JT       : "Mas, di Bromo itu dingin banget gak sih ?"
JRW  :  "Ya dinginlah, namanya juga gunung".
JT      : "Oh, ya wis, nanti kalo gitu aku tak nggowo kemul".
JRW  : (((KEMUL)))
              Karepmu dekk :p


Banyak sekali temen-temen saya yang mempertanyakan kenapa saya belum pernah ke Bromo. Mereka semua pada heran karena saya sering naik gunung tapi belum pernah ke Bromo yang terkenal sampai mancanegara itu. Begitu juga temen-temen bule sewaktu kuliah dulu. Padahal mereka baru sebentar di Indonesia udah pernah ke Bromo dan bertualang keliling Pulau Jawa hingga ke Nusa Tenggara, sementara saya masih di sini-sini aja.

Sudah lama rasanya saya memendam hasrat untuk pergi ke Bromo, mengelilingi kalderanya yang luas itu, bercengkrama dengan penduduk Tengger dan sebagainya. Saya memang sudah ke Semeru, tapi kurang lengkap rasanya jika belum pernah ke Bromo, padahal mereka itu kan satu kawasan Taman Nasional.

Semua keinginan itu akhirnya terwujud setelah saya dan Jetrani berencana pergi ke sana. Kala itu kami sedang di motor saat perjalanan pulang dari Gathering Cozmeed di Dieng. Akhirnya saya dapet temen senasib yang belum pernah ke Bromo.

Hari yang dinanti pun tiba. Kamis malam setelah pulang dari kantor saya langsung berangkat menuju Stasiun Senen untuk melaju ke Jogja. Rencana awalnya kami akan langsung berangkat saat Jumat pagi, tapi ternyata Jetrani salah menanggapi tanggal keberangkatan. Jumat itu dia masih kerja, sehingga baru bisa berangkat keesokan harinya. Walhasil rencana untuk eksplorasi Probolinggo dan mengunjungi Padepokan Dimas Kanjeng Taat Mendaki pun sirna sudah. Ya sudahlah, tidak apa-apa, yang penting bisa ke tujuan utamanya yaitu Bromo.

Pukul 07.15 kereta Sri Tanjung yang penuh kenangan itu akhirnya datang juga di stasiun Lempuyangan. Yapp…dulu di kereta inilah saya dan temen-temen menjelajah Banyuwangi dan sekitarnya, ada banyak cerita seru dan beberapa tragedi di kereta ini, tapi tidak mungkin saya ceritakan di sini soalnya kepanjangan.

p_20161210_173352

Kami sampai di Stasiun Probolinggo pukul 16.33. Dari situ awalnya sempat ditawari untuk naik mobil travel, karena harganya mahal maka kami tetap pada rencana sebelumnya yaitu naik mini bus atau orang di sini menyebutnya bison. Saat di angkot, kami tidak sengaja ketemu sepasang pria dan wanita, sebut saja Dani dan Fitri, mereka dari Jogja juga, kebetulan sekali karena kita bisa patungan untuk sewa jeepnya.

p_20161210_194523
Sebelum berangkat, kami sempatkan makan malam dulu. Saya memesan Soto ayam, sementara Jet memesan Pecel Lele. Saat makanannya datang, ternyata di luar ekspektasi, yaitu lele yang disajikan benar-benar sesuai harfiah nya, yaitu "pecel lele", nasi pecel dengan sayuran dan bumbu kacang ditambah ikan lele. Hal itu berbeda sekali dengan pecel lele di kebanyakan tempat yang menyajikan nasi, ikan lele, sambal dan lalapan. Lalu kami berdua terbengong-bengong keheranan seakan tidak percaya yang terjadi. Setelah itu Jet tampak kebingungan untuk makannya, karena dia kurang suka dengan bumbu kacang, tapi karena perutnya sudah bergejolak, mau tidak mau lele tersebut harus masuk ke perutnya.

Hari pun semakin malam. Awalnya kami pikir bisa langsung jalan, tapi ternyata supirnya menunggu mobilnya penuh supaya tidak rugi. Setelah menunggu lama sampai pukul 21.00, mobilnya tidak kunjung penuh, hanya ada 2 orang lagi yang datang, mereka adalah Opik dan Sayiful, dua pemuda dari Depok. Setelah bernegosiasi harga, akhirnya sang supir yang bernama Maksum memberangkatkan kami semua menuju Cemoro Lawang.

Jarak dari Probolinggo ke Cemoro Lawang sekitar 1,5 jam. Ketika turun dari mobil saya heran, karena tidak merasakan dingin seperti biasanya di gunung. Mungkin karena pengaruh musim hujan, jadi malam itu saya hanya mengenakan kaos saja.

p_20161210_224649
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, jadi masih ada sekitar 4 jam lagi untuk berangkat ke Pananjakan 1. Kami memang tidak memesan penginapan, karena rencananya mau cari tempat nongkrong seperti warung untuk sekedar istirahat sambil menunggu jemputan Jeep. Saat sampai di depan penginapan, kok rasanya tidak enak yahh, kalau cuma numpang duduk-duduk di terasnya. Akhirnya sang pemilik Home Stay mempersilahkan kami untuk melihat kamar yang kosong. Saat itu mereka mematok harga Rp 250.000 per kamar, karena saat itu peak season. Untungnya Pak Maksum membantu menawar harganya karena kami hanya istirahat beberapa jam saja. Ya sudahlah, akhirnya pemiliknya menyetujui dengan harga Rp 200.000 untuk 4 orang, karena Dani dan Fitri menginap di tempat lain.

