Malam itu, Jum’at 27 Desember 2013 sekitar pukul 21.30 waktu lagi liat pameran foto di Bentara Budaya, aku menerima sms dari seorang wanita beralis tebal, kita sebut saja Omesh. Dia mengajakku sama temen-temennya yang berasal dari Bogor untuk melihat sunrise di bukit Punthuk Setumbu, Magelang. Langsung saja aku setuju sama ajakannya, soalnya aku memang belum pernah ke tempat tersebut.

( Sebenernya ada cerita menarik mulai dari aku yang kayak survivor gara-gara nunggu Omesh bangun di depan kostnya, nge-drop in “jablay” di Indomaret, si Datar dan Samsul yang sok tau jalan, motretin simbah2 nakal, sampai nyasar yang seharusnya ke Borobudur eh malah ke arah jalur Wonosobo. Tapi itu di skip aja, soalnya kepanjangan, mamangnya mau tidur, prepare buat tahun baruan, aaoouuu… :p )

Singkat cerita kita udah di depan Borobudur, dari situ kita jalan terus lewat depan Hotel Manohara, trus ada pertigaan kecil belok ke kanan. Mulai dari Borobudur sampai daerah ini banyak banget yang nawarin jasa nganter ke Setumbu, mereka mematok tarif Rp 30.000, mungkin ini alasannya kurangnya sign system menuju tempat tersebut. Bagi yang berjiwa petualang pasti akan mengabaikan tawaran tersebut dan memilih menggunakan instingnya untuk menemukan di manaaa…di mana, di manaaa….Punthuk Setumbu.

Yang perlu diingat, Punthuk Setumbu berada di Desa Karangrejo, jika kalian menuju arah Karangtaruna atau Karangpandan, berarti anda Nyasar ! Pokoknya jangan malu bertanya kepada penduduk sekitar, tapi yang sopan. Untuk menuju bukit tersebut lebih enak menggunakan motor, karena jalan di desa tersebut sempit dan menanjak.

Ketika kami sampai TKP, waktu udah menunjukkan pukul 05.30, waktu yang telat banget untuk bisa melihat matahari terbit. Sebelum masuk, kita harus membayar tiketnya terlebih dahulu sebesar Rp 15.000/org. Harga yang sangat mahal sekali menurutku, karena naik gunung aja biayanya gak sebesar itu.

Dari loket kita akan melewati jalan setapak yang menanjak, jaraknya sekitar 200 meter. Ketika di puncak bukit, mata akan disuguhi pemandangan yang sangat indah, terlihat dengan mesranya Gunung Merbabu yang berdampingan dengan Merapi yang sedang mengeluarkan asapnya. Dari kejauhan terlihat siluet candi Borobudur yang masih berselimut kabut, seperti yang biasa terpampang di foto-foto para fotografer landscape. Memang, tempat ini merupakan spot favorit para fotografer untuk memotret sunrise dengan background Merbabu dan Merapi, serta candi Borobudur sebagai pemanisnya.

Sayangnya hari itu aku sangat kurang persiapannya, karena ajakannya sangat mendadak, sehingga belum sempat men-charge baterai kamera. Mungkin lain waktu aku pasti akan ke sini lagi dengan persiapan yang matang dan kondisi cuaca yang sangat bagus, karena menurut petugas di tempat tersebut, waktu-waktu yang tepat untuk memotret sunrise ketika musim panas antara Juli - Oktober.

Sampai jumpa di “Mengejar Sunrise part II”…
On the mountain we camp together
talked all the things That brings memories of lives
How to survive and how to take care each other
as a good way and the better way try to deal our life

- Kuro ! -

 
Teringat keluh kesah salah seorang temanku saat di ketinggian 1830 mdpl, ia sedang dilema dihadapkan dengan 2 pilihan antara istri atau gunung...dan sudah bisa ditebak jawaban yang keluar dari lubuk hatinya adalah...GUNUNG ! Tapi dikarenakan saat pernikahan sudah melakukan "janji" dengan Tuhan, maka dengan berat hati ia melepaskan hobinya tersebut yang sudah mendarah daging dan lebih memilih pulang ke rumah dan menemani istrinya di malam yang syahdu, karena dengan memilih istrinya tersebut otomatis juga mendapatkan "gunung" yang lain :p

*Beruntunglah wahai para penggiat alam bebas yang juga memiliki pasangan dengan hobi yang sama :) Buatlah seluruh alam raya ini seolah-olah hanya menjadi milik berdua. Kalau belum punya, berusaha dan carilah pasanganmu di atas gunung, niscaya Tuhan akan memberikannya untukmu, dan mungkin saja dengan dibekali dengan kemampuan fotografis.

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam c.......... ^_^!

[gallery ids="390,392,387,388,389,391"]

Wish You Were Here...

by on December 11, 2013
On the mountain we camp together talked all the things That brings memories of lives How to survive and how to take care each other as a goo...
"Berani karena benar, takut karena salah !"

Quotes itulah yang sampai saat ini masih tertanam di dalam otakku dan seakan-akan menjadi "personal guardian". Untuk menjadi seorang pemberani memang dibutuhkan proses dan juga pengalaman, selain tekad yang kuat tentunya. Dulu, ketika aku masih SD kelas 3, seorang wali kelasku sebut saja Bu Yuni, saat pelajaran PPKN berulang kali “menanamkan” quotes itu kepada seluruh muridnya agar kelak menjadi seorang pemberani. Benar saja, sampai sekarang pun saya masih teringat dan selalu mengaplikasikan pesan yang disampaikan beliau untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

***


Ngomong-ngomong soal keberanian, waktu SD aku sama temen se-gank (cieelah…anak gank) pengen banget nyobain masuk ke rumah hantu di acara pasar malam, soalnya penasaran banget sekaligus mau ngetest ilmu keberanian seperti yang diajarkan Bu Yuni. Waktu itu kita berjumlah sekitar 5-6 orang bahkan kita udah bikin rencana siapa yang berada di posisi paling depan, tengah, dan belakang. Soalnya menurut cerita yang sering terdengar, bahwa di dalem rumah hantu tuh kita bakal digangguin, dikejar-kejar, bahkan digrepe-grepe sama setan-setan terkutuk itu ! Makanya kita rencanain bikin formasi biar para setan gak merenggut keperjakaanku…

Sayangnya rencana tinggallah rencana aja…aku lupa kenapa rencana ini malah gagal. Tapi setelah 16 tahun kemudian, tepatnya hari ini, aku berhasil merealisasikannya walaupun hanya seorang diri, tapi seenggaknya rasa penasaranku udah ilang, jadi aku bukan  si Renky Penasaran lagi, soalnya yang boleh penasaran itu hanya arwah, jadinya Arwah Penasaran…

Awalnya emang gak ada rencana untuk masuk rumah hantu, tapi karena waktu siang itu aku ada sesi pemotretan di Sekaten dan lokasinya di depan Bianglala dan  berhadapan langsung dengan rumah hantu, langsung aja terbesit pikiran untuk nyoba sesuatu yang dari dulu belum terealisasikan, toh gak bakalan mati ini kalo cuma masuk, lagian juga cuma buat hiburan semata.

