Ketika Alam Memberikan Kesempatan Hidup Kedua

/ September 20, 2019

Termakan Hoax

Dahulu waktu SMA sekitar tahun 2003, di saat belum ada smartphone secanggih saat ini, saya yang masih awam begitu dengan mudahnya termakan hoax. Semua itu berawal dari sebuah berita yang dikabarkan oleh salah seorang senior saya di organisasi. Ketika itu, dikabarkan bahwa akan ada gempa bumi yang terjadi di patahan Selat Sunda pada hari sekian tanggal sekian, dan mengakibatkan Gunung Anak Krakatau yang sudah lama tertidur akan meletus. Dari situ akan terjadi tsunami hingga ke Cilegon. Saya yang masih junior, langsung percaya saja dengan kabar tersebut, karena dia mengaku mendapatkan kabar dari rekan yang bekerja di institusi terkait serta pengalaman dia di bidang alam bebas begitu meyakinkan. Semua anggota harus mempersiapkan diri menghadapi bencana ini dengan memberi tahu keluarga terdekatnya, tapi tidak diberitahukan dulu ke orang lain.

Singkat cerita, pada hari-H yang dia “janjikan” akan terjadi gempa dan tsunami tidak kunjung datang. Sementara kami telah mempersiapkan diri untuk evakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan membawa tas yang berisi pakaian dan perbekalan. Di hari yang sama juga kami sedang berduka karena om saya meninggal dunia dan dimakamkan hari itu juga. Rasa was-was pun menyelimuti keluarga kami tatkala saat perjalanan menggotong jenazah ke pemakaman, karena takut akan datangnya tsunami. Belum lagi bencana yang ditimbulkan akibat bocornya pabrik-pabrik kimia di Cilegon jika terjadi tsunami.

Ternyata yang ditakutkan tidak terjadi. Bahkan tidak diberitakan di media massa.Saya pun jadi malu, merasa bersalah, dan kecewa pada diri sendiri juga pada senior, karena telah membuat panik dengan berita bohong. Butuh waktu berhari-hari untuk melupakannya, meskipun keluarga besar tidak pernah membahasnya. Dari kejadian itulah saya jadi tidak mudah percaya tentang isu gempa, serta semakin tertarik untuk belajar tentang tanda-tanda bencana alam. Karena saat ini ternyata belum ada alat canggih yang dapat memprediksi gempa bumi kapan tepatnya terjadi, tapi hanya bisa dideteksi dan berbagai potensinya.

Indonesia memang sudah ditakdirkan berada di kawasan “Ring of Fire” yang rawan gempa maupun letusan gunung berapi. Tugas kita selanjutnya adalah mengantisipasi dengan kenali bahayanya dan kurangi resikonya.

Awal kali pertama saya merasakan gempa bumi adalah ketika saya kost di Jogja. Saat itu malam hari ketika sedang santai, tiba-tiba lantai yang saya tiduri terasa bergejolak seperti bergerak, gantungan kunci yang menyantol di pintu bergoyang-goyang sendiri. Setelah sadar itu adalah gempa, akhirnya saya mencoba berdiri dan keluar, namun kepala ini agak terasa pusing, seolah-olah sedang berdiri di dalam kapal yang terkena gelombang besar. Saya pun berhasil keluar rumah, sementara tetangga-tetangga sudah pada keluar dan teriak-teriak menyuruh warga lain untuk keluar juga. Panik sekali rasanya. Beberapa hari kemudian juga terjadi hal yang serupa, dan masih terasa shock.

Gempa bumi datang tiba-tiba tanpa ada gejalanya terlebih dahulu seperti gunung meletus. Alat pendeteksi pun baru mencatat ketika gempa sedang atau sudah terjadi.

Saya jadi kepikiran, bagaimana rasa paniknya jika terjadi gempa saat buang air besar, saat di gedung lantai 25, atau saat proses melahirkan, apakah anaknya akan memiliki kekuatan supranatural seperti di film Gerhana ?

Ketakutan yang selama ini saya pikirkan nyaris terjadi saat saya bekerja di Jakarta. Kala itu sekitar pukul 19.00 terjadi gempa, saya dan teman-teman masih bekerja di dalam kantor, untung saja ruangan saya berada di lantai 2. Getaran lantai dan suara retakan kaca di sekeliling membuat saya takut dan sempat panik. Tapi itu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Tinggal kita bagaimana kita mengatasi rasa panik itu sesegera mungkin. Belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya, sesaat setelah gempa datang saya mencoba tetap tenang, dan sadar apa yang harus saya lakukan sebisa mungkin yaitu :

1. Mengambil ponsel.
Inilah hal pertama yang saya lakukan, dikarenakan tidak ada survival kit di kantor, saya mengambil ponsel yang berada di meja. Bagi saya ponsel sangatlah penting, karena di ponsel (smartphone) terdapat senter yang bisa kita gunakan jika sewaktu-waktu listrik padam. Selain itu untuk mencari tahu apakah yang sebenarnya terjadi. Kita bisa mengetahuinya melalui aplikasi BMKG ataupun via Twitter karena langsung update realtime. Di situ kita bisa menilai apakah ada potensi tsunami, gempa susulan atau tidak. Tapi perlu cermat, karena di saat suasana genting ini biasanya ada berita hoax yang membuat panik orang-orang. Jadi carilah sumber atau media yang benar-benar terpercaya.

