Bagi yang pernah mendaki Gunung Lawu via Cemoro Kandang pasti tahu tentang Rumah Botol. Letaknya sih memang agak tersembunyi dari jalur utama, tapi tidak jauh yaitu di belakang Petilasan Hargo Dalem. Rumah Botol ini sangat unik, karena memang terbuat dari botol-botol air mineral dari sampah para pendaki yang ditinggalkan begitu saja di gunung. Pada bagian dalam dindingnya dilapisi bekas kaleng sarden yang diratakan, sehingga membuat ruangan menjadi hangat.

Di bagian atasnya terdapat tower seperti antenanya itu sebenarnya hanya sebagai hiasan saja, tapi ternyata cukup berguna juga sebagai patokan untuk membantu navigasi para pendaki yang naik melalui jalur Candi Cetho. Meskipun dari luar terlihat kecil dan sempit, ternyata di bagian dalamnya cukup besar, bisa menampung sekitar 6 orang di ruangan utama. Belum lagi bagian bunkernya yang cukup besar bisa memuat 8 orang.



Selain bahannya yang unik, desain dari rumah botol pun juga unik. Tepat di samping sebelah kiri pintu terdapat tungku perapian yang biasa digunakan untuk memasak, dari tungku itu tersambung dengan cerobong asap yang menjulang ke atas, sehingga penghuni di dalamnya tetap aman dari kepulan asap. Bagian dindingnya sebelah kanan digunakan untuk menyimpan persediaan kayu bakar, dan uniknya lagi di bagian pojok bisa digunakan untuk mandi, karena terdapat penampungan air.




Adalah Bowo, seorang kreatif yang mendirikan rumah botol di ketinggian 3100 mdpl ini. Awalnya Bowo hanya prihatin terhadap sampah-sampah yang ditinggalkan pendaki, lalu pada tahun 2000 dia mulai berniat mengumpulkan sampah-sampah botol untuk dijadikan rumah singgah jika mendaki gunung Lawu. Setelah sekitar 7 tahun, rumah itu berhasil berdiri dan masih diyakininya belum selesai hingga saat ini. Berarti masih ada kemungkinan untuk dikembangkan lagi bangunannya.

B: Sebenernya aku dulu itu stress, karena gak ada kegiatan ya bikin begini.

J: Lha terus sekarang?

B: Yoo, masih stress.

J: Hahaha, aaoouu.

Beliau memang gila gunung, karena kalo udah naik gunung sampai berhari-hari, bahkan pernah sampai 40 hari mencari tanaman untuk jamu di gunung. Anaknya yang baru 5 bulan pun pernah diajak naik ke Lawu, tentunya dengan aklimatisasi terlebih dahulu.

Banyak sekali pengalamannya naik gunung. Pernah suatu ketika menggegerkan penghuni Lawu. Ketika itu dia membawa bangkai rusa ke atap rumah botol, dan malamnya langsung didatangi harimau dan mengacak-ngacak bangunan di Hargo Dalem.

Keesokan harinya Mbok Yem marah-marah karena ulahnya itu, soalnya ketika mau keluar malah ketemu harimau. Untung, harimaunya gak doyan Simbah-simbah :p


Selain untuk tempat singgah bagi Bowo dan keluarganya, Rumah Botol ini biasa digunakan oleh relawan dan Tim SAR menginap saat mengadakan operasi pengamanan di gunung Lawu. Maka dari itu tidak dibuka untuk pengunjung umum, karena dikhawatirkan akan kotor atau rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.


Untuk menuju Rumah Botol ini dapat ditempuh sekitar 7 jam dengan berjalan kaki dari basecamp jalur Cemoro Kandang, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah. Aksesnya dari kota Solo naik bis jurusan Tawangmangu, lalu lanjut naik angkot ke Cemoro Kandang yang berada di ketinggian 1830 mdpl.

Pengguna sosial media saat ini memang kejam, karena bisa seenaknya membully, menghujat melalui kolom komentar tanpa mencari tahu kebenarannya. Hal itu belakangan terjadi pada seorang instagramer dengan akun @meliapancarani. Fotonya yang berada di Puncak Mega, Gunung Puntang, Jawa Barat, tapi sedang memegang plang bertuliskan Puncak Mahameru 3676 mdpl beredar luas di sosial media. Hal itu dipermasalahkan karena di Puncak Mahameru yang sebenarnya tidak ada rumputnya, dan itu diperkuat dengan topi bertuliskan “Dieng” yang dikenakannya. Oleh kebanyakan orang, Melia dianggap bodoh, terlalu ambisius, melakukan penipuan, bahkan dianggap mencari sensasi belaka.

Tapi hal itu tidak terjadi pada saya, karena saat melihat pertama kali foto tersebut saya spontan langsung berkata,

“Anjritt, ini foto gokil banget idenya. Sumpahh kereen”.

Jujur, saya memang terkesan dengan idenya tersebut. Saya yakin bahwa apa yang dilakukan Melia Pancarani hanya untuk guyonan semata dengan mengekspresikannya melalui “karya” foto yang berbanding terbalik dengan kenyataan. Jadi, seolah-olah dia ingin melawan arus yang ada melalui foto satire-nya.

Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Parodi digunakan oleh Melia untuk memelesetkannya dalam bentuk visual yang sederhana namun menarik.

Sebenarnya saya juga memiliki ide yang sama dengan Melia, yaitu memindahkan “identitas” gunung ke gunung yang lainnya, karena masih ada orang yang beranggapan bahwa belumlah mencapai puncak jika belum foto dengan plang/triangulasi.