Pukul 03.00 tepat kami semua sudah bangun dan siap untuk melanjutkan perjalanan melihat sunrise di Pananjakan 1. Tapi sayangnya sopir Jeepnya telat, dan baru datang sekitar pukul 04.00. Saat musim liburan seperti ini memang harus lebih pagi agar tidak terjebak macet di jalan.
p_20161211_045322_pn

Langitpun mulai membiru, menandakan fajar segera datang. Tapi saat itu kami masih berada di dalam Jeep dan terjebak macet saat menuju Pananjakan 1. Di area ini memang tidak ada tempat parkirnya, sehingga mobil-mobil Jeep terpaksa parkir di pinggir jalan dan sangat menyulitkan untuk menembus ke atas. Dengan sangat terpaksa kami turun mobil lalu naik menuju sebuah bukit yang letaknya tidak jauh dipinggir jalan. Di lokasi ini sudah terdapat banyak orang yang ingin memotret. Tapi sayang, saat itu cuacanya sedang berkabut, sehingga matahari tidak mengeluarkan cahayanya dengan sempurna, belum lagi Kawah Bromo dan puncak Gunung Batok yang sama sekali tidak terlihat.

Hanya 10 menit kami berada di sini lalu turun lagi menuju Jeep. Kami sudah membayar mahal dan ngotot ingin ke Pananjakan 1, tapi kondisi tidak memungkinkan karena macet dan waktu sudah semakin siang. Sang Sopir Jeep yang datang terlambat tidak ingin disalahkan. Semua ini terjadi karena miskomunikasi antara Pak Maksum dan penyedia angkutan di sana. Jetrani yang awalnya semangat jadi sangat marah kepada sopir Jeepnya karena meminta uang tambahan jika tetap naik ke Pananjakan 1. Saya pun sangat kecewa dengan hal ini, karena sudah lama ingin memotret Bromo dari spot sejuta umat tapi sirna begitu saja. Setelah berdebat cukup sengit akhirnya saya coba meredakan suasana. Sulit diterima memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Kami tidak mendapatkan apa-apa di sini, jauh dari ekpektasi yang dibayangkan karena keterbatasan waktu.

Dari bukit tersebut kami kembali lagi dan menuju ke lautan pasir di bawah. Sujud syukur saya lakukan ketika menginjakkan kaki di sini, di tempat yang menurut saya romantis. Semua hal yang menyebalkan tadi sirna begitu saja, meskipun masih menyisakan sedikit kekecewaan. Tidak mendapatkan foto yang sudah terkonsep dengan baik memang membuat saya kecewa, tapi sebenernya bukan itu tujuan utama saya ke sini, melainkan ada misi lain meskipun itu juga gagal :(
ren_5525
Di hadapan saya berdirilah Gunung Batok yang ikonik itu. Cerita legenda tentang kisah Roro Anteng dan Joko Seger selalu menyelimuti dan otomatis tervisualisasikan di dalam pikiranku. Ingin rasanya mendaki hingga ke puncaknya, namun apa daya, waktu terbatas yang diberikan sang supir Jeep menghalangi niat kami. Maka dari itu perjalanan dilanjutkan menuju Kawah Bromo.

ren_5558 ren_5566

Dari parkiran telah banyak penyedia jasa kuda hingga ke tangga kawah. Tarifnya sekitar Rp 30.000 pp. Dengan jarak yang tidak jauh maka kami memutuskan untuk jalan kaki. Saat sampai di tangga ternyata sudah banyak orang yang antri hingga ke atas sehingga jadi macet. Saya dan Jetrani mengambil jalur "tol" di luar tangga karena agar segera sampai puncak kawah. Perlu kehati-hatian bila melewati jalur ini karena medannya berupa pasir dan sangat terjal sekali, mirip di puncak Mahameru.

DCIM100GOPROGOPR2619.

Tidak salah memang saya jalan-jalan dengan wanita satu ini, selain rame, fisiknya juga kuat sekali, bahkan saya sampai kewalahan menyesuaikan ritme jalan ketika menanjak. Saat sampai di puncak, Jet langsung diam beribu bahasa, tidak biasanya dia seperti itu. Ternyata dia sedang mual dan sedikit pusing, pasti ini karena tenaganya terlalu diforsir dan ritmenya terlalu cepat ketika menanjak. Setelah beberapa saat, akhirnya dia pulih kembali, alhamdulilah.
ren_5600DCIM100GOPROGOPR2607. 
Pagi itu Kawah Bromo selalu mengeluarkan asap putihnya yang pekat. Cuaca sedang mendung disertai gerimis yang membawa abu material dari lubang kawah, mirip sekali seperti saat erupsi Merapi dan Kelud, namun intensitasnya sangat kecil. Baju, tas, dan jaket pun jadi kotor terkena abu Bromo, belum lagi mata perih dan bau belerang yang sangat pekat, hal itulah yang membuat kami harus segera turun lalu melanjutkan ke spot lain yaitu Sabana bukit Teletubbies.
ren_5622
Di sabana ini pemandangannya bagus sekali, banyak spot yang bisa dieksplor untuk pemotretan. Namun sayangnya, belum sempat puas eksplorasi hujan deras mendadak turun di area ini dan memaksa kami kembali ke dalam Jeep, padahal rencana selanjutnya harusnya kita menuju ke pasir berisik berbisik, namun saat itu kondisi cuaca tidak memungkinkan.

ren_5676

DCIM100GOPROGOPR2584.