2. Lindungi kepala.
Kepala adalah organ vital, jika terbentur bisa tidak sadarkan diri. Jadi ambillah barang yang bisa digunakan untuk melindungi kepala, seperti bantal atau kursi plastik untuk melindungi dari benda yang jatuh dari atas. Jika tidak ada, bisa gunakan tangan saja.

3. Lewat Tangga Darurat.
Jangan gunakan lift saat gempa atau kebakaran, tapi gunakanlah tangga darurat. Maka dari itu saat berada di dalam gedung, kita harus mengetahui letak tangga daruratnya jika terjadi bencana. Untuk pengelola gedung juga harus memperhatikan keamanan akses tangga daruratnya, apakah kuat pegangannya, apakah penerangannya cukup.

4. Berlindung di bawah meja.
Jika sedang berada di gedung tinggi (lantai 3 ke atas), berlindung di bawah meja atau furniture yang kokoh adalah pilihan tepat seperti yang biasa dilakukan orang-orang Jepang. Gempa bumi biasanya tidak berlangsung lama, jadi untuk turun keluar gedung membutuhkan waktu yang cukup lama, pada proses itulah banyak benda-benda yang berpotensi jatuh mengenai kita, belum lagi antrian desak-desakan orang-orang yang terburu-buru ingin turun.

5. Capai Titik Kumpul
Di gedung-gedung bertingkat, biasanya sudah ditandai mana yang digunakan untuk titik kumpul saat terjadi bencana, di sinilah bisa dibilang titik amannya.

6. Hubungi Keluarga
Setelah gempa reda, segera hubungi keluarga terdekat dan kabarkan kondisinya. Jika dirasa perlu bantuan di TKP, hubungi nomor darurat BNPB atau Tim SAR.




Tsunami Kecil Ternyata Dahsyat Juga

Perlu kita ketahui, Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang artinya “Air yang berlabuh ke daratan”.
Tak semua gempa diiiringi dengan datangnya gelombang tsunami. Tsunami datang memang biasanya diawali dengan gempa besar, tapi ada juga yang berasal dari longsoran atau patahan material gunung di laut. 

Induk Gunung Krakatau memang telah hancur tahun pada Agustus 1883 dan kini menyisakan anaknya. Meskipun ukurannya tidak sebesar "induknya", Gunung Anak Krakatau ternyata menyimpan tenaga yang cukup besar untuk erupsi dengan tipe eksplosif. Dampaknya berupa "tsunami kecil" pun telah dirasakan masyarakat Banten dan sekitarnya.
Gunung Anak Krakatau sebelum erupsi
Saat tsunami Selat Sunda menerjang tanggal 22 Desember 2018, saya sedang berada di rumah Cilegon, Banten. Malam itu di grup Whatsapp telah ramai adanya laporan warga yang lingkungannya terendam air laut. Saya pun mencari tahu penyebabnya karena awalnya hanya air laut pasang biasa saja akibat pengaruh dari bulan purnama yang menyebabkan gelombang tinggi. Begitu juga saat dicek melalui aplikasi tidak terdeteksi adanya gempa bumi, jadi kami tenang saja. Lalu semakin malam ternyata pernyataan rilis resmi dari Humas BNPB Pak Topo (Alm) menerangkan bahwa yang terjadi sebelumnya dipastikan adalah tsunami. Dari situ saya langsung syok karena telah terjadi bencana seperti itu di daerah sendiri.

Tsunami kali ini berbeda dari tsunami pada umumnya di Indonesia karena timbul bukan dari gempa tektonik, melainkan dari longsoran material erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, sehingga tidak ada early warning seperti biasanya. Seperti yang diberitakan Pak Topo, Indonesia ternyata belum memiliki alat pendeteksi tsunami yang diakibatkan longsoran bawah laut. Jadi selama ini masih mengandalkan alat milik BMKG yang hanya merespon sensor kegempaan tektonik.


Menebus Rasa Bersalah


Keesokan hari setelah terjadi tsunami, saya dan rekan-rekan terpanggil menuju TKP. Berbekal pengalaman menangani bencana bersama BPBD dan Basarnas, saya siap membantu melakukan pencarian dan evakuasi korban yang masih tertimpa reruntuhan. Bagi saya, ini bagaikan menebus rasa bersalah saat SMA, saya ingin sekali memberikan kontribusi bidang bencana pada daerah sendiri.