  Tidak cuma postingan dari orang personal saja yang mempermasalahkan foto tersebut. Tapi juga dari website Mapala UPN Jogja (http://www.mapalaupn.com/2015/12/heboh-foto-cewek-di-puncak-mahameru.html) yang membahasnya hingga 3 postingan. Lucunya, mereka meminta bantuan “pakar” Photoshop untuk menganalisa foto tersebut, daaaann…hasilnya…menurut mereka foto tersebut adalah hasil rekayasa intelektual. Waaww !!!

Saya memang bukan ahli Photoshop, bukan pula pakar telematika, apalagi metafisika. Hanya penikmat seni fotografi. Menurut saya yang awam ini, foto tersebut asli, meskipun baru dilihat sekilas juga nampak asli, bukan digital imaging.

Saat foto Melia di-repost oleh @mountainparody dan @id_pendaki banyak timbul komentar negatif dari instagramer. Dari situ saya cukup gerah dan greegett untuk membahas masalah ini. Karena saya juga pernah jadi “korban”, padahal di situ jelas-jelas tertulis PARODI, namun orang-orang malas membaca dan mencernanya, lalu jadilah komentar negatif bersahutan.

Setelah itu saya mencoba menghubungi @meliapancarani melalui DM di instagramnya untuk melakukan kroscek dengan meminta foto-foto asli yang di permasalahkan itu. Setelah saya analisa foto yang Hi-res tidak ada kejanggalan manipulasi, semua tampak normal. Bahkan Melia juga mengirimkan foto temannya yang juga memegang plang Mahameru tersebut dan juga ingin membuktikan bahwa ia pernah ke Mahameru di foto yang lain. Meskipun jika ternyata ada manipulasi foto, buat saya tidak jadi masalah, karena itu konsepnya dia, salah satu bentuk ekspresi humor lewat foto.


 Saat ini banyak sekali pengguna sosial media yang gemar melakukan aktifitas petualangan alam bebas. Tapi banyak juga dari mereka yang malas membaca dan berpikir melalui sisi yang berbeda. Selalu melihat dan menilainya secara negatif dan mudah menyebarkan berita tanpa diketahui kebenarannya.

Saya sungguh miris terhadap orang-orang demikian. Karena percuma sering bertualang naik gunung, traveling ke mana-mana, tapi pemikirannya masih sempit dan kaku kayak kanebo kering. Smartphone itu diciptakan untuk membuat penggunanya menjadi lebih pintar, bukan sebaliknya. Janganlah mudah terprovokasi, dan jangan hujat orang yang tidak bersalah. Menikmati hidup dan bersosialisasi itu jangan selalu serius. Jika dirimu mudah emosi dan selalu berpikir/berkomentar negatif terhadap foto parodi, berarti anda….Kurang Piknik !Karena yang tersurat belum tentu tersirat secara visual.



Semoga berkenan :)



Petang itu saya bergegas pulang dari kantor langsung ke Terminal Kampung Rambutan untuk bertemu dengan temen-temen lainnya menuju Slawi menggunakan bis Dewi Sri. Perjalanan darat ditempuh sekitar 7 jam, pada pukul 5 subuh kami tiba di terminal Slawi. Tidak lama kemudian seorang rekan kami yang tinggal di sana datang menggunakan mobil pick up untuk mengangkut kami ke obyek wisata Guci yang merupakan tempat pendakian Gunung Slamet.

Perjalanan dari terminal Slawi ke Guci sekitar 40 menit. Setelah melewati pintu gerbang obyek wisata dan bertemu pertigaan, kami belok ke kanan, menuju basecamp Gupala yang merupakan relawan Gunung Slamet jalur Guci. Saat itu basecamp mereka belum selesai dibangun, karena baru saja pindah. Tapi dari depan tampak menarik, karena dinding depannya dilapisi potongan kulit pohon yang kering, sehingga seolah-olah bangunan tersebut terbuat dari pohon seperti di film-film Eropa.

Pasang pembalut pria dulu.
Pagi itu mas Gepeng dari Gupala menyambut kami dengan ramah, menawarkan rumahnya untuk tempat mandi buat temen-temen lainnya. Setelah selesai mandi, kami mengisi perut dulu di warung yang letaknya tidak jauh dari basecamp. Saat makan, kami semua sangat kecewa, karena makanannya seperti tidak layak dikonsumsi, karena rasanya tidak normal lagi, contohnya saja "tempe triplek" yang saya makan. Saya menyebutnya demikian karena tempe tersebut sangat keras sekali seperti triplek, sehingga saat digigit membuat gigi saya sakit.


Setelah melakukan permanasan dan berdoa, kami memulai perjalanan mendaki. Ini adalah kali kedua saya mendaki Gunung Slamet. Terakhir kali pada Agustus 2008, namun melalui jalur Bambangan - Purbalingga. Tidak jauh dari jalan aspal, kami belok kanan menuju air terjun Jedor, dari situ perjalanan mulai menanjak melewati jalan setapak berbatu, lalu bertemu dengan jalan beraspal dan hutan pinus. Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1 (Pondok Pinus) ditempuh sekitar 1,5 jam.



Saat sampai di Pos 1, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, yang memaksa kami untuk menggunakan raincoat ultralight yang murah meriah :D. Saat itu saya langsung teringat perjalanan tahun lalu ke Argopuro yang sepanjang perjalanan diiringi hujan deras seharian.