Dari segala permasalahan inilah saya dan Jet berjanji akan "balas dendam" untuk mengunjungi Bromo lagi di lain waktu, yang pastinya waktu yang tepat untuk berlibur itu adalah hari-hari biasa, bukan hari libur panjang dan bukan musim hujan. Selain itu, menggunakan sepeda motor tampaknya lebih baik daripada menggunakan Jeep, karena bisa puas bereksplorasi tanpa dibatasi waktu.

Saat sampai kembali di Cemoro Lawang kesialan saya belum hilang. Saya tidak dapet tempat duduk di mobil angkutan ke Probolinggo, walhasil selama hampir 2 jam saya harus duduk lesehan tanpa alas dan kaki terhimpit di pintu. Sontak saja orang-orang di dalam mobil yang sebagian wisatawan asing pada ngetawain semua.

Haduhhh...apes banget, udah jomblo duduk di bawah lagi T_T



Estimasi Biaya

Kereta Sri Tanjung Jogja - Probolinggo :Rp 74.000
Angkot Stasiun - Terminal : Rp 15.000
Bison Rp 75.000
Jeep kapasitas 6 orang : Rp 800.000 (4 destinasi).
Tiket Taman Nasional : Rp 32.000
Home Stay : Rp 200.000 (4 orang)

 Memang agak susah ya cari temen yang mau diajak jalan secara dadakan gini. Rencana itu ada saat hari Kamis, dan saya menggebu-gebu pengen banget main ke Cibodas sekedar untuk mencari kesejukan dan menenangkan pikiran dari kepenatan ibukota.

Jumat malam selepas pulang kerja, saya melaju sendiri naik motor ke Cibodas. Dari Jakarta saya sempatkan mampir ke Cozmeed Depok untuk mengembalikan tas Chumbu Step X60 ke Mas Ade. Saat sampai Bogor Selatan menuju Ciawi, saya berhenti sejenak, menepikan motor untuk mengecek instagram :D Tidak lama kemudian ada seorang bapak-bapak yang datang menghampiri saya.

"Mas, mau ke mana ?" kata bapak itu.

"Oh, mau ke puncak pak, ke Cibodas" kata saya.

"Boleh saya numpang sebentar gak ? deket kok satu arah ke situ".

Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 22.30 dan sudah tidak ada angkutan umum lagi. Saya sempat berpikir sejenak, bukannya tidak ingin menolong, tapi was-was takut dia berbuat jahat. Karena yang saya takutkan adalah dia membawa saya ke hotel atau villa lalu disodomi rame-rame bersama teman-temannya.

Setelah saya berdoa dalam hati meminta perlindungan Tuhan dan pasrah akhirnya saya menyetujui untuk mengantarkan bapak itu ke tempat tujuannya. Sepanjang perjalanan bapak ini tanya-tanya maksud dan tujuan saya pada malam itu. Untung saja semua yang saya khawatirkan itu tidak terjadi, dan keperjakaan saya masih tetap utuh. Bapak itu turun tidak jauh dari tempat menumpang, ya sekitar 3 km. Dari situ saya langsung melaju dengan cepat menembus gelap dan dinginnya daerah puncak.

img_20161119_073601

Sekitar pukul 00.15 saya sampai Cibodas dan langsung menuju basecamp Green Ranger Indonesia untuk bermalam. Di sana ternyata sudah ada dua orang pendaki yang ingin trail running ke Puncak Gede. Bang Idhat Lubis langsung menyambut saya dan mempersilahkan untuk langsung istirahat di dalam. Tak lama kemudian datang rombongan pendaki dari Bogor sekitar 5 orang, mereka semua masih ABG dan bermaksud untuk menyewa perlengkapan mendaki. Si Mama keluar dari ruangan bersama 3 anjingnya yang lucu untuk menyapa para pendaki itu. Tak lama kemudian mereka dimarahin Mama gara-gara mereka tidak membawa peralatan lengkap. Saya di situ hanya bisa tersenyum sambil menyantap indomie melihat mereka dimarahi.

