Dia hanya memiliki 1 kaki, namun keterbatasan fisik bukanlah menjadi penghalang untuk melakukan aktifitasnya menjadi seorang pendaki gunung. Orang itu adalah Sabar Gorky, seorang pendaki tunadaksa kelahiran Solo, 9 September 1968. Sabar telah menggeluti kegiatan alam bebas sejak tahun 1985. Namun nahas, pada tahun 1996 selepas kepulangannya dari pendakian ke Gunung Gede menuju Solo, Sabar terpleset ke perlintasan rel di Stasiun Karawang dan kakinya terlindas Kereta Api. Alhasil, kaki kanannya harus diamputasi sebanyak 3 kali, dan kini hanya menyisakan 5 cm dari pangkal pahanya.




Setahun setelah sembuh, Sabar mulai mendaki gunung Lawu, namun gagal. Setelah melakukan percobaan yang ke-3, akhirnya ia berhasil mencapai puncaknya. Hingga kini, setidaknya 10 gunung di Indonesia berhasil ia daki. Tidak hanya itu saja, Sabar juga telah meraih berbagai prestasi seperti medali emas kejuaraan climbing Asia di Korea Selatan tahun 2009 dan empat besar kejuaraan climbing di Perancis. Pada Desember 2011, Sabar diberi kehormatan untuk menyalakan obor pada pembukaan ASEAN Para Games di Solo dengan cara memanjat ke atas tribun stadion, lalu meluncur menggunakan flying fox.

Tidak hanya sampai di situ, kini Sabar telah berhasil mendaki puncak Gunung Elbrus di Rusia, Kilimanjaro di Afrika, dan juga Carstensz Pyramid di Papua, dan berniat menyelesaikan rangkaian pendakiannya mencapai 7 puncak dunia dengan satu kaki.




Aktivitas Keseharian


Minggu pagi itu saya sempatkan berkunjung ke rumah Sabar Gorky. Kebetulan saat itu ia sedang mencari rejeki dengan mengelola jasa permainan Flying Fox di Kebun Binatang Satwa Taru Jurug yang letaknya tidak jauh dari rumahnya di Solo. Dengan dibantu anak dan istrinya, Sabar menyiapkan perlalatan panjatnya


Rupanya anak-anak di sekitar Kebun Binatang ini sudah tidak asing dengan wahana Flying Fox, karena telah diajarkan oleh Sabar Gorky bagaimana cara menggunakannya. Hal itu terbukti mereka bisa memasang harness sendiri dan berhasil meluncur ke seberang danau. Tentunya dengan perlengkapan standar keamanan dan diawasi oleh Sabar Gorky.





Selain mengelola Flying Fox, dia juga memiliki kios kecil yang berjualan perlengkapan pendakian. Dengan segudang pengalaman dalam mengarungi pahit-manisnya hidup, Sabar juga sering diundang ke acara-acara sebagai motivator dan tampil di acara televisi.



Kadang juga Sabar mendapat orderan dengan memanfaatkan keahlian memanjatnya untuk membersihkan gedung-gedung bertingkat. Meskipun begitu, masih banyak juga orang yang meragukan kemampuannya dalam membersihkan gedung bertingkat, karena terkait dengan fisiknya. Tapi hal itu tidak membuatnya putus asa begitu saja. Dengan keterbatasan fisiknya itu, Sabar mampu memanjat Patung Selamat Datang dan Tugu Monas di Jakarta. Hal itu dilakukan untuk membuktikan bahwa kaum difabel setara dengan orang-orang lainnya, dan juga mempunyai hak yang sama.
 


Itulah Sabar Gorky. Keterbatasan fisik tidak membuatnya putus asa dalam meraih impian. Semangat dan kegigihannya dalam menghadapi berbagai rintangan mampu mengubah paradigma orang-orang “normal” pada umumnya dalam memandang kaum difabel. Tidak ada kata “menyerah” dalam kamus Sabar Gorky, semua itu dapat terwujud dengan berdoa, usaha dan kerja keras yang bahkan harus mencapai batas maksimal kemampuan dirinya sendiri.

Sekelumit Kisah Sabar Gorky

by on Monday, January 25, 2016
Dia hanya memiliki 1 kaki, namun keterbatasan fisik bukanlah menjadi penghalang untuk melakukan aktifitasnya menjadi seorang pendaki gunung...