Dari Pos 1 menuju Pos 2 ditempuh sekitar 2 jam, dengan melewati hutan yang masih didominasi dengan trek yang landai. Di pos 2 ini tidak terdapat shelter, hanya tempat datar  yang dapat memuat sekitar 5-6 tenda.

 

Hujan pun makin menjadi, tanah yang licin cukup menghambat perjalanan kami Pos 3. Setelah 1 jam berjalan dan tiba di Pos 3, kami istirahat sejenak menikmati suasana karena hujan telah berhenti. Saat membuka jas hujan, beberapa teman saya terkena pacet di tangan dan kakinya. Saya pun jadi khawatir, saat dicek ternyata tidak ada satupun pacet yang menempel kulit saya, mungkin pacetnya tidak suka pria berdarah biru :D

Sebenarnya saya teringat trik untuk menghindari pacet di hutan tanpa larutan tembakau. Kebetulan saat itu di rombongan pertama berjumlah 4 orang, dan saya memutuskan untuk berjalan paling belakang, karena pacet yang biasa hinggap di dedaunan akan menempel pada orang yang urutan paling depan, kedua atau ketiga, jadi yang di belakang gak "kebagian" pacet, hihihi :p

Saat sedang istirahat kami dikejutkan oleh seseorang yang datang dari arah atas, dia tiba-tiba datang sendiri dan bertanya,

"Mas, ini Pos 4 bukan ?" kata orang itu.

"Lhaa, ini Pos 3, mas nya dari mana ?" tanya saya.

"Dari atas, tenda saya ketinggalan di Pos 4 mas"

"Lho kok bisa camp di Pos 4 tanpa ngelewatin Pos 3 ?"

"Iya mas, saya lagi nyari air di Pos 5, pas mau turun ke Pos 4 ternyata nyasar sampai di sini"

Dan orang itupun naik lagi ke jalur yang benar menuju Pos 4, karena tendanya masih terpasang dan seorang temannya ditinggal sendiri. Konyol memang.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, dan hari pun semakin gelap dan dingin. Jarak dari Pos 3 ke 4 lumayan jauh dan menanjak, kami pun cukup dibuat frustrasi karena tidak sampai-sampai. Akhirnya rombongan kami terbagi 2, beberapa orang yang fisiknya kuat dan membawa tenda berjalan duluan agar cepat sampai dan mendirikan tenda untuk yang lainnya. Saya berada di tim terdepan.

Setelah terpisah, terdengar teriakan minta tolong dari bawah, ternyata bang Deddy terkena hipotermia. Untung saja di tim saya ada yang membawa thermal blanket. Langsung saja saya turun kembali menembus pekatnya malam sendirian.

Bang Deddy langsung tergeletak di tengah jalur. Badannya sih gak menggigil, tapi sebenarnya hal itu cukup berbahaya, karena menggigil itu adalah proses tubuh untuk melawan hawa dingin yang menyergap. Saat itu masih terdengar suara lenguhan seperti sapi dari mulutnya. Saya mencoba menyadarkannya dengan membantu posisinya agar duduk. Setelah disenteri, matanya masih merespon adanya cahaya, jadi dia masih sadar. Dalam menangani pasien yang terkena hipotermia, usahakan orang tersebut agar tetap sadar, jangan sampai tertidur, karena berbahaya.

Setelah ditangani dengan menyelimutinya menggunakan thermal blanket, bang Deddy saya tinggal bersama tim yang di belakang, karena saya harus naik lagi untuk mencari tempat di Pos 4 dan mendirikan tenda. Sepanjang perjalanan menuju Pos 4 saya kepikiran, takutnya bang Deddy langsung bablas. Kalo udah gitu, rencana ke puncak esok hari bakal batal dan malah jadi acara evakuasi. Masalahnya bang Deddy itu kan berat :p

Akhirnya setelah jalan 2 jam lebih, sampai juga di Pos 4. Tanpa pikir panjang, kami langsung bongkar tas untuk mendirikan tenda. Ternyata di pos ini bertemu 2 orang yang nyasar ke pos 3 itu, mereka memutuskan untuk ngecamp semalam lagi di situ. Setelah selesai mendirikan tenda yang pertama, terdengar teriakan minta bantuan lagi dari bawah. Langsung saja saya dan Nazar turun untuk membantu, tak lupa kami pakai jaket dan membawa trekking pole terlebih dahulu.

Setelah sampai TKP, ternyata tim di belakang minta bantuan agar tasnya dibawakan, ya sudah kami bawa tasnya buat temen-temen yang gak kuat menuju pos 4. Dari situ saya naik turun 2 kali, karena harus mengevakuasi Bang Deddy ke atas, untung aja beliau masih bertahan hidup :p

Di Pos 4 ini kami menyantap makanan dan istirahat penuh, karena besok paginya harus Summit Attack dengan melewati pos 5 terlebih dahulu.


Hari 2 : Summit Attack

Keesokan harinya sekitar pukul 7 kami bergegas untuk "Summit Attack". Tak lupa kami mengisi perut dulu dengan roti, karena gak sempat masak. Sudah telat 2 jam dari jadwal yang ditentukan, maka dari itu kami harus bergerak cepat supaya sampai puncak.

Saat Summit Attack semua tenda kami tinggal, dan saya hanya memakai Utility Bag dari Cozmeed yang di dalamnya berisi kamera, makanan ringan, minuman, obat-obatan, dan jas hujan. Tas yang saya pakai ini sangat praktis dan ringan, karena bisa dilipat seukuran coverbag, jadi cocok banget buat Summit Attack.

