Merasakan Glamping Sebenarnya di Sandat Glamping Tent

/ Wednesday, April 29, 2020
Sebagai orang yang gemar mendaki gunung, tidur di dalam tenda sempit beralaskan matras tipis adalah hal yang biasa. Bahkan jika ada yang tidur beralaskan sleeping pad merk "Klymit" itu udah tergolong suatu hal yang mewah karena harganya tidak murah. Sebenernya, camping di gunung mengajarkan kita untuk hidup sederhana, menyatu dengan alam, mengindahkan kenyamanan untuk sementara waktu. Namun, semua itu bisa sirna akibat saat ini mulai dikenal dengan konsep Glamping alias Glamour Camping.

Tak ada salah dengan konsep tersebut, karena Glamping itu hadir bagi orang yang punya budget lebih tapi males untuk capek-capek naik gunung dan masang serta bongkar tenda. Pokoknya semua udah jadi, tinggal terima beres aja dan bisa tidur tanpa harus cari posisi wenak sambil nahan tulang ekor yang sakit karena kerasnya tanah.

Glamping sejauh yang saya tahu selama ini dari beberapa lokasi, menyediakan tenda berukuran besar dengan kasur super tebal, listrik, toilet, dan juga pendingin ruangan. That's it, gak perbedaan yang signifikan. Tapi,  semua kesan "biasa" itu musnah ketika saya beserta keluarga "tak sengaja" menginap di Sandat Glamping Tent di Ubud, Bali.
Sandat Glamping Tent
Suasana malam hari

Dibilang tak sengaja, karena kami gak tau gambaran apa-apa soal penginapannya, bahkan juga namanya. Hanya "clue" dari supir yang mengantarkan berupa penginapan Glamping di dekat sawah, dan saya pun belum sempat searching karena memang gak ada nama di itinerary-nya.

Memang benar, untuk menuju penginapannya melewati jalan yang cukup sempit dan hanya muat untuk 1 mobil karena kanan kirinya ada sawah. Bahkan ketika sudah sampai di lokasi, saya masih pesimis,

"Serius, ini tempat Glamping mewah itu ?"

Soalnya parkirannya cukup sempit, hanya muat sekitar 6 mobil Mitsubishi Xpander Cross, dan itu mepet banget.

Semua rasa pesimis itu mulai sedikit sirna saat saya mulai melewati lobby-nya. Meja resepsionisnya memang kecil karena konsep yang tradisional. Sebelum masuk pun kami diperiksa suhu tubuhnya dan disemprot handsrub untuk mengantisipasi penularan virus Corona.

Ruang yoga dan olahraga
Suasana yang asri mulai terasa di sini, berbagai tanaman dan pepohonan tersedia di setiap sudutnya. Bangunannya yang didominasi dengan kayu dan bambu ini memberi kesan sederhana namun mewah dalam segi desainnya. Siang itu saat check in, semua barang bawaan kami dibawakan oleh karyawannya. Ternyata, untuk menuju kamar, kita harus melewati hutan buatan, jalan berundak dan berliku. Pantas saja, barang bawaan kami dihimbau untuk dibawakan mereka.

Saat sampai di depan kamarnya, kami cukup tercengang karena konsepnya bagus banget. Ini sih bener-bener glamour camping namanya. Ylang-ylang nama kamarnya. Bangunan yang kita tempati memang terbuat dari bahan non permanen seperti kain untuk tenda namun lebih tebal dan lantainya terbuat dari kayu.


Sandat Private Pool

Asiknya lagi, tiap kamar ada private pool dan langsung menghadap ke hutan. Ketika memasuki kamar, kita langsung berpapasan dengan tempat tidur yang berbentuk lingkaran yang dikelilingi kelambu. Sebelah kanannya terdapat dua kursi santai, dan di seberangnya ada lukisan dan juga kulkas.


Kamar Mandi Sandat Glamping
Kamar mandi tipe kering


Bagian paling dalam, kamar mandi dan klosetnya tidak ada pintu pembatasnya, jadi kamar ini memang cocoknya sih buat bulan madu. Soalnya kalo nginep bareng temen cowok pasti bakal direkam pas mandi atau boker.

Secara keseluruhan sih, kamar yang kita tempati ini mengingatkan saya pada resort-resort ala safari di Afrika. Cuma kurang auman singa dan tongolan kepala jerapah aja.

Ada hal-hal unik yang bisa kita temukan di Sandat Glamping Tent :

1. Tidak ada Televisi.
TV sucks ! Memang benar. Buat liburan dengan suasana seperti ini, TV gak diperlukan, karena pemandangan udah jadi hiburannya.

2. Banyak nyamuk.
Adalah hal yang wajar saat berada di kebon atau di hutan bakal dikerumuni banyak nyamuk. Maka dari itu, tempat tidurnya disediakan kelambu dan ada petugas yang bakal menawarkan mau pakai lotion anti nyamuk apa obat nyamuk bakar.

3. Tidak ada telepon intercom.
Jadi, kalo mau manggil petugasnya untuk ke kamar, harus pake kentongan kayak di pos ronda. Seru banget, soalnya dulu pas masih kecil pernah mukul kentongan, abis itu didatengin warga :D

4. Bel berupa lonceng.
Memang listrik sangat diminimalkan di sini. Jadi, beberapa meter sebelum area yang kita tempati ada lonceng tergantung di pohon yang digunakan sebagai bel kamar. Petugas yang ingin masuk pasti akan membunyikan bel terlebih dahulu dan menanyakan pada kita apakah diperkenankan untuk masuk ke area atau nggak.


Berenang di Private pool

Bener-bener ya, Sandat Glamping ini memanjakan privasi tamunya. Hadirnya kolam renang pribadi berbentuk oval di depan kamar bisa bikin kita puas berenang tanpa canggung ketemu orang lain. Selain itu juga, konsep infinity pool-nya jadi poin plus untuk mendapatkan foto bagus tanpa bocor di mana-mana.

Untuk kedalamannya sih lumayan, saya yang tingginya 165 cm pun agak kaget karena batas airnya nyaris sampai leher. Ini sih, kayak ukuran untuk bule deh. Oh iya, airnya pun cukup dingin, jadi bakal kaget kalo pagi-pagi langsung nyemplung situ. Menurut saya, waktu terbaik untuk berenang adalah pukul 08.15, karena pada waktu tersebut, area teras dan kolam renang telah dibersihkan oleh petugasnya dari dedaunan dan ranting yang rontok.