Sensasi ketika mau masuk pertama kali ini berbeda  banget ketika waktu masih SD. Waktu dulu baru nyium bau kemenyan sama denger suara backsound kuntilanak ketawa aja udah bikin gemeteran plus keringet dingin, tapi waktu sekarang , ngedenger suara kuntilanak malah pengen ikutan ketawa, abis asik aja ngetawain setan yang ketawa sendiri tanpa sebab.

Di dalem rumah hantu ternyata gak seseram yang kukira, cuma ada 2 setan, yaitu pocong dan kuntilanak dan mereka cuma diem aja, sesekali cekikikan…untungnya gak pake acara grepe-grepe. Jujur, sebenernya aku kurang puas masuk wahana ini, soalnya cuma begituan, gak ada tantangannya, di dalem juga cuma sebentar, mana bau pesing lagi, soalnya kan yang jadi setannya kalo pipis di situ juga…

***


Pengalaman demi pengalaman udah pernah aku dapetin seiring perkembangan sang waktu. Bahkan selepas lulus SMA, udah menjadi santapan setiap hari seperti musik dan simbol-simbol Satanism, walaupun begitu aku masih berada di jalur yang benar (thx God).

Naik-turun gunung, keluar-masuk hutan di malam hari seorang diri sangat menempa keberanianku. Biarpun sering ngelakuin aktifitas begituan, aku gak pernah punya pikiran negatif atau yang aneh-aneh yang dapat menimbulkan imaji buruk, yahh…walaupun sekelebat-dua kelebatan, tapi gak pernah aku peduliin, dan selalu berpikir positif, karena aku udah mendoktrin diri sendiri di dalam otak, “Gw ini manusia, Elo setan…dan lebih ganteng gw, jadi ngapain gw takut sama Elo !”.

Jadi, ngapain takut selama kita berbuat BENAR ?

[gallery ids="375,376,377,378,379,380,381,382,383,384"]

I Must be Brave !

by on November 30, 2013
"Berani karena benar, takut karena salah !" Quotes itulah yang sampai saat ini masih tertanam di dalam otakku dan seakan-akan men...
Ada banyak cara unik yang dilakukan  untuk merayakan HUT ke-68 RI. Salah satunya adalah upacara bendera di Gunung Lawu (3265 mdpl) yang ada di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Sekitar 1.000 bendera berkibar di sana.

Rangkaian acara diawali dengan pelepasan burung di Posko Induk Cemoro Kandang, Karanganyar. Langkah ini bertujuan untuk menjaga populasi burung agar tidak punah, karena dari tahun ke tahun jumlah burung di Gunung Lawu semakin berkurang.

Keesokan harinya pada tanggal 17 Agustus 2013, sekitar pukul 08.00 WIB, sebagian besar para pendaki bergerak naik menuju puncak Hargodumilah. Mereka berfoto-foto di bawah Tugu Triangulasi yang lengkap dengan instalasi 1.000 benderanya.

Kemudian pendaki mulai turun ke arah barat menuju Tlogo Kuning tempat diadakannya upacara bendera. Tlogo Kuning adalah sebuah tanah lapang yang sangat luas, bekas kawah yang sudah mati. Di tempat tersebut para peserta langsung membentuk barisan mengelilingi tiang bendera.

Tepat pada pukul 09.00 WIB, upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-68 dimulai. Walaupun didera kelelahan akibat perjalanan yang panjang dan sulit, para peserta tetap khidmat dan semangat mengikuti upacara bendera tersebut hingga selesai. Setelah selesai upacara bendera, para pendaki disuguhi berbagai permainan menarik dari panitia untuk memperebutkan hadiah dari Cozmeed yang merupakan sponsor utama dari acara ini.

Ratusan peserta yang terdiri dari pecinta alam, pramuka, dan komunitas relawan dari berbagai daerah di Pulau Jawa ini rela berkorban menembus pekatnya kabut, dinginnya udara, dan terpaan angin kencang. Semua demi menunjukkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap bangsa Indonesia.

Acara kemudian diakhiri dengan membersihkan sampah-sampah sepanjang perjalanan dari Tlogo Kuning sampai Posko Induk Cemoro Kandang. Sebagai pendaki gunung seharusnya turut bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan. Karena kalau tidak dijaga dan dirawat, bukan tidak mungkin generasi penerus Indonesia tidak bisa menikmati keindahan alamnya lagi.

Detik Travel

[gallery ids="335,336,337,345,344,343,342,341,340,339,338,346,347"]
[gallery ids="330,329"]

Pagi itu, Minggu (20/10/2013) ketika saya “nyetreet” di sekitar Jl. Kranggan bersama temen-temen di komunitas fotografi online terbesar di Asia Tenggara, saya dihampiri oleh seorang tua berkumis dan berjanggut putih dan mengenakan helm yang sudah lusuh. Awalnya kami semua sedang sibuk dengan objeknya masing-masing, lalu orang tua itu lewat dengan motor tuanya dan berhenti tepat di depan saya. Dia berdiri lalu bertanya kepada saya ?

Bapak tua            : Mas, ini dari mana ? ISI ?

Saya                       : Oh bukan pak, ini cuma dari komunitas foto, bukan dari media. (Saya berpikir kalo bicara dari media pasti orang tersebut akan mempermasalahkan).

Bapak tua           : Oh gitu, bagus-bagus…saya seneng anak muda jaman sekarang banyak yang menyukai fotografi.

Saya                       : Nggih pak, jaman sekarang sudah berubah, teknologi cepet berkembang pesat.

Bapak tua            : Dulu kakek buyut saya juga fotografer, beliau sangat terkenal sekali.

Saya                       : Oh gitu tho…tahun berapa pak ? (saya berpikir, bapak ini aja udah tua gimana kakek buyutnya)

Bapak tua            : Wah…sudah lama sekali, sekitar tahun 1800an. Namanya…KASSIAN CEPHAS.