Pos 5
 Dalam perjalanan menuju puncak harus melewati Pos 5 terlebih dahulu. Jalur dari Pos 4 ke Pos 5 cukup menanjak dan melewati beberapa pohon tumbang. Sampai ketika kita tiba di lorong sempit dan mengharuskan kita untuk merayap jika membawa tas carrier.


Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya tiba juga di Pos 5, yaitu sebuah area di batas vegetasi sebelum puncak. Di Pos ini tidak begitu luas, mungkin hanya cukup untuk mendirikan sekitar 5 tenda kapasitas 5 orang.


Pada kloter pertama hanya terdiri dari 3 orang, saya, Mas Heri, dan Suke sebagai leadernya. Setelah cukup beristirahat, perjalanan kami lanjutkan kembali. Pagi itu cuaca sangat cerah. Matahari dan langit biru bebas menampakkan keindahannya. Saat di tengah perjalanan menuju puncak ada teriakan dari bawah, ternyata Oka dan pacarnya menyusul kami ke atas. Setelah berfoto-foto, mereka tertinggal di belakang, dan ternyata pacarnnya gak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan. Praktis, saat itu hanya kami bertiga.

Semakin siang kabut pun mulai pekat. Sesekali mas Heri dan Suke yang posisinya di depan saya menghilang ditelan kabut. Kami ternyata udah cukup kesiangan berangkatnya. Berhubung saat ini musim hujan, cahaya matahari pun sulit menembus kabut pekat di siang hari.

Medan menuju puncak gunung Slamet didominasi oleh batuan vulkanik yang tajam, mirip Merapi, namun batuannya berwarna merah khas Gn. Slamet. Sepanjang jalur menuju puncak saya selalu memperhatikan keanehan yang ada, contohnya seperti tumpukan batu yang tersusun rapi, lalu kayu yang ditancapkan dan di ujungnya terdapat plastik. Ternyata itu semua adalah "rambu-rambu" yang dipasang pendaki untuk membantu navigasi saat mendaki atau turun dari puncak.


Semakin ke atas, jalur pun semakin terjal dan sulit. Untuk itu disarankan menggunakan gaiter agar pasir dan batu-batuan tidak masuk ke dalam sepatu. Selain itu bawalah trekking pole untuk membantu menopang badan. Saat itu saya cukup kesulitan mendaki karena gak bawa trekking pole (lebih tepatnya gak punya), jadi batuan yang saya injak mudah longsor, selain itu juga ada beberapa batuan yang cukup panas dan mengandung belerang.

Setelah 1,5 jam berjalan, jalur yang kami lewati semakin mengarah ke kanan. Saya jadi curiga kalau ini keluar dari jalur utama. Awalnya saya masih tenang karena si Suke sebelumnya udah pernah lewat jalur Guci, maka dari itu dia yang jadi leadernya. Suara gemuruh longsoran batu di lereng cukup membuat saya takut, karena teringat tregedi saat Summit Attack di Semeru.


Saat berhasil melipir melewati lembah yang miring, saya baru sadar setelah melihat punggungan di sebelah kiri. Saya yakin sekali kalo itu jalur yang benar. Ternyata kami berbelok sekitar 40 derajat dari titik di jalur yang benar. Kami pun beristirahat sejanak di sebuah batu yang besar.

"Gile luhh, kayaknya ini bukan jalurnya deh, soalnya ini miring banget dan bahaya, lagipula gak ada bekas jalurnya". protes saya.

"Bener kok ini jalurnya, gw sengaja motong biar cepet sampe ke puncak itu". kata Suke sambil menunjukkan sebuah puncak.

"Gak mungkin ini jalurnya, gw yakin banget kalo di punggungan itu jalur yang bener, dan harusnya kita gak melipir ke kanan. Udah deh, pokoknya jalur ini jangan diterusin, bahaya banget, gw gak sanggup lagi miring-miring gini, apalagi gw gak pake trekking pole. Kita balik lagi ke jalur utama, motong lewat sini". kata saya

Akhirnya kami pun memutuskan untuk mengambil jalur kiri menuju punggungan bebatuan belerang. Sesaat menyeberang kembali melewati lembah dengan sangat pelan dan hati-hati. Tiba-tiba…

"Crasshhhh…!!!"

Saya terperosok ke bawah bersama pasir dan batuan yang labil. Gak ada batuan lagi untuk pegangan atau pijakan, semua yang berada di sekeliling pada longsor. Saya mati langkah saat berada di sini, karena jika banyak bergerak maka saya pasti ikut menggelinding ke dasar. Maka dari itu saya mencoba untuk tenang, meskipun takut bukan main.

"Mas, tolooong, bawain trekking pole ! Aku gak bisa gerak, takut longsor" teriak saya pada Mas Heri.

Mas Heri yang berada di posisi jam 11, dengan jarak 40 meter di atas saya diam sejenak. Sementara Suke udah sampai puncak duluan.

"Badannya miring aja mas biar gak longsor" kata mas Heri

"Matane !!! Ini badanku semua udah nyentuh sama pasir, kurang miring apa coba ?!! kata saya

Meskipun dalam keadaan genting, saya mencoba tetap tenang dan banyak berdoa. Sekilas terbesit akan kematian jika saya menggelinding sampai ke bawah. Apalagi saat itu bertepatan sehari setelah ulang tahun saya, dan saya gak mau bernasib sama seperti Gie yang meninggal di puncak gunung sehari sebelum ulang tahunnya.

