Ini adalah kali ketiga saya menjejakkan kaki di tanah Sumatera. Dulu waktu masih muda saya udah 2x main ke Lampung tapi cuma sampai pelabuhan aja, cuma mau ngerasain naik kapal laut abis itu pulang lagi. Kali ini udah ada kemajuan, yaitu menjelajahi bukit Monumen Siger, yaa meskipun masih di wilayah pelabuhan.


Siang itu kami berangkat bertiga, saya, Adit, dan Nana. Tapi pada perjalanan ini saya berperan sebagai obat nyamuk.


Dari rumah saya di Cilegon menuju Merak ditempuh selama 30 menit, dan langsung menaiki Kapal Ferry, tapi dengan kapal yang biasa, lalu membayar tiket sebesar Rp 14.500. Jarak tempuh dari Merak ke Bakauheni sekitar 2 jam.



Ketika sampai di Bakauheni, kami makan terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan ke atas bukit menggunakan ojeg yang ongkosnya Rp 10.000. Banyak-banyaklah berdoa jika menaiki ojeg di sini, karena tidak menggunakan helm, dan juga melawan arus lalu lintas dengan kecepatan tinggi, belum lagi jalan yang bergelombang menjadi sensasi tersendiri.

Menara Siger sebenarnya menjadi titik nol Sumatera di Selatan, namun sayang saat itu Menaranya sedang tutup, jadi kita gak bisa lihat berbagai macam koleksi seni dan budaya Lampung.




Saat pulang, kami menaiki Kapal Portlink III. Kapal ini merupakan kapal penyeberangan besar dan termewah di Indonesia. Ketika pertama masuk ruangan saya pikir ini emoll atau hotel.

Uniknya, KMP Port Link dan RMS TITANIC dibangun di tempat yang sama, yaitu di galangan utama milik Harland and Wolff Ltd Belfast, yang bermarkas di Liverpool, Inggris. Meskipun begitu saya tidak lantas mendukung Liverpool. RMS Titanic dibangun tahun 1908, sedangkan KMP Port Link ini dibangun di tahun 1980. Bedanya, Titanic berlayar mengarungi samudera Atlantik sedangkan KMP Port Link berlayar mengarungi Selat Sunda.





Interior di dalam kapal ini sangat bagus dan terdapat fasilitas mewah seperti BAR, cafe, ruang tidur, lift, mini market, bioskop mini, dan ruang VIP.

Selain perangkat keamanan yang canggih, pelayanan di kapal ini sangat bagus, yaitu ada pemaparan bagaimana menggunakan pelampung dan penyelamatan ketika keadaan darurat oleh Sea Attendant yang cantik-cantik. Begitu juga saat waktu sholat, petugas akan mengumandangkan adzan dan membimbing penumpang ke mushola yang letaknya di lantai atas.

Namun sayang, kapal mewah ini tetap saja jadi kotor oleh kebiasaan penumpang yang membuang sampah sembarangan, merokok di dalam toilet, dan menggunakan alas kaki di tempat wudhu.

Semoga para penumpang bisa sadar akan tanggungjawabnya dan dapat menjaga semua fasilitas yang ada.

Terima kasih PT. ASDP Indonesia.