Mendengar nama Kassian Cephas langsung saja saya kaget, ternyata bapak tua yang bernama Suyono (63th), tersebut adalah cicit dari fotografer legendaris Kassian Cephas. Awalnya saya kurang percaya, tapi setelah itu dia banyak bercerita tentang kehidupan Mbah Cephas (begitu ia memanggilnya) semasa bekerja di Keraton Yogyakarta. Temen-temen satu rombongan yang tadinya sibuk mencari objek foto tiba-tiba ikut berkumpul dengan saya dan serius mendengarkan bapak Suyono bercerita dengan semangat tentang Kassian Cephas.

Waktu perjumpaan kami dengan beliau tidaklah lama, karena ia juga harus pergi untuk menjemput seseorang. Pada akhir perjumpaan ia selalu mengingatkan kami semua untuk tetap semangat berkarya dan mendoakan kami agar sukses dan bisa meneruskan “perjuangan” dari kakek buyut beliau.
*Setelah diamati dengan seksama dengan foto yang ada di internet, ternyata Bapak Suyono memiliki kemiripan dengan Kassian Cephas, terutama kumis dan janggut putihnya yang khas.

Biasanya orang-orang yang mencari lobster akan menyelam ke dasar laut atau hanya menaruh perangkap di karang-karang. Namun itu berbeda dengan cara para pencari lobster di Pantai Timang, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka menggunakan alat tradisional seperti kereta gantung untuk digunakan menyebrang ke pulau yang terletak sekitar 200 meter dari pantai. Untuk mencapai pantai tersebut bisa dibilang agak sulit, karena tidak adanya papan petunjuk dan juga akses jalannya yang sempit dan berbatu.

Dinamai Pantai Timang karena untuk mencapai pulau yang diseberangnya harus menggunakan kereta gantung, dan ketika melewatinya akan berasa seperti ditimang-timang. Di pantai itu terdapat sebuah pulau kecil yang terbentuk dari batuan karang, yang biasa disebut Pulau Panjang. Dari pulau itulah mereka menaruh jaring yang diberi umpan, atau orang sana menyebutnya dengan krungkut yaitu sejenis binatang laut seperti umang-umang (kelomang).
Krungkut
Pada sore hari, para nelayan menaruh jaring tersebut, kemudian saat pagi hari sekitar pukul  05.00, mereka mengambilnya. Hasil tangkapan tergantung cuaca dan juga gelombang air laut. Saat cuaca cerah dan gelombangnya tenang, biasanya mereka mendapatkan banyak lobster, sedangkan apabila cuaca sedang tidak bagus, mereka kadang tidak mendapatkan apa-apa.
Sepatu karet
Lobster-lobster yang terjaring kemudian dikumpulkan di tempat penampungan, yaitu di rumahnya Pak Saidi. Di tempat penampungan ini kemudian dijual ke berbagai tempat di Yogyakarta. Harga dari lobster ini bermacam-macam, tergantung jenisnya. Lobster yang merah dibandrol dengan harga sekitar Rp 200.000/kilo, sedangkan yang hijau sekitar Rp 250.000-300.000/kilo, karena lobster hijau kandungan dagingnya lebih banyak.

Bagi pengunjung yang ingin menyeberang ke Pulau Panjang dikenakan biaya Rp 100.000/orang, dan minimal 5 orang, karena untuk mengoperasikan “wahana” tersebut membutuhkan 6 orang operator dan harus ada musyawarah terlebih dahulu oleh para warga desa. Awalnya untuk menyebrang tidak dikenakan tarif, tetapi karena banyak pengunjung yang juga ingin mencoba, maka para nelayan memutuskan mematok tarif untuk menambah penghasilan mereka. Walaupun begitu, keselamatan para pengunjung tidak ditanggung, karena tidak adanya asuransi.
“Kereta gantung” itu dibuat pada tahun 1997 dan dipelopori oleh Pak Saidi. Pada waktu itu ia terinspirasi oleh Kereta Gantung yang ada di Taman Mini Indonesia Indah, maka ia memutuskan untuk membuatnya secara tradisional. Tali diseberangkan menggunakan perahu yang ia bawa dari Pantai Siung yang letaknya di sebelah timur Pantai Timang. Saat gelombang sedang surut, Pak Senen, rekan dari Pak Saidi mendekatkan perahunya lalu berenang ke pulau tersebut, karena medannya berupa batuan karang, sehingga perahu sulit untuk menepi. Saat sampai di pulau tersebut mereka memasang tiang yang terbuat dari kayu dan menambatkan tali tambang.

Dan hingga kini kayu tersebut belum pernah diganti. Sedangkan tali diganti sekitar 1 tahun 2x. Namun tetap saja, tali dan tiangnya tidak sesuai dengan standar keamanan. Dahulu dari pemerintah pernah ingin memberikan bantuan berupa tali, tiang, sling baja, dan juga perlengkapan lain yang sesuai standar internasional, namun Pak Saidi menolaknya, dikarenakan inilah tantangan dan keunikan dari tempat tersebut.




Dalam sebuah TVC iklan rokok menampilkan 3 orang pemuda gagah yang gemar berpetualang. Mereka dengan hebatnya melakukan hal-hal yang bersifat petualangan seperti mengendarai jeep, surfing pada malam hari, mendaki gunung, panjat tebing, menembus pekatnya rimba, caving dan bermain skateboard di dalam goa. Keren memang. Tapi dengan kekerenannya itu ternyata iklan tersebut memiliki subliminal message atau pesan terselubung, yaitu mengajak para pemuda Indonesia yang gemar bertualang untuk mengkonsumsi rokok, dan menjadikan produk rokok tersebut sebagai “teman” perjalanan, serta menciptakan imej bahwa seorang petualang haruslah merokok.

Bagi orang awam, hal-hal tersebut tidaklah disadari, atau bahkan mengacuhkannya. Tapi pada kenyataannya iklan tersebut mendoktrin, mempersuasi alam bawah sadar para target audience-nya untuk melakukan sesuatu sesuai pesan yang disampaikan iklan tersebut, yaitu mengkonsumsi rokok.

Banyak sekali orang-orang Indonesia yang terbujuk “rayuan” pada iklan tersebut. Tapi tidak dengan saya ! Karena salah satu tujuan saya berpetualang adalah agar menjadi SEHAT, dengan menikmati dan mensyukuri segala apa yang telah Tuhan berikan. Alam yang indah, air yang bersih, dan udara yang sejuk, yang tidak bisa didapatkan di perkotaan. Menurutku ini adalah salah satu anugerah yang Tuhan berikan kepada makhluknya secara gratis…tiss…tiss. Coba bayangkan, seandainya Tuhan memberikan tarif untuk tiap menghirup udara sejuk adalah Rp 1, berapa uang yang harus dikeluarkan ketika mendaki gunung selama 3 hari ? Mungkin uangnya sudah bisa dipakai untuk membeli sebuah pabrik rokok indie.

