10 Destinasi Wisata Jakarta Yang Bisa Dikunjungi Dengan Modal 50 Ribu

/ December 25, 2018
Jakarta adalah kota metropolitan yang terkenal tinggi biaya hidupnya. Meskipun begitu, masih banyak destinasi wisata yang bisa kita kunjungi dengan hanya bermodalkan Rp 50.000. Berikut ini adalah 10 destinasi wisata yang murah-meriah tapi layak untuk dikunjungi.

 
1. Monumen Nasional (Monas)
    Tiket : Rp 20.000

Tak lengkap rasanya jika ke Jakarta tapi belum pernah mengunjungi Monas yang merupakan ikon kota Jakarta dan juga monumen kebanggan negara Indonesia. Di Monas, kita bisa belajar tentang sejarah kemerdekaan Indonesia dan juga melihat pemandangan Kota Jakarta dari puncaknya. Untuk menuju ke Monas banyak sekali aksesnya, karena letaknya tepat di pusat Jakarta. Salah satunya adalah menggunakan bis Transjakarta. Untuk masuk ke pelatarannya tidak dikenakan biaya. Namun jika ingin masuk ke dalam dan naik sampai puncaknya dikenakan tiket sebesar Rp 20.000.




2. Masjid Istiqlal
    Tiket : Gratis


Sebagai warga Indonesia, kita harus bangga mempunyai masjid terbesar se-Asia Tenggara, yaitu Istiqlal. Letaknya yang tidak jauh dari Monas dan berdekatan dengan Gereja Katedral, membuat masjid ini mudah didatangi. Nama Istiqlal sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti “merdeka”, karena masjid ini dibangun sebagai ungkapan rasa syukur karena terbebas dari penjajahan. Oh iya, bagi wisatawan non-muslim pun dapat mengunjungi masjid ini untuk mengenal tentang Islam, namun harus dengan pemandu.




Foto : Wikipedia

3. Kota Tua
    Tiket : Gratis


Di Kawasan Kota Tua, kita bisa mengenal sisa-sisa bangunan peninggalan jaman kolonialisme. Suasana dan tiap sudutnya menampilkan sisi romantisme pada masa lampau. Hal ini dipercantik pula dengan ditatanya kawasan sungainya agar seperti di Eropa. Bagi yang hobi fotografi, kawasan ini cocok sekali untuk pemotretan dengan tema vintage dan juga hunting street photography.
 



 
 


4. Museum Fatahillah (Sejarah Jakarta)
    Tiket : Rp 5.000


Berada di Kawasan Kota Tua, membuat bangunan Museum ini menjadi ikonik dan kerap jadi pemandangan wajib para wisatawan saat berfoto di kawasan ini. Di dalam museum ini terdapat bermacam koleksi bersejarah dari beberapa kerajaan Indonesia dan juga koleksi tentang kebudayaan Betawi.




Museum Fatahillah.  Foto : Jet


5. Museum Seni Rupa dan Keramik
    Tiket : Rp 5.000


Museum ini masih berlokasi di Kawasan Kota Tua dan menyimpan koleksi keramik peninggalan beberapa kerajaan di Indonesia. Tidak hanya menyanjikan koleksi, museum ini juga membuka praktek pembuatan kendi dari tanah liat seperti di salah satu adegan film Ghost.





 

6. Taman Prasasti
    Tiket : Rp 5.000


Kuburan adalah tempat menyeramkan bagi kebanyakan orang. Namun di Taman Prasasti ini kita bisa berwisata kuburan sambil belajar mengingat sejarah. Sebenarnya, yang kita temui di Taman Prasasti ini tidak lagi kuburan yang sebenarnya, namun hanya berupa prasasti atau batu nisannya saja. Di sini kita bisa melihat peti yang digunakan untuk mengangkut jenazah Bung Karno dan juga Bung Hatta, dan juga batu nisan Soe Hok Gie yang fenomenal itu.




Baca juga : Cara Mengingat Sejarah Melalui Wisata Kuburan


 

7. Danau Sunter
    Tiket : Gratis


Dahulu Menteri Susi pernah membuat tantangan Wagub SandiagSetelah dirombak total, kini wajah Danau Sunter telah bersih dan jadi destinasi andalan warga Sunter. Ada banyak hal menarik yang bisa kita lakukan di sini seperti memancing, bermain sepeda air, dan juga menikmati makanan di pinggir danau yang telah bersih ini.
 




8. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
    Tiket : Rp 10.000


Jika ingin keliling Indonesia dengan budget murah, TMII adalah jawabannya. Karena di sini menyajikan rumah adat dari semua Provinsi di Indonesia beserta pernak-perniknya. Tiap sudutnya pun fotogenik, seolah-olah kita sedang berada di provinsi lain.



 
9. Kebun Binatang Ragunan
    Tiket : Rp 4.000


Memang terkesan tidak masuk akal, tapi tiket masuk Ragunan sebesar Rp 4.000 memang benar adanya. Tiket masuk yang sangat murah-meriah membuat orang-orang banyak yang mengunjunginya. Di sini kita bisa melihat  berbagai macam koleksi satwa langka ataupun sekedar bersepeda santai sambil mengelilingi kawasan bersama keluarga.



 

10. Bus Wisata Keliling Jakarta
      Tiket : Gratis


Pada masa tahun 90-an, Jakarta memiliki bis tingkat yang biasa digunakan untuk angkutan umum. Namun setelah era reformasi bis itu ditiadakan. Namun saat ini, pemerintah DKI Jakarta menyediakan kembali Bis Tingkat tapi hanya untuk wisata keliling Jakarta. Dengan memliki desain 2 lantai yang futuristik, membuat bis ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Selama perjalanan, pemandu di bis akan menjelaskan bangunan bersejarah di Jakarta yang dilewati. Untuk menaiki Bis Wisata Keliling Jakarta tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis dan kita pun bisa memilih rute tour-nya.




Nah itulah 10 destinasi wisata Jakarta yang bisa dikunjungi dengan modal Rp 50.000. Jadi kita bisa tetap berwisata murah tapi berkualitas ala backpacker.




*tiket belum termasuk parkir.
Jakarta adalah kota metropolitan yang terkenal tinggi biaya hidupnya. Meskipun begitu, masih banyak destinasi wisata yang bisa kita kunjungi dengan hanya bermodalkan Rp 50.000. Berikut ini adalah 10 destinasi wisata yang murah-meriah tapi layak untuk dikunjungi.

 
1. Monumen Nasional (Monas)
    Tiket : Rp 20.000

Tak lengkap rasanya jika ke Jakarta tapi belum pernah mengunjungi Monas yang merupakan ikon kota Jakarta dan juga monumen kebanggan negara Indonesia. Di Monas, kita bisa belajar tentang sejarah kemerdekaan Indonesia dan juga melihat pemandangan Kota Jakarta dari puncaknya. Untuk menuju ke Monas banyak sekali aksesnya, karena letaknya tepat di pusat Jakarta. Salah satunya adalah menggunakan bis Transjakarta. Untuk masuk ke pelatarannya tidak dikenakan biaya. Namun jika ingin masuk ke dalam dan naik sampai puncaknya dikenakan tiket sebesar Rp 20.000.




2. Masjid Istiqlal
    Tiket : Gratis


Sebagai warga Indonesia, kita harus bangga mempunyai masjid terbesar se-Asia Tenggara, yaitu Istiqlal. Letaknya yang tidak jauh dari Monas dan berdekatan dengan Gereja Katedral, membuat masjid ini mudah didatangi. Nama Istiqlal sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti “merdeka”, karena masjid ini dibangun sebagai ungkapan rasa syukur karena terbebas dari penjajahan. Oh iya, bagi wisatawan non-muslim pun dapat mengunjungi masjid ini untuk mengenal tentang Islam, namun harus dengan pemandu.




Foto : Wikipedia

3. Kota Tua
    Tiket : Gratis


Di Kawasan Kota Tua, kita bisa mengenal sisa-sisa bangunan peninggalan jaman kolonialisme. Suasana dan tiap sudutnya menampilkan sisi romantisme pada masa lampau. Hal ini dipercantik pula dengan ditatanya kawasan sungainya agar seperti di Eropa. Bagi yang hobi fotografi, kawasan ini cocok sekali untuk pemotretan dengan tema vintage dan juga hunting street photography.
 



 
 


4. Museum Fatahillah (Sejarah Jakarta)
    Tiket : Rp 5.000


Berada di Kawasan Kota Tua, membuat bangunan Museum ini menjadi ikonik dan kerap jadi pemandangan wajib para wisatawan saat berfoto di kawasan ini. Di dalam museum ini terdapat bermacam koleksi bersejarah dari beberapa kerajaan Indonesia dan juga koleksi tentang kebudayaan Betawi.




