Cara Mengingat Sejarah Melalui Wisata Kuburan

/ November 21, 2018



Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang masa dari goresan prasasti mereka yang pergi. Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan.

Bangunan putih dengan pilar-pilar yang tinggi ala Yunani ternyata menjadi pintu gerbang menuju dunia kematian itu. Pintunya terbuka lebar, seolah mempersilahkan saya memasuki ke dunianya. Meskipun begitu, bagi saya tidak ada hal yang menyeramkan ketika berada di dalam Museum Taman Prasasti. Itu karena saya berkunjung saat pagi hari dan di samping pemakamannya sedang ada tim Paskibraka yang sedang dihukum nyanyi lagu Boyband Korea - BTS (kok saya bisa tau ya ?).




Museum Taman Prasasti adalah museum cagar budaya yang menyimpan koleksi prasasti nisan kuno dari jaman kolonialisme. Dahulu, Museum Taman Prasasti ini merupakan tempat pemakaman orang-orang Eropa bernama Kebon Jahe Kober yang ada sejak 1795. Pada rentang waktu dari tahun 1950 - 1970 dilakukan pemindahan jenazah ke beberapa tempat lain, dan ada juga yang dibawa keluarganya ke negara asal. Sehingga yang ada saat ini hanya batu nisan aja, tidak ada jenazah atau tulang belulangnya.


Lalu apa saja yang ada di dalamnya ?

 
Berbagai macam bentuk prasasti atau batu nisan tersebar di museum ini yang memiliki jumlah koleksi sekitar 900. Saat memasuki area pemakaman di sebelah kiri, kita akan melihat patung Crying Lady. Konon (jangan dibalik), patung ini dibuat untuk merefleksikan penderitaan seorang pengantin yang suaminya baru meninggal karena wabah malaria di Batavia.
Crying Lady

Tidak jauh dari sini, terdapat prasasti batu bertuliskan aksara Jepang yang dibuat untuk mengenang 30 tentara kekaisaran Jepang yang tewas melawan sekutu.

Beberapa langkah ke depan kita akan menemukan sebuah atap yang di bawahnya terdapat dua peti bersejarah, yaitu peti yang digunakan Bung Karno dan Bung Hatta saat wafat. Bung Karno sendiri dimakamkan di Blitar, sedangkan Bung Hatta di pemakaman Tanah Kusir.

Peti Jenazah Bung Karno dan Bung Hatta
Pastor Van Der Grinten
Pada bagian tengah di bawah pohon yang rindang terdapat patung barwarna coklat gelap. Patung itu adalah Pastor Van Der Grinten yang merupakan kepala Gereja Katholik Batavia yang pertama. Pastur tersebut sangat dihormati banyak orang karena jiwa kemanusiaan yang tinggi.
Makam Kapitan Jas
Salah satu prasasti yang legendaris di sini adalah Kapitan Jas. Nama Kapitan Jas diduga ada hubungannya dengan Jassen Kerk, yaitu Gereja Portugis yang terletak di luar kota lama. Hingga saat ini, banyak masyarakat dari dalam dan luar negeri untuk berziarah ke makam Kapitan Jas dengan harapan permohonan mereka akan terkabul. Padahal, mungkin sesungguhnya sosok Kapitan Jas itu tidak pernah ada.


Di sebelah kanan makam Kapitan Jas terdapat makam Olivia Mariamne Raffles yang merupakan istri pertama Sir Thomas Stamford Raffles. Sebelum meninggal karena malaria, Olivia berpesan ingin dimakamkan di sebelah makam sahabatnya, John Casper Layden. Dan uniknya, makam Olivia ini berada tepat di depan Kantor Walikota Jakarta Pusat. Jadi seolah-olah menjadi pintu gerbang menuju gedung walikota.