img_20161119_0742591

Pagi yang cerah membuka semangat hari itu. Saya langsung menuju resort taman nasional untuk melakukan registrasi. Untuk masuk ke canopy trail Ciwalen tidak perlu membooking terlebih dahulu seperti pendakian ke puncak. Saat ingin membayar saya kaget karena harganya mahal sekali, mereka mematok harga Rp 90.000 karena saya datang sendiri. Padahal menurut Satya Winnie harga tiket masuknya per orang Rp 31.000 sudah termasuk pemandu. Lalu saya coba menawar, dan akhirnya diputuskan harga Rp 60.000, meskipun buat saya masih mahal tapi ya ok lah, daripada sudah sampai sini tapi tidak jadi.

img_20161119_085148

Untuk menuju canopy trail, dari resort ditempuh sekitar 15 menit. Di sini diwajibkan menggunakan pemandu, karena merupakan area khusus yang biasa digunakan untuk pengamatan satwa arboreal dan juga macan tutul. Pada awalnya jalur ini adalah jalur khusus yang biasa digunakan untuk penelitian dan pendidikan, namun pada bulan Oktober 2014, lokasi ini sudah dibuka untuk umum.

ren_5281

Saat itu saya ditemani oleh Bang Jack dari Montana. Dia membukakan gembok yang mengunci pintu canopy nya. Ketika melewati jembatannya saya agak sedikit pusing, karena jembatannya bergoyang-goyang dan terombang-ambing seperti naik kapal tradisional. Canopy Trail yang dibangun pada tahun 2010 ini memiliki panjang lintasan 130 m, tinggi 40 m, dan memiliki kapasitas 300 kg atau sekitar 5 orang dewasa. Jadi bagi yang ingin berfoto di sini harus gantian dan berhati-hati.

Memang tidak mudah untuk menemukan macan tutul di sini, karena macan tutul adalah binatang nocturnal yang aktif di malam hari. Butuh waktu pengamatan lebih lama dan kebetulan waktu itu saya tidak membawa lensa tele, jadi saya hanya mengamati tempat pengamatannya saja.


img_20161119_084136

Dari canopy trail saya lanjutkan menuju Curug Ciwalen yang letaknya tidak jauh dari situ. Nama curug (air terjun) ini diambil dari nama pohon Ciwalen yang berada di sekitar air terjun. Kebetulan saya datang saat musim hujan, jadi debit airnya banyak sekali. Di curug ini sangat cocok untuk bersantai, nyusu sambil menikmati suasana alam yang tenang, karena tidak banyak pengunjung yang datang ke sini.

Di pertigaan jalan utama saya dan Bang Jack berpisah, karena memandunya hanya sampai di sini, lalu saya putuskan untuk lanjut naik ke Curug Cibeureum. Bagi yang telah memiliki tiket ke Canopy Trail tidak perlu membayar lagi jika ingin ke Curug Cibeureum, sebaliknya, bagi yang dari Cibeureum dan ingin ke canopy harus membayar lagi tiket yang berbeda.

img_20161119_101433-011

Di Curug Cibeureum tidak terlalu ramai seperti biasanya, di situ saya mencari pohon untuk menggantungkan perasaan hammock, tapi sayangnya saya tidak menemukan spot yang bagus dan tenang. Maka dari itu saya memutuskan turun kembali menuju ke Telaga Biru.

DCIM101MEDIA

Di Telaga Biru letaknya di pinggir jalur pendakian, jadi seringkali orang yang ingin mendaki mampir ke tempat ini untuk sekadar foto. Telaga Biru disebut demikian karena airnya berwarna kebiruan, tapi kadang juga berubah menjadi hijau bahkan coklat, tergantung pertumbuhan alga di dalamnya. Dulu saat saya ke sini tahun 2004 ada dermaganya, tapi sekarang dermaganya rusak dan tidak diperbaiki sampai sekarang.

img_20161119_115718

Awalnya saya memasang hammock tepat di pinggir telaga, namun ternyata lokasi tersebut merupakan spot yang biasa digunakan untuk berfoto, jadi saya memutuskan untuk pindah lokasi agar tidak mengganggu pemandangan orang-orang :D

Menurut bang Idhat, ada 2 tipe pendaki, yang pertama adalah yang fokus berolahraga dan mencapai target dengan cepat seperti trail runner, dan yang kedua adalah penikmat alam, yaitu orang-orang yang benar-benar menikmati alam setiap jengkalnya secara mendalam dan menyatu dengannya. Saya termasuk yang kedua. Di sini saya benar-benar menikmati ritual dengan alam tanpa gangguan. Tidak masalah jalan sendiri, yang penting berkualitas dan lebih intim dengan alam. Tapi gak enaknya adalah gak ada yang bisa disuruh-suruh untuk motretin :D
 Cuaca mendung mulai menutupi Yogyakarta pagi itu. Jetrani datang tak lama setelah saya melakukan ritual pagi di toilet Stasiun Lempuyangan. Setelah itu saya mampir terlebih dahulu ke rumahnya untuk numpang mandi dan packing ulang barang bawaan. Rencananya sih kami mau ultralight dengan membawa barang seringan dan seefisien mungkin. Tapi hal itu jadi sirna, karena banyak barang yang harus dibawa akhirnya dengan terpaksa kami harus menggunakan 2 tas carrier. Sepanjang perjalanan kami sempat berhenti beberapa kali untuk menambal ban, sholat, makan siang, dan juga foto-foto. Maklumlah, yang saya bawa ini adalah mbak-mbak selebgram, jadi harus update setiap saat.