Lokasi yang terparah berada di Kecamatan Sumur, Pandeglang. Di Kecamatan ini adalah salah satu akses menuju Taman Nasional Ujung Kulon. Sepanjang perjalanan menuju Carita, saya melihat bangunan di kanan dan kiri sudah hancur lebur. Puing-puing dan pepohonan tumbang menutupi jalan. Kami sempat putar balik karena dikabarkan bahwa sirine early warning system-nya berbunyi yang mengakibatkan semua petugas berlarian menjauhi bibir pantai. Setelah ditelusuri, ternyata alatnya sedang mengalami gangguan sehingga tiba-tiba bunyi tanpa sebab.


Budaya Sadar Bencana

Menurut data BNPB, jumlah korban meninggal tsunami Selat Sunda mencapai 437 orang, yang terbanyak di wilayah Banten, dan yang masih hilang sebanyak 10 orang. Dari situ kita perlu memandang pentingnya Budaya Sadar Bencana agar diterapkan ke semua kalangan, terutama yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB).
Persiapkan Emergency Survival Kit di rumah.
Sama seperti di Indonesia, Jepang juga berada di wilayah rawan bencana. Gempa bumi sudah seakan seperti makanan sehari-hari bagi mereka. Namun bedanya, mereka telah dilatih untuk siap “bersahabat” dengan bencana sejak dini. Di sekolah-sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak, sudah diajarkan mitigasi bencana gempa bumi. Paling tidak sebulan sekali mereka melakukan simulasi. Ketika sirine peringatan berbunyi, otomatis pada berlindung di bawah meja yang kokoh, seolah-olah terjadi gempa beneran. Hal ini bertujuan agar mereka lebih tenang, cepat, tepat, dan tertib saat bertindak ketika menghadapi bencana yang sesungguhnya. Selain itu, sikap saling tolong menolong juga diajarkan, jadi anak-anak akan diprioritaskan saat evakuasi.

Ini ternyata terbukti seperti yang dialami di
Kamaishi Prefektur Iwate Jepang pada 11 Maret 2011. Hampir 3.000 siswa sekolah selamat berkat pendidikan mitigasi bencana.
Terapkan simulasi mitigasi bencana di kantor agar terbiasa.
Indonesia seharusnya bisa berkaca pada Jepang bagaimana mitigasi bencana dalam mengurangi resiko jatuhnya korban. Pembelajaran tentang mitigasi bencana sangat penting diajarkan secara rutin di sekolah, kantor, komunitas, dan juga di tengah masyarakat agar paham benar apa yang dilakukan ketika ada bencana. Terutama di KRB dan lokasi-lokasi vital lainnya seperti di Cilegon yang banyak terdapat pabrik kimia, ada penanganan khusus untuk hal itu.

Suasana di pengungsian.
Teknologi early warning system memang sangat diperlukan, tapi lebih penting lagi soal kesadaran masyarakatnya. Buoy dan Tide Gauge mahal yang dimiliki negara kita seakan tak berguna karena banyak yang rusak oleh ulah manusia tidak bertanggungjawab. Pencurian seismograf juga kerap terjadi di beberapa gunung karena kurangnya pengawasan. Masalah ekonomi dan pola pikir yang jadi musuh bersama. Padahal peralatan itu digunakan untuk mendeteksi gelombang tsunami dan juga aktivitas kegempaan yang menyangkut nyawa ribuan orang. Lucunya lagi, bahkan baut pada jembatan dan rel kereta api pun banyak yang dicuri. Maka dari itu harus disosialisasikan pentingnya alat itu agar bisa saling menjaga dan merawatnya. Bagi yang melakukan vandalisme atau mencuri harus dihukum seberat-beratnya, karena ini masalah serius.


Alam Memberikan Kehidupan


Disamping pemanfaatan teknologi yang canggih juga harus ada kesadaran dalam menjaga lingkungan. Menanam mangove adalah salah satu cara alami untuk meredam gelombang tsunami yang masuk ke daratan. Selain dapat menahan gelombang juga bisa menjadi habitat satwa-satwa dan juga bisa dijadikan tempat wisata. Tak hanya itu, pohon-pohon di pinggir jalan yang biasa hanya dijadikan tempat kencing manusia atau tempat menempel iklan, bisa sangat berguna jika terjadi bencana.
Begitu pepohonan di hutan memiliki peran sangat penting untuk meredam potensi longsor maupun banjir bandang.
Masih ingat dengan kisah Martunis sang bocah survivor tsunami Aceh ?


Dia bisa bertahan berhari-hari dari serbuan tsunami dengan cara menaiki pohon. Tanpa sadar alam telah memberikan kita segalanya, tinggal bagaimana kita bisa simbiosis mutualisme agar saling menguntungkan. Dengan begitu kita jaga alam, maka alam akan jaga kita. Saling bersinergi dengan alam.

Upaya pertolongan diri sendiri (self assistance) merupakan salah satu faktor yang mendukung tingkat keberhasilan dalam menghadapi bencana. Tapi bukan berarti kita jadi individual lebih mementingkan keselamatan sendiri lalu saling sikut dengan yang lainnya. Melainkan harus mengetahui batas kemampuan dari diri sendiri dan berpikiran positif akan selamat, dan menerapkan apa yang telah dipelajari sebelumnya. Namun itu juga harus didukung dengan infrastruktur yang memadai. Jangan sampai ketika bencana datang, Shelter Tsunami yang telah dibangun malah tidak bisa difungsikan karena rusak atau tidak layak, karena itu adalah salah satu tumpuan bila daerahnya jauh dari bukit.