Beralih ke area lain kita akan melihat tugu prasasti berwarna hijau yang menjulang tinggi. Tugu itu merupakan monumen Jendral Johan Jacob Perrie yang berkebangsaan Belanda. Karena banyak jasa dan keberaniannya dalam berperang, pemerintah Hindia Belanda membuat monumen ini untuk mengenang jasa-jasanya. Inilah yang menjadi prasasti paling ikonik di Museum Taman Prasasti yang sering digunakan syuting video klip, iklan, ataupun pemotretan model.

Monumen JJ. Perrie

Lanjut berjalan ke area belakang terdapat beberapa patung wanita dan representasi dari malaikat. Beberapa ada yang sudah rusak karena usia dan juga ulah vandalisme pengunjung. Namun, yang paling ingin saya datangi adalah prasasti makam Soe Hok Gie. Beliau adalah seorang aktivis gerakan mahasiswa tahun 1960-an dan juga pendiri Mapala UI. Karya tulisan, kiprah, dan karakternya sangat mempengaruhi kehidupan saya untuk terus tegap berdiri dalam kebenaran.


Tapi sayang, Soe Hok Gie meninggal di usia yang sangat muda, tepat 1 hari sebelum ulang tahunnya ke-27 karena menghirup gas beracun di puncak Mahameru. Meskipun begitu, karya dan pemikirannya masih tetap hidup hingga kini, dan melecut semangat anak-anak muda untuk berkegiatan di alam bebas.

Pada awalnya, Gie dimakamkan di Menteng Pulo, namun telah dipindahkan ke sini. Tapi beberapa rekannya ingat bahwa semasa hidupnya Gie pernah berujar jika meninggal ingin dikremasi dan abunya ditebar di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango.

Gie pernah berkata "Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda".

Dan semuanya kini telah terwujud. Gie telah meninggal di tempat yang diidamkan, yaitu di puncak gunung agar bisa menyatu dengan alam bebas tempat bermainnya.

Sebenarnya tanah Taman Prasasti hanya untuk orang-orang nonpribumi, namun ada dua makam atas nama orang Indonesia, yaitu Soe Hok Gie dan Miss Riboet alias Tan Kim Nio. Miss Riboet adalah orang kelahiran Aceh yang memiliki kemampuan olah vokal dan sandiwara yang baik, sehingga cukup dekat dengan petinggi VOC. Oleh sebab itu makamnya ditempatkan di sini.
 
Museum Taman Prasasti tidak hanya mengingatkan kita tentang sejarah, tapi juga mengingatkan tentang kematian dan juga orang-orang terkasih yang ditinggalkannya. Semoga kita bisa meninggal dalam keadaan baik, khusnul khotimah, dan meninggalkan segala hal yang baik dan bermanfaat bagi semuanya.

Aamiin.





MUSEUM TAMAN PRASASTI

Buka : 
Selasa - Minggu, 08.00 - 16.00
Senin : TUTUP
Parkir : Gratis

Tiket Personal
Dewasa : Rp 5.000
Mahasiswa : Rp 3.000
Anak-anak : Rp 2.000

Syuting Film / iklan komersial : Rp 1.500.000
Pemakaian ruangan / taman : Rp 1.000.000 

Lokasi : Jl. Tanah Abang I, RT. 01/08, Petojo Selatan, Jakarta Pusat.



Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang masa dari goresan prasasti mereka yang pergi. Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan.

Bangunan putih dengan pilar-pilar yang tinggi ala Yunani ternyata menjadi pintu gerbang menuju dunia kematian itu. Pintunya terbuka lebar, seolah mempersilahkan saya memasuki ke dunianya. Meskipun begitu, bagi saya tidak ada hal yang menyeramkan ketika berada di dalam Museum Taman Prasasti. Itu karena saya berkunjung saat pagi hari dan di samping pemakamannya sedang ada tim Paskibraka yang sedang dihukum nyanyi lagu Boyband Korea - BTS (kok saya bisa tau ya ?).