Coba deh perhatiin kelakuan sebagian besar orang-orang yang ngerokok, jarang sekali diantara mereka yang membawa turun kembali puntung rokoknya. Biasanya setelah menghisap rokok, mereka akan "menyentil" begitu aja puntungnya. Nah inilah yang sulit kita pungut saat melakukan aksi bersih di gunung. Jumlahya sangat banyak sekali, dan bertebaran di mana-mana, di sepanjang perjalanan, terselip di semak-semak dan bebatuan.

Sehat itu mahal

Banyak orang yang rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk berobat, melepaskan diri dari belenggu penyakit, cuma karena untuk sehat. Buat apa jauh-jauh ke gunung, dengan susah payah menggapai puncaknya kalau yang dihirup juga adalah “asap kematian” yang kita bawa sendiri ? Cukup di perkotaan sajalah kontaminasi asap-asap keparat itu beredar, dan janganlah di bawa ke gunung ! Karena di gunung adalah tempat untuk mencari ketenangan, tempat untuk menikmati udara dari “surga”.

Di negara ini, jumlah perokok aktif sangatlah banyak, bahkan mungkin sekitar 85% pendaki gunung adalah perokok, dan banyak yang beranggapan bahwa dengan merokok membuat tubuh menjadi hangat, padahal itu salah kaprah. Justru hal tersebut dapat membahayakan kesehatan, karena di atas gunung kadar oksigen lebih tipis, sehingga untuk mengatur bernapas pun lebih sulit. Gunakanlah cara lain yang lebih sehat untuk menghangatkan badan, seperti minum air jahe hangat pun cukup.

Selain dirugikan oleh asap yang dikeluarkan, rokok juga menyebabkan kerugian lain. Sudah banyak kasus kebakaran hutan akibat dari puntung rokok yang dibuang sembarangan tanpa mematikannya terlebih dahulu. Maka dari itu diharapkan para pendaki lebih bijak dan sadar akan tanggung jawabnya terhadap lingkungannya. Jadikan aktifitas petualangan itu menjadi aktifitas yang menyehatkan dan berguna bagi semua. Nikmatilah alam ini tanpa dengan merusaknya, lalu hiruplah udara sejuk sepuasnya selagi masih ada, dan sayangi kesehatanmu, orang-orang di sekitarmu, dan alam raya ini.

Sunday Morning atau yang biasa disebut Sunmor adalah sebuah pasar dadakan yang berada di wilayah Universitas Gadjah Mada tepatnya disekitar lembah UGM yaitu di Jalan Notonegoro yang memisahkan antara kampus UGM dengan wilayah Kampus UNY.

Pasar ini buka hanya pada hari Minggu pagi pukul 06.00 sampai 12.00. Para pengunjung biasanya adalah orang-orang yang sedang jogging di tempat ini, namun banyak juga orang yang sengaja datang untuk belanja di tempat ini.

Barang-barang yang dijual di sini sangat unik dan banyak ragamnya, mulai dari kuliner, produk fashion, souvenir, hewan piaraan, karya seni, dan lain-lain.  Selain merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli, Sunmor juga banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk mengamen, menjual karya seninya, ataupun mempromosikan acaranya.

[gallery ids="282,283,284,285,286,287,288,289,290,291,292,293,294,295"]
Finally, after two years, I met her again, though now she has turned 180 degrees :(

Goodbye Mbak SSW, thanks for our memories. I hope you can realize your dream come true...

"Happy Ied Mubarak 1434 H"

Lebaran past & now
DSC_0005
Bulan ramadhan adalah bulan dimana sebagian besar para pendaki muslim meliburkan diri dari segala aktifitas pendakian gunung. Tapi di bulan ini bukan berarti sama sekali tidak boleh naik gunung, karena agama tidak pernah melarang orang yang sedang berpuasa untuk mendaki gunung. Justru di bulan inilah waktu yang tepat untuk menguji diri kita dari berbagai tantangan kehidupan, bukan hanya sekedar fisik dan mental, melainkan iman dan juga ketakwaan.

Di gunung, selain kita bisa menguji seberapa batas kemampuan tubuh, juga salah satu cara untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Karena menurut George Mallory, gunung itu ada untuk didaki, “Because it there…”. Jadi mendakilah gunung selama gunung itu masih ada, dan selama Tuhan masih mengijinkan. Berikut ini adalah beberapa tips naik gunung saat berpuasa ala Spheriks ^_^! Semoga bermanfaat dan membawa berkah.

1. Ketika sahur, makanlah makanan bergizi, terutama yang mengandung karbohidrat dan protein. Suplemen tambahan juga sangat diperlukan. Tapi  janganlah sekali-kali sahur dengan meminum alkohol dan makan daging babi ! Soalnya itu haram, dan dilarang agama, apalagi yang dimakan adalah daging anak babi yang lahir di luar nikah dan dimakan mentah-mentah…itu hukumnya SANGAT SUPER HARAM SEKALI !!!

2. Setelah sholat Subuh, beristirahatlah yang tenang cukup.

3. Persiapkan perlengkapan & peralatan pendakian sebelum mendaki seperti biasanya. Usahakan barang bawaan tidak terlalu berat.

4. Lakukanlah pendakian ke gunung-gunung yang jarak tempuhnya relatif singkat dan medannya tidak terlalu sulit.

5. Pendakian malam hari sangat disarankan, karena kalau haus bisa langsung minum. Tapi jangan minum alkohol, soalnya alkohol bukan minuman, tapi biasa dipakai untuk membersihkan penis saat khitanan massal.

6. Walaupun sedang berpuasa, ketika mendaki janganlah mengenakan baju koko, peci, dan sarung yang baru. Kenapa ? Takut kotor.  Karena itu akan digunakan saat lebaran.

7. Sebelum mendaki bacalah doa mendaki gunung dan lakukan pemanasan terlebih dahulu.

8. Ketika mendaki, aturlah ritme perjalanan yang konstan, jangan melangkah terlalu lebar ke samping.

9. Jangan memforsir tenaga. Bila sudah lelah segeralah beristirahat dan atur pernapasan. Atau setidaknya beristirahatlah di setiap pos yang dilewati, tapi jangan sampai minum alkohol kadaluarsa, soalnya bisa membatalkan puasa dan juga haram.

10. Selama di perjalanan haruslah tetap berpikir positif. Jangan pernah mengkhayal ketika di puncak akan ada seorang wanita cantik yang menyuapi menu berbuka puasamu sambil telanjang.