“Nggak, gw gak mau di-SAR, pokoknya harus bisa lolos dari jalur keparat ini”

Akhirnya setelah tenang dan mengumpulkan tenaga, saya mencoba berdiri dengan melakukan tolakan ke tanah menggunakan kedua lutut, dan dibantu dengan kedua tangan yang tetap masuk ke dalam pasir.

Dari kejauhan terdengar suara yang memanggil nama saya. Ternyata itu adalah Imam yang naik sambil bawa semangka dan helm titipan bang Deddy. Namun posisi dia masih di jalur yang benar dan hendak menuju ke arah saya. Langsung saja saya berteriak supaya dia berjalan lurus terus ke atas punggungan, supaya tidak terjebak di jalur bahaya ini, mengingat juga dia gak bawa trekking pole.

Setelah berhasil berdiri, dengan sangat perlahan dan hati-hati saya melanjutkan melipir jalur lagi dan tiba di sebuah punggungan. Di sini saya dihadapkan dengan bebatuan yang tingginya sekitar 3 meter. Batuan yang cukup panas tersebut terdapat banyak belerang. Asap yang keluar dari celah-celah batu sangat mengganggu napas dan penglihatan, maka dari itu saya memutuskan untuk bernapas menggunakan mulut.

 
Akhirnya berhasil juga tiba di sebuah puncak tak bernama. Untuk mengenang “jasa-jasa” Suke yang telah menyesatkan jalur dan hampir membuat celaka, maka Mas Heri mengusulkan untuk menamakannya menjadi Puncak Suke.

Setelah berfoto-foto kami memutuskan untuk turun ke lembah dan melanjutkan lagi ke puncak tertinggi di jalur Guci ini. Di punggungan kami bertemu Imam, disusul dengan Lay dan temennya.

Siang itu kabut tidak kunjung hilang dari puncak, sehingga menghalangi pandangan ke puncak yang lebih tinggi. Saya pun masih penasaran untuk segera menginjak ke puncak bibir kawahnya. Dari kejauhan sesekali terlihat Puncak jalur Bambangan yang angkuh menjulang. Di sebelah kanannya juga terlihat jalur Baturaden yang sangat miring sekali.

Ternyata untuk mencapai puncak di jalur Guci ini harus memutar setengahnya bibir kawah yang tipis ini. Saat itu angin bertambah kencang dan masih berkabut. Maka dari itu kami mengurungkan niat untuk ke puncak yang menjadi tujuan kami. Kecewa memang, karena gak sesuai ekspektasi, apalagi saya juga punya beberapa konsep foto untuk diaplikasikan di gunung ini. Tapi mau gimana lagi, alam belum berkehendak, kalau dipaksakan akan berbahaya, lagipula bisa lain kali ke sini lagi. Gunungnya gak ke mana-mana kok.



Akhirnya kami istirahat di bibir kawah, selamatan dan menikmati semangka kuning yang dibawa dari pasar. Tak lupa Imam berfoto menggunakan helm titipannya bang Deddy. Gila memang, naik gunung bawa-bawa helm full face cuma untuk foto.



Sementara itu saya menyendiri, berkontemplasi sejenak di atas batu pinggir kawah. Mensyukuri nikmat Tuhan atas kesehatan dan keselamatan yang diberikan selama perjalanan ini. Dan lagi-lagi jadi keingetan, ternyata saya belum nikah T_T Maka dari itu saya berdoa semoga diberikan kemudahan untuk itu, Aamiin. Karena ini merupakan suatu kebetulan bisa "merayakan" ulang tahun di gunung Slamet tanpa sepengetahuan yang lainnya.

Hari pun semakin siang, kami memutuskan untuk turun. Kami terpisah menjadi 2 kloter, saya berada di kloter terakhir, dan sempat disorientasi medan karena patok rambu-rambunya tertutup kabut pekat. Untung saja kami berhasil kembali ke jalur yang benar.

Setelah packing di Pos 4, kami semua segera turun kembali ke basecamp Guci. Saya sendiri turun sampai basecamp sekitar pukul 17.00. Oh iya, gak lupa saya pun langsung mandi air hangat, karena hampir semua rumah di sini dialiri air panas alami.





Akomodasi :

Bis Jakarta - Slawi : Rp 75.000
Angkot Slawi - Guci : Rp 20.000
Simaksi : Rp 10.000

Info Pendakian Slamet via Guci
Basecamp Gupala : 087730611412
Pulau Tunda atau dalam alias "Delay Island", adalah sebuah pulau yang tidak begitu kecil yang berada di utara Provinsi Banten. Pulau ini masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang.




Sabtu pagi itu si Adit mengajak saya untuk eksplorasi ke Pulau Tunda bersama dengan temen-temen dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Cilegon. Mereka berencana untuk diving dan snorkling di sana.


Dari Cilegon perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Karangantu di kawasan Banten Lama. Untuk menyebrang ke Pulau Tunda dapat menggunakan kapal nelayan setempat dengan membayar sekitar 1,5 juta berangkat-balik.

Sopir ngengkeng

Saat itu masih tampak biasa-biasa pada kapal yang kami tumpangi, tidak terlihat ada yang aneh. Namun pada saat sudah berada di tengah laut, ternyata sang mamang sopir kapalnya lupa membawa solar cadangan, dan dia segera menghubungi temannya untuk menyusul dengan kapal lain dengan membawa solarnya.