Museum Taman Prasasti adalah museum cagar budaya yang menyimpan koleksi prasasti nisan kuno dari jaman kolonialisme. Dahulu, Museum Taman Prasasti ini merupakan tempat pemakaman orang-orang Eropa bernama Kebon Jahe Kober yang ada sejak 1795. Pada rentang waktu dari tahun 1950 - 1970 dilakukan pemindahan jenazah ke beberapa tempat lain, dan ada juga yang dibawa keluarganya ke negara asal. Sehingga yang ada saat ini hanya batu nisan aja, tidak ada jenazah atau tulang belulangnya.


Lalu apa saja yang ada di dalamnya ?

 
Berbagai macam bentuk prasasti atau batu nisan tersebar di museum ini yang memiliki jumlah koleksi sekitar 900. Saat memasuki area pemakaman di sebelah kiri, kita akan melihat patung Crying Lady. Konon (jangan dibalik), patung ini dibuat untuk merefleksikan penderitaan seorang pengantin yang suaminya baru meninggal karena wabah malaria di Batavia.
Crying Lady

Tidak jauh dari sini, terdapat prasasti batu bertuliskan aksara Jepang yang dibuat untuk mengenang 30 tentara kekaisaran Jepang yang tewas melawan sekutu.

Beberapa langkah ke depan kita akan menemukan sebuah atap yang di bawahnya terdapat dua peti bersejarah, yaitu peti yang digunakan Bung Karno dan Bung Hatta saat wafat. Bung Karno sendiri dimakamkan di Blitar, sedangkan Bung Hatta di pemakaman Tanah Kusir.

Peti Jenazah Bung Karno dan Bung Hatta
Pastor Van Der Grinten
Pada bagian tengah di bawah pohon yang rindang terdapat patung barwarna coklat gelap. Patung itu adalah Pastor Van Der Grinten yang merupakan kepala Gereja Katholik Batavia yang pertama. Pastur tersebut sangat dihormati banyak orang karena jiwa kemanusiaan yang tinggi.
Makam Kapitan Jas
Salah satu prasasti yang legendaris di sini adalah Kapitan Jas. Nama Kapitan Jas diduga ada hubungannya dengan Jassen Kerk, yaitu Gereja Portugis yang terletak di luar kota lama. Hingga saat ini, banyak masyarakat dari dalam dan luar negeri untuk berziarah ke makam Kapitan Jas dengan harapan permohonan mereka akan terkabul. Padahal, mungkin sesungguhnya sosok Kapitan Jas itu tidak pernah ada.


Di sebelah kanan makam Kapitan Jas terdapat makam Olivia Mariamne Raffles yang merupakan istri pertama Sir Thomas Stamford Raffles. Sebelum meninggal karena malaria, Olivia berpesan ingin dimakamkan di sebelah makam sahabatnya, John Casper Layden. Dan uniknya, makam Olivia ini berada tepat di depan Kantor Walikota Jakarta Pusat. Jadi seolah-olah menjadi pintu gerbang menuju gedung walikota.

Beralih ke area lain kita akan melihat tugu prasasti berwarna hijau yang menjulang tinggi. Tugu itu merupakan monumen Jendral Johan Jacob Perrie yang berkebangsaan Belanda. Karena banyak jasa dan keberaniannya dalam berperang, pemerintah Hindia Belanda membuat monumen ini untuk mengenang jasa-jasanya. Inilah yang menjadi prasasti paling ikonik di Museum Taman Prasasti yang sering digunakan syuting video klip, iklan, ataupun pemotretan model.

Monumen JJ. Perrie

Lanjut berjalan ke area belakang terdapat beberapa patung wanita dan representasi dari malaikat. Beberapa ada yang sudah rusak karena usia dan juga ulah vandalisme pengunjung. Namun, yang paling ingin saya datangi adalah prasasti makam Soe Hok Gie. Beliau adalah seorang aktivis gerakan mahasiswa tahun 1960-an dan juga pendiri Mapala UI. Karya tulisan, kiprah, dan karakternya sangat mempengaruhi kehidupan saya untuk terus tegap berdiri dalam kebenaran.