11. Harap menjaga hati, sikap, dan perkataan. Ketika tersandung atau terpeleset, janganlah kamu memaki, apalagi menyebut nama alat kelamin pacarmu dengan kencang, atau bahkan sampai menggambarnya, karena akan mengurangi pahala berpuasa.

12. Ketika melihat pemandangan yang indah, ucapkanlah Anjritt…sumpah keren banget ! Subhanallah… karena akan menambah pahala berpuasa.

13. Ketika adzan Maghrib berkumandang dari desa terdekat, segeralah berbuka puasa, dan pastikan dulu itu bukan suara rekaman adzan Subuh dari ponsel temanmu.

14. Sebelum menyantap hidangan berbuka, bacalah doa yang awalannya Allahumma laka sumtu…bukan yang awalannya Nawaitul ghusla…(soalnya itu doa mandi Junub).

15. Saat berbuka, hindari minuman yang mengandung pestisida alkohol, karena akan berdosa jika meminumnya. Tapi minumlah air putih terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan makanan yang mengandung kalori dan halal.

16. Ketika sudah mencapai puncak ucapkanlah Alhamdulilah, kalau perlu sampai sujud syukur.  Jika kamu berhasil melewati semua tantangan dan pantangan dari bawah sampai puncak tanpa membatalkan atau mengurangi pahala puasa, berarti kamu sudah layak dinobatkan sebagai Pendaki Super Beriman, yang Insya Allah akan masuk surga, Amin ya robbal alamin…
Berbuka puasa di rumah atau tempat makan adalah suatu hal yang biasa dilakukan orang-orang pada umumnya, dan terlalu mainstream buat gw. Namun bagi yang kami memiliki jiwa petualang pasti tidak akan melewatkan momen ramadhan ini untuk tetap melakukan aktifitas bertualangnya sambil beribadah, salah satu contohnya yaitu dengan berbuka puasa di Gunung Api Purba Ngelanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Gunung Nglanggeran adalah gunung api purba, yang berbentuk bongkahan batu raksasa yang telah berumur puluhan juta tahun yang konon (jangan dibalik :p) merupakan berasal dari letusan Gunung Merapi.

Untuk akses mencapai gunung ini bisa ditempuh sekitar 1 jam dari kota Yogyakarta menuju Jl. Wonosari, lalu dari pertigaan Polsek Patuk berbelok ke kiri mengikuti petunjuk jalan yang ada (jalur alternatif).

Dengan membayar tiket masuk + parkir sebesar Rp 7.000, kita bisa langsung naik ke atas. Jalur menuju puncak gunung tidaklah sulit seperti gunung-gunung besar lainnya, karena waktu tempuh yang pendek sekitar 30 – 45 menit dari pintu masuk.

Perjalanan dimulai dengan melewati anak tangga yang berbatu dan menanjak. Sore itu  sempat turun hujan yang memaksa kami untuk berteduh. Beruntung di sepanjang jalan terdapat beberapa shelter yang bisa digunakan untuk berteduh ketika hujan. Selain itu ada banyak papan penunjuk arah, jadi tidak perlu khawatir akan tersesat jika mengikuti petunjuk dengan benar.

Beberapa puluh meter dari pintu masuk kita akan melewati lorong sempit yang diapit oleh dua buah batu besar, dan di atasnya terdapat sebongkah batu yang terjepit. Hal ini mirip sekali dengan film 127 Hours.  Sayang sekali waktu itu langit sedang mendung dan juga udah mulai gelap, jadi nggak memungkinkan untuk mendapatkan foto bagus :(.

Sesampainya di puncak, semua rasa lelah akan terbayar dengan pemandangan indah gemerlap lampu Kota Yogyakarta yang mulai menyala dan diselingi kabut di sekeliling gunung. Selain itu juga sayup-sayup terdengar lantunan adzan Magrib berkumandang dari desa terdekat yang menandakan bahwa saatnya berbuka puasa.

Sebuah pengalaman yang mengesankan dan menjadi sensasi tersendiri bisa berbuka puasa di atas gunung sambil menyaksikan matahari terbenam, walaupun saat itu matahari nggak nampak dengan sempurna. Mungkin lain waktu gw bakal eksplor tempat ini lagi…

*Versi DetikTravel nya...

[gallery ids="251,252,253,254,255,256,257,258,259,260,261"]
Setelah sekitar 1 minggu tertunda gara-gara si Ican kena demam berdarah, akhirnya trip eksplorasi Gunung Kidul kami lanjutin. Kali ini kita berangkat berempat yaitu, gw Ican, Bayu, sama Dean. Awalnya perjalanan pengen dimulai pagi sekitar jam 10, tapi si Bayu telat dateng dari Solo, jadinya kita berangkat jam 13.30.

Untuk menuju ke Goa Pindul dibutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Yogyakarta dengan melewati Jl. Wonosari. Pas baru nyampe pertengahan jalan, kita terjebak macet. Ternyata di sepanjang jalan itu lagi ada karnaval budaya untuk menyambut bulan ramadhan. Awalnya sih gw biasa aja, soalnya event begini emang sering di Jogja, tapi setelah itu tangan gw gatel banget pengen motret. Ya udah seketika aja posisi kemudi motor pindah ke tangan Dean, dan gw langsung turun sekaligus nyomot kamera dari dalem tas sambil berkelit menerobos kemacetan, sat..set…sat…set, pokoknya mirip Kevin Carter gitu :p Di sini waktu gw terbatas banget dan gak bisa eksplor lebih banyak, apalagi harus pake metode EDFAT, soalnya emang lagi buru-buru.

Dan sesaat mata gw tertuju sama seorang pria berbadan besar yang lagi asiknya makan lampu neon. Entah orang itu lagi kesurupan atau mabok yang jelas gw sulit ngebedainnya. Menurut gw orang ini mengerikan banget, soalnya gw dari dulu gak pernah takut sama orang manapun selama dia masih makan nasi, nah ini makannya lampu neon, gimana gak serem coba ! Dan yang anehnya lagi, gw mendapati sesosok wanita, emm….lebih tepatnya seorang pakdhe-pakdhe yang berpakaian adat wanita. Entah apa korelasinya waria dengan acara karnaval budaya menyambut bulan ramadhan, gw juga masih bingung, tapi ya begitulah Indonesia… :( dimaklumkan saja.