Suasana hutan yang tenang dan hanya terdengar suara serangga bikin kita jadi rileks. Terlebih lagi di dekat kolamnya ada matras busa untuk rebahan. Buat bilasnya pun disediakan shower di pojokan sebelah kiri, bentuknya pun cukup unik karena dibuatkan instalasi dari bambu.
Sandat swimming pool


Pijat enakk...

Hari itu pas banget saya baru turun dari Gunung Batur. Setelah merileksasikan diri di kolam air panas Toya Devassya, kami langsung menuju penginapan untuk istirahat. Untungnya di Sandat terdapat fasilitas massage. Sore itu saya berjalan menuju tempat massage, di sana sudah tersedia 4 ranjang tanpa sekat dalam satu ruangan.

"Mas, pakaiannya dilepas semua ya, tinggal pakai CD aja" kata salah seorang mbak terapisnya.

"Tinggal pakai CD aja mbak ?" tanyaku meyakinkan.

Saya pun sempat bimbang dan berpikir sekian detik untuk memutuskan berani pakai CD doang di depan para wanita selain istri sendiri. Padahal saya udah pakai celana boxer, sengaja untuk pijat, tapi tetap disuruh lepas. Meskipun saya sering pijat, tapi baru kali ini pijat nyaris bugil, dan yang mijat juga wanita, bikin canggung aja.

Setelah melepaskan pakaian, salah seorang mbaknya yang masih muda mempersilahkan saya untuk tengkurap di ranjangnya. Saya pun masih kepikiran, kenapa mbaknya yang muda yang melayani, padahal di situ masih ada ibu-ibu. Duhh, semoga gak ada fasilitas ganti bolam deh, hahahaa...aaouuu... :p

Tak terasa, setelah sejam lebih dipijat, saya jadi terbangun dari tidur karena nyaman dengan pijatannya gak sakit. Denny Sumargo yang ada di sebelah kiri saya pun juga tertidur, begitu juga Manda yang berada paling ujung.


Makan malam romantis.

Dari kamar menuju tempat makannya harus melewati hutan yang berliku. Memang sih agak gelap dan sunyi, tapi tenang aja, sepanjang jalurnya dikasih penerangan berupa lampu minyak kok. Jadi, masing-masing kamar punya jalurnya sendiri-sendiri untuk menuju tempat makannya.

Dengan didominasi lampu berwarna kuning kecoklatan, seolah menyatukan ambience dengan bangunannya. Konsepnya yang semi outdoor membuat tempat tersebut tak perlu pendingin ruangan karena angin semilir yang hilir mudik.

Salah satu hal yang unik dari tempat ini adalah adanya instalasi seni berupa banyak cermin dari berbagai bentuk dan ukuran. Lantainya yang licin dan bersih pun sepertinya bisa sekali dipakai untuk nongkrong atau tiduran di situ.




Di sini terdapat dua area, yang pertama berupa meja panjang dan yang satu berupa sofa. Meja panjang digunakan untuk makan bersama, sedangkan yang sofa biasanya untuk nongkrong sambil ngerokok.


Menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari tradisional Bali hingga western. Bayangan saya bakalan lama penyajiannya karena temen-temen yang lain memesan menu-menu yang berbeda, ternyata diluar dugaan, cukup cepat rupanya.

Keseruan malam itu diisi dengan berbagai cerita pengalaman hidupnya Densu, mulai dari keluarga, percintaan, gosip, pekerjaan, hingga ngomongin pengalaman spiritualnya yang sulit diterima akal sehat.


Sandat Glamping Tent
Kamar tipe Lumbung

Saya pun baru tau kalo Densu dan timnya menginap di Lumbung. Jadi, di Sandat ini ada dua tipe kamarnya, yaitu tenda dan lumbung. Untuk Lumbung sendiri, dinamakan demikian karena bentuknya seperti lumbung padi tradisional. Di kamar ini bisa muat banyak orang, tapi bagian bawahnya nggak terdapat AC, cuma lantai 2 nya aja. Sedangkan kolam renangnya lebih besar karena digunakan bersama-sama dengan penghuni kamar yang lainnya.

Ada satu lagi hal menarik. Jadi ternyata kamar mandinya ini agak terbuka. Saat Densu naik ke lantai 2, gak sengaja liat manajernya lagi mandi.

"Waduhh, nyesel gw, abis itu gw langsung wudhu biar gak kepikiran terus, hahaha" canda Densu.

Malam semakin larut, bangunannya yang terbuka membuat nyamuk leluasa mencari mangsanya. Aroma obat nyamuk bakar yang cukup mengganggu pernapasan saya sepertinya kurang nampol itu nyamuk-nyamuk nakal. Walhasil saya seringkali menggaruk kaki sampai kulit saya bisa buat nulis.

Saking keasikannya, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WITA, saya pun menyudahi perbincangan malam itu, dan yang lainnya akhirnya pada bubar juga. Mereka baru sadar kalo nanti jam 02.00 harus bangun untuk mendaki Gunung Batur.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, suasana di Sandat Glamping Tent ini natural banget, suara serangga khas hutan tropis saling bersahutan saat malam hari. Selama 3 hari 2 malam itu memang dibuat privat hanya untuk rombongan kami. Cahaya bintang pun cukup jelas terlihat di balik rimbunnya hutan. Gak salah banget kalo tempat ini dijuluki Five Billion Stars Resort. Petualangannya dapet, mewahnya juga dapet.


Sandat Glamping Tents


Jl. Subak Sala Banjar Sala Pejeng Kawan 
Ubud Gianyar, Bali 80552
www.glampingsandat.com


Sebagai orang yang gemar mendaki gunung, tidur di dalam tenda sempit beralaskan matras tipis adalah hal yang biasa. Bahkan jika ada yang tidur beralaskan sleeping pad merk "Klymit" itu udah tergolong suatu hal yang mewah karena harganya tidak murah. Sebenernya, camping di gunung mengajarkan kita untuk hidup sederhana, menyatu dengan alam, mengindahkan kenyamanan untuk sementara waktu. Namun, semua itu bisa sirna akibat saat ini mulai dikenal dengan konsep Glamping alias Glamour Camping.

Tak ada salah dengan konsep tersebut, karena Glamping itu hadir bagi orang yang punya budget lebih tapi males untuk capek-capek naik gunung dan masang serta bongkar tenda. Pokoknya semua udah jadi, tinggal terima beres aja dan bisa tidur tanpa harus cari posisi wenak sambil nahan tulang ekor yang sakit karena kerasnya tanah.

Glamping sejauh yang saya tahu selama ini dari beberapa lokasi, menyediakan tenda berukuran besar dengan kasur super tebal, listrik, toilet, dan juga pendingin ruangan. That's it, gak perbedaan yang signifikan. Tapi,  semua kesan "biasa" itu musnah ketika saya beserta keluarga "tak sengaja" menginap di Sandat Glamping Tent di Ubud, Bali.
Sandat Glamping Tent
Suasana malam hari

Dibilang tak sengaja, karena kami gak tau gambaran apa-apa soal penginapannya, bahkan juga namanya. Hanya "clue" dari supir yang mengantarkan berupa penginapan Glamping di dekat sawah, dan saya pun belum sempat searching karena memang gak ada nama di itinerary-nya.

Memang benar, untuk menuju penginapannya melewati jalan yang cukup sempit dan hanya muat untuk 1 mobil karena kanan kirinya ada sawah. Bahkan ketika sudah sampai di lokasi, saya masih pesimis,

"Serius, ini tempat Glamping mewah itu ?"

Soalnya parkirannya cukup sempit, hanya muat sekitar 6 mobil Mitsubishi Xpander Cross, dan itu mepet banget.

Semua rasa pesimis itu mulai sedikit sirna saat saya mulai melewati lobby-nya. Meja resepsionisnya memang kecil karena konsep yang tradisional. Sebelum masuk pun kami diperiksa suhu tubuhnya dan disemprot handsrub untuk mengantisipasi penularan virus Corona.

Ruang yoga dan olahraga
Suasana yang asri mulai terasa di sini, berbagai tanaman dan pepohonan tersedia di setiap sudutnya. Bangunannya yang didominasi dengan kayu dan bambu ini memberi kesan sederhana namun mewah dalam segi desainnya. Siang itu saat check in, semua barang bawaan kami dibawakan oleh karyawannya. Ternyata, untuk menuju kamar, kita harus melewati hutan buatan, jalan berundak dan berliku. Pantas saja, barang bawaan kami dihimbau untuk dibawakan mereka.

Saat sampai di depan kamarnya, kami cukup tercengang karena konsepnya bagus banget. Ini sih bener-bener glamour camping namanya. Ylang-ylang nama kamarnya. Bangunan yang kita tempati memang terbuat dari bahan non permanen seperti kain untuk tenda namun lebih tebal dan lantainya terbuat dari kayu.


Sandat Private Pool

Asiknya lagi, tiap kamar ada private pool dan langsung menghadap ke hutan. Ketika memasuki kamar, kita langsung berpapasan dengan tempat tidur yang berbentuk lingkaran yang dikelilingi kelambu. Sebelah kanannya terdapat dua kursi santai, dan di seberangnya ada lukisan dan juga kulkas.


Kamar Mandi Sandat Glamping
Kamar mandi tipe kering


Bagian paling dalam, kamar mandi dan klosetnya tidak ada pintu pembatasnya, jadi kamar ini memang cocoknya sih buat bulan madu. Soalnya kalo nginep bareng temen cowok pasti bakal direkam pas mandi atau boker.

Secara keseluruhan sih, kamar yang kita tempati ini mengingatkan saya pada resort-resort ala safari di Afrika. Cuma kurang auman singa dan tongolan kepala jerapah aja.

Ada hal-hal unik yang bisa kita temukan di Sandat Glamping Tent :

1. Tidak ada Televisi.
TV sucks ! Memang benar. Buat liburan dengan suasana seperti ini, TV gak diperlukan, karena pemandangan udah jadi hiburannya.

2. Banyak nyamuk.
Adalah hal yang wajar saat berada di kebon atau di hutan bakal dikerumuni banyak nyamuk. Maka dari itu, tempat tidurnya disediakan kelambu dan ada petugas yang bakal menawarkan mau pakai lotion anti nyamuk apa obat nyamuk bakar.

3. Tidak ada telepon intercom.
Jadi, kalo mau manggil petugasnya untuk ke kamar, harus pake kentongan kayak di pos ronda. Seru banget, soalnya dulu pas masih kecil pernah mukul kentongan, abis itu didatengin warga :D

4. Bel berupa lonceng.
Memang listrik sangat diminimalkan di sini. Jadi, beberapa meter sebelum area yang kita tempati ada lonceng tergantung di pohon yang digunakan sebagai bel kamar. Petugas yang ingin masuk pasti akan membunyikan bel terlebih dahulu dan menanyakan pada kita apakah diperkenankan untuk masuk ke area atau nggak.


Berenang di Private pool

Bener-bener ya, Sandat Glamping ini memanjakan privasi tamunya. Hadirnya kolam renang pribadi berbentuk oval di depan kamar bisa bikin kita puas berenang tanpa canggung ketemu orang lain. Selain itu juga, konsep infinity pool-nya jadi poin plus untuk mendapatkan foto bagus tanpa bocor di mana-mana.

Untuk kedalamannya sih lumayan, saya yang tingginya 165 cm pun agak kaget karena batas airnya nyaris sampai leher. Ini sih, kayak ukuran untuk bule deh. Oh iya, airnya pun cukup dingin, jadi bakal kaget kalo pagi-pagi langsung nyemplung situ. Menurut saya, waktu terbaik untuk berenang adalah pukul 08.15, karena pada waktu tersebut, area teras dan kolam renang telah dibersihkan oleh petugasnya dari dedaunan dan ranting yang rontok.

Suasana hutan yang tenang dan hanya terdengar suara serangga bikin kita jadi rileks. Terlebih lagi di dekat kolamnya ada matras busa untuk rebahan. Buat bilasnya pun disediakan shower di pojokan sebelah kiri, bentuknya pun cukup unik karena dibuatkan instalasi dari bambu.
Sandat swimming pool


Pijat enakk...

Hari itu pas banget saya baru turun dari Gunung Batur. Setelah merileksasikan diri di kolam air panas Toya Devassya, kami langsung menuju penginapan untuk istirahat. Untungnya di Sandat terdapat fasilitas massage. Sore itu saya berjalan menuju tempat massage, di sana sudah tersedia 4 ranjang tanpa sekat dalam satu ruangan.

"Mas, pakaiannya dilepas semua ya, tinggal pakai CD aja" kata salah seorang mbak terapisnya.

"Tinggal pakai CD aja mbak ?" tanyaku meyakinkan.

Saya pun sempat bimbang dan berpikir sekian detik untuk memutuskan berani pakai CD doang di depan para wanita selain istri sendiri. Padahal saya udah pakai celana boxer, sengaja untuk pijat, tapi tetap disuruh lepas. Meskipun saya sering pijat, tapi baru kali ini pijat nyaris bugil, dan yang mijat juga wanita, bikin canggung aja.

Setelah melepaskan pakaian, salah seorang mbaknya yang masih muda mempersilahkan saya untuk tengkurap di ranjangnya. Saya pun masih kepikiran, kenapa mbaknya yang muda yang melayani, padahal di situ masih ada ibu-ibu. Duhh, semoga gak ada fasilitas ganti bolam deh, hahahaa...aaouuu... :p

Tak terasa, setelah sejam lebih dipijat, saya jadi terbangun dari tidur karena nyaman dengan pijatannya gak sakit. Denny Sumargo yang ada di sebelah kiri saya pun juga tertidur, begitu juga Manda yang berada paling ujung.


Makan malam romantis.

Dari kamar menuju tempat makannya harus melewati hutan yang berliku. Memang sih agak gelap dan sunyi, tapi tenang aja, sepanjang jalurnya dikasih penerangan berupa lampu minyak kok. Jadi, masing-masing kamar punya jalurnya sendiri-sendiri untuk menuju tempat makannya.

Dengan didominasi lampu berwarna kuning kecoklatan, seolah menyatukan ambience dengan bangunannya. Konsepnya yang semi outdoor membuat tempat tersebut tak perlu pendingin ruangan karena angin semilir yang hilir mudik.

Salah satu hal yang unik dari tempat ini adalah adanya instalasi seni berupa banyak cermin dari berbagai bentuk dan ukuran. Lantainya yang licin dan bersih pun sepertinya bisa sekali dipakai untuk nongkrong atau tiduran di situ.




Di sini terdapat dua area, yang pertama berupa meja panjang dan yang satu berupa sofa. Meja panjang digunakan untuk makan bersama, sedangkan yang sofa biasanya untuk nongkrong sambil ngerokok.


Menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari tradisional Bali hingga western. Bayangan saya bakalan lama penyajiannya karena temen-temen yang lain memesan menu-menu yang berbeda, ternyata diluar dugaan, cukup cepat rupanya.

Keseruan malam itu diisi dengan berbagai cerita pengalaman hidupnya Densu, mulai dari keluarga, percintaan, gosip, pekerjaan, hingga ngomongin pengalaman spiritualnya yang sulit diterima akal sehat.


Sandat Glamping Tent
Kamar tipe Lumbung

Saya pun baru tau kalo Densu dan timnya menginap di Lumbung. Jadi, di Sandat ini ada dua tipe kamarnya, yaitu tenda dan lumbung. Untuk Lumbung sendiri, dinamakan demikian karena bentuknya seperti lumbung padi tradisional. Di kamar ini bisa muat banyak orang, tapi bagian bawahnya nggak terdapat AC, cuma lantai 2 nya aja. Sedangkan kolam renangnya lebih besar karena digunakan bersama-sama dengan penghuni kamar yang lainnya.

Ada satu lagi hal menarik. Jadi ternyata kamar mandinya ini agak terbuka. Saat Densu naik ke lantai 2, gak sengaja liat manajernya lagi mandi.

"Waduhh, nyesel gw, abis itu gw langsung wudhu biar gak kepikiran terus, hahaha" canda Densu.

Malam semakin larut, bangunannya yang terbuka membuat nyamuk leluasa mencari mangsanya. Aroma obat nyamuk bakar yang cukup mengganggu pernapasan saya sepertinya kurang nampol itu nyamuk-nyamuk nakal. Walhasil saya seringkali menggaruk kaki sampai kulit saya bisa buat nulis.

Saking keasikannya, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WITA, saya pun menyudahi perbincangan malam itu, dan yang lainnya akhirnya pada bubar juga. Mereka baru sadar kalo nanti jam 02.00 harus bangun untuk mendaki Gunung Batur.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, suasana di Sandat Glamping Tent ini natural banget, suara serangga khas hutan tropis saling bersahutan saat malam hari. Selama 3 hari 2 malam itu memang dibuat privat hanya untuk rombongan kami. Cahaya bintang pun cukup jelas terlihat di balik rimbunnya hutan. Gak salah banget kalo tempat ini dijuluki Five Billion Stars Resort. Petualangannya dapet, mewahnya juga dapet.


Sandat Glamping Tents


Jl. Subak Sala Banjar Sala Pejeng Kawan 
Ubud Gianyar, Bali 80552
www.glampingsandat.com


Continue Reading

“Bro, lo kenapa milih gunung daripada pantai ?” tanya Densu pada saya.

“Soalnya, di pantai panas, takut item (lebih item), mendingan gunung adem, hahaha” jawab saya realistis.

“Sebenernya, gw lebih cenderung ke pantai daripada gunung, soalnya gunung capek banget, pengen yang santai-santai aja. Ehh, apa karena gw kalah ganteng ya dari Nicholas Saputra, makanya disuruhnya ke Tim Gunung ? hahahaaa” timpal Densu.

Faktor udara yang sejuk dan ketenangan di atas sana adalah salah dua alasan saya memilih gunung ketimbang eksplorasi di pantai. Terlebih lagi saya udah 2 tahun lebih gak menginjakkan kaki di gunung pasca menikah. Semua difokuskan ke keluarga terlebih dahulu. Sebenernya pengen banget naik gunung bareng anak dan istri, cuma berhubung Saga masih 8 bulan. Sangat beresiko untuk diajak naik gunung, lagipula sepertinya belum ada tas carrier yang pas untuk gendong bayi seukuran Saga.

Puncak Gunung Batur

Gunung Batur adalah gunung di Bali pertama yang saya daki, dari dulu pengen banget meskipun bukan jadi gunung prioritas untuk didaki. Alhamdulillah kali ini kesampaian mendaki bersama Denny Sumargo dan tim Mitsubishi.

Tujuan utama dari pendakian ini adalah melihat sunrise dari puncaknya. Jadi pukul 02.00 sudah harus berangkat dari hotel menuju basecamp di kaki gunungnya. Malam itu kami menuju basecamp menaiki Xpander Cross melewati jalur yang meliuk-liuk. Di basecampnya ini kita bisa memesan mie instan untuk sekadar mengisi perut sebelum pendakian. Bagi yang ingin berurusan dengan kamar kecil harap menyiapkan uang lebih banyak, karena tarifnya Rp 5.000 sekali pakai.

Untungnya udara di sini tidak terlalu dingin, mungkin sekitar 24 derajat. Jadi saya gak perlu memakai jaket karena nanti saat jalan bakal kepanasan. Sekitar pukul 03.30, anggota tim sudah siap dan membawa senternya masing-masing. 

Gunung Batur merupakan gunung yang ramah bagi para pendaki, kalau di Jawa tingkat kesulitannya mirip Gn. Andong. Jalurnya cukup lebar seperti di Ijen dan sangat jelas meskipun ada percabangan. Ada beberapa jalur pendakian. Namun kami mendaki dari bawah melewati rumah-rumah warga, ladang, dan juga Pura.

Sebenarnya si Densu bawa sepatu trekking untuk mendaki, cuma dia pikir-pikir lagi dengan jalurnya yang mudah, cukup pakai sepatu Vans aja, soalnya sepatu TNF nya takut kotor. Yaelah…

Waktu tempuh normal untuk sampai puncak adalah 2 jam. Dalam tim pendakian ini tidak semuanya memiliki background pendaki gunung, jadi ritme langkahnya agak lama. Saat sampai di Pos 1 yang ada warungnya, kami terpecah jadi 2 tim karena yang sebagian gak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. 

Densu pun mempertanyakan kesanggupan kami, kalo saya sih jelas masih sanggup. Sempat juga ada opsi dari videografernya untuk pindah destinasi yang lebih gampang untuk liat sunrise, tapi saya langsung menolaknya karena udah sampai sini, nanggung banget. Akhirnya diputuskan yang masih kuat, lanjut sampai atas.

Dalam perjalanan ke atas, terdengar deru motor trail yang semakin mendekat dari kegelapan. Sudah kuduga, jalur ini pasti sering dilewati motor, soalnya terdapat cekungan bekas hempasan bannya. Inilah hal yang paling menyebalkan ketika mendaki gunung, udah capek-capek jalan nanjak, ehh ada motor lewat.



Naik motor ke gunung batur
Pos batas sepeda motor.

Untuk menumpang sepeda motor sampai atas dikenakan tarif sekitar Rp 350.000 bagi bule, mungkin bagi WNI Rp 150.000. Tarif itu untuk naiknya saja, kalo turun ada biaya tambahan namun lebih murah.

Semburat cahaya jingga perlahan mulai menampakkan kilaunya sebelum Pos 2 yang merupakan area terbuka. Di sini kita bisa melihat indahnya Danau Batur dan Gunung Abang di seberangnya. Jika mata jeli, terlihat juga siluet Gunung Agung yang seolah olah mengintip di balik Gn. Abang. Begitu pula Gunung Rinjani dari kejauhan.


Danau Batur dan Gunung Abang
Danau Batur dan Gunung Abang.

Di pos inilah tim memutuskan untuk menyudahi pendakiannya karena sesuai targetnya melihat sunrise meskipun tidak sampai puncak. Kondisi fisik anggota yang lain juga tidak memungkinkan untuk ke puncak karena kalau dipaksakan nanti kesiangan.

Karena sudah kepalang tanggung sampai sini, saya pun bertekad untuk melanjutkan perjalanan sampai puncak. Meskipun ini baru pertama kali mendaki Gn. Batur, saya sudah memperkirakan estimasi waktu tempuh sampai puncak jika saya yang mendaki sendirian. Akhirnya anggota tim yang lain setuju dan menyuruh salah satu guidenya menemani saya ke puncak.

Trek bebatuan gunung batur

“Madeee…” panggil saya pada guidenya.

Seketika aja beberapa orang di sana menoleh.

Saya itu bingung kalau kenalan sama orang Bali. Yang ini Made yang itu Made, yang ini Wayan dan yang itu juga Wayan. Jadi kalau mau manggil nama orangnya di tempat umum, mendingan dibisikin aja biar yang lain pada nggak nengok. Lha…lu kate Limbad pake bisik-bisik.

Made yang menemani saya ke puncak masih berusia 19 tahun, tapi dia udah nikah dan mau punya anak lho…hebat kali. Saya mikir sebentar, kalo usianya 19 tahun berarti dia lahir tahun 2001 dong. Hihihi…berasa kayak bayar gorengan :p

Berhubung yang naik kita berdua, jadi waktu tempuhnya lebih cepat karena mudah menyesuaikan ritmenya dan bisa diprediksi jam berapa sampai bawah lagi. 

Semakin ke atas, pohon semakin jarang, yang ada hanya semak-semak dan rerumputan. Sampai ketika kita akan menjumpai pos terakhir sebelum sampai puncak. Di sinilah batas motor bisa naik, karena setelahnya akan melewati jalur bebatuan yang cukup terjal.

Jalur Punggungan Gunung Batur

Sesampainya di puncak, jalur berubah jadi sempit karena berupa punggungan dan bibir kawah. Seminggu yang lalu ada seorang pendaki yang tewas karena tertidur dan jatuh ke dalam kawah. Jadi jangan sampai lengah gara-gara terlena akan pemandangan yang indah.


Warung di Puncak Gunung Batur

Di puncak Gunung Batur terdapat beberapa bangunan non permanen yang bisa digunakan untuk berteduh. Berbeda dengan Gn. Andong, Gunung Batur nggak ada yang camping di puncaknya, entah gak boleh atau apa. Yang jelas di sini pada tektok semua untuk melihat sunrise dan langsung turun lagi pagi itu juga. Selain itu juga area yang sempit menyulitkan untuk mendirikan tenda.

Suasana di Puncak Gunung Batur

Saya pikir hari ini akan sangat sepi dari pendaki, ternyata di atas sudah cukup banyak pendaki yang didominasi oleh turis asing. Saya yang berada di sini malah terasa seperti di negara orang. Namun untuk kebersihannya ini layak dapat acungan jempol, karena gak sekotor gunung-gunung populer lainnya.

Oh iya, hati-hati juga bila membawa makanan. Di sini kawanan monyetnya cukup agresif kalo denger kresek-kresek bungkus makanan. Bahkan sang rajanya bisa lari kencang dari jarak yang cukup jauh untuk merebut makanan. Beberapa kali saya dibuat kaget dan latah karena tiba-tiba mereka ada di samping berusaha membuka tas.

Macaca Fasciscularis

“Monyet lu pada” maki saya pada kawanan mereka.

Untung aja mereka gak jawab,

“Emang iya, pweeekkk :p"

Saya baru tau kalo Gunung Batur memiliki kaldera yang sangat luas seperti Bromo. Ternyata perbukitan yang saya lewati saat menaiki mobil adalah bagian dari kalderanya. Bila memantau dari puncak ke arah barat daya, kita bisa melihat bekas lelehan lava yang berwarna hitam dan membatu. Area tersebut mirip sekali dengan Anak Gunung Krakatau yang memuntahkan material dan membentuk lahan baru. Di sebelah tenggaranya terdapat Danau Batur. Danau itu terbentuk akibat letusan Gunung Batur. Kebayang ya gimana dahsyatnya saat itu hingga kini terbentuk kaldera dan danau yang cukup luas.


Kawah Gunung Batur
Sauna di Gunung Batur
Siapa yang bakar sampah di sini ya ?

Hal unik lainnya yaitu adanya uap panas yang keluar dari dinding kawah. Dari kejauhan saya melihat orang-orang bule itu takjub pada asap yang keluar dari dalam tanah, mereka pun foto-foto di dalam cerukannya. Dalam hati saya berkata, 

"Dasar ndeso".

Gak lama kemudian saya pun ikutan foto di dalam cerukannya itu, dan ternyata anget, hahahaaa....

Menurut orang sekitar, agar asapnya bertambah tebal caranya adalah "dipancing" menggunakan rokok atau dupa yang menyala dan ditiup ke dalam lubangnya. Ternyata cukup efektif juga sih. 

Pemandangan Kaldera Gunung Batur

Gunung Batur sendiri adalah gunung berapi yang memiliki ketinggian 1717 mdpl. Area punggungannya bisa dibilang berbentuk bulan sabit karena terputus pada bagian lain akibat letusan. Sayangnya karena keterbatasan waktu, saya gak sempat ekplorasi semuanya, jadi pagi itu saya harus turun dan bergabung dengan anggota tim lainnya.

Di tengah perjalanan turun, saya kebelet pengen pipis. Saya pun menanyakan hal itu pada Made, takutnya ada larangan untuk pipis di sini. Setelah mendapatkan tempat yang aman, saya pipis di semak-semak sambil clingak-clinguk takut ada monyet yang narik dikira itu pisang.

Akhirnya tepat sesuai perkiraan, pada pukul 07.30 saya sampai di pos 2 dan bergabung dengan yang lainnya. Destinasi selanjutnya adalah berendam air hangat di Toya Devasyya, wuaahh...pas banget ini abis pegel turun gunung langsung berendam.

Dalam bahasa Banten dan Sunda, "Batur" artinya teman atau sahabat. Sedangkan dalam bahasa Jawa artinya pembantu. Entahlah jika dalam bahasa Bali artinya apa, mungkin sama juga dengan teman (saya belum nemu artinya). Namun jika dikorelasikan dengan perjalanan ini, menurut saya Gunung Batur adalah gunung yang bersahabat sekali untuk pemula dan sangat membantu jika ingin belajar di alam. Jadi sangat direkomendasikan untuk mendaki gunung ini, tentunya dengan persiapan yang baik yaa.


Mitsubishi Xpander Cross

Akhirnya kesampaian juga mendaki salah satu gunung di Bali, jadi nambah deh ceklist gunung-gunung di Indonesia. Terima kasih Mitsubishi yang telah mendukung penuh pendakian ini dan menjadi bagian #TimGunung.

#XpandYourAdventure


Rafting atau biasa disebut arung jeram (bukan arum jeram lho ya…) adalah olahraga arus deras yang merupakan salah satu aktivitas berbahaya. Ada sensasi kenikmatan tersendiri saat mengarungi jeram di sungai. Ibarat naik wahana di Dufan tapi gak ada jaminan 100% untuk bisa selamat. Hihihi…Meskipun begitu, tentunya ada teknik dan peralatan khusus untuk mengurangi resiko tersebut.

Terakhir kali saya rafting adalah tahun 2018 sama temen-temen kantor di sungai Citarik Sukabumi. Kali ini saya mendapat kesempatan rafting di Bali, tepatnya di Sungai Ayung Ubud. Untuk operatornya kami menggunakan Ayung Dewata Rafting. Dari reviewnya sih cukup bagus sekali dan sebagian besar tamunya adalah turis asing. Maka tak heran kalo harganya terbilang cukup mahal bagi saya.

Jet istriku bersikeras pengen ikutan rafting, nah kalo dia ikut nanti siapa yang jaga Saga. Walhasil setelah Saga tertidur, kami minta tolong salah satu panitianya untuk jagain di mobil. Setelah yakin, akhirnya kami tinggal ke sungai. Ketentuannya, peserta yang ikut minimal berusia 6 tahun. Tak harus bisa berenang, yang penting sehat jasmani dan rohani.

Untuk menuju sungai, dari basecamp Ayung Dewata ditempuh sekitar 15 menit naik mobil bak terbuka. Setelah sampai, kita masih harus melewati pematang sawah yang hijau dan turun tebing melewati tangga berbatu di dalam hutan. 



Jalur Sungai Ayung Bali
Melewati hutan dengan jalur menurun.

Ini tipsnya, jadi sebelum melewati sawah, alangkah lebih baik pemanasan terlebih dahulu. Pemanasan yang bener supaya kakinya gak kaget. Soalnya saya sendiri betis kanannya langsung lemes saat menuruni tangga yang sangat panjang itu. Padahal itu belum mulai mengarungi sungai lho.

Di titik awal start terdapat shelter untuk memompa perahu karet. Awalnya saya sempat ragu karena ini sedang musim hujan, takutnya kejadian seperti yang dialami anak-anak Pramuka di Sleman beberapa waktu lalu. Terlebih lagi airnya berwarna coklat dan biasanya ini membawa endapan material dari hulu.

Jalur RaftingSungai Ayung
Pengarungan dimulai dari sini.

Dari seberang sungai saya memperhatikan, ternyata ada indikator kedalaman air. Saat itu permukaannya menyentuh warna hijau yang artinya sungai aman diarungi. Sedangkan jika warna merah berarti debit air sedang tinggi dan sangat berbahaya. Ketika mulai mengarungi sungai pun begitu, beberapa kali dayung saya menyentuh dasarnya yang berupa pasir. Ini berarti sungainya dangkal, dan ternyata kata pemandunya memang demikian, tapi ada di beberapa titik yang kedalamannya mencapai 3 meter.

Sungai Ayung adalah sungai terpanjang di Bali, yang panjangnya mencapai 68,5km. Arusnya mengalir dari Gunung Agung hingga bermuara di Selat Badung di Sanur. Secara rintangan, jeramnya masuk kategori Grade II-III jadi sangat aman buat pemula, tentunya harus didampingi skipper professional dan melihat kondisi alamnya.

Tak jauh dari tempat start, kita akan melewati bebatuan yang terdapat pahatan cerita Ramayana di dinding sungai sebelah kiri. Sayangnya hal yang bagus itu tidak sempat saya foto.



Rafting Sungai Ayung


Di aktivitas rafting ini, selain menguras tenaga juga menguras suara. Pasti setiap melewati jeram, para rafter akan teriak meluapkan emosinya.

“Mana inihh Tim Pantai ? Gak ada kabarnya. Seruan kita dong Tim Gunung Rafting di sini” canda Densu pada yang lainnya.

Jadi tim petualangan bersama Mitsubishi dibagi menjadi beberapa tim, yaitu Kota, Rally, Pantai, dan Gunung. Untuk Tim Pantai didampingi Nicholas Saputra, sedangkan Tim Gunung oleh Densu, dan kebetulan saya berada di Tim Gunung.

Gak salah emang si Densu berada di Tim Gunung. Ternyata orangnya emang gokil, suka teriak-teriak kayak di MTMA, dan pastinya emang iseng. Hal itu terlihat dari beberapa kali dia berusaha mendorong Kenny supaya jatuh dari perahu.

Air Terjung Sungai Ayung
Air terjun kecil sungai Ayung

Memang benar ya, keseruan itu kita yang bikin. Sepanjang perjalanan mengarungi sungai, gak ada habisnya keseruan yang dibuat, apalagi saat melewati jeram dan beberapa air terjun kecil. Ternyata, salah satu daya tariknya arung jeram di Sungai Ayung adanya air terjun. Di sini kita bisa berhenti sejenak untuk menikmati jatuhnya air dari atas. Lumayan punggungnya kayak dipijet. Selain itu, kontur tebing di kanan kiri yang indah dan adanya burung-burung terbang di permukaan menjadi hiburan tambahan. Beda banget ya kondisinya di beberapa sungai di Jawa Tengah yang biasa dijadikan lokasi arung jeram. Di sana kita akan melihat warga nongkrong di pinggir sambil mengeluarkan sesuatu dari pantatnya :D

Rest Area Sungai Ayung

Waktu pengarungan sungai sekitar 2,5 jam, dan kami mengambil jalur yang 12 km. Sekali lagi kita berhenti sejenak di rest area untuk istirahat sambal meminum kelapa muda. Di sini terdapat warung kecil yang menyediakan berbagai minuman.

Dalam arung jeram, kita harus lebih fokus melihat potensi bahaya di depan. Dengarkan perintah skipper, apakah dayung atau berhenti. Kalaupun dayung, gerakannya harus kompak menyesuaikan posisi yang paling depan agar tidak bentrok dayungnya. Begitu juga saat perahu nyangkut di batuan, kita harus siap-siap pindah posisi untuk menggoyang-goyangkan perahu. 




Ayung Dewata Bali

Salah satu yang spesial dari sungai Ayung adalah adanya perosotan menjelang garis finish. Perosotan ini memang buatan dan digunakan untuk kepentingan saluran Daerah Aliran Sungai. Sebelum melewatinya, skipper atau pemandunya akan menyuruh kita untuk mendayung dan mengarahkannya ke sebelah kiri, jalur yang lebih sempit. Sebabnya di sebelah kanan terlalu berbahaya dan sangat curam, kalau lewat situ pasti perahunya terbalik, jadi sangat beresiko bawa wisatawan.

Tak lama dari perosotan tersebut akhirnya sampai juga di garis finish. Ternyata tantangan terakhir ada di sini, yaitu kita masih harus menaiki anak tangga yang terjal dan panjang lagi untuk bisa sampai mobil penjemputan. Di sini betis dan paha akan lebih “terasa” kencang dari biasanya. Oh iya, selama melewati area ini gak boleh berisik, karena merupakan area penginapan dan ada puranya.

Dari lokasi penjemputan menuju basecamp Ayung Dewata ditempuh sekitar 10 menit. Sesampainya lokasi, Jet langsung mencari Saga karena khawatir. Tepat dugaan saya, Saga udah bangun dan nangis sesenggukkan, soalnya dia mulai takut sama orang asing yang belum dikenalnya. Untung aja di Ayung Dewata ini dia digendong oleh ibu pegawainya. Saya pun jadi gak enak, gara-gara bajunya si ibu jadi kotor kena liurnya Saga.

Selepas pengarungan, di sini disediakan teh dan kopi hangat. Bagi yang ingin bilas, disediakan handuk hangat, dan ternyata wangi lhoo…baru dibuka dari laundry-nya. Di tempat bilasnya sendiri sudah tersedia sabun dan shampo cair, dan asiknya lagi di sini bisa pakai air hangat. Lumayan bisa mengendurkan urat yang tegang tadi.

Menjelang garis finish tadi, ada tim yang mendokumentasikan. Kita bisa milih untuk dicetak atau soft file nya aja, tapi dengan biaya tambahan di luar paket yang ada. Selama di sini pelayanannya bagus banget, orangnya ramah dan fasilitasnya pun memadai, sesuailah dengan budget yang di keluarkan.

Tips bermain arung jeram :

  1. Bawalah pakaian ganti, dan gunakanlah pakaian yang nyaman, tidak longgar. Jangan mengenakan pakaian berbahan jeans, soalnya bisa lecet nganunya.
  2. Sebelum melakukan pengarungan, wajib melakukan pemanasan dan berdoa terlebih dahulu.
  3. Dengarkanlah instruksi dari skipper atau pemandunya.
  4. Jika terjatuh dari perahu, jangan panik. Segera posisikan badan lurus mengikuti arus sungai. Usahakan tetap memegang dayung untuk membantu menarik atau melakukan tolakan pada batu. 
  5. Kalau bisa, gunakanlah sandal gunung, atau sandal yang gak mudah lepas kalau hanyut.
  6. Jika membawa kamera, pastikan tahan air dan memiliki tali pengaman supaya saat tercebur bisa tetap terikat pada tangan. Jika membawa dompet atau ponsel, masukkanlah ke dalam dry bag.
  7. Boleh teriak saat melewati jeram, namun jaga perkataannya.

Banyak cara umat manusia mengungkapkan rasa cintanya pada sesuatu. Kalau di India, Kaisar Shah Jahan rela membangun Taj Mahal yang berupa makam megah sebagai tanda kasih pada istrinya yaitu Mumtaz Mahal. Sedangkan di Indonesia ada Suciati Saliman yang membangun masjid megah karena rasa cintanya pada Masjid Nabawi di Arab Saudi.
 
Siang itu saya dan keluarga mampir ke Masjid Suciati untuk menunaikan ibadah sholat Duhur. Ketika baru menjejakkan kakinya ke lantai, saya merasa kagum akan kemegahan masjid yang memiliki 4 lantai ini.

Ternyata tidaklah mudah bagi Suciati yang seorang janda untuk membangun masjid sebesar itu di Sleman, Yogyakarta. Butuh puluhan tahun mengembangkan usahanya agar bisa membangun masjid. Semua itu bisa terlaksana berkat doa dan kerja kerasnya selama ini.

Bila diukur luas tanahnya, Masjid Suciati tidaklah begitu luas karena posisinya berada di pojokan jalan yang kecil. Namun bila dilihat secara arsitektur, masjid tersebut sangat megah sekali. Dari kejauhan bisa terlihat lima menara yang tinggi dengan kubahnya yang khas.

Berdasarkan rasa kagum pada tanah suci ketika umroh, Suciati menyisipkan desain seperti di Masjid Nabawi dan juga menggabungkan unsur kebudayaan Jawa pada bangunannya. Jika diperhatikan, selera ibu Suciati ini sangat tinggi, hal itu terlihat dari pemilihan material yang tepat berupa batu marmer untuk dinding dan lantainya.


Penggunaan batu marmer ini mengingatkan saya kembali pada Taj Mahal. Terlihat jelas sekali, jika menggunakan marmer memberi kesan mewah dan elegan. Itulah salah satu alasan kenapa Taj Mahal jadi destinasi utama saat ke India dan juga dijadikan sebagai salah satu keajaiban dunia. Marmer yang digunakan pun bukan sembarangan, tapi marmer putih berkualitas tinggi. Begitu juga dengan Masjid Suciati. Saya pun penasaran mencari tahu tentang asal usul marmer yang ada di Masjid Suciati tersebut.



Taj Mahal India. Source : Wikipedia


Ruang Serba Guna Masjid Suciati

Setelah ditelusuri, ternyata Masjid Suciati mendapatkan marmernya dari PT. Fajar Gelora Inti atau biasa disebut Fagetti. Di dunia arsitektur, Fagetti memang sudah dikenal sebagai supplier marmer dengan jenis dan motif unik yang terlengkap di Indonesia. Kiprah mereka tak perlu diragukan lagi karena telah mengikuti berbagai pameran di dalam maupun luar negeri, serta menjadi supplier marmer di berbagai bangunan mewah Indonesia.

Jadi wajar saja berbagai hotel bintang 5, apartemen, rumah, gedung perkantoran, tempat ibadah, dan juga pusat perbelanjaan di Indonesia sebagian besar menggunakan material marmer dari Fagetti.

Tiap sudutnya tak luput dengan marmer.
Berbagai batuan alam tersedia di sini dengan stok melimpah. Source fagetti.com

Tak hanya marmer, berbagai macam batu alam bisa kita dapatkan di sini seperti granit, travertine, limestone (gamping), basalt, onyx, dan sebagainya. Dari berbagai varian pilihan itu juga kita masih bisa memilih berbagai macam jenis motifnya, dan itu pastinya disesuaikan dengan konsep bangunannya.


Dengan teknologi yang sangat canggih, Fagetti memproduksi batu alam pilihan berkualitas premium. Setiap karya yang dibuat melalui proses yang panjang dan melalui sentuhan nan artistik.

Tempat wudhu full marmer
Setelah sholat Duhur, tak lupa kami eksplorasi masjid tersebut dan tak henti-hentinya kagum atas material bangunan tersebut. Bagaimana tidak, pada tiap lantai dindingnya juga dilapisi batu marmer dan tiang penyangganya pun demikian. Bagi saya yang seorang fotografer, hal ini jadi sesuatu yang unik dan menyenangkan karena bisa membuat foto refleksi dengan baik.

Di negara Indonesia yang beriklim tropis, penggunaan material marmer sangat cocok sekali, karena dapat memberikan efek sejuk bagi yang berada di dalamnya. Selain itu berbagai motif pilihan yang artistik akan membuat bingung untuk memilihnya, karena Fagetti memiliki lebih dari 900 jenis batu alam dan stoknya selalu tersedia. Kalau saya berprofesi sebagai arsitek atau developernya sih bakal merekomendasikan Fagetti untuk keperluan batu alam dan gak perlu diragukan lagi.


Setelah berkeliling masjid, Saga anakku yang masih berusia 8 bulan enggan untuk diajak pulang. Dia malah betah untuk main di lantai ruangan khusus anak-anak. Beberapa kali dia melihat ke bawah dan tersenyum seolah-olah sedang bercermin. Maklum, lantai marmer kan refleksinya sangat bagus sekali, apalagi kalau terkena cahaya.
Siang itu setelah ibadah dan eksplorasi masjid, istri saya nyeletuk,

“Kapan dong lantai sama dinding di rumah pake marmer kayak gitu ?

“Nanti deh, kapan-kapan aku desainin makam pake material marmer spesial buat kamu” jawabku.

“Hehh…dasarr yaaa….!”




Ini dia instagramnya



Fagetti Building Gallery

Jl. Mangga Dua Raya - Harco Mangga Dua,
Blok F No. 2-4, Jakarta 10730
021 - 6121132
info@fagetti.com



#Fagetti #MarmerFagetti #FagettiWorld #MarmerTerbaik