img_20161028_151502

Agar lebih cepat, kami memutuskan ke Dieng lewat Borobudur melalui jalan yang banyak enggok-enggokan (lupa namanya :p) dan tembusnya di Pasar Sapuran. Saat sampai di Wonosobo saya sempatkan makan Mie Ongklok, saya cukup suka dengan mie ini tapi tidak dengan Jet. Dia mungkin agak jijik karena kuahnya sangat kental seperti ingus.

img_20161028_141555

Sebenernya, tujuan kami hari itu adalah ke Telaga Warna untuk naik ke atas bukit yang ada Ratapan Batu Angin, tapi sayang sekali saat itu hujan dan kami sampai Dieng terlalu sore. Maka dari itu perjalanan kami lanjutkan menuju TKP gathering yaitu Tlogo Dringo. Setelah sampai di desa terakhir, kami titipkan motor ke rumah warga, karena motor matic cukup berbahaya bila digunakan di jalur yang sangat menanjak dan berbatu licin. Untuk menuju venue dari desa terakhir bisa ditempuh sekitar 1 jam dengan jalan kaki.

Saat sampai di lokasi, saya cukup dibuat tercengang karena settingnya sangat bagus, mulai dari gapura, panggung, dan lokasi camp-nya yang berada di atas bukit mengarah ke Tlogo Dringo yang berada di bawahnya. Gathering Cozmeed kali ini lebih keren dari tahun sebelumnya, dan lokasinya pun sangat bagus.

img_20161030_065212


Acara malam itu diisi oleh stand up comedian yang merangkap sebagai MC. Guyonan saru ala Jawa sering dilontarkan orang tersebut untuk memicu tawa para hadirin. Bangku yang terbuat dari papan dengan diganjal krat minuman bersoda pun sudah penuh terisi para peserta yang duduk rapi di depan panggung. Sambil menonton, mereka sambil memanggang sosis dan kentang di atas perapian. Suasana yang syahdu yang udah lama saya inginkan.

ren_4949

ren_4993

ren_5046simg_20161030_071019


Gathering Cozmeed ini merupakan acara penutup dari rangkaian event pendakian #EatSleepHike tiap tahunnya, dan ini adalah yang kedua diadakan setelah tahun lalu di Tawangmangu. Peserta yang datang kebanyakan adalah "alumni" atau orang-orang yang pernah mengikuti event ESH sebelumnya, jadi saat ketemu sudah tampak akrab sekali meskipun berasal dari berbagai daerah yang berbeda.

ren_4998

29 Oktober 2016.

Aktivitas hari ke-2 dimulai dengan senam berjamaah. Kali ini senam yang agak absurd itu dipimpin oleh Risa Kribo. Tapi ini bukannya jadi sehat tapi pada ngakak semua gara-gara gerakannya gak sinkron dengan musiknya. Setelah senam, kegiatan dilanjutkan dengan workshop fotografi traveling oleh Wira Nurmansyah dan travel writing oleh @effenerr

ren_4967
ren_4975


Untuk memanfaatkan waktu jeda, saya dan Jetrani mencoba eksplorasi ke bawah dekat telaga, maksudnya sih untuk santai di hammock. Ketika sampai di telaga hujan mulai turun, dan kami tidak sengaja bertemu dengan ibu-ibu pedagang makanan. Dari kejauhan kelihatannya dia sedang kesulitan berjalan. Setelah kami dekati ternyata dia disorientasi medan, karena penglihatannya terganggu (Low vision). Akhirnya kami coba evakuasi ke tempat camp untuk berteduh dari hujan.

ren_5111

Malam puncak acara pun tiba, acara diisi dengan sharing pengalaman bersama Yudha @catatanbackpacker dan Harival Zayuka. Malam itu tampak meriah sekali karena ditutup dengan hiburan musik dan juga penampilan dari Rizi bocah gimbal Dieng yang sangat ikonik.
ren_5212

30 Oktober 2016

Pagi itu saya bangun  agak kesiangan, jadi kecewa gak bisa motret sunrise. Untuk mengobati kekecewaan itu saya dan Jet mencoba eksplorasi kembali ke sekitar telaga, karena hari sebelumnya gagal dikarenakan hujan. Saat sampai telaga kami penasaran dengan bangunan di puncak bukit seberang sana, maka dari itu kami menelusurinya melewati tepi telaga dan menanjak ke punggungannya. Dari punggungan itu lalu memasuki lorong hutan bambu dan tembusnya di ladang penduduk. Ternyata bangunan tersebut adalah makam, dan orang-orang sekitar menyebutnya Bukit Jiwan. Pemandangan dari sini sangat bagus sekali, terlihat hamparan ladang membentang dan di depan terdapat perbukitan.

ren_5264

DCIM101MEDIA

Setelah puas mengeksplorasi, kami kembali ke tempat camp untuk melakukan penanaman bibit pohon. Kemudian acara Gathering Cozmeed ditutup dengan persembahan tarian tradisional oleh warga sekitar.

img-20161031-wa0014

Terima kasih kepada Cozmeed, seluruh peserta gathering, panitia pelaksana Dieng, pengisi acara, tim keamanan, dan warga sekitar yang ramah yang telah mensukseskan acara ini. Sampai jumpa di Gathering Cozmeed tahun depan.