Pesiar


Saya sempat cemas juga karena teringat dengan film Warkop DKI dimana mereka kehabisan bahan bakar kapalnya lalu terdampar di sebuah pulau yang berisi suku primitif pemakan manusia. Belum lagi kecemasan saya bila bertemu dengan suku tersebut lalu disodomi rame-rame, aaargghh….bisa rusak masa depanku :(



Tapi untungnya saya baru ingat kalo di Banten bagian utara itu pulaunya kecil-kecil, sedikit, dan sering dilalui oleh kapal, jadi kecil kemungkinan ada makhluk perenggut kesucian seperti mereka.


Selama di tengah perjalanan menuju Pulau Tunda, sang sopir kapal tampak gelisah, sebentar-sebentar dia menoleh ke belakang, menanti datangnya solar dari kapal lain. Laju kapal pun sangat lambat dari tipe kapal nelayan sejenis, padahal penumpangnya hanya sedikit.

Mamang gelisah


Setelah lama menunggu dan terombang-ambing di tengah laut, akhirnya kiriman solar pun datang, kami jadi bisa lebih lega. Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Tapi tidak lama kemudian, timbullah masalah lagi. Tiba-tiba saluran air dari mesinnya bocor dan menimbulkan asap. Awalnya kami pikir kebakaran, dan si mamang sempat panik, akhirnya tidak lama kemudian masalah tersebut dapat teratasi, karena ada asistenya yang mengambil alih kemudi.


Saat di perjalanan kami melewati Pulau Empat dan Pulau Tiga yang letaknya berdekatan. Perjalanan dari Pelabuhan Karangantu biasanya dapat ditempuh sekitar 2 jam, tapi waktu itu kami membutuhkan waktu hingga 3,5 jam, sehingga membuat kami menjadi jenuh.

Pulau 4


Di Pulau Tunda ini terdapat pemukiman penduduk, ada warung, masjid, dan rumah warga yang bisa digunakan sebagai homestay. Uniknya, hampir di tiap rumah warga terdapat pohon jambu air. Kebetulan saat itu sedang berbuah, jadi kita gak khawatir akan kehabisan perbekalan di sini.



Seharusnya siang itu kami ada rencana untuk eksplorasi Pulau Tunda lewat darat, tapi karena terlalu lama di kapal, jadwalnya jadi kacau, jadi mau gak mau kita memutuskan untuk ke dive spot untuk eksplorasi bawah laut.

Snorkling di depan resort

Pulau Tunda ini airnya sangat jernih, terumbu karangnya juga bagus dan banyak terdapat ikan hias, gak kalah deh sama pulau-pulau lain di luar Jawa.


Saat menjelang sore, arus bawah laut semakin besar, sehingga  kita memutuskan untuk pindah tempat snorkling yang lebih aman.


IMG-20151115-WA0004

IMG-20151115-WA0005


Setelah puas (sebenernya kurang puas) mengeksplorasi bawah laut, kami memutuskan untuk pulang ke Pulau Jawa lagi, dikarenakan hari mulai sore. Di tengah perjalanan, kapal yang kita tumpangi mengalami kebocoran saluran air lagi, hal ini diperparah dengan gelombang yang semakin besar, sehingga membuat kami berguncang hatinya.


Matahari pun mulai turun perlahan ke garis cakrawala, hari pun semakin gelap, dan ternyata….di kapalnya tidak ada lampu yang berfungsi ! Walhasil saya pun berdoa terus menerus supaya kapalnya tidak terdampar di pulau yang dihuni oleh suku primitif yang hobi nyodomi…



Pada Oktober 2010 lalu, Gunung Merapi (2.950 mdpl) di Sleman, D.I Yogyakarta dengan sukses memuntahkan isi perutnya ke wilayah selatan. Alhasil ratusan hektar perkebunan dan pemukiman penduduk rusak diterjang awan panas. Tempat tinggal, ladang, hewan ternak, dan harta benda lain serta ratusan korban jiwa melayang.

Kini tiga tahun telah berlalu sejak erupsi waktu itu. Material dari perut Merapi yang dimuntahkan kini tinggal berupa endapan pasir dan batu-batuan. Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Opak kini bagaikan menjadi ladang perburuan harta karun bagi warga Cangkrinan dan Klaten.


Sebenarnya aktifitas yang dilakukan penambang ini termasuk legal, karena telah disahkan oleh Bupati Sleman, dengan alasan untuk mempercepat normalisasi sungai setelah erupsi. Namun saat ini surat keputusan tersebut telah habis masa berlakunya, dan tidak diperbaharui lagi.

Bagi warga Merapi menambang pasir merupakan cara mudah untuk mendapatkan uang, karena aktivitas dalam menambang pasir tidak memerlukan keterampilan khusus, cukup bermodalkan senggrong saja. Dalam sehari mereka bisa mendapatkan upah Rp 30.000 sampai Rp 90.000, tergantung dari banyaknya permintaan.

Ada resiko terbesar yang harus dihadapi para penambang. Seperti, ketika Puncak Merapi dilanda hujan deras, maka para penambang harus segera meninggalkan tempat tersebut, sebab dikhawatirkan adanya terjangan banjir lahar dingin yang melewati aliran sungai. Karena sudah banyak korban jiwa dan harta benda yang melayang akibat dari kejadian tersebut.