Museum Fatahillah.  Foto : Jet


5. Museum Seni Rupa dan Keramik
    Tiket : Rp 5.000


Museum ini masih berlokasi di Kawasan Kota Tua dan menyimpan koleksi keramik peninggalan beberapa kerajaan di Indonesia. Tidak hanya menyanjikan koleksi, museum ini juga membuka praktek pembuatan kendi dari tanah liat seperti di salah satu adegan film Ghost.





 

6. Taman Prasasti
    Tiket : Rp 5.000


Kuburan adalah tempat menyeramkan bagi kebanyakan orang. Namun di Taman Prasasti ini kita bisa berwisata kuburan sambil belajar mengingat sejarah. Sebenarnya, yang kita temui di Taman Prasasti ini tidak lagi kuburan yang sebenarnya, namun hanya berupa prasasti atau batu nisannya saja. Di sini kita bisa melihat peti yang digunakan untuk mengangkut jenazah Bung Karno dan juga Bung Hatta, dan juga batu nisan Soe Hok Gie yang fenomenal itu.




Baca juga : Cara Mengingat Sejarah Melalui Wisata Kuburan


 

7. Danau Sunter
    Tiket : Gratis


Dahulu Menteri Susi pernah membuat tantangan Wagub SandiagSetelah dirombak total, kini wajah Danau Sunter telah bersih dan jadi destinasi andalan warga Sunter. Ada banyak hal menarik yang bisa kita lakukan di sini seperti memancing, bermain sepeda air, dan juga menikmati makanan di pinggir danau yang telah bersih ini.
 




8. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
    Tiket : Rp 10.000


Jika ingin keliling Indonesia dengan budget murah, TMII adalah jawabannya. Karena di sini menyajikan rumah adat dari semua Provinsi di Indonesia beserta pernak-perniknya. Tiap sudutnya pun fotogenik, seolah-olah kita sedang berada di provinsi lain.



 
9. Kebun Binatang Ragunan
    Tiket : Rp 4.000


Memang terkesan tidak masuk akal, tapi tiket masuk Ragunan sebesar Rp 4.000 memang benar adanya. Tiket masuk yang sangat murah-meriah membuat orang-orang banyak yang mengunjunginya. Di sini kita bisa melihat  berbagai macam koleksi satwa langka ataupun sekedar bersepeda santai sambil mengelilingi kawasan bersama keluarga.



 

10. Bus Wisata Keliling Jakarta
      Tiket : Gratis


Pada masa tahun 90-an, Jakarta memiliki bis tingkat yang biasa digunakan untuk angkutan umum. Namun setelah era reformasi bis itu ditiadakan. Namun saat ini, pemerintah DKI Jakarta menyediakan kembali Bis Tingkat tapi hanya untuk wisata keliling Jakarta. Dengan memliki desain 2 lantai yang futuristik, membuat bis ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Selama perjalanan, pemandu di bis akan menjelaskan bangunan bersejarah di Jakarta yang dilewati. Untuk menaiki Bis Wisata Keliling Jakarta tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis dan kita pun bisa memilih rute tour-nya.




Nah itulah 10 destinasi wisata Jakarta yang bisa dikunjungi dengan modal Rp 50.000. Jadi kita bisa tetap berwisata murah tapi berkualitas ala backpacker.




*tiket belum termasuk parkir.
Continue Reading



Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang masa dari goresan prasasti mereka yang pergi. Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan.

Bangunan putih dengan pilar-pilar yang tinggi ala Yunani ternyata menjadi pintu gerbang menuju dunia kematian itu. Pintunya terbuka lebar, seolah mempersilahkan saya memasuki ke dunianya. Meskipun begitu, bagi saya tidak ada hal yang menyeramkan ketika berada di dalam Museum Taman Prasasti. Itu karena saya berkunjung saat pagi hari dan di samping pemakamannya sedang ada tim Paskibraka yang sedang dihukum nyanyi lagu Boyband Korea - BTS (kok saya bisa tau ya ?).