***


Di sepanjang jalan setelah melewati Bukit Bintang banyak orang yang menawarkan jasa untuk mengantar sampai Goa Pindul, mereka itu berasal dari EO atau penyedia layanan Cave Tubing di Goa Pindul. Bagi yang belum tau jalan menuju ke sana boleh memakai jasa mereka yang konon tanpa dipungut biaya alias gratis. Akses menuju Desa Bejiharjo tempat Goa Pindul berada sangat mudah, tapi karena kurangnya sign system banyak juga yang bingung. Tapi gak perlu khawatir, dari perempatan lampu merah setelah masuk Kota Wonosari langsung aja belok ke kiri, ikuti jalan utama tersebut, ada beberapa petunjuk jalan walaupun kurang jelas. Kalau nyasar tinggal pake GPS cangkem aja :p

Di Desa Bejiharjo ini ada terdapat beberapa EO yang menyediakan layanan Cave Tubing, tapi yang resmi dari Dinas Pariwisata dan terkenal adalah Dewa Bejo, soalnya ada Pak Tukijo nya, sang superhero :p. Dewa Bejo ini basecampnya di ujung jalan dekat pintu masuk. Harga tiket untuk Goa Pindul Rp 30.000, udah termasuk life jacket, ban, pemandu, kamar mandi, dan asuransi. Selain Goa Pindul, di desa ini juga terdapat objek wisata lain seperti Goa Gelatik, Goa Sriti, dan juga Sungai Oya, dan tarifnya pun berbeda.

Untuk masuk ke Goa, sebaiknya tas, ponsel, dompet, dan lain-lain dititipkan terlebih dahulu. Tapi tenang, tempat penitipannya aman kok. Untuk yang bawa kamera DSLR bisa, soalnya aliran airnya tenang banget, gak ada jeramnya, tapi jangan lupa dibungkus plastik untuk menghindari tetesan air dari atas dan juga percikan air, dan fotografernya jangan ikutan nyemplung, tetep stay di atas ban.

Waktu pengarungan goa sekitar 45 menit, nanti menjelang pintu keluar kita bisa memotret Ray of Light dari atas, tapi sayang banget, waktu itu kita dateng kesorean, udah gitu langitnya pas mendung, jadinya shutter speed dikamera jadi rendah dan gak dapet deh cahaya dari surganya :( Oh ya, dari titik sini kita diberi kesempatan untuk berenang, bisa juga lompat dari atas batuan di pinggir. Kalo kata Jebraw mah pecaahh abiss :p Tapi sayang banget, waktunya dibatasin soalnya ditungguin sama pemandunya, jadinya kurang puas untuk eksplor sendiri kayak di film-film petualangan gitu. Tapi gapapa, yang penting udah pernah ngerasain serunya di Goa Pindul, mungkin suatu saat bakal ke sini lagi dengan ditemani oleh wanita2 cantik :p Yang jelas, eksplorasi Gunung Kidul masih berlanjut, hahaha…aaaoouuu

[gallery ids="207,204,208,209,212,214,215,219,220,221,222,223,224,225,218"]
Puncak dari acara Soundrenaline tahun ini digelar di Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta, 29 Juni 2013, dengan mengusung tema A Journey Of Rock Harmony. Ini pertama kalinya saya hadir di event musik terbesar Indonesia. Acara dimulai siang hari, dan saya datang sekitar pukul 14.00, saat itu saya datang sendiri dan langsung bergegas menuju venue, karena dari tempat parkir sudah terdengar jelas hentakan double pedal drum dari Deadsquad yang membuat saya merinding.

Di barikade menuju loket tampak beberapa orang berseragam hitam dan berbadan cukup besar yang langsung mengidentifikasi isi dari tas slempang yang saya bawa. Dan benar, ketika baru mau masuk ke Ticket Box, saya langsung diperingatkan security nya bahwa tidak boleh membawa kamera dan alat perekam profesional lainnya. Setelah saya tanya alasan pelarangan ini, si security itu hanya memberikan alasan klise “Maaf, saya hanya menjalankan peraturan”. Lantas saja kuurungkan niat untuk beli tiket seharga Rp 25.000 ini.

Di pintu loket tersebut memang terlihat jelas adanya banner  yang menerangkan bahwa dilarang membawa kamera, bahkan untuk kamera pocket sekalipun. Saya bingung, baru kali ini nonton konser outdoor di Indonesia dilarang untuk membawa kamera. Padahal, setiap pengunjung/penonton pasti ingin punya kenang-kenangan di salah satu event terbesar di Indonesia ini, yaitu mengabadikan moment lewat foto.

Dari situ saya mulai mikir bagaimana caranya masuk dengan membawa kamera. Gak lama kemudian, di depan loket ada juga beberapa calon penonton yang bernasib sama dengan saya, yaitu membawa kamera, dan parahnya lagi mereka udah datang jauh-jauh dari luar kota seperti Tegal, Magelang, Semarang, dan juga Solo. Dan gak mungkin kan mereka harus balik lagi ke kota masing-masing untuk naruh kameranya. Mereka semua pada kecewa, soalnya udah dateng jauh-jauh dan terlanjur beli tiketnya.

Menurut informasi yang mereka dapetin dari panitia, yang boleh bawa kamera ke dalam hanya orang-orang yang telah terdaftar dan juga peserta lomba foto. Tapi entah kenapa kamera HP dan komputer tablet gak dilarang di sini, padahal kan sekarang resolusinya juga semakin besar, malahan hampir menyaingi DSLR. Dan anehnya lagi, salah seorang teman saya yang bawa kamera Lomo yang media penyimpanannya berupa film juga dilarang masuk.

Jujur, kami semua merasa kecewa sekali, karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan mengenai peraturan yang satu ini, dan informasi tentang acaranya juga sangat minim, tidak adanya website resmi yang memberitahukan tentang jadwal acara, peraturan, dan lain-lain layaknya event besar lainnya. Seharusnya jika membuat peraturan seperti ini, harus disertai alasan yang jelas dan masuk akal, serta pihak panitia harus menyediakan tempat penitipan kamera yang aman dan nyaman, agar pengunjung yang sudah jauh-jauh datang ke venue tidak batal menonton.

Beruntung, sore itu ada rombongan temen saya dari komunitas foto di Solo yang juga memiliki masalah yang sama, dan setelah berkordinasi dengan beberapa pihak panitia, akhirnya dari komunitas tersebut diperbolehkan membawa kamera ke dalam, dan saya pun bergabung dengan mereka, dan bisa memotret di dalam, walaupun sudah melewatkan band-band keren yang udah tampil :(

Dilarang !
Ketika masa-masa kejayaan fotografi analog di tahun 1990an, yang memiliki kamera SLR saat itu hanya fotografer-fotografer profesional dan juga pehobi fotografi yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas. Karena ketertarikan orang-orang akan seni fotografi tidak sebanyak sekarang. Namun ketika fotografi beralih ke digital, semuanya pun berubah. Saat ini fotografi bukanlah sebagai alat pendokumentasian dan media ekspresi fotografer semata, namun telah menjadi gaya hidup anak muda di perkotaan, karena semakin terjangkaunya harga kamera dan juga pengaruh dari perkembangan teknologi. Hal ini pun terbukti dengan menjamurnya komunitas atau klub-klub pecinta fotografi dan meningkatnya para pehobi fotografi.