Tapi sayang, Soe Hok Gie meninggal di usia yang sangat muda, tepat 1 hari sebelum ulang tahunnya ke-27 karena menghirup gas beracun di puncak Mahameru. Meskipun begitu, karya dan pemikirannya masih tetap hidup hingga kini, dan melecut semangat anak-anak muda untuk berkegiatan di alam bebas.

Pada awalnya, Gie dimakamkan di Menteng Pulo, namun telah dipindahkan ke sini. Tapi beberapa rekannya ingat bahwa semasa hidupnya Gie pernah berujar jika meninggal ingin dikremasi dan abunya ditebar di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango.

Gie pernah berkata "Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda".

Dan semuanya kini telah terwujud. Gie telah meninggal di tempat yang diidamkan, yaitu di puncak gunung agar bisa menyatu dengan alam bebas tempat bermainnya.

Sebenarnya tanah Taman Prasasti hanya untuk orang-orang nonpribumi, namun ada dua makam atas nama orang Indonesia, yaitu Soe Hok Gie dan Miss Riboet alias Tan Kim Nio. Miss Riboet adalah orang kelahiran Aceh yang memiliki kemampuan olah vokal dan sandiwara yang baik, sehingga cukup dekat dengan petinggi VOC. Oleh sebab itu makamnya ditempatkan di sini.
 
Museum Taman Prasasti tidak hanya mengingatkan kita tentang sejarah, tapi juga mengingatkan tentang kematian dan juga orang-orang terkasih yang ditinggalkannya. Semoga kita bisa meninggal dalam keadaan baik, khusnul khotimah, dan meninggalkan segala hal yang baik dan bermanfaat bagi semuanya.

Aamiin.





MUSEUM TAMAN PRASASTI

Buka : 
Selasa - Minggu, 08.00 - 16.00
Senin : TUTUP
Parkir : Gratis

Tiket Personal
Dewasa : Rp 5.000
Mahasiswa : Rp 3.000
Anak-anak : Rp 2.000

Syuting Film / iklan komersial : Rp 1.500.000
Pemakaian ruangan / taman : Rp 1.000.000 

Lokasi : Jl. Tanah Abang I, RT. 01/08, Petojo Selatan, Jakarta Pusat.
Continue Reading

Deru mesin mobil yang saya tumpangi terhenti tepat di pinggir jalan Desa Parigi Kecamatan Ciseeng, Kab. Bogor. Dengan perlahan dan kehati-hatian saya berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang agak becek karena hujan tadi malam. Pagi itu kami sudah disambut dengan baik oleh Ibu Ratna di depan rumahnya yang sedang dalam proses upgrading.

Sok atuh neng, A’a, masuk. Maaf rumahnya kecil, berantakan” ujar Bu Ratna merendah.

“Ahh, nggak bu, nggak apa-apa, rumah saya juga kecil” timpal yang lainnya.


Sambil menganyam bahan kain untuk dibuat keset, beliau dengan senang menceritakan proses awal bergabungnya dengan Amartha. Kunjungan saya ke desa ini adalah salah satu aktivitas Village Tour yang diadakan oleh Amartha bersama C2live dengan mengajak calon investor untuk berinteraksi dengan pengusaha mikro.


Mendengar kata “investor”, yang biasa terbesit adalah orang kaya atau perusahaan yang memiliki uang bermilyar-milyar untuk menanamkan modalnya. Tapi tidak demikian. Kita sebagai karyawan biasa, bisa juga kok jadi investor, dengan bergabung bersama Amartha.

Amartha sendiri dahulunya berupa koperasi yang berdiri tahun 2010. Namun kini telah menjadi sebuah wadah yang mempertemukan calon peminjam dengan pemberi dana (investor) secara langsung, dan menjadi perantara serta mengawasi pembayarannya. Semua itu diawasi melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet atau bahasa kerennya Financial Technology (Fintech). Layanan ini disebut Peer-to-peer (P2P) Lending alias investasi online.