Menjadi tangguh bukan berarti harus dengan fisik yang kuat, tapi bisa juga dengan pemikiran yang cerdas dan mampu memberikan solusi untuk kebaikan semua orang. Hidup mati memang di tangan Tuhan, tapi Tuhan tentunya lebih senang dengan hambanya yang mau berusaha,…berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup. Karena itu adalah salah satu cara mensyukuri nikmat-Nya. Jadi saat terjadi bencana, yang harus benar-benar ditanamkan di otak adalah bukan Siap Mati, melainkan SIAP UNTUK SELAMAT !



#TangguhAward2019 #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #SiapUntukSelamat #BudayaSadarBencana

Termakan Hoax

Dahulu waktu SMA sekitar tahun 2003, di saat belum ada smartphone secanggih saat ini, saya yang masih awam begitu dengan mudahnya termakan hoax. Semua itu berawal dari sebuah berita yang dikabarkan oleh salah seorang senior saya di organisasi. Ketika itu, dikabarkan bahwa akan ada gempa bumi yang terjadi di patahan Selat Sunda pada hari sekian tanggal sekian, dan mengakibatkan Gunung Anak Krakatau yang sudah lama tertidur akan meletus. Dari situ akan terjadi tsunami hingga ke Cilegon. Saya yang masih junior, langsung percaya saja dengan kabar tersebut, karena dia mengaku mendapatkan kabar dari rekan yang bekerja di institusi terkait serta pengalaman dia di bidang alam bebas begitu meyakinkan. Semua anggota harus mempersiapkan diri menghadapi bencana ini dengan memberi tahu keluarga terdekatnya, tapi tidak diberitahukan dulu ke orang lain.

Singkat cerita, pada hari-H yang dia “janjikan” akan terjadi gempa dan tsunami tidak kunjung datang. Sementara kami telah mempersiapkan diri untuk evakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan membawa tas yang berisi pakaian dan perbekalan. Di hari yang sama juga kami sedang berduka karena om saya meninggal dunia dan dimakamkan hari itu juga. Rasa was-was pun menyelimuti keluarga kami tatkala saat perjalanan menggotong jenazah ke pemakaman, karena takut akan datangnya tsunami. Belum lagi bencana yang ditimbulkan akibat bocornya pabrik-pabrik kimia di Cilegon jika terjadi tsunami.

Ternyata yang ditakutkan tidak terjadi. Bahkan tidak diberitakan di media massa.Saya pun jadi malu, merasa bersalah, dan kecewa pada diri sendiri juga pada senior, karena telah membuat panik dengan berita bohong. Butuh waktu berhari-hari untuk melupakannya, meskipun keluarga besar tidak pernah membahasnya. Dari kejadian itulah saya jadi tidak mudah percaya tentang isu gempa, serta semakin tertarik untuk belajar tentang tanda-tanda bencana alam. Karena saat ini ternyata belum ada alat canggih yang dapat memprediksi gempa bumi kapan tepatnya terjadi, tapi hanya bisa dideteksi dan berbagai potensinya.

Indonesia memang sudah ditakdirkan berada di kawasan “Ring of Fire” yang rawan gempa maupun letusan gunung berapi. Tugas kita selanjutnya adalah mengantisipasi dengan kenali bahayanya dan kurangi resikonya.

Awal kali pertama saya merasakan gempa bumi adalah ketika saya kost di Jogja. Saat itu malam hari ketika sedang santai, tiba-tiba lantai yang saya tiduri terasa bergejolak seperti bergerak, gantungan kunci yang menyantol di pintu bergoyang-goyang sendiri. Setelah sadar itu adalah gempa, akhirnya saya mencoba berdiri dan keluar, namun kepala ini agak terasa pusing, seolah-olah sedang berdiri di dalam kapal yang terkena gelombang besar. Saya pun berhasil keluar rumah, sementara tetangga-tetangga sudah pada keluar dan teriak-teriak menyuruh warga lain untuk keluar juga. Panik sekali rasanya. Beberapa hari kemudian juga terjadi hal yang serupa, dan masih terasa shock.

Gempa bumi datang tiba-tiba tanpa ada gejalanya terlebih dahulu seperti gunung meletus. Alat pendeteksi pun baru mencatat ketika gempa sedang atau sudah terjadi.

Saya jadi kepikiran, bagaimana rasa paniknya jika terjadi gempa saat buang air besar, saat di gedung lantai 25, atau saat proses melahirkan, apakah anaknya akan memiliki kekuatan supranatural seperti di film Gerhana ?