Etika yang Diabaikan


Banyak dari para pehobi fotografi tersebut berbondong-bondong mempelajari berbagai teknik fotografi dan juga hunting ke berbagai tempat dengan menghasilkan karya foto yang bagus-bagus. Tidak salah memang, namun yang menjadi masalah adalah soal etika para “fotografer” tersebut dalam memotret. Banyak orang yang menghalalkan berbagai cara agar bisa mendapatkan foto yang menurut mereka bagus, seperti dengan mencari komposisi dan angle yang ekstrim tanpa mengindahkan keadaan di sekitarnya.

Suatu contoh adalah ketika perayaan Melasti di Pantai Parangkusumo dalam rangkaian Perayaan Hari Raya Nyepi 2013.

[gallery ids="162,173"]

Deskripsi


Seorang pemuka agama Hindu yang mengenakan pakaian serba putih sedang bersembahyang melakukan ritual menghadap ke arah pantai. Di sekelilingnya terdapat kumpulan fotografer yang memotretnya dari dekat, dengan angle frontal dari depan. Para fotografer itu tampak tidak peduli dengan situasinya, mereka semua serius mengabadikan frame demi frame untuk mendapatkan hasil dengan angle dan komposisi yang terbaik. Dan sang pemuka agama tersebut juga tetap khidmat seperti tidak menganggap bahwa ada orang-orang di sekitarnya, dan mungkin saja dalam hatinya merasa terganggu atas kehadiran fotografer-fotografer tersebut.


Analisis Formal


Foto ini diambil saat siang hari menggunakan lensa focal length 18 mm dan posisinya berada di belakang pemuka agama yang sedang sendirian tersebut sehingga tidak mengganggu jalannya ritual. Sedangkan para fotografer yang mengerubung dan tepat berada di depannya, secara visual saja sangat mengganggu orang yang sedang beribadah. Ditambah pula kedatangan warga sekitar yang melihat aneh terhadap orang yang sedang beribadah tersebut.


Interpretasi


Saat ini banyak fotografer-fotografer di Indonesia yang sangat arogan, tidak mengerti etika yang harus dilakukan ketika memotret acara ritual keagamaan. Padahal ada batasan-batasan tertentu dimana fotografer harus bisa menempatkan diri di tempat yang layak,  sehingga tidak mengganggu jalannya ritual. Jika ingin mengambil gambar orang yang sedang beribadah sebaiknya menggunakan lensa tele, jangan menggunakan flash secara frontal dan jangan berada di depannya, karena seolah-olah orang tersebut sedang menyembah para fotografer.


Evaluasi


Dalam foto ini menunjukkan masih banyak para fotografer-fotografer yang tidak memiliki etika. Mereka rela melakukan banyak cara untuk mendapatkan hasil yang terbaik, dan sedekat mungkin dengan objek. Kalau dicermati dengan seksama, mereka adalah orang yang berusia muda dan haus akan jam terbang. Dan rata-rata mereka berasal dari klub/komunitas fotografi. Ironis sekali memang. Ilmu yang didapat ketika mengenyam pendidikan di kampus dan juga klub fotonya masing-masing tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan hanya cuma menjadi pelengkap saja di buku catatannya. Fotografi bukanlah sekedar teknis semata, melainkan seni bagaimana kita dapat menghormati keberadaan subjek yang menjadi bidikannya.


Kesimpulan

Fotografi adalah soal bagaimana kita “berkomunikasi” dengan subjek yang difotonya dan mampu menempatkan diri pada situasi tersebut sebaik mungkin. Untuk mendapatkan foto dengan angle  dan komposisi yang bagus memang butuh perjuangan yang berat. Tapi bukan berarti harus mengabaikan etika yang ada, sehingga merugikan orang lain. Sebagai fotografer kita dituntut harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat memotret, dan sebisa mungkin menjadi “Invisible Man”, agar keberadaan kita tidak mengganggu orang yang sedang beribadah. Karena hal tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Dasar Pasal 29 ayat (2) bahwa, ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Robert Capa pernah berkata, “If your photo aren’t good enough, you’re not close enough”Quote tersebut jangan diartikan secara mentah-mentah, dengan memotret sedekat mungkin maka hasil foto akan menjadi bagus. Tapi maknailah dengan “sedekat” bagaimana dengan subjek yang akan kita foto, dan bagaimana kita bisa menempatkan diri pada situasi tertentu. Yaitu berpikir dahulu sebelum mengeksekusi.

Bukan berarti orang-orang yang menenteng kamera DSLR dapat bebas hilir mudik ke sana kemari dan memotret seenaknya, karena semua itu tentu ada batasannya. Para penggiat fotografi Indonesia seharusnya bisa lebih dewasa dalam menyikapi hal ini, karena  bangsa Indonesia yang konon menganut adab ketimuran tentunya lebih tahu tentang sopan santun dan juga rasa toleransi antar umat manusia.

 

Yogyakarta, 17 Juni 2013

Renky Spheriks
Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung...

Pepatah itulah yang selalu saya pegang ketika menjejakkan kaki di setiap tempat atau daerah lain yang saya kunjungi, di tempat yang mungkin asing bagi saya. Pepatah tersebut memiliki makna untuk menghormati atau menghargai adat istiadat setempat, selama tidak bertentangan dengan agama/kepercayaan yang saya yakini.

Kaki adalah alat gerak, tempat bertumpunya tubuh dan merupakan simbol dari kekokohan. Dengan kaki, kita bisa berjalan ke berbagai tempat, memindahkan tubuh ini ke tempat yang satu dengan yang lainnya. Beruntunglah kita jika masih memiliki kaki yang dapat menginjak puncaknya gunung, menerabas pekatnya rimba, menyusuri jalan setapak, merasakan panasnya aspal, meniti seutas tali, mengayuh tanjakan curam, menyelam hingga ke dasar, menumpu celah di tebing...

*Ini adalah sebagian kecil dokumentasi perjalanan saya ke beberapa tempat di Indonesia dalam kurun waktu 2010-2013.

Mari Hidup Sehat !

[gallery ids="138,134,133,132,128,126,140,141,142,144,146,147,150,149,151,153,154,186,187,188,189,227,228,229,230,231,232,233,234,235,236,237,238,239,240,241,242"]

"Pijakan"

by on June 25, 2013
Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung... Pepatah itulah yang selalu saya pegang ketika menjejakkan kaki di setiap tempat atau daerah...
Rencana eksplorasi Jogja sebelum bulan puasa tahun ini jadi tertunda, gara2 si Ican kena demam berdarah. Awalnya sih dia dateng berdua sama Bayu dari Solo, tujuan mereka ke tempat gw cuma mau minjem sleeping bag sama sepatu gunung buat naik ke Semeru tgl 30 Juni. Nah, kebetulan saat itu gw juga lagi butuh orang buat bantuin motret untuk tugas kuliah gw. Ya udah gw "culik" mereka, maksa untuk nginep di kostan.

Hari Rabu tgl 19, malem harinya selepas Isya, kita motret buah di studio kampus, trus pagi dini hari sekitar jam 03.00 langsung berangkat ke atas, ke Kaliadem, kaki Gunung Merapi buat motret open flash motor gw dengan background Merapi pas sunrise. Waktu udah terang kita sempetin untuk foto-foto dan eksplor ke beberapa tempat di sana. Setelah itu kita pisah, gw balik ke Bantul, sementara mereka ke Solo dan mampir dulu ke Klaten untuk sarapan.

Jadi Crew Off Road

Beberapa hari kemudian si Ican nelpon kalo dia lagi dirawat di Klaten gara-gara kena demam berdarah, dan gw jadi heran, padahal selama ini gw tidur di kost gak kenapa2 tuh...(apa mungkin karena udah lama di Banten :p). Tahun ini cuacanya emang aneh banget, soalnya udah bulan Juni tapi masih sering hujan, ini disebabkan karena perubahan tekanan udara di laut sehingga terjadinya anomali cuaca. Perubahan cuaca tersebut juga bisa berdampak datangnya wabah penyakit, dan buat yang kondisi tubuhnya lagi gak fit ini jadi sasaran empuk buat bibit penyakit masuk ke tubuh kita, nah salah satu korbannya itu si Ican. Dari sinilah rencana kita untuk #Jarang-jarang Men jadi tertunda :(

Dari situ gw memutuskan untuk nengokin dia di RSCH Klaten.

[gallery type="slideshow" ids="110,107,101,102,103,104,106,108,109"]

Abis nengokin dia trus poto-poto, akhirnya gw balik ke Jogja, pas lewat alun-alun Klaten eh ketemu sama Burgerkill lagi "ngamen" di pinggir jalan, ya udah deh nonton dulu :p

Burgerkill

Nengokin Ican

by on June 24, 2013
Rencana eksplorasi Jogja sebelum bulan puasa tahun ini jadi tertunda, gara2 si Ican kena demam berdarah. Awalnya sih dia dateng berdua sama ...
Kota Yogyakarta pukul 03.00 dini hari, dimana orang-orang pada umumnya masih tidur terlelap di rumah masing-masing, dan berselimut dengan mimpi. Namun, hal yang kontras terjadi di Pasar Beringharjo, di tempat inilah pada jam tersebut para “penghuninya” mulai melakukan berbagai aktifitasnya. Hiruk-pikuk dengan hilir-mudiknya para pedagang dan pembeli mulai terlihat di sini. Aroma pasar, dan keriuhan obrolan-obrolan khas ibu-ibu pasar pun mewarnai pagi yang masih buta ini.

Tidur di emperan toko


Seketika mata kami tertuju pada puluhan perempuan yang baru bangun tidur di emperan toko-toko sebelah timur Pasar Beringharjo. Mereka hanya beralaskan tikar seadanya dan diselimuti kain-kain yang terlihat lusuh. Beberapa diantaranya menggunakan payung untuk melindungi kepalanya agar tidak kehujanan ketika tertidur. Sekilas mereka tampak seperti gelandangan. Tapi ternyata mereka adalah buruh gendong di Pasar Beringharjo. Karena jarak rumah dengan pasar yang cukup jauh dan faktor ongkos kendaraan umum yang cukup mahal, memaksanya untuk menginap di tempat tersebut dan telah menjadi rutinitas sehari-hari.

Di pagi itu, mereka mulai melakukan aktifitasnya, menawarkan jasa untuk membawa barang para pedagang dengan cara digendong di belakang. Maka dari itu mereka biasa disebut “buruh gendong”. Beragam barang yang biasa mereka angkut yaitu sayuran, buah-buahan, beras, tepung, telur, makanan & minuman kemasan. Berat barang yang digendong pun beragam, mulai dari 5kg sampai 45kg. Tidak ada tarif  tetap yang mereka berikan kepada para pengguna jasa mereka. Sekali angkut upah yang didapat bervariatif, mulai dari Rp 2.000 – Rp 5.000. Berat beban dan jaraknya pun tidak ada ketentuannya. Yang terpenting para pengguna jasa memberikannya dengan ikhlas.

Dalam sehari, pendapatan masing-masing orang berbeda, kadang ada yang dapat Rp 40.000, bahkan ada yang hanya mendapat Rp 15.000. Yanti (53th) contohnya, dalam sehari kadang ia mendapat Rp 30.000, tapi itu belum dikurangi dengan ongkos untuk pulang-pergi ke rumahnya di Kulon Progo, sebesar Rp 15.000. Praktis ia hanya mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp 15.000 untuk makan keluarganya. Pada pukul 14.00, biasanya mereka pulang ke rumahnya masing-masing, lalu saat sore hari mereka kembali lagi ke pasar, dan pada pukul 21.00 mereka tidur di emperan toko sambil menunggu pasarnya buka.

Rata-rata usia mereka diatas 40 tahun, dan yang paling tua berusia 80 tahun. Tidak ada larangan batasan usia pada pekerjaan ini, karena tidak memerlukan pengetahuan atau keterampilan khusus. Yang penting fisik dan semangat yang kuat.

Jeratan ekonomi yang sulit membuat mereka rela melakukan pekerjaan yang terbilang “kasar” bagi kaum wanita ini, bahkan ada yang bertahan lebih dari 40 tahun menekuni pekerjaan ini. Di usia yang tidak bisa dibilang muda lagi, mereka masih tetap semangat memanggul beban yang ada di pundaknya, walaupun terkadang mereka terengah-engah ketika melewati tangga pasar.

Rasa cinta yang sangat besar terhadap pasar ini, melupakan resiko dan keuntungan dari pekerjaannya. Kebersamaan dan obrolan-obrolan seputar pasar dijadikan pemicu semangat dalam bekerja para wanita-wanita perkasa di Pasar Beringharjo.

[gallery type="slideshow" ids="83,79,78,77,76,75,74,73,72,71"]