Sebagai investor, kita bisa ikut menanamkan modalnya dengan meminjamkan modal usaha kepada keluarga prasejahtera untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik lagi. Dengan begitu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang sedang dirintis bisa maju, berkembang, dan semakin kompetitif, seperti apa yang dialami Bu Ratna ini.

Sampai saat ini, Bu Ratna sudah lebih dari 5 tahun bergabung dengan Amartha. Proses awal bergabungnya itu hanya dapat pinjaman modal Rp 500.000. Setelah dinilai lancar pengembaliannya, Bu Ratna kembali mendapatkan modal yang lebih besar untuk usahanya, dan alhamdulillah, kini beliau sudah bisa merenovasi rumah menjadi lebih besar, menyekolahkan anak, dari membantu perekonomian suaminya dengan memproduksi keset dari kain bekas.

Masih berada di Desa Parigi, Ibu Lilis sang pengusaha golok yang rumahnya hanya berjarak 30 meter dari Bu Ratna juga turut bergabung dengan Amartha. Di sini mereka tergabung dalam Majelis Ciremai yang beranggotakan 25 wanita tangguh. Oh iya, di Desa Parigi ini juga terkenal dengan sentra usaha pembuatan golok. Jadi jangan heran bila para laki-lakinya banyak yang berprofesi sebagai pandai besi.



Di desa yang berbeda, saya bertemu dengan perempuan tangguh lainnya, yaitu Ibu Apsiah. Di sini beliau memiliki usaha ikan cupang dengan berbagai jenis, termasuk jenis unggulan yang berharga mahal. Setelah bergabung dengan Amartha pada tahun 2011, kini Bu Apsiah bisa semakin mengembangkan usaha budidaya ikan cupang dan tidak khawatir lagi soal permodalan usahanya.


Memang, untuk mendapatkan pinjaman modal dari Amartha mengharuskan syarat untuk membentuk kelompok usaha yang disebut Majelis, karena dari majelis ini bisa secara kolektif untuk melakukan pembayaran dan memudahkan dalam koordinasinya. Jadi, nanti setiap Minggunya akan ada petugas dari Amartha yang datang untuk menarik iuran dari majelis. Bagusnya lagi, di majelis ini tidak ada jaminan apapun untuk peminjaman modal dari Amartha, sehingga para mitra tidak terbebani. Namun, di sini mengenal adanya istilah Tanggung Renteng yang artinya bila ada salah satu anggota yang gagal bayar, maka seluruh anggota akan menanggung pembayarannya itu. Jadi, hanya ada "sanksi sosial" secara otomatis yang akan terjadi di dalam majelisnya. Maklum, anggotanya kan ibu-ibu semua, jadi lebih baik bayar iuran daripada jadi bahan omongan satu majelis. Nah, maka dari itu kualitas majelis akan tetap terjaga karena setiap peminjam akan saling mengawasi kredibilitas satu sama lain.

Oh iya, dalam satu majelis itu berisi mulai dari 15 sampai 25 orang wanita, karena itu jumlah idealnya agar lebih mudah dan tidak memberatkan bila harus tanggung renteng. Untuk membedakan majelis satu dengan yang lainnya akan diberi nama sesuai kesepakatan bersama. Nama yang digunakan pun bebas, mulai dari nama buah-buahan, sayuran, bahkan nama pemain sinetron. 

Setelah majelis dibentuk dan sebelum siklus pembiayaan dimulai, setiap anggota wajib mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Field Officer Amartha. Pelatihan tersebut meliputi Financial Literacy, strategi pemasaran, dan kedisplinan. Maka dari itu, para anggota tidak hanya menerima modal usaha saja, melainkan juga dapat pengetahuan dalam berbisnis, sehingga bisa turut meningkatkan roda perekonomian bangsa.

Dalam setiap majelis itu terdapat berbagai bidang usaha, mulai dari produksi barang, jasa, maupun usaha non-produktif. Dan bila ada kesamaan dengan anggota lain pun juga tidak menjadi masalah.

 
Para Mitra Amartha


Bagaimana cara investasinya ?
 