Ketakutan yang selama ini saya pikirkan nyaris terjadi saat saya bekerja di Jakarta. Kala itu sekitar pukul 19.00 terjadi gempa, saya dan teman-teman masih bekerja di dalam kantor, untung saja ruangan saya berada di lantai 2. Getaran lantai dan suara retakan kaca di sekeliling membuat saya takut dan sempat panik. Tapi itu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Tinggal kita bagaimana kita mengatasi rasa panik itu sesegera mungkin. Belajar dari kejadian-kejadian sebelumnya, sesaat setelah gempa datang saya mencoba tetap tenang, dan sadar apa yang harus saya lakukan sebisa mungkin yaitu :

1. Mengambil ponsel.
Inilah hal pertama yang saya lakukan, dikarenakan tidak ada survival kit di kantor, saya mengambil ponsel yang berada di meja. Bagi saya ponsel sangatlah penting, karena di ponsel (smartphone) terdapat senter yang bisa kita gunakan jika sewaktu-waktu listrik padam. Selain itu untuk mencari tahu apakah yang sebenarnya terjadi. Kita bisa mengetahuinya melalui aplikasi BMKG ataupun via Twitter karena langsung update realtime. Di situ kita bisa menilai apakah ada potensi tsunami, gempa susulan atau tidak. Tapi perlu cermat, karena di saat suasana genting ini biasanya ada berita hoax yang membuat panik orang-orang. Jadi carilah sumber atau media yang benar-benar terpercaya.

2. Lindungi kepala.
Kepala adalah organ vital, jika terbentur bisa tidak sadarkan diri. Jadi ambillah barang yang bisa digunakan untuk melindungi kepala, seperti bantal atau kursi plastik untuk melindungi dari benda yang jatuh dari atas. Jika tidak ada, bisa gunakan tangan saja.

3. Lewat Tangga Darurat.
Jangan gunakan lift saat gempa atau kebakaran, tapi gunakanlah tangga darurat. Maka dari itu saat berada di dalam gedung, kita harus mengetahui letak tangga daruratnya jika terjadi bencana. Untuk pengelola gedung juga harus memperhatikan keamanan akses tangga daruratnya, apakah kuat pegangannya, apakah penerangannya cukup.

4. Berlindung di bawah meja.
Jika sedang berada di gedung tinggi (lantai 3 ke atas), berlindung di bawah meja atau furniture yang kokoh adalah pilihan tepat seperti yang biasa dilakukan orang-orang Jepang. Gempa bumi biasanya tidak berlangsung lama, jadi untuk turun keluar gedung membutuhkan waktu yang cukup lama, pada proses itulah banyak benda-benda yang berpotensi jatuh mengenai kita, belum lagi antrian desak-desakan orang-orang yang terburu-buru ingin turun.

5. Capai Titik Kumpul
Di gedung-gedung bertingkat, biasanya sudah ditandai mana yang digunakan untuk titik kumpul saat terjadi bencana, di sinilah bisa dibilang titik amannya.

6. Hubungi Keluarga
Setelah gempa reda, segera hubungi keluarga terdekat dan kabarkan kondisinya. Jika dirasa perlu bantuan di TKP, hubungi nomor darurat BNPB atau Tim SAR.




Tsunami Kecil Ternyata Dahsyat Juga

Perlu kita ketahui, Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang artinya “Air yang berlabuh ke daratan”.
Tak semua gempa diiiringi dengan datangnya gelombang tsunami. Tsunami datang memang biasanya diawali dengan gempa besar, tapi ada juga yang berasal dari longsoran atau patahan material gunung di laut. 

Induk Gunung Krakatau memang telah hancur tahun pada Agustus 1883 dan kini menyisakan anaknya. Meskipun ukurannya tidak sebesar "induknya", Gunung Anak Krakatau ternyata menyimpan tenaga yang cukup besar untuk erupsi dengan tipe eksplosif. Dampaknya berupa "tsunami kecil" pun telah dirasakan masyarakat Banten dan sekitarnya.
Gunung Anak Krakatau sebelum erupsi
Saat tsunami Selat Sunda menerjang tanggal 22 Desember 2018, saya sedang berada di rumah Cilegon, Banten. Malam itu di grup Whatsapp telah ramai adanya laporan warga yang lingkungannya terendam air laut. Saya pun mencari tahu penyebabnya karena awalnya hanya air laut pasang biasa saja akibat pengaruh dari bulan purnama yang menyebabkan gelombang tinggi. Begitu juga saat dicek melalui aplikasi tidak terdeteksi adanya gempa bumi, jadi kami tenang saja. Lalu semakin malam ternyata pernyataan rilis resmi dari Humas BNPB Pak Topo (Alm) menerangkan bahwa yang terjadi sebelumnya dipastikan adalah tsunami. Dari situ saya langsung syok karena telah terjadi bencana seperti itu di daerah sendiri.

Tsunami kali ini berbeda dari tsunami pada umumnya di Indonesia karena timbul bukan dari gempa tektonik, melainkan dari longsoran material erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, sehingga tidak ada early warning seperti biasanya. Seperti yang diberitakan Pak Topo, Indonesia ternyata belum memiliki alat pendeteksi tsunami yang diakibatkan longsoran bawah laut. Jadi selama ini masih mengandalkan alat milik BMKG yang hanya merespon sensor kegempaan tektonik.