Museum Taman Prasasti adalah museum cagar budaya yang menyimpan koleksi prasasti nisan kuno dari jaman kolonialisme. Dahulu, Museum Taman Prasasti ini merupakan tempat pemakaman orang-orang Eropa bernama Kebon Jahe Kober yang ada sejak 1795. Pada rentang waktu dari tahun 1950 - 1970 dilakukan pemindahan jenazah ke beberapa tempat lain, dan ada juga yang dibawa keluarganya ke negara asal. Sehingga yang ada saat ini hanya batu nisan aja, tidak ada jenazah atau tulang belulangnya.


Lalu apa saja yang ada di dalamnya ?

 
Berbagai macam bentuk prasasti atau batu nisan tersebar di museum ini yang memiliki jumlah koleksi sekitar 900. Saat memasuki area pemakaman di sebelah kiri, kita akan melihat patung Crying Lady. Konon (jangan dibalik), patung ini dibuat untuk merefleksikan penderitaan seorang pengantin yang suaminya baru meninggal karena wabah malaria di Batavia.
Crying Lady

Tidak jauh dari sini, terdapat prasasti batu bertuliskan aksara Jepang yang dibuat untuk mengenang 30 tentara kekaisaran Jepang yang tewas melawan sekutu.

Beberapa langkah ke depan kita akan menemukan sebuah atap yang di bawahnya terdapat dua peti bersejarah, yaitu peti yang digunakan Bung Karno dan Bung Hatta saat wafat. Bung Karno sendiri dimakamkan di Blitar, sedangkan Bung Hatta di pemakaman Tanah Kusir.

Peti Jenazah Bung Karno dan Bung Hatta
Pastor Van Der Grinten
Pada bagian tengah di bawah pohon yang rindang terdapat patung barwarna coklat gelap. Patung itu adalah Pastor Van Der Grinten yang merupakan kepala Gereja Katholik Batavia yang pertama. Pastur tersebut sangat dihormati banyak orang karena jiwa kemanusiaan yang tinggi.
Makam Kapitan Jas
Salah satu prasasti yang legendaris di sini adalah Kapitan Jas. Nama Kapitan Jas diduga ada hubungannya dengan Jassen Kerk, yaitu Gereja Portugis yang terletak di luar kota lama. Hingga saat ini, banyak masyarakat dari dalam dan luar negeri untuk berziarah ke makam Kapitan Jas dengan harapan permohonan mereka akan terkabul. Padahal, mungkin sesungguhnya sosok Kapitan Jas itu tidak pernah ada.


Di sebelah kanan makam Kapitan Jas terdapat makam Olivia Mariamne Raffles yang merupakan istri pertama Sir Thomas Stamford Raffles. Sebelum meninggal karena malaria, Olivia berpesan ingin dimakamkan di sebelah makam sahabatnya, John Casper Layden. Dan uniknya, makam Olivia ini berada tepat di depan Kantor Walikota Jakarta Pusat. Jadi seolah-olah menjadi pintu gerbang menuju gedung walikota.

Beralih ke area lain kita akan melihat tugu prasasti berwarna hijau yang menjulang tinggi. Tugu itu merupakan monumen Jendral Johan Jacob Perrie yang berkebangsaan Belanda. Karena banyak jasa dan keberaniannya dalam berperang, pemerintah Hindia Belanda membuat monumen ini untuk mengenang jasa-jasanya. Inilah yang menjadi prasasti paling ikonik di Museum Taman Prasasti yang sering digunakan syuting video klip, iklan, ataupun pemotretan model.

Monumen JJ. Perrie

Lanjut berjalan ke area belakang terdapat beberapa patung wanita dan representasi dari malaikat. Beberapa ada yang sudah rusak karena usia dan juga ulah vandalisme pengunjung. Namun, yang paling ingin saya datangi adalah prasasti makam Soe Hok Gie. Beliau adalah seorang aktivis gerakan mahasiswa tahun 1960-an dan juga pendiri Mapala UI. Karya tulisan, kiprah, dan karakternya sangat mempengaruhi kehidupan saya untuk terus tegap berdiri dalam kebenaran.


Tapi sayang, Soe Hok Gie meninggal di usia yang sangat muda, tepat 1 hari sebelum ulang tahunnya ke-27 karena menghirup gas beracun di puncak Mahameru. Meskipun begitu, karya dan pemikirannya masih tetap hidup hingga kini, dan melecut semangat anak-anak muda untuk berkegiatan di alam bebas.