Dengan modal awal mulai dari Rp 3.000.000, kita bisa meminjamkan modal usaha tersebut kepada ibu-ibu mitra Amartha. 


Pertama, daftar terlebih dahulu di Amarta.com dan meng-klik “Daftar Sebagai Pendana”. Isi formulirnya, setelah selesai, nanti akan diverifikasi oleh tim Amartha. 


Pemberi pinjaman sendiri nantinya akan mendapatkan imbal hasil hingga 15% pertahun dan cashflow mingguan, sehingga angsuran dapat diambil kapan saja, dan tidak ada pemotongan. Jadi, bisa mendapatkan dana secara penuh. Begitu juga bagi peminjam akan mendapatkan dana penuh.  Dengan banyaknya keuntungan yang didapat, hal ini bisa dibilang lebih tinggi daripada rata-rata investasi konvensional seperti deposito dan tabungan bank. Dan investasi ini dijamin, karena telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

#PerempuanTangguh
#FintechTerpercayaYaAmartha







Akhir-akhir ini tiap saat berjalan di mall, mata saya selalu tertuju pada sebuah kotak merah besar yang biasanya terletak di pojokan. Kotak merah yang berbentuk loker itu memiliki desain menarik yang berbeda-beda di tiap lokasi. Awalnya saya hanya acuh, namun rasa penasaran yang tinggi membuat badan saya secara otomatis mendekat ke arahnya dan memperhatikan secara seksama.


Awalnya saya pikir ini sebuah vending machine karena terdapat bermacam-macam iklan makanan dan minuman. Ternyata kotak besar itu bernama POPBOX yang memang menyediakan space untuk beriklan.

Hhhmm…nama yang tidak asing lagi bagi saya. Sekilas mirip dengan PO Box.
Masih ingatkah dengan PO BOX ?

Pada tahun 1990-an, saya seringkali berkirim surat atau kartu pos dengan alamat PO BOX sekian-sekian. PO BOX adalah laci lemari surat yang di kantor POS dan disewakan untuk alamat berkirim surat, tidak perlu pakai alamat rumah. Jadi POPBOX itu mirip dengan PO BOX, namun ini lebih “ajaib”. Kenapa bisa dibilang ajaib ? Karena Popbox adalah smart locker system pertama di Indonesia yang memiliki banyak fungsi seperti mengirim barang, ambil barang kiriman, titip barang, beli pulsa, dan lain-lain.

Keajaibannya itu mengingatkan saya pada film Doraemon yang juga pernah memiliki alat serupa, yaitu kotak pengantar barang, dan ternyata hal itu bisa ada di dunia nyata dalam bentuk Popbox ini.

Lalu cara kerjanya gimana ?

Meskipun “ajaib”, ini tidak serta merta barang yang ditaruh di dalamnya akan berpindah tempat ke tempat lain dalam sekejap, namun ada kurir yang akan mengantarkannya. Kebetulan malam itu saya sedang di SPBU Ciputat untuk berteduh dan mengisi bensin. Saat melihat Popbox, saya berniat untuk langsung mencobanya, demi menjawab rasa penasaran selama ini.

Ternyata cara  menggunakannya pun mudah, pertama download terlebih dahulu aplikasi Popbox melalui smartphone, registrasi, dan topup saldonya (min. Rp 25.000). Kemudian saya memilih fitur PopSend untuk mengirim barang, dan bisa juga saya sendiri yang nanti menerimanya. 

Tahap selanjutnya pilih pick up location  yaitu SPBU Ciputat, lalu tentukan destinasinya, di sini saya coba kirim ke Giant Poins Square Lebak Bulus. Dari situ bisa langsung terdeteksi harganya yang dihitung per kilogram, dengan kapasitas maksimal 3 kg per lokernya.


Isilah data dengan lengkap dan menyebutkan isi paket yang akan dikirim serta cara penanganannya agar tidak salah. Oh iya, sebelumnya, jangan lupa foto barangnya untuk diupload di aplikasinya untuk meyakinkan kurirnya.  Setelah semua terisi, pilih confirm untuk menyelesaikan transaksi. Dari situ kita akan langsung menerima password via SMS dan juga e-mail untuk membuka lokernya.


Tahap terakhir, tinggal menginput password di Popbox-nya, dengan memilih PopSend sesuai dengan aplikasi. Setelah itu tinggal pilih ukuran lokernya, lalu pintu loker akan otomatis terbuka selama 1 menit, jadi jangan terlalu lama ya memasukkan barangnya. Jangan lupa tentukan dulu ukuran loker yang akan digunakan.



Setelah itu selesai deh, tinggal menunggu barang diantarkan ke Popbox tujuan. Nanti kalau sudah sampai, kita akan menerima SMS dan juga e-mail yang berisi password untuk membuka loker yang dituju. Prosesnya juga bisa kita tracking kok  via aplikasi, dijamin aman, karena terpantau CCTV selama 24 jam, dan ada jaminannya maksimal 1 juta rupiah untuk setiap barang di loker PopBox.

Eh iya, saat saya terima kiriman barangnya, ternyata sudah dikemas dengan plastik, supaya gak basah. Padahal awalnya saya kirim cuma dibungkus tas kain aja. Wahh, ini berarti ditangani dengan baik barangnya.




Fitur-fitur di PopBox

Selain PopSend untuk mengirim barang, PopBox juga memiliki fitur lain yang menarik, seperti :
PopSafe : Fitur titip barang di loker. Jadi, bagi kamu yang males, dan ribet nenteng-nenteng barang saat traveling atau jalan-jalan di mall, bisa menitipkan barangnya di lokasi loker favoritmu dengan tariff Rp 6000/24 jam.

Collection Point : Ini sangat cocok bagi yang sering belanja online, influencer, atau selebgram yang sering mendapatkan kiriman barang endorsement, tapi tidak mau diketahui alamat rumahnya atau jarang di rumah, bisa terima barangnya lewat PopBox. Nanti akan mendapatkan PIN via SMS untuk mengambil barangnya, jadi rahasia terjamin.

Return Service : Saat ini PopBox telah bekerjasama dengan beberapa E-commerce seperti Lazada, Zalora, Blibli, dan Mataharimall untuk menerima pengembalian barang belanjaan yang tidak sesuai ke loker terdekat, dan GRATIS, tidak dipungut biaya.

On Demand : Kita bisa menggunakan jasa laundry pakaian dan juga sepatu dengan menaruh di dalam kotaknya. Nanti jika sudah selesai, aka nada notifikasinya untuk pengambilan.

Beli Pulsa : Kotak ajaib ini, juga bisa untuk transaksi beli pulsa lho, yang pembayarannya via e-money, T-cash, QR, dll.

Jadi kenapa pakai PopBox ?
Yang jelas lebih aman dan terjamin, karena harus menggunakan kode PIN untuk pengambilannya, dan bisa di-tracking prosesnya. Barang yang tersimpan akan aman, dan jika selama 3 hari belum diambil akan mendapatkan notifikasi untuk pengambilan barang.
Lokasinya pun sudah tersebar di 8 kota besar Indonesia dengan jumlah 300 loker dan akan bertambah. Untuk pencarian lokasi PopBox pun sangat mudah, bisa terpantau melalui aplikasi dengan menunjukkan loker terdekat. Asyiknya lagi, PopBox saat ini sedang ada promo, jadi saya tinggal memasukkan kode GRATISPAKAI di kolomnya, dan akhirnya beneran gratis deh.

Yapp...

Ternyata benar, kotak pengantar barang ala Doraemon kini telah menjadi kenyataan, berkat hadirnya PopBox di Indonesia. Hal ini sangat membantu sekali bagi kaum milenial di era dengan mobilitas tinggi.
Daripada penasaran kayak saya, yukk cobain sendiri pakai PopBox.



www.popbox.asia
@popbox_asia
#kerenpakaipopbox