Selain menjadi sumber penghasilan, ternyata aktifitas penambangan pasir ini juga memiliki masalah dampak kerusakan lingkungan. Mulai dari rusaknya jalan desa karena hilir mudik truk-truk pengangkut pasir, sampai hilangnya kesuburan tanah dan bahaya longsor. Selain itu juga anak-anak di seputar Cangkringan banyak yang mengeluh mengalami infeksi saluran pernapasan.

Memang, pada setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Merapi, dari yang dahulu adalah sebuah bencana, kini menjadi sebuah berkah tersendiri bagi warga lereng Merapi. Tergantung bagaimana mereka mengelolanya dengan bijak dan memikirkan solusi atas dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.


Lanjutan…[Part 1]


Setelah berbincang-bincang di rumah Jaro Dainah, Pak Alim pun mengutus anak bungsunya yang bernama Misja (15th) untuk mengantar kami ke rumah Kakaknya yang merupakan warga Baduy Luar. Penguasaan Bahasa Indonesia Misja sangat kurang sekali, dan kami pun mencoba memahami sekenanya Bahasa Sunda yang diucapkannya. Perjalanan dilanjutkan menuju kampung Gajeboh yang berjarak 5km dengan melintasi jalan setapak yang berbatu dengan didominasi tanah dan tanjakan, serta beberapa kali menyeberangi sungai kecil. 

Cuaca saat itu panas sekali, sehingga membuat tubuh kami cepat lelah. Jalan di Baduy berbukit-bukit dengan ketinggian sekitar 400 mdpl dan udaranya pun panas sekali, tidak seperti di gunung pada umumnya. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami sampai di sebuah jembatan bambu di Kampung Gajeboh. 

Setelah beristirahat sejenak, kemudian Misja menyuruh kami untuk melanjutkan perjalanan, dan ternyata rumah kakaknya berada tidak jauh dari rumah Jaro Dainah. Jadi kami terpaksa berbalik arah lagi melewati jalan sebelumnya yang telah kami lewati. Tapi kemudian Misja menggunakan jalan alternatif dengan mengambil jalur yang memotong bukit. Di sinilah kekuatan fisik kami benar-benar diuji, karena harus melewati tanjakan yang panjang dan terjal dengan membawa beban yang berat di pundak disaat matahari benar-benar memancarkan sinarnya.


Warga Baduy Luar melewati jembatan bambu.
 Pukul 14.30 sampai juga di rumah Mursyid, kakak dari Misja, di kampung Cicampaka. Di kampung ini hanya terdiri dari 8 rumah. Di rumah yang kami tempati sepertinya belum lama dibangun, karena kayu dan bambunya masih bersih dan bagus. Rumah ini tergolong mewah buat warga Baduy, karena handle pintunya sangat modern sekali, dan memiliki kamar mandi sendiri, walaupun belum jadi. Di dalam rumahnya terdapat kalender dan juga stiker kampanye partai politik. Tapi ada sebuah foto yang mengagetkanku, yaitu foto beberapa warga Baduy Dalam bersama Presiden SBY dan Ibu Ani di Istana Negara, Jakarta. 

Ketika sampai di rumah tersebut, kami langsung beristirahat untuk memulihkan tenaga. Sementara itu sambil menunggu sang kakak pulang dari ladang, Misja memasakkan air dan mie instan untuk kami. Tidak lama kemudian, Pak Alim datang membantu Misja memasak dan juga mengobrol dengan kami, menjelaskan tentang Baduy dan juga pengalamannya ketika bertemu Presiden SBY. 

Sekitar pukul 15.30 Mursyid dan istrinya baru pulang dari ladang. Ternyata mereka lebih muda dari yang aku bayangkan. Mursyid baru 17 tahun, tapi sudah menikah. Memang, di Baduy rata-rata warganya menikah pada usia muda. Istri Mursyid tampak cantik sekali, kulitnya putih bersih, tapi dia sangat pemalu, tidak suka mengobrol dengan orang asing apalagi difoto.


Misja & Mursyid
Ayah Mursyid berfoto dengan SBY


Sejak 2 tahun lalu, Mursyid memutuskan keluar dari kampung Cibeo di Baduy Dalam, karena menikah dengan warga Baduy Luar, dan otomatis sekarang dia menjadi warga Baduy Luar, sehingga tidak mematuhi peraturan adat di Baduy Dalam lagi. Walaupun begitu, Mursyid masih dianggap sebagai keluarga Pak Alim, tokoh di Kampung Cibeo - Baduy Dalam. Sore itu kami makan bersama dengan menu nasi, mie, dan juga ikan asin yang kami bawa dari rumah. Karena orang Baduy sangat menyukai sekali ikan asin. Di sini lah kebersamaan itu terjalin, tidak peduli sesederhana apa makanan yang kami makan. 

Malam harinya di kampung ini sepi sekali, hanya ada percakapan dua tetangga di depan rumah, dengan hanya diterangi lampu tenaga surya. Suasana begitu tenang sekali, tanpa ada gangguan suara kendaraan, deringan ponsel, dan juga televisi. Kadangkala kita butuh ketenangan seperti ini, menjauh dari hiruk-pikuk kota besar dengan segala kepenatan rutinitas sehari-hari. Melupakan sejenak tugas-tugas kuliah, dan berkontemplasi untuk melahirkan ide-ide yang segar bagi seorang seniman. Suara nyanyian serangga di hutan mengiringi kami ke dalam alam bawah sadar, yang menandakan bahwa kami harus segera tidur, karena esok pagi masih harus melakukan eksplorasi lagi, selain itu Misja, Mursyid dan istrinya juga telah tidur di kamar masing-masing.