Pada awalnya, Gie dimakamkan di Menteng Pulo, namun telah dipindahkan ke sini. Tapi beberapa rekannya ingat bahwa semasa hidupnya Gie pernah berujar jika meninggal ingin dikremasi dan abunya ditebar di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango.

Gie pernah berkata "Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda".

Dan semuanya kini telah terwujud. Gie telah meninggal di tempat yang diidamkan, yaitu di puncak gunung agar bisa menyatu dengan alam bebas tempat bermainnya.

Sebenarnya tanah Taman Prasasti hanya untuk orang-orang nonpribumi, namun ada dua makam atas nama orang Indonesia, yaitu Soe Hok Gie dan Miss Riboet alias Tan Kim Nio. Miss Riboet adalah orang kelahiran Aceh yang memiliki kemampuan olah vokal dan sandiwara yang baik, sehingga cukup dekat dengan petinggi VOC. Oleh sebab itu makamnya ditempatkan di sini.
 
Museum Taman Prasasti tidak hanya mengingatkan kita tentang sejarah, tapi juga mengingatkan tentang kematian dan juga orang-orang terkasih yang ditinggalkannya. Semoga kita bisa meninggal dalam keadaan baik, khusnul khotimah, dan meninggalkan segala hal yang baik dan bermanfaat bagi semuanya.

Aamiin.





MUSEUM TAMAN PRASASTI

Buka : 
Selasa - Minggu, 08.00 - 16.00
Senin : TUTUP
Parkir : Gratis

Tiket Personal
Dewasa : Rp 5.000
Mahasiswa : Rp 3.000
Anak-anak : Rp 2.000

Syuting Film / iklan komersial : Rp 1.500.000
Pemakaian ruangan / taman : Rp 1.000.000 

Lokasi : Jl. Tanah Abang I, RT. 01/08, Petojo Selatan, Jakarta Pusat.

Deru mesin mobil yang saya tumpangi terhenti tepat di pinggir jalan Desa Parigi Kecamatan Ciseeng, Kab. Bogor. Dengan perlahan dan kehati-hatian saya berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang agak becek karena hujan tadi malam. Pagi itu kami sudah disambut dengan baik oleh Ibu Ratna di depan rumahnya yang sedang dalam proses upgrading.

Sok atuh neng, A’a, masuk. Maaf rumahnya kecil, berantakan” ujar Bu Ratna merendah.

“Ahh, nggak bu, nggak apa-apa, rumah saya juga kecil” timpal yang lainnya.


Sambil menganyam bahan kain untuk dibuat keset, beliau dengan senang menceritakan proses awal bergabungnya dengan Amartha. Kunjungan saya ke desa ini adalah salah satu aktivitas Village Tour yang diadakan oleh Amartha bersama C2live dengan mengajak calon investor untuk berinteraksi dengan pengusaha mikro.


Mendengar kata “investor”, yang biasa terbesit adalah orang kaya atau perusahaan yang memiliki uang bermilyar-milyar untuk menanamkan modalnya. Tapi tidak demikian. Kita sebagai karyawan biasa, bisa juga kok jadi investor, dengan bergabung bersama Amartha.

Amartha sendiri dahulunya berupa koperasi yang berdiri tahun 2010. Namun kini telah menjadi sebuah wadah yang mempertemukan calon peminjam dengan pemberi dana (investor) secara langsung, dan menjadi perantara serta mengawasi pembayarannya. Semua itu diawasi melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet atau bahasa kerennya Financial Technology (Fintech). Layanan ini disebut Peer-to-peer (P2P) Lending alias investasi online.

Sebagai investor, kita bisa ikut menanamkan modalnya dengan meminjamkan modal usaha kepada keluarga prasejahtera untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik lagi. Dengan begitu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang sedang dirintis bisa maju, berkembang, dan semakin kompetitif, seperti apa yang dialami Bu Ratna ini.

Sampai saat ini, Bu Ratna sudah lebih dari 5 tahun bergabung dengan Amartha. Proses awal bergabungnya itu hanya dapat pinjaman modal Rp 500.000. Setelah dinilai lancar pengembaliannya, Bu Ratna kembali mendapatkan modal yang lebih besar untuk usahanya, dan alhamdulillah, kini beliau sudah bisa merenovasi rumah menjadi lebih besar, menyekolahkan anak, dari membantu perekonomian suaminya dengan memproduksi keset dari kain bekas.