Menebus Rasa Bersalah


Keesokan hari setelah terjadi tsunami, saya dan rekan-rekan terpanggil menuju TKP. Berbekal pengalaman menangani bencana bersama BPBD dan Basarnas, saya siap membantu melakukan pencarian dan evakuasi korban yang masih tertimpa reruntuhan. Bagi saya, ini bagaikan menebus rasa bersalah saat SMA, saya ingin sekali memberikan kontribusi bidang bencana pada daerah sendiri.


Lokasi yang terparah berada di Kecamatan Sumur, Pandeglang. Di Kecamatan ini adalah salah satu akses menuju Taman Nasional Ujung Kulon. Sepanjang perjalanan menuju Carita, saya melihat bangunan di kanan dan kiri sudah hancur lebur. Puing-puing dan pepohonan tumbang menutupi jalan. Kami sempat putar balik karena dikabarkan bahwa sirine early warning system-nya berbunyi yang mengakibatkan semua petugas berlarian menjauhi bibir pantai. Setelah ditelusuri, ternyata alatnya sedang mengalami gangguan sehingga tiba-tiba bunyi tanpa sebab.


Budaya Sadar Bencana

Menurut data BNPB, jumlah korban meninggal tsunami Selat Sunda mencapai 437 orang, yang terbanyak di wilayah Banten, dan yang masih hilang sebanyak 10 orang. Dari situ kita perlu memandang pentingnya Budaya Sadar Bencana agar diterapkan ke semua kalangan, terutama yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB).
Persiapkan Emergency Survival Kit di rumah.
Sama seperti di Indonesia, Jepang juga berada di wilayah rawan bencana. Gempa bumi sudah seakan seperti makanan sehari-hari bagi mereka. Namun bedanya, mereka telah dilatih untuk siap “bersahabat” dengan bencana sejak dini. Di sekolah-sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak, sudah diajarkan mitigasi bencana gempa bumi. Paling tidak sebulan sekali mereka melakukan simulasi. Ketika sirine peringatan berbunyi, otomatis pada berlindung di bawah meja yang kokoh, seolah-olah terjadi gempa beneran. Hal ini bertujuan agar mereka lebih tenang, cepat, tepat, dan tertib saat bertindak ketika menghadapi bencana yang sesungguhnya. Selain itu, sikap saling tolong menolong juga diajarkan, jadi anak-anak akan diprioritaskan saat evakuasi.

Ini ternyata terbukti seperti yang dialami di
Kamaishi Prefektur Iwate Jepang pada 11 Maret 2011. Hampir 3.000 siswa sekolah selamat berkat pendidikan mitigasi bencana.
Terapkan simulasi mitigasi bencana di kantor agar terbiasa.
Indonesia seharusnya bisa berkaca pada Jepang bagaimana mitigasi bencana dalam mengurangi resiko jatuhnya korban. Pembelajaran tentang mitigasi bencana sangat penting diajarkan secara rutin di sekolah, kantor, komunitas, dan juga di tengah masyarakat agar paham benar apa yang dilakukan ketika ada bencana. Terutama di KRB dan lokasi-lokasi vital lainnya seperti di Cilegon yang banyak terdapat pabrik kimia, ada penanganan khusus untuk hal itu.

Suasana di pengungsian.
Teknologi early warning system memang sangat diperlukan, tapi lebih penting lagi soal kesadaran masyarakatnya. Buoy dan Tide Gauge mahal yang dimiliki negara kita seakan tak berguna karena banyak yang rusak oleh ulah manusia tidak bertanggungjawab. Pencurian seismograf juga kerap terjadi di beberapa gunung karena kurangnya pengawasan. Masalah ekonomi dan pola pikir yang jadi musuh bersama. Padahal peralatan itu digunakan untuk mendeteksi gelombang tsunami dan juga aktivitas kegempaan yang menyangkut nyawa ribuan orang. Lucunya lagi, bahkan baut pada jembatan dan rel kereta api pun banyak yang dicuri. Maka dari itu harus disosialisasikan pentingnya alat itu agar bisa saling menjaga dan merawatnya. Bagi yang melakukan vandalisme atau mencuri harus dihukum seberat-beratnya, karena ini masalah serius.


Alam Memberikan Kehidupan


Disamping pemanfaatan teknologi yang canggih juga harus ada kesadaran dalam menjaga lingkungan. Menanam mangove adalah salah satu cara alami untuk meredam gelombang tsunami yang masuk ke daratan. Selain dapat menahan gelombang juga bisa menjadi habitat satwa-satwa dan juga bisa dijadikan tempat wisata. Tak hanya itu, pohon-pohon di pinggir jalan yang biasa hanya dijadikan tempat kencing manusia atau tempat menempel iklan, bisa sangat berguna jika terjadi bencana.
Begitu pepohonan di hutan memiliki peran sangat penting untuk meredam potensi longsor maupun banjir bandang.
Masih ingat dengan kisah Martunis sang bocah survivor tsunami Aceh ?