Selamat Bertualang.
 Malam itu saat ke Jogja, saya sempatkan untuk mampir ke rumahnya Jet (@rezadiasjetrani) untuk sensus dan sedikit curhat :D Saya bilang mau ke Punthuk Setumbu esok hari, tapi dia menyarankan lebih baik ke Punthuk Mongkrong, karena lebih bagus dan tiket masuknya pun gak semahal Setumbu. Ok baiklah, atas saran dia, saya putuskan untuk ke Punthuk Mongkrong yang lokasinya gak jauh dari Setumbu, lagipula saya udah beberapa kali ke Setumbu, mau menjajal tempat yang baru.

img-20160815-wa0028-03

Dari Jogja berangkat pukul 03.30 bersama Novi (@noviiautamii) naik motor sewaan. Saya kenal dia dari Twitternya @nebengers, dia berangkat sendirian dari Jakarta ke Jogja dan bingung mau ke mana. Kebetulan saat itu saya ada keperluan juga ke Jogja, ya sudah mending bareng aja, tapi entah kenapa dia bisa langsung percaya, padahal kan malam itu kita baru pertama ketemu. Apa dia nggak takut diculik sama saya yang berwajah syerem ini ? Itulah pertanyaan yang belum sempat saya tanyakan hingga hari ini.

DCIM101MEDIA

dsc_0259

Untuk menuju ke Punthuk Mongkrong, dari Jogja pergi ke arah Magelang, masuk kawasan Borobudur. Dari Borobudur belok kiri melewati Hotel Manohara. Setelah tiba di perempatan kecil masih lurus lagi menuju Balai Desa Giri Tengah, ikuti rambu-rambu yang ada, atau bisa juga gunakan GPS. Punthuk Mongkrong ini lokasinya lebih tinggi daripada Setumbu, maka tidak disarankan menggunakan motor matic, karena tanjakannya cukup terjal dan sempit.

Photo : Novi

Saat sampai di lokasi, ternyata sudah ada beberapa orang, tidak begitu ramai karena hari itu adalah hari Senin. Punthuk Mongkrong ini merupakan salah satu spot terbaik untuk memotret sunrise. Tapi sayang saat itu matahari tampaknya enggan menampakkan wujud sempurnanya karena terhalang kabut. Dalam memotret pemandangan itu, pertanyaannya bukanlah "Bagaimana caranya ?" tetapi "Kapan waktu terbaik ?". Jadi meskipun kita memotret di lokasi yang sama bisa mendapatkan hasil dan mood yang berbeda, tergantung kapan kita datangnya.

img_20160815_061138

Di spot ini terdapat jembatan bambu yang berbentuk V, sangat bagus sekali, dan dapat dinaiki maksimal 3 orang. Selain itu juga lokasi ini disediakan jembatan gantung dan gardu pandang di pohon. Bila kita geser sedikit ke arah utara maka akan terlihat gunung Sindoro dan Sumbing. Gunung Merapi dan Merbabu pun terlihat jelas di balik awan. Oh iya, di lokasi ini juga terdapat batu yang dibuat untuk mengenang sejarah Pangeran Diponegoro dan pasukannya yang pernah beristirahat di sini.

img-20160815-wa0006-01

DCIM101MEDIA

Sebenarnya di kawasan ini ada spot lain yaitu Punthuk Sukmojoyo dan Pos Mati, tapi sayang saat itu matahari mulai meninggi yang menandakan saya harus turun dan berteduh agar kulit saya tidak menghitam :D
BANGKE !!!

Itulah kata yang pertama terlintas dan terucap dari mulut ketika turun dari mobil dan menjejakkan di wilayah ini. Karena macet, pagi itu kami terpaksa jalan kaki sekitar 200 meter ke pintu Pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara. Bagi saya 200 meter itu tidak jauh, tapi masalahnya adalah kita harus melewati jalan yang sangat bau sampah dan menghindari genangan air kotor. Hari itu tidak turun hujan tapi air comberan hitam pekat yang sejajar dengan jalan sudah meluber ke mana-mana, bagaimana kalau hujan, mungkin airnya bisa terminum, hooeekss.




Saya gak habis pikir, banyak juga pedagang yang berjualan makanan di sini, padahal untuk bernapas mencari udara normal pun sulit. Wajar saja, jika warga sini masih membeli air bersih untuk keperluan, minum, mandi, dan mencuci. Selama perjalanan menuju pelabuhan saya selalu mengumpat dalam hati, mengapa sampah-sampah di sini berserakan dan dibiarkan menggunung, membuat saluran air mampet sehingga mengeluarkan semerbak wangi comberan. Padahal, jalur ini adalah salah satu akses menuju Kepulauan Seribu, destinasi wisata yang keren di Jakarta.