Makan bersama dengan lauk ikan asin sebagai andalan

2 Mei 2013


Sekitar pukul 05.00 kami terbangun oleh suara ayam yang berkokok tepat di bawah kami, karena rumah di Baduy Luar berbentuk panggung beralaskan bambu, dan ayam-ayamnya berada di bawahnya. Pagi itu udara dingin masih menyelimuti, dan hal ini kontras sekali dengan udara saat siang hari yang begitu panas. Di luar rumah, tampak beberapa orang tetangga yang hilir mudik di tengah kabut tipis, mereka sudah mulai pergi ke ladang. Letak ladangnya jauh dari tempat tinggal mereka. Biasanya mereka menanam padi gogo, dan juga mengambil dari hasil hutan seperti madu, rotan, gula aren, dan tanaman-tanaman khas di bukit di bawah ketinggian 1000 mdpl. 

Setelah sarapan, kami diajak oleh Misja untuk mengeskplor kampung itu, melihat proses pembuatan koja (tas tradisional khas Baduy). Koja dibuat dari kulit kayu yang orang Baduy biasa menyebutnya kayu teureup. Kayu teurup dikuliti hingga tipis kemudian dikeringkan, setelah kering dipintal menggunakan alat tradisional dan hasilnya akan berbentuk seperti benang. Setelah menjadi benang, kemudian dirajut manual menggunakan tangan menjadi sebuah tas. Tas tersebut dijual dengan harga Rp 20.000.





Perjalanan terakhir kami lanjutkan sekaligus pulang ke Cilegon. Maka dari itu kami pun pamit kepada Mursyid dan istrinya dan juga memberikan bantuan beras dan ikan asin. Untuk menyingkat waktu, Misja menggunakan jalur lain untuk sampai ke desa Kaduketeur, desa yang terdekat dengan pintu keluar ke Ciboleger. Di sepanjang perjalanan banyak sekali percabangan, karena yang kami lewati ini bukan jalur pengunjung umum, dan bagi yang tidak tahu jalan pasti akan tersesat masuk ke hutan. 

Menjelang kampung Kaduketeur ada terdapat beberapa leuit atau lumbung padi. Leuit tersebut di tempatkan di dekat gubuk tempat beristirahat ketika berladang. Sesampainya di kampung Kaduketeur, kami berhenti sejenak di rumah warga Baduy Luar. Tidak lama kemudian seorang wanita pemilik rumah keluar dan menawarkan madu hutan dan souvenir khas Baduy. Lantas aku membeli kain lomar, tas koja untuk tempat minum, dan juga madu. Harganya pun sangat murah. Tidak jauh dari rumah tersebut ada juga beberapa wanita yang sedang menenun, dan di situ kami memperhatikan proses pembuatannya.


Warga Baduy Luar menonton TV di sebuah warung.
Kalau ke Baduy jangan lupa beli madu asli.

 Setelah puas memotret proses menenun, perjalanan kami lanjutkan ke Ciboleger, tempat menunggu angkot. Ketika melewati pasar sebelum Ciboleger, terlihat sekumpulan wanita Baduy Luar sedang asik menonton televisi, langsung saja kuarahkan lensa kameraku, karena orang Baduy Luar tidak suka difoto. Tepat pukul 10.30 kami sampai di Ciboleger, beruntung sekali saat itu masih ada angkot. Karena angkot terakhir menuju Rangkasbitung adalah pukul 13.00. 

Sambil menunggu angkot berangkat, kami duduk-duduk di depan warung, begitu juga Misja. Dari wajahnya yang polos itu, dia tampak sedih sekali melepas kepergian kami berdua, begitu juga sebaliknya. Pertemuan dua hari dirasa sangat singkat sekali bagi kami, karena saat ini dia tidak merasa canggung lagi dan mulai akrab. Bagi kami, bisa berkenalan dengan Misja, dan keluarganya sangatlah berkesan, banyak pelajaran yang bisa kami petik dari perjalanan ini. 

Kesederhanaan dan jauh dari modernitas membuat mereka bebas dari sifat konsumerisme. Serta kehidupan yang selaras dengan alam dan juga keteguhan menjaga adat istiadatnya merupakan contoh yang patut diteladani.

Akomodasi :
Kereta Cilegon - Rangkasbitung : Rp 20.000 ( Ekonomi AC )
Angkot Stasiun - Terminal Awe : Rp 3.000
Terminal Awe - Ciboleger : Rp 15.000
Iuran sukarela ke Jaro : Rp 10.000 ( 2 org )
Menginap di Baduy Luar ( sukarela ) : Rp 50.000 ( 2 org )

Tips :

- Waktu yang tepat ke Baduy adalah bulan Juni - Desember, karena Januari - Mei biasanya ada Kawalu.
- Bagi yang baru pertama kali berkunjung diharapkan membawa teman yang sudah berpengalaman, atau menyewa guide yang terpercaya.
- Angkot dari Ciboleger ke Rangkasbitung terakhir pukul 13.00.
- Bawa jas hujan, karena cuaca di Baduy sulit diprediksi.
- Bawa ikan asin, beras, atau mie instan untuk diberikan kepada tuan rumah.
- Sampah harus di bawa lagi keluar kawasan.
- PATUHI ATURAN ADAT ISTIADAT SETEMPAT !!!