Dia bisa bertahan berhari-hari dari serbuan tsunami dengan cara menaiki pohon. Tanpa sadar alam telah memberikan kita segalanya, tinggal bagaimana kita bisa simbiosis mutualisme agar saling menguntungkan. Dengan begitu kita jaga alam, maka alam akan jaga kita. Saling bersinergi dengan alam.

Upaya pertolongan diri sendiri (self assistance) merupakan salah satu faktor yang mendukung tingkat keberhasilan dalam menghadapi bencana. Tapi bukan berarti kita jadi individual lebih mementingkan keselamatan sendiri lalu saling sikut dengan yang lainnya. Melainkan harus mengetahui batas kemampuan dari diri sendiri dan berpikiran positif akan selamat, dan menerapkan apa yang telah dipelajari sebelumnya. Namun itu juga harus didukung dengan infrastruktur yang memadai. Jangan sampai ketika bencana datang, Shelter Tsunami yang telah dibangun malah tidak bisa difungsikan karena rusak atau tidak layak, karena itu adalah salah satu tumpuan bila daerahnya jauh dari bukit.

Menjadi tangguh bukan berarti harus dengan fisik yang kuat, tapi bisa juga dengan pemikiran yang cerdas dan mampu memberikan solusi untuk kebaikan semua orang. Hidup mati memang di tangan Tuhan, tapi Tuhan tentunya lebih senang dengan hambanya yang mau berusaha,…berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup. Karena itu adalah salah satu cara mensyukuri nikmat-Nya. Jadi saat terjadi bencana, yang harus benar-benar ditanamkan di otak adalah bukan Siap Mati, melainkan SIAP UNTUK SELAMAT !



#TangguhAward2019 #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #SiapUntukSelamat #BudayaSadarBencana
Continue Reading

Menjamurnya minimarket modern di Indonesia ini membuat warung-warung tradisional kian tenggelam, seolah tak dianggap lagi karena kurang bisa bersaing. Padahal, soal harga di warung tradisional jauh lebih murah, dan yang paling disukai kebanyakan orang adalah, bebas biaya parkir, karena tak ada tukang parkirnya. Saya dan istri sepakat demikian, untuk kebutuhan sehari-hari, saat ini kami utamakan belanja di warung tradisional terdekat. Selain untuk turut memberikan rejeki ke warung tersebut agar bisa berkembang, juga untuk ajang silaturahmi dengan pemilik warungnya. Karena di warung inilah biasanya suasana guyub rukun antar tetangga saling terjalin.

Meskipun keberadaannya semakin menurun, masih banyak yang menjadikan warung tradisional ini sebagai tumpuan hidupnya sehari-hari. Melalui warung inilah mereka mendapatkan penghasilan utamanya, tak hanya di kampung, tapi juga yang letaknya di perkotaan. Seperti warung yang terletak hanya 10 meter dari kantor saya inilah contohnya.

Sore itu tak biasanya ada Standing Banner warna biru muda terpampang jelas di depan warung tersebut. Di warung inilah saya biasa beli “jajanan” untuk mengisi perut saat lupa bawa bekal dari rumah. Warung yang terletak di Jl. Adyaksa Raya, Jakarta Selatan ini sangat kecil, namun cukup memenuhi kebutuhan saya saat itu. Satu hal yang membuat perhatian saja tertuju pada banner-nya adalah tertulis nama “KUDO”, nama yang sepintas mirip tokoh Shinichi Kudo dalam komik Jepang. Awalnya saya pikir ini jasa untuk membungkus kado atau apa, ternyata bukan.

Apa itu KUDO ?
Setelah saya cari tahu, ternyata Kudo adalah singkatan dari Kios Dagang Untuk Online, jadi ini sebuah platform Warung Digital Serba Bisa yang diakses melalui aplikasi smartphone. Oh iya, kita harus bangga, sebab Kudo merupakan buatan anak bangsa Indonesia. Dari sinilah akhirnya terjawab bagaimana peran teknologi dalam #MajuinWarung tradisional di negara kita.

Pak Gunardi sang pemilik warung membagi pengalamannya, dia baru beberapa bulan menjadi agen menggunakan aplikasi Kudo dan sangat terbantu sekali. Kini dia cukup menggunakan aplikasinya untuk memesan stok barang-barang kebutuhan warungnya. Barangnya pun bisa langsung dikirimkan dengan gratis ongkir pula. Soal ketersediaan dan kualitas barang, dia tidak perlu khawatir lagi, karena Kudo bekerjasama dengan produsen dan perusahaan terkenal untuk stok barangnya, sehingga biaya dalam usaha grosir sembako jadi lebih murah dan keuntungan lebih besar.