Masih berada di Desa Parigi, Ibu Lilis sang pengusaha golok yang rumahnya hanya berjarak 30 meter dari Bu Ratna juga turut bergabung dengan Amartha. Di sini mereka tergabung dalam Majelis Ciremai yang beranggotakan 25 wanita tangguh. Oh iya, di Desa Parigi ini juga terkenal dengan sentra usaha pembuatan golok. Jadi jangan heran bila para laki-lakinya banyak yang berprofesi sebagai pandai besi.



Di desa yang berbeda, saya bertemu dengan perempuan tangguh lainnya, yaitu Ibu Apsiah. Di sini beliau memiliki usaha ikan cupang dengan berbagai jenis, termasuk jenis unggulan yang berharga mahal. Setelah bergabung dengan Amartha pada tahun 2011, kini Bu Apsiah bisa semakin mengembangkan usaha budidaya ikan cupang dan tidak khawatir lagi soal permodalan usahanya.


Memang, untuk mendapatkan pinjaman modal dari Amartha mengharuskan syarat untuk membentuk kelompok usaha yang disebut Majelis, karena dari majelis ini bisa secara kolektif untuk melakukan pembayaran dan memudahkan dalam koordinasinya. Jadi, nanti setiap Minggunya akan ada petugas dari Amartha yang datang untuk menarik iuran dari majelis. Bagusnya lagi, di majelis ini tidak ada jaminan apapun untuk peminjaman modal dari Amartha, sehingga para mitra tidak terbebani. Namun, di sini mengenal adanya istilah Tanggung Renteng yang artinya bila ada salah satu anggota yang gagal bayar, maka seluruh anggota akan menanggung pembayarannya itu. Jadi, hanya ada "sanksi sosial" secara otomatis yang akan terjadi di dalam majelisnya. Maklum, anggotanya kan ibu-ibu semua, jadi lebih baik bayar iuran daripada jadi bahan omongan satu majelis. Nah, maka dari itu kualitas majelis akan tetap terjaga karena setiap peminjam akan saling mengawasi kredibilitas satu sama lain.

Oh iya, dalam satu majelis itu berisi mulai dari 15 sampai 25 orang wanita, karena itu jumlah idealnya agar lebih mudah dan tidak memberatkan bila harus tanggung renteng. Untuk membedakan majelis satu dengan yang lainnya akan diberi nama sesuai kesepakatan bersama. Nama yang digunakan pun bebas, mulai dari nama buah-buahan, sayuran, bahkan nama pemain sinetron. 

Setelah majelis dibentuk dan sebelum siklus pembiayaan dimulai, setiap anggota wajib mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Field Officer Amartha. Pelatihan tersebut meliputi Financial Literacy, strategi pemasaran, dan kedisplinan. Maka dari itu, para anggota tidak hanya menerima modal usaha saja, melainkan juga dapat pengetahuan dalam berbisnis, sehingga bisa turut meningkatkan roda perekonomian bangsa.

Dalam setiap majelis itu terdapat berbagai bidang usaha, mulai dari produksi barang, jasa, maupun usaha non-produktif. Dan bila ada kesamaan dengan anggota lain pun juga tidak menjadi masalah.

 
Para Mitra Amartha


Bagaimana cara investasinya ?
 
Dengan modal awal mulai dari Rp 3.000.000, kita bisa meminjamkan modal usaha tersebut kepada ibu-ibu mitra Amartha. 


Pertama, daftar terlebih dahulu di Amarta.com dan meng-klik “Daftar Sebagai Pendana”. Isi formulirnya, setelah selesai, nanti akan diverifikasi oleh tim Amartha. 


Pemberi pinjaman sendiri nantinya akan mendapatkan imbal hasil hingga 15% pertahun dan cashflow mingguan, sehingga angsuran dapat diambil kapan saja, dan tidak ada pemotongan. Jadi, bisa mendapatkan dana secara penuh. Begitu juga bagi peminjam akan mendapatkan dana penuh.  Dengan banyaknya keuntungan yang didapat, hal ini bisa dibilang lebih tinggi daripada rata-rata investasi konvensional seperti deposito dan tabungan bank. Dan investasi ini dijamin, karena telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

#PerempuanTangguh
#FintechTerpercayaYaAmartha