Dengan penuh rasa jijik, saya berusaha menghindari cipratan air comberan dan menutup hidung menggunakan masker agar baunya tidak meresap ke dalam kalbu. Sebenarnya dulu saya sering melakukan evakuasi jenazah, baik yang masih fresh maupun sudah membusuk, tapi biasa aja. Tapi entah kenapa ketika melewati jalur ini rasanya ingin muntah. Hal itu ditambah pula dengan kelakuan para tukang ojeg yang menawarkan jasa sambil melawan arus dan berhenti di tengah-tengah jalan sehingga membuat kemacetan. Rasanya pengen menyuruh mereka semua push up di atas air kotor tersebut.



Sementara itu, Ilham dan Rita sudah menunggu di pelabuhan. Kali ini Ilham yang menjadi tour leadernya, dia yang mengurus semuanya. Jadi hari itu yang berangkat berjumlah 8 orang yaitu, Yasin, Rahman, Rina, Mbak Nur, Sofyan, dan saya. Di liburan ini saya dipaksa untuk ikut oleh gank "Endol" nan shyangkraayy. Katanya, kalau saya gak ikut bakal "dipake" sama mereka. Ya sudahlah saya nurut, daripada masa depan terancam -_-

Di pelabuhan ini kapal "Srikandi" telah bersiap mengantarkan kami ke Pulau Pramuka. Ini adalah kali kedua saya traveling ke wilayah Kepulauan Seribu (Kepulauan loh yaa, bukan Pulau). Sebelumnya saya sudah pernah pergi ke Pulau Tidung, tapi menggunakan kapal cepat via Marina Ancol. Namun kali ini saya menggunakan armada yang lebih murah yaitu kapal tradisional yang terbuat dari kayu, dan memakan waktu perjalanan sekitar 3 jam menuju Pulau Pramuka.




Setelah terombang-ambing di lautan, akhirnya sampai di Pulau Pramuka pada pukul 11.09 WIB. Pulau ini merupakan pusat pemerintahan dari wilayah Kepulauan Seribu. Dinamakan "Pulau Pramuka" konon (jangan dibalik)  katanya dahulu dijadikan tempat Jambore Nasional Pramuka untuk pertama kalinya. Selain itu juga pulau ini disebut juga "Cyber Island" karena satu-satunya pulau di wilayah Kep.Seribu yang memiliki akses internet.





Sehabis makan siang, kami lalu bergegas menuju Pulau Gosong menggunakan perahu kecil. Di pulau ini tidak terdapat apa-apa, hanya pasir putih yang timbul saat surut saja, maka dari itu kami tidak lama berada di sini karena harus menuju ke Pulau Karang Congkak sebelum gelap.



Dari kejauhan saya melihat "zona hujan" yaitu suatu area yang sedang turun hujan, dan area tersebut searah dengan jalur menuju Pulau Karang Congkak. Untuk menyingkat waktu perjalanan, sang pengemudi perahu menerobos zona itu daripada harus memutar, jadi kita sempat dibuat sibuk untuk menutupi tas dan barang-barang lainnya menggunakan plastik agar tidak basah.



Pulau Karang Congkak adalah pulau kecil yang ukurannya sekitar 1,5 lapangan sepakbola. Di pulau ini tidak ada penghuninya, dan juga tidak ada air tawar, maka dari itu sebaiknya dari Pulau Pramuka membawa air 1 galon untuk memasak atau membilas agar selangkangan tidak lengket dan gatal.

Di pulau ini juga tidak terdapat dermaga, sehingga harus nyemplung untuk memindahkan barang-barang dari perahu ke pulau. Tanpa berpikir lama, kami segera mendirikan tenda, karena dikhawatirkan akan turun hujan. Sementara yang cowok mendirikan tenda, kaum cewek bertugas untuk memasak.




Ada satu hal yang menurut saya sangat konyol sekali. Rina sepertinya jarang ikut camping ceria di alam bebas, sehingga dia terlihat bingung dan tidak biasa pada situasi seperti ini. Setelah semua tenda berhasil didirikan, dia bertanya.

“Nurbani, hhmm...ada keset gak ?” tanyanya pada Mbak Nur.

Mbak Nur yang orangnya cablak langsung saja merespon.

“Eh, kalian denger gak Rina ngomong apa ?” tanyanya pada semua orang.

“Dia nanyain KESET !”

Sekejap saja semua orang langsung tertawa karena berpikir buat apa bawa-bawa keset untuk camping di tengah pulau kecil tak berpenghuni.

Memang, menurut orang-orang dia mengidap sindrom “Jijikan”, jadi dia gampang jijik sama sesuatu yang menurut dia kotor dan berkuman. Contohnya aja dia gak mau makan pakai piring yang habis dilap pakai tangannya Yasin, padahal piring itu bersih habis dicuci. Wahh, repot juga yah bawa peserta seperti itu untuk kegiatan alam bebas, harus ikut diksar dan sering-sering disuruh push up biar terbiasa.

Pantai memang tempat yang cocok untuk bersantai dan bermalas-malasan. Sore itu di pulau ini kami isi dengan bersantai sambil menikmati sunset dan diiringi musik nan syahdu. Rasanya tenang sekali ada di pulau kecil ini, berasa lagi survival tapi piknik mengasingkan diri dari kepenatan ibu kota. Suasana itu terasa cepat sekali karena hari sudah semakin gelap dan waktunya kami mempersiapkan hidangan malam.