Tak hanya untuk kebutuhan warung, ternyata kita juga bisa transfer uang, bisnis pulsa, bayar tagihan telepon, tiket kereta, dan bahkan daftar Grab sebagai pengemudinya. Berbagai kemudahan itulah yang membuat banner Kudo terpampang di warung-warung yang sering saya temui dan menjadi suatu hal yang wajar. Para pemilik warung mempercayakannya melalui aplikasi tersebut untuk meningkatkan pendapatan dan jaringan agennya. Pantas saja banyak sekali driver Grab yang sering nongkrong ngopi di warung Pak Gunardi maupun di warung sebelahnya karena sama-sama menggunakan Kudo untuk usahanya.

Selain itu, kita sebagai pelanggan umum pun turut mendapatkan kemudahannya karena adanya PPOB alias Payment Point Online Bank. PPOB sendiri adalah suatu sistem pembayaran online layaknya perbankan. Jadi di aplikasi ini kita bisa melakukan berbagai jenis pembayaran seperti BPJS, PLN, PDAM, tagihan listrik, multi finance, telepon rumah, kartu kredit, dan juga asuransi dalam satu aplikasi. Gak perlu keluar rumah, gak perlu antri, jadi menghemat transportasi dong, tinggal duduk ayem di rumah sambil transaksi, yang penting ada kuota internetnya dan listrik untuk nge-charge ponsel.

Lalu bagaimana caranya bergabung dengan KUDO ?
1. Download aplikasi Kudo.
2. Lakukan pendaftaran melalui aplikasi.
3. Tambah saldo untuk transaksi.
4. Verifikasi akun.

Udah bisa jualan dan melakukan berbagai transaksi deh. Untuk info lebih lanjutnya bisa cek di Panduan Agen Kudo. 


Lantas manfaat yang bisa kita dapatkan apa aja ?
  • Mendapatkan jutaan produk online dengan harga grosir untuk tokomu.
  • Mendapatkan komisi menarik di setiap transaksi. 
  • Mendapatkan layanan tagihan terlengkap.
  • Mendapatkan akses modal usaha dengan mudah.
  • Jadi agen perekrutan Mitra Pengemudi Grab.
Jika menggunakan Kudo, kita turut #MerdekainWarung karena mendukung peningkatan kesejahteraan pemilik warung tradisional agar bisa bersaing dengan supermarket modern. Bayangkan saja, Pak Gunardi yang dahulunya hanya berjualan barang kelontong di warungnya, kini bisa juga merambah ke bisnis yang lain, serta mendapatkan komisi dari setiap transaksinya. 


Dengan begitu ia bisa punya tabungan lebih, selain untuk perputaran modal usahanya, ia bisa menyekolahkan kedua anaknya yang masih kecil.

Kita juga bisa lho menjadi #PejuangWarung dengan mengajak pemilik warung lain untuk bergabung bersama Kudo. Dari situ, otomatis mereka akan lebih melek teknologi agar warungnya bisa lebih berkembang dan bertahan dari serbuan toko modern. Tak hanya itu, kita bisa mendapatkan bonus puluhan ribu rupiah setiap kita mendaftarkan warung di Kudo.

Ayo tunggu apalagi, mari bergabung dengan Warung Digital Serba Bisa...KUDO !
Merdekain Warung Tradisional Pakai Kudo, Aplikasi Digital Buat #MajuinWarung
Danau Toba di Sumatera Utara tak hanya menyajikan keindahan alam dan budayanya saja, tapi juga ada wisata religi yang layak kita ketahui, salah satunya adalah Bukit Doa. Untuk menuju Danau Toba, jika berangkat dari Jakarta, terbanglah langsung ke Bandara Silangit di Siborong-borong, karena dari situ hanya membutuhkan waktu 30 menit ke Bukit Huta Ginjang, sedangkan jika melalui Medan, masih membutuhkan waktu sekitar 6 jam perjalanan darat.

Banyak sekali yang meyakini bahwa tempat terbaik untuk menikmati pemandangan Danau Toba adalah melalui Bukit Huta Ginjang. Selain memiliki landasan untuk olahraga Gantole, bukit yang berada di Kabupaten Tapanuli Utara ini memiliki tempat yang unik dan ikonik, yaitu Bukit Doa Taber (Tapanuli Bersinar). Dahulu tahun 2017 saat saya ke sana belum ada angkutan umum, namun kini dari bandara Silangit, kita bisa menaiki bis Damri untuk menyusuri Danau Toba. Selama perjalanan, kita akan melalui jalur yang berliku dan kadang menanjak mengikuti kontur bukit. Wajar saja, Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di dunia yang berasal dari letusan gunung api purba.
 

Tapanuli Utara memang dikenal sebagi pusat pekabaran Injil pertama di Tanah Batak, maka dari itu banyak sekali umat Kristiani dari berbagai wilayah untuk wisata religi (pilgrim) di sini. Saat pertama mendaratkan kaki ke sana, mata saya tertuju pada sebuah patung yang berbentuk tangan sedang mengatup dengan posisi ke atas dan menghadap ke arah danau. Patung itu merupakan simbol permohonan kepada Tuhan.

Beralih dari patung tersebut, saya menuju ke sebