yang tidak menginginkan direct selling pada produknya. Misal, brand celana jeans memiliki imej bahwa brand mereka cocok untuk petualangan, dan mereka mencari petualang yang bisa memaknai petualangannya itu serta memberikan kebaikan kepada masyarakat. Jadi tampilkanlah pengalaman itu ke dalam sebuah foto beserta ceritanya, tak harus mengenakan brand tersebut, dan jangan sampai terkesan "jualan".

Selain itu juga perhatikanlah aturannya, apakah boleh diedit hanya sekadar tone-nya, apakah boleh sampai Digital Imaging (penambahan elemen, composite, dsb).


8. POSTING
Ini dia yang paling krusial, yaitu tahapan posting. Sebelum posting perlu diperhatikan beberapa hal yang penting sebagai berikut :
  • Akun Pribadi
    Gunakanlah akun pribadi, bukan akun jualan, ataupun akun repost. Tak harus ribuan follower, yang penting aktif dan ada interaksi. Tapi jangan cuma 1 foto ya di akunnya, harus udah ada beberapa, karena jika tidak, bisa dicurigai itu akun bermasalah. Bukan juga akun khusus kuis hunter, karena biasanya juri males memenangkan akun yang isinya kuis semua tanpa ada selingan postingan yang biasa.

    Dan ini yang paling penting, akunnya jangan "digembok" alias di-private mode. Yaelahh, itu akun instagram apa folder foto bokep pake digembok segala -_-.
  • Follow
    Follow terlebih dahulu semua akun sosmed yang menyelenggarakan kuis / giveaway tersebut, jangan sampai lupa, karena ini syarat utamanya agar mereka followernya bertambah. Dulu pernah ada kejadian, setelah dinyatakan menang dan diumumkan, akhirnya dibatalkan karena syarat utamanya tidak dipenuhi.


  • Share / Regram / Repost
    Sebenernya ini optional, tergantung aturan masing-masing penyelenggara. Tapi jika mewajibkan, maka sebelum posting haruslah repost poster kuis yang bersangkutan.
  • Caption
    Buatlah caption yang menarik, jangan bertele-tele, tapi buatlah yang mengedukasi tentang keunggulan produknya, bisa juga berdasarkan pengalaman. Jangan menghina atau menyebutkan produk lain dan menyinggung SARA. Jangan lupa juga, caption dan foto harus nyambung yaa.

  • Hashtag
    Hashtag ini sangatlah penting bagi juri untuk mencari calon kandidat pemenangnya. Jangan sampai ada hashtag lain di luar syarat ya, meskipun itu hashtag pribadimu. Jika ingin mencantumkan hashtag lain, silahkan tulis di kolom komentar agar tertutup.
  • Mention & Tag
    Mention dan tag-lah akun penyelenggaranya untuk menandainya. Selain itu jika diwajibkan, mention juga beberapa akun instagram temenmu. Jangan akun jualan, atau akun selebritis ya.

    9. BERDOA
    Setelah yakin dengan foto dan captionnya, langkah terakhir yaitu posting lalu berdoa. Boleh berharap menang tapi jangan terlalu. Biasanya sih kalo terlalu berharap dan menggebu-gebu malah gak jadi menang. Justru setelah berdoa dan kita lupakan, tau-tau ada aja yang DM ngucapin selamat kalo kita menang :D



    Tambahan :Saya gak akan mau ikut giveaway yang dinilai berdasarkan jumlah likes, karena menurut saya itu gak objektif, bisa saja ada yang beli jasa "likes" untuk bisa menang. Ikutilah yang dinilai berdasarkan kreatifitas dan penilaian juri. Jika penentuan pemenang berdasarkan undian, kita gak perlu susah-susah bikin karya foto, buatlah yang biasa aja dengan budget minim, toh diundi ini.


    Sedangkan giveaway yang hanya perlu komentar dan dinilainya berdasarkan undian, tak ada ruginya juga untuk ikutan, meskipun komentarnya udah ribuan, coba saja, siapa tau beruntung, karena kita tidak memerlukan modal untuk eksekusi karya.

    Penjurian
    Pada umumnya, para juri memiliki pilihan kandidat masing-masing setelah ada penyeleksian dari ribuan peserta yang ikut. Mereka (juri) akan saling adu argumen dengan juri yang lain tentang pilihannya masing-masing untuk menentukan manakah yang layak jadi juaranya. Itu bukanlah hal yang mudah, karena menentukan reputasi juri maupun brand penyelenggaranya.

    Tapi perlu diperhatikan ada juga Faktor X nya. Setelah kita semua melakukan tahapan di atas dan yakin akan karya kita akan menang, eh ternyata yang menang orang lain. Jangan terlalu kecewa, karena ada buanyakkk kasus yang menurut saya ada beberapa orang lain (bukan saya) yang sangat layak menang, unggul dalam berbagai aspek, eh ternyata yang menang fotonya cuma gitu doang.

    Memang sih agak kesal, tapi ya gimana lagi, ini tergantung selera jurinya sih. Biasanya ada aja sindiran kasarnya dari para peserta.

    "Oh ini kirain kompetisi bagus-bagusan foto, ternyata jelek-jelekan foto" :D

    Boleh aja untuk komplain tapi jangan berlebihan. Untuk lebih jelasnya akan saya bahas etika pasca menang giveaway di artikel terpisah.

    Sementara ini, sampai di sini dulu, kalo ada tambahan monggo silahkan komentar di bawah ini.




    *artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi sebagai peserta maupun sebagai juri giveaway / kuis di beberapa brand.



Kabupaten Tangerang merupakan wilayah industri yang terdapat banyak pabrik. Setiap melewati jalan raya Serang ini, rasanya saya ingin cepat-cepat sampai tujuan karena tak tahan dengan panasnya matahari, debu, deru, dan asap kendaraan besar yang lalu-lalang di sini.

Semenjak pindah ke Jakarta, setidaknya satu bulan sekali saya melewati jalan ini untuk pulang ke Cilegon naik sepeda motor dan sama sekali tak tertarik mengeksplor wilayahnya. Siang itu kebetulan jadwalnya pulang ke Cilegon bersama istri. Dia bersikukuh untuk mampir dulu untuk mengunjungi Kandang Godzilla.

Ok, baiklah…demi istri tercinta.

Jakarta memang keras, tapi lebih keras lagi Kab. Tangerang, karena mempunyai “Kandang Godzilla” atau biasa disebut juga Tebing Koja. Ini bukan Godzilla beneran lho yaa, tapi merupakan tempat wisata alam yang suasananya mirip dengan habitat Godzilla. 

Untuk menuju ke sana, saya naik motor dari Pamulang (Tangerang Selatan) menuju Jalan Raya Serang, yang ditempuh sekitar 1,5 - 2 jam perjalanan. Jika dari arah timur, setelah Balaraja nantinya akan menjumpai pertigaan Cisoka, dari jalan raya sudah terlihat jelas kok tulisan petunjuknya. Setelah itu belok kiri ikuti terus Jl. Raya Cisoka ke arah selatan. Untuk lebih meyakinkan bukalah Google Map dengan mengetik Koja Cliff Park, nanti akan diarahkan.

Obyek wisata ini dahulu merupakan lahan tambang pasir. Karena sudah tidak terpakai dan hanya menyisakan bekas galian, lama-kelamaan bentuknya terlihat artistik dan bagus untuk difoto. Akhirnya oleh warga sekitar dijadikanlah tempat wisata. Yaa mirip-mirip dengan bukit kapur Arosbaya di Madura dan Brown Canyon di Semarang.

Lokasi Tebing Koja memang tidak terlalu jauh dari Danau Cisoka, jadi jika berminat bisa mampir sekalian. Akses jalannya pun sudah dicor, namun mendekati lokasi jalan akan menyempit dan berbatu-batu. Waktu itu sesaat akan sampai lokasi, kami dihadang oleh dua orang warga setempat dan meminta retribusi Rp 3.000 untuk kas desa. 

"Ok lahh, kalo untuk kas desa nggak masalah, ada bukti pembayarannya juga". 


Tak jauh dari situ ambil jalan yang menurun menuju pintu masuknya. Saya pikir retribusi tadi sudah termasuk tiketnya, ternyata berbeda. Ketika sampai sini saya kembali ditarik tiket masuknya sebesar Rp 5.000 per orang, ditambah parkir motor Rp 5.000. Memang kurang efektif sih, karena sedikit-sedikit ada penarikan, seharusnya dijadikan satu pintu sekali bayar agar jelas.

Seorang warga sekitar tiba-tiba menawarkan diri menemani kami dan menunjukkan spot yang biasa digunakan untuk foto. Dia menceritakan bahwa lahan Tebing Koja ini merupakan milik pribadi dan ternyata ada 2 kubu yang mengelolanya. Sebenarnya pernah ada rencana untuk menggabungkannya, namun itu tak kunjung terealisasikan karena perbedaan pendapat. Akhirnya diputuskan tetap ada dua pembagian wilayah dengan pintu masuk yang berbeda.

Katanya batu yang depan itu mirip Godzilla.

Tempat yang saya masuki ini Tebing Koja 1, di spot inilah yang terdapat batu yang konon (jangan dibalik) berbentuk Godzilla. Namun jika ingin mengeksplorasi bagian bawahnya yang berupa padang rumput itu akan dikenai biaya lagi, karena itu sudah beda wilayah. Menurut saya sih, tempat yang terbaik berada di Tebing Koja 1, karena minim gangguan visual. Sedangkan di Tebing Koja 2 yang letaknya berseberangan, terdapat banyak spot foto buatan manusia seperti tulisan bentuk love, hiasan-hiasan, bahkan warung, yang menurut saya malah merusak estetika dari tempat tersebut.

Waktu yang terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah pagi dan sore hari hingga menjelang magrib, karena selain tidak terlalu panas juga foto yang dihasilkan akan lebih bagus lagi. Menurut penuturan warga, saat menjelang matahari terbit terdapat kabut tipis dan embun di bulir-bulir padi yang membuat dramatis. Maka dari itu, tempat ini juga kerap digunakan untuk foto pre-wedding, conceptual, maupun produksi film. 
 


Nilai tambahnya adalah pada bagian bawahnya terdapat genangan air seperti sungai di tengah tebing. Kita bisa menyusurinya menaiki perahu dengan membayar Rp 10.000 per orang. Bagi yang ingin foto, harap berhati-hati karena tebingnya sangat tinggi dan genangan airnya cukup dalam. Begitu juga yang ingin memotret harus memperhatikan posisinya sudah aman atau belum.

Sebenernya masih banyak spot yang harus dieksplorasi, tapi karena hari itu masih siang dan matahari di sini seolah-olah ada banyak, maka saya memutuskan untuk menyudahi pencarian Godzilla kali ini. Siang itu biarlah para domba melakukan tugasnya membasmi rerumputan.


Kehadiran Tebing Koja alias Kandang Godzilla di desa ini cukup membantu perekonomian warga sekitar. Angkutan umum, ojek, maupun warung tradisional pun turut kecipratan rejeki dari pengunjung yang datang. Meskipun begitu, seharusnya para pengelola dan warga sekitar bisa memperbaiki sistem tiket yang jelas agar pengunjung nyaman, dan juga mengurangi hal-hal yang mengganggu estetika alami.
Seperti biasanya, hari ke-3 lebaran selalu kami sempatkan untuk liburan. Ada destinasi baru yang sangat unik di Bawen, Kabupaten Semarang tahun ini, yaitu Dusun Semilir. Perjalanan dimulai dari Jogja menuju Bawen yang ditempuh sekitar 2,5 jam karena kondisi lalu lintas saat itu cukup ramai. 

Hamparan sawah dan gunung-gunung yang indah membentang sepanjang jalan saat melewati Ambarawa. Tak lama, dari kejauhan di atas bukit nampak terlihat bangunan unik yang berderet menyerupai genta atau lonceng. Ternyata itulah destinasi yang akan kami tuju.

Lokasinya yang strategis membuatnya sangat ramai, karena mudah dilalui wisatawan, yaitu di Jl. Soekarno Hatta No. 49. Mungkin sekitar 300 meter dari Exit Toll Semarang - Bawen. Pokoknya cari saja bangunan yang mirip stupa candi.


Dusun Semilir adalah tempat wisata terintegrasi yang berkonsep ecopark nan asri dengan suasana pedesaan yang dipadukan dengan desain modern. Di dalamnya terdapat restoran, foodpark, taman, pusat souvenir, dan juga selfie spot. Untuk tiket masuknya sendiri sangatlah murah, hanya Rp 5.000 / orang. Namun harus menggunakan kartu khusus, karena di dalam sini menerapkan cashless untuk segala transaksinya. Satu kartu minimal Top up saldo Rp 50.000 dan bisa digunakan untuk orang banyak sejumlah saldo tersebut. Bagusnya lagi, jika masih ada sisa saldo yang tidak terpakai, saat pulang bisa melakukan refund. Tapi khusus berlaku top up menggunakan uang cash ya, tidak berlaku pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit.

Desain arsitektur Dusun Semilir ini unik sekali, terdiri dari 7 stupa yang menjadi satu, karena mengusung konsep Stupa Candi Borobudur yang merupakan representasi logo Provinsi Jawa Tengah.
 

Saat memasuki bangunannya, kita akan “terhadang” pohon besar yang letaknya di tengah-tengah. Instalasi khas hutan tropis itu menjadi landmark tempat wisata ini. Pengelolanya memang sudah mempersiapkan dan menandai di lantainya, dari titik mana sajakah angle yang terbaik untuk memotret.


Dari pohon besar, perjalanan kita akan melewati Warisan Indonesia yang menjual berbagai macam souvenir dan kerajinan khas Indonesia, lalu dilanjutkan menuju Teras Gunung yang berada di belakangnya. Di sini akan terhubung dengan Jembatan Senggol yang terbuat dari bambu, dan memiliki pola zig-zag pada jalurnya yang menurun. Sepanjang jembatan ini terdapat beberapa stand makanan makanan tradisional yang bisa menggoda kita untuk berhenti dan mencicipinya. Jembatan yang lebarnya 10 meter ini cukup lega sekali untuk lalu lalang pengunjung. Jika sedang terik matahari, lantainya akan terlihat bergaris-garis membentuk bayangan kerangka bambunya. Keren banget buat difoto.


Jembatan Senggol
Perjalanan melintasi Jembatan Senggol berakhir di Sepoi-Sepoi Foodcourt di bagian bawah. Berada di punggungan bukit membuat Dusun Semilir memiliki udara yang cukup sejuk saat malam sekitar 20-23 derajat, tapi saat siang yaa tetap panas, maka dari itu saat datang pakaiannya harus disesuaikan.

Sepoi-Sepoi Foodpark

Sebenarnya Dusun Semilir tempat yang bagus untuk liburan keluarga, namun sayangnya saat itu kondisi bangunannya belum 100% selesai, mungkin baru sekitar 65%. Pada area belakang dan sekelilingnya masih terlihat proses pengerjaannya. Menurut website resminya, nanti akan tersedia penginapan berkonsep Exotic & Glamping Villas, danau buatan, pet village, dan taman bermain anak. Semoga saja bisa segera berbenah dan menyediakan mushola atau tempat sholat yang lebih luas.


Cemilan Indonesia
Untuk menuju pintu keluar, kita harus naik lagi melewati Jembatan Senggol lalu belok ke kiri. Sebelum pintu keluar kita akan melewati pusat oleh-oleh Cemilan Indonesia. Di sini menyediakan berbagai macam oleh-oleh nusantara yang diproduksi oleh berbagai UKM lokal. Satu hal yang pasti akan terngiang-ngiang di kepala ketika kita pulang adalah jingle lagu Dusun Semilir, karena sepanjang hari diputar terus hingga kita hapal sendiri.



Di kaki gunung-gunung berjajar megah…
Danau biru awan putih.
Sejuk terasa menyegarkan jiwa.

Dusun Semilir tempat wisata keluarga bahagia.
Ayo kita wisata ke Dusun Semiliiiiirrrrrrr…..


Oh may gosh, bahkan sampe ngetik tulisan ini nadanya pun masih hapal :D
Bagi saya yang tumbuh besar di tahun 90an dan sering menonton acara anak-anak di Indosiar selalu terngiang-ngiang akan lokasi studionya di Jalan Daan Mogot yang terkenal itu. Jalan Daan Mogot Jakarta Barat adalah jalan yang sangat panjang membentang  27,5 km dari Tangerang Banten hingga Grogol, DKI Jakarta. Selain Indosiar, di jalan ini juga banyak terdapat perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan dan juga kampus besar ternama.
 


Sabtu siang itu saya berkesempatan untuk staycation di Grand Tjokro Jl. Daan Mogot. Ini adalah kali kedua saya menginap di sini, sehingga terasa seperti rumah sendiri.

Grand Tjokro merupakan sebuah hotel kontemporer yang dikelola oleh SAS Hospitality dan memiliki 7 jaringan hotel Tjokro di beberapa kota di Indonesia.

Sambutan yang ramah dari resepsionis membuka awal proses menginap saya dan istri di sana. Untuk melakukan pemesanan kamar sangatlah mudah. Kini di berbagai aplikasi seperti Tiket.com maupun Traveloka tersedia layanannya, tinggal pesan lewat smartphone. Grand Tjokro menawarkan tiga tipe kamar, yaitu Superior, Deluxe, dan Suite Room, dengan fasilitas modern standar hotel bintang 4.



Kali ini saya menempati kamar di lantai 8 yang mendapat jendela mengarah ke timur. Jadi bisa mendapatkan lanskap yang cukup bagus untuk memotret cityscape. Secara estetika, Grand Tjokro memiliki desain interior minimalis dan cantik, serta memadukan desain modern dan budaya lokal yang klasik.

Bagi yang gemar wisata kuliner, cobalah untuk eksplorasi ke area kampus dekat Terminal Grogol. Dari hotel beloklah ke kanan lalu lurus terus melewati perempatan lampu merah. Setelah sampai di Terminal Grogol beloklah ke kiri masuk kompleks, dan di sinilah banyak terdapat berbagai macam makanan, mulai dari street food hingga modern.


Aktivitas pagi hari yang bisa kita lakukan di Grand Tjokro adalah berolahraga di lantai 2, karena di sini tersedia fitness center dan juga kolam renang. Bagi yang membawa anak-anak tidak perlu khawatir, di sini juga tersedia kolam kecil untuk anak-anak, sehingga sangat aman sekali.

 


Setelah puas berenang, yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah sarapan di lantai dasar. Di sini banyak sekali ragam sajian makanan, mulai dari tradisional Indonesia, sampai Western. Soal rasa, tidak perlu diragukan deh kelezatannya. Yang jadi favorit istri saya selama ini adalah bubur ayam dan mie-nya, katanya sih endesss...Ada satu hal lagi yang menarik, yaitu sajian Jamu tradisional. Di sini kita bisa menyajikan sendiri jamunya, mulai dari kunyit, beras kencur, jahe, dan macam-macam. Berasa sedang di Jogja deh rasanya.



Eh, tapi jangan lupa yah, maksimal sarapan itu pukul 10.00, karena setelah itu akan tutup, dan juga ambillah makanan secukupnya, jangan berlebihan, karena kalau berlebihan nanti sisanya akan terbuang percuma.

Salah satu fasilitas andalan Grand Tjokro ini adalah meeting room dan juga business center yang cukup luas. Cocok sekali digunakan untuk keperluan acara kantor maupun gathering karena lokasinya strategis. Selain itu juga kita bisa dengan mudah berkunjung ke beberapa atraksi hiburan yang ada di sekitar hotel yaitu Mall Ciputra, Mall Taman Anggrek, dan juga Central Park yang hanya 3 km saja.

Bagi para keluarga dari luar kota yang anaknya mau wisuda pun sangat dimudahkan dengan adanya hotel ini, karena lokasinya tidak jauh dari kampus Universitas Tarumanegara dan Trisakti. Begitu juga ketika di hotel ingin belanja makanan dan minuman ringan cukup ke Superindo yang letaknya tepat bersebelahan.


Dengan memadukan kenyamanan dan lokasi yang bagus membuat Grand Tjokro memberikan kesempurnaan pertemuan bisnis dan liburan keluarga di Jakarta Barat.

Seorang bapak yang membawa kertas bertuliskan nama rombongan sudah siap menunggu kami di pintu keluar bandara. Senyum yang lebar dan sapaan selamat siang ramah dengan aksen Indonesia timur yang khas meyakinkan saya kalau memang sudah berada di tanah Flores.

Dia bergegas memasukkan barang-barang kami ke dalam bagasi. Perjalanan dari Bandara Komodo ke Hotel Bayview Garden hanya membutuhkan waktu 7 menit saja.
Lobby hotel yang hanya "seuprit" memang kurang meyakinkan, karena dari bawah tidak begitu terlihat kamar hotelnya.

Untuk menuju kamar, saya masih harus menarik koper melewati jalan berbatu dengan jalur yang memutar dan cukup jauh. Ternyata hotel ini memanfaatkan lereng bukit dan dijadikan berundak-undak mirip di Santorini.

 

Cukup lelah juga perjalanan dari bawah menuju kamar yang letaknya di atas, bagaimana kalau ada yang tertinggal, mau nggak mau harus naik turun. Sebenernya untuk menuju kamar, tersedia dua pilihan jalur, yang landai tapi jauh atau yang dekat tapi terjal menaiki anak tangga. Sebuah pilihan yang sulit, karena di sini memang nggak tersedia elevator.

Setiap kamar memiliki fasilitas dan interior yang berbeda. Saya menempati kamar No. 7 bersama Ernest yang dari Kupang. Balkonnya cukup luas, tapi sayangnya pemandangan ke arah laut tertutup tanaman dan juga krei bambu. Ada bed / dipan panjang dan juga meja untuk bersantai sambil tiduran. Hal itu mengingatkan saya pada Babeh Sabeni di film Si Doel yang suka tiduran di luar.



 


Hotel ini cukup ramah lingkungan juga karena disediakan air mineral galon. Jadi kita bisa mengisi ulang air minum di botol ataupun membuat teh / kopi menggunakan pemanas air.
Ada satu hal yang unik. Di pojokan balkon disediakan obat nyamuk bakar, karena saat itu, Labuan Bajo memang sedang dilanda wabah demam berdarah. Kalo nyium aroma obat nyamuk bakar begini, berasa lagi begadang di pos ronda sambil main gaple.



Interior di dalam kamar yang saya tempati biasa saja. Di sini tersedia 1 kasur besar dan 1 kasur kecil, jadi bisa dipakai untuk 3 orang. Selain itu juga ada kulkas kecil dan deposit box. Uniknya lagi di sini tidak terdapat televisi. Tapi masuk akal juga sih, karena tujuan kita ke Labuan Bajo ingin eksplorasi dan di hotel hanya untuk istirahat atau menikmati pemandangan yang ada.

Suasana di luar
Suasana dari dalam

Di kamar no. 5 yang ditempati Ade dan Kama lebih bagus lagi, meskipun dari luar terlihat hanya seperti ruangan petugas resto, karena lokasinya tepat berada di tempat makan.
Dari tempat sarapan ini kita bisa melihat aktivitas pelabuhan dan juga matahari terbenam tanpa terhalang tanaman.

Balkon di dalamnya tidak terlalu luas, tapi interiornya lebih bagus, dengan dominasi kayu dan bambu pada dinding, lantai, dan langit-langit.



Bagian tengahnya pun terdapat kasur panjang yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan. Kalau dilihat sekilas yaa mirip di luar negeri gitu, karena banyak terlihat kapal layar.


Toilet di kamar ini pun bagus interiornya dan air panas bisa berfungsi dengan baik, tidak seperti di kamar no. 7.

 


Untuk makan malam berada di dekat kolam renang, jadi habis makan tinggal langsung nyemplung, bagi yang minat.

Makan malam yang disajikan enak banget, tapi sayangnya saya sedikit terganggu karena ada anjing besar yang suka mondar-mandir di kolong. Tapi anak anjingnya sih nggak masalah soalnya lucu.

 


Menu sarapan di sini hanya roti gandum, telor orek atau mata sapi, pie pisang, dan juga buah-buahan ala bule. Bagi yang perutnya nggak cocok mungkin 1 jam bakal laper lagi karena emang nggak pakai nasi.

Secara keseluruhan sebenarnya hotel Bayview Garden ini bagus, pegawainya pun ramah-ramah. Cuma memang lahannya kecil, jadi nggak ada tempat untuk parkir. Dan yang jadi masalah bagi yang tidak suka olahraga
adalah kita harus mengeluarkan tenaga ekstra dari bawah (jalan raya) untuk ke kamar yang posisinya di atas. Udah seperti naik gunung aja karena harus melewati beberapa "pos". Selain itu juga, jalur tangga yang terjal itu sama seperti jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu. Jadi lutut akan ketemu hidung, dan dipastikan bakal ngos-ngosan sedikit berkeringat.

Selamat mendaki Bayview Garden.

Tak ada yang menjadi pelipur lara hari itu selain terpilihnya saya untuk ikut trip ke Labuan Bajo. Pada trip ini saya tergabung sebagai Pasukan CLBK (Cinta Lingkungan Bersih Kinclong) bersama Journesia dan juga Teman Rakyat. Dari temanya saja saya sangat tertarik, karena selama ini saya membutuhkan wadah dan dukungan dari orang banyak untuk kampanye masalah lingkungan, demi menyadarkan para masyarakat. Paling tidak lingkungan terdekat sendiri.
 
Hari itu saya masih sangat kecewa karena kedua kalinya ditolak visa Inggris, namun kini bisa sedikit tersenyum sambil membayangkan indahnya pantai dan pulau di Labuan Bajo, serta menggemaskannya para komodo (((menggemaskan))).

Perjalanan ini bukan perjalanan biasa, karena kita semua punya misi untuk kampanye hidup ramah lingkungan dan mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari. Jadi, dari hari pertama hingga akhir, semua sampah pribadi (non organik) yang dihasilkan akan dikumpulkan untuk dianalisa, karena sebisa mungkin mengurangi sampah plastik. Untuk mendukung hal itu, semua peserta dibekali dengan tas kain, sedotan stainless steel, botol minum, dan juga kain untuk sapu tangan yang bisa dipakai berulang kali.

"Alat Perang" terhadap sampah plastik
Waktu keberangkatan pun tiba. Setelah bergabung dengan peserta lain, kami bergegas masuk pesawat. Gambaran bandara berisi binatang komodo yang siap menyambut kami sirna begitu saja setelah sadar kalau Bandara Komodo hanya sekedar nama saja, karena komodo habitatnya ada di Pulau Komodo dan Rinca.

Hhhmmmm
....ini gara-gara Kak Seto.




Senang rasanya bisa menginjakkan kaki di tanah Flores untuk kali pertama. Ini adalah pulau paling timur Indonesia yang pernah saya singgahi. 

Setelah menyelesaikan urusan di bandara, kami menuju hotel Bayview Garden yang letaknya hanya 7 menit dari bandara. Saat masuk ke kamar untuk beristirahat, ternyata di dalam sudah ada Ernest, salah satu peserta dari Kupang yang sudah sampai duluan dan dia jadi teman sekamar selama perjalanan ini.

Kesan orang Indonesia timur yang galak, sirna begitu saja setelah saya berkenalan dengannya sambil disodorkan Oreo Ice Cream rasa blueberry. Di sini kami ngobrol panjang lebar, terutama soal kisahnya yang resign dari pekerjaannya sebagai pegawai bank dan memilih hidup dari laut. Dari situlah saya semakin penasaran dan suatu saat pasti akan mengunjungi Kupang, Sumba, dan Indonesia bagian timur lainnya.

Senja di hari pertama masih malu-malu untuk keluar, karena memang bulan ini bukanlah musim terbaik untuk berlayar. Saya masih berharap besok dan seterusnya akan cerah dan gelombang lebih bersahabat.

Makan malam hari ini, kita makan sama anjing. Iya anjing ! Bukan makan daging anjing, tapi makan malam bareng anjing yang minta makanan dari kita. Agak nggak nyaman bagi saya, karena si anjing yang besar suka bolak-balik masuk kolong. Makanya itu saya makan malam dengan pisuhan...

Asu !
Su...
Dasar uasuuu !


Setelah makan malam, dilanjutkan dengan perkenalan semua peserta. Sempat pesimis akan nggak cocok dengan yang lainnya, tapi ternyata semuanya asik-asik. Dan yang pasti, saya nggak perlu khawatir soal sampah, karena semuanya sudah pasti sadar akan tanggungjawabnya terhadap sampah, makanya itu kita bisa berkumpul di sini.

Ada Ernest dari Kupang yang toketnya bisa gerak-gerak, si Dea dari Planet Bekasi yang cablak tapi rame, Oki yang berpenampilan gembel ala seniman, Aam yang pelor dari Kendari. Khusus untuk Aam, saya agak kurang paham dengannya, soalnya dia masih campur menggunakan nada dan istilah bahasa daerahnya yang masih asing di telinga saya. Tapi kadang lucu juga sih cara bicaranya. 

Poto dulu pi...

Hahh ?! Pipi mimi maksud lo ?

 
Selain itu juga di tim Journesia ada mas Ade temennya Uki Wardoyo dan Kama yang vegetarian, Putra dari Teman Rakyat yang lihai tusuk menusuk alias atlet anggar, Feri sang videografer kinclong, dan juga Ratu Vashti, Miss Earth 2018 yang jebul uwong Banten.

Hari ke-2
Destinasi hari ini semua berada di Pulau Flores, jadi mengeksplorasi menggunakan minibus. Sepanjang perjalanan selalu diisi gelak tawa Dea, dan diiringi lagu-lagu Petualangan Sherina. Tak terasa sudah sampai di destinasi pertama yaitu air terjun Cunca Wulang, kemudian dilanjutkan menyeberang menggunakan perahu ke Goa Rangko. Di pantainya kita beraktivitas memungut sampah yang tersebar, lalu dilanjutkan berenang di dalam goanya. Awalnya sempat ragu, karena sudah terlalu sore untuk menuju destinasi terakhir yaitu Amelia Sunset View. Tapi untungnya si supir punya jalan pintas dan bisa sampai lokasi sebelum gelap.


Cunca Wulang
Goa Rangko
Amelia View Sunset
Mediterraneo

Meskipun begitu, saat sampai lokasi, cahaya matahari yang diharapkan tidak keluar karena mendung. Tapi ya sudahlah, yang penting bisa menyelesaikan destinasi yang ada untuk hari ini dan ditutup dengan makan malam di Mediterraneo resto.

Hari ke-3
Waktunya untuk Live On Board atau tinggal di kapal. Jadi, selama 2 malam ke depan, kita akan tidur di kapal, karena harus pindah pulau ke pulau yang lainnya (Hopping Island). Yang pertama adalah Pulau Kelor. Sepintas namanya sama dengan pulau di Kepulauan Seribu, tapi bentuknya sangat berbeda sekali. Pulau kecil ini memiliki bukit dengan pemandangan yang indah sekali.

Pulau Kelor
Destinasi selanjutnya adalah Pulau Rinca yang merupakan habitat komodo. Aktivitas yang dilakukan adalah trekking untuk melihat sarang komodo dan yang paling menegangkan adalah berfoto dekat dengan komodo. Saya sih, nggak terlalu khawatir sama diri sendiri, tapi khawatirnya sama Ranger yang memotret kita, karena dekat sekali dengan mulut komodo.



Tapi meskipun begitu, saya berharap bisa ngelus-ngelus kepala komodonya. Kan kata orang, binatang kalo dielus-elus bakal nurut kayak ngelus-ngelus burung gitu.



Matahari mulai turun di batas cakrawala, saatnya para kelelawar / kalong keluar dari sarangnya untuk cari nafkah. Di pulau kalong ini kita tidak bisa mendarat, karena sebagian besar terendam air dan pepohonan bakau, jadi hanya menikmatinya dari kejauhan.

Kebetulan hari itu matahari menampakkan wajahnya. Saya coba bawa tripod, lalu naik ke dek atas kapal untuk memotret. Saat naik tangga, nggak sengaja lensa terbentur tangganya dan mengakibatkan Filter Holder saya jatuh ke laut.

Wassalam....

Selalu ada aja printilan barang yang hilang. Padahal kru kapal sudah coba bantu cari tapi nggak ketemu, karena kapalnya sedang melaju. Walhasil, sore itu saya memotret dengan pisuhan lagi.

Hari ke-4
Pagi-pagi sekali kapal sudah bergerak menuju Pulau Padar. Sambil santai di depan, kami berkutat dengan ponsel masing-masing. Bukan karena asik sendiri, tapi membuat konten dan melaporkan hal yang menarik selama perjalanan. Ini merupakan bagian dari misi kita. Untungnya di kepulauan sini, sinyal Telkom*sel bagus banget, berasa seperti di kota.

Pulau Padar         (foto : Kama)

Sesaat ketika sampai Pulau Padar, hujan deras disertai angin mulai turun. Setelah reda, kami merapat dengan perahu kecil dan naik susunan anak tangga yang telah tersusun rapi hingga ke atas bukit yang fenomenal itu.
 

Perjalanan selanjutnya ke Long Beach yang masih di berada di Pulau Padar namun di sisi yang lain. Pantai ini pasirnya berwarna pink, jauh lebih pink daripada Pink Beach yang selama ini dikenal, namun sayangnya kotor sekali. Banyak sampah rumah tangga yang terdampar di sini. Untungnya kita bawa trash bag, dan tanpa basa-basi membersihkan tempat tersebut. Ada cerita unik bagaikan terdampar di pulau ini yang membuat semuanya panik, tapi nanti bakal saya ceritain di postingan lain.

Pink Beach

Setelah semua tenang, akhirnya dilanjutkan ke Pink Beach. Di pantai ini memang bersih sekali dan terumbu karangnya pun bagus, cocok untuk syuting film Baywatch ataupun Tarzan X. 

Hari semakin sore, waktunya untuk mendekat Kampung Komodo di Pulau Komodo. Sebenarnya ada jadwal untuk merapat ke pulau ini, namun sayang waktu dan perahunya tidak memungkinkan. Jadinya saya hanya bisa lihat aktivitas anak-anak di pesisir sambil menyaksikan Elang Laut yang sedang menyelamatkan ikan yang hampir tenggelam.

Kami memang tinggal di kapal, namun saat malam hari kapalnya berhenti untuk bermalam di perairan dekat kampung, karena selain gelombangnya lebih tenang juga kalau terjadi apa-apa bisa minta bantuan.

Suatu ketika di tengah malam, saat semuanya tertidur, Amenk tour leader kami bangun untuk ke kamar mandi, setelah itu dia tersadar kalau kapalnya hanyut ke tengah lautan menjauhi pulau. Lantas secara spontan dia membangunkan semua kru dan kapten kapal untuk mengembalikan ke lokasi semula. Agak kaget, karena saat itu angin kenceng banget dan menerpa layar penutup tempat kami biasa tidur. Saya sempat terbangun, namun dipikir hanya angin biasa, eh ternyata kapalnya malah hanyut.

Hari ke-5
Tak terasa ini adalah hari terakhir Live On Board. Pagi itu gelombang lebih tinggi dari biasanya, seharusnya kita bisa menyelam bersama Manta. Namun manta atau ikan pari yang ditunggu tidak kunjung terlihat, akhirnya perjalanan langsung dialihkan ke Takka Makassar yang letaknya hanya sekitar 350 meter dari Manta Point.

Takka Makassar
 
Takka Makassar adalah sebuah gundukan tanah kosong berwarna putih nan bersih tanpa sampah. Cocok buat jomblo yang ingin menyepi dari hiruk pikuk dan tekanan teman-teman maupun keluarga. Aktivitas yang bisa kita lakukan di sini adalah, bengong sambil nulis-nulis di pasir, tanning, teriak-teriak, maupun snorkling.

Mendung sudah semakin menjadi, petir pun mulai nampak, sementara yang snorkling harus bergegas merapat ke kapal karena arus bawah semakin kencang. Siang itu kami menyudahi petualangan bersama kapal Aqua Luna dan kembali ke Labuan Bajo. Total setidaknya ada 4 destinasi yang gagal kita singgahi karena faktor cuaca. Tapi kami tergolong beruntung, karena kapal masih bisa mengarungi lautan hingga ke pulau Komodo, karena beberapa hari sebelumnya gelombang tinggi yang membuat kapten kapal lain membatalkan perjalanannya. Jika kapten kapal saja sudah takut, artinya memang benar-benar parah, karena idealnya untuk berwisata ke TN. Komodo adalah pada musim kemarau.

Acara puncak dari rangkaian perjalanan ini ditutup dengan makan malam di Plataran Resto. Di sini semua menceritakan keluh kesahnya selama perjalanan yang seru ini. Tapi memang ya acaranya seru banget, banyak kejadian menarik selama 5 hari ini terutama saat "terdampar" di pulau itu, dan semua bikin semua jadi akrab. Malam itu, kita tutup dengan rencana memberikan kejutan untuk ulang tahunnya Vashti, yang udah dia kodein dari hari pertama, tapi pada pura-pura nggak tau.

Karena keseruannya itu, bahkan saya masih teringat-ingat sampai saya menuliskan di blog ini. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan, semoga apa yang udah kita lakuin di Labuan Bajo bisa memberikan dampak positif buat orang-orang lainnya, dan lebih peduli tentang sampah yang semakin menggila.