Suatu ketika saya tidak sengaja lewat belakang tenda dan melihat bayangan perempuan sedang ganti baju di dalamnya. Ternyata itu lagi-lagi ulahnya Rina. Langsung saja saya peringatkan. Sebagai pelajaran saja nihh, kalau ganti baju di dalam tenda jangan menyalakan lampu atau senter, karena lekuk badanmu akan keliatan dari luar apalagi kalau sambil berdiri, bagi kaum cowok pasti akan keliatan gondal-gandul.

Pernah lihat pertunjukan wayang kulit dari balik layar ? Nahh, konsepnya sama seperti itu, jadi cahayanya akan membentuk siluet badan kamu. Makanya kalau ganti baju di dalam tenda, usahakan tanpa penerangan, dan ganti celananya cukup sambil duduk saja. Pernah beberapa kali saya mendapati hal seperti ini, dan buat saya ibarat nonton wayang gratis. Tapi kalau cowok ya gak bakal saya tonton lahh. Masa’ jeruk makan jeruk.

Malam pun semakin gelap. Seketika saja Ilham berinisiatif untuk mengadakan sesi curhat, lebih tepatnya mengungkapkan impian. Banyak sekali impian temen-temen yang ingin segera terealisasikan di sini, seperti Mbak Nur & Sofyan yang ingin sekali punya anak, Rahman yang ingin hijrah supaya tidak cerewet, Rina yang gak pengen jijikan lagi, dan Rita yang ingin dapet jodoh dan jalan-jalan ke Jepang entah sama siapa.

Kontemplasi memang diperlukan di momen seperti ini, karena dari situlah kita bisa dengan tenang instropeksi diri, bercermin pada masa lalu, dan berpikir untuk merancang rencana ke depannya. Katanya sih, doanya orang-orang “terdampar” akan cepat dikabulkan :D



Sebagai penutup, malam itu kami menerbangkan lampion, seperti ritual di Borobudur saat perayaan Waisak. Setelah semuanya tertidur dan memastikan semuanya kondisi aman, saya tidur sendiri di dalam tenda. Maklumlah, masih single, apa-apa sendiri.



Pagi pun datang menyambut bersama pelangi di balik pulau. Saya pun terbangun terakhir, yaa wajarlahh, kan tadi udah dibilangin kalo saya single.

Tidak banyak waktu kami pagi itu, karena harus segera kembali menuju Pulau Pramuka. Untungnya di pulau ini sinyal telepon dan internet cukup bagus, sehingga bisa update instagram, meskipun gak ada yang whatsapp, kan udah tau jawabannya.




Sambil menuju ke Pulau Pramuka, kami sempatkan dulu mampir sejenak ke penangkaran hiu. Setelah itu kami lanjutkan untuk mandi di Pulau Pramuka.







Penangkaran Penyu 



Di Pulau Pramuka ini ternyata terdapat tempat penangkaran penyu dari Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Tempat ini dirintis oleh pak Salim yang dulunya adalah seorang pemburu dan penjual penyu sisik (Eretmochelys imbricate). Untuk "menebus dosa" masa lalunya itu beliau kini justru menjadi aktivis melindungi dan melestarikan penyu tersebut dan menanam mangrove di sekitar kawasan Pulau Pramuka.
 


Atas jasa-jasanya tersebut, pemerintah memberikan berbagai penghargaan di bidang lingkungan dan memberikan bantuan untuk pelestarian penyu. Meskipun begitu, pemberian bantuan dari pemerintah kurang mencukupi, karena harga ikan yang semakin mahal, sehingga Pak Salim harus memutar otak agar kebutuhannya dalam pelestarian penyu dapat terpenuhi. Maka dari itu kepada para pengunjung Rumah Penyu diharapkan sumbangannya secara sukarela dan dimasukkan ke dalam kotak yang telah disediakan. Dengan begitu kita turut membantu dalam pelestarian penyu sisik ini.




 
Oh iya, selain tempat menetaskan telur-telur penyu, Rumah Penyu ini juga merawat penyu-penyu yang sakit. Cara membedakan penyu yang sakit dan sehat cukup mudah, yaitu bila penyunya mengapung terus dan tidak bisa tenggelam ke dasar berarti penyunya sedang sakit. Bila penyunya berenang dengan cara terlentang berarti dia banyak tingkah :D

Tidak terasa jam hampir menunjukkan pukul 12.00 WIB, saya harus bergegas menyusul temen-temen lainnya ke kapal Srikandi untuk kembali ke Jakarta. Saat di kapal saya baru ingat ternyata nanti kita terpaksa harus turun lagi melalui pelabuhan Muara Angke yang super bau itu.

"Aaarrgghh….kalo bisa milih, saya mending turun di Marina aja yang gak bechyekk !!!".



Estimasi Biaya :



  1. Kapal : Rp 45.000

  2. Bayar peron : Rp 2.000

  3. Sewa perahu + snorkling : Rp 600.000

  4. Dana kebersihan pulau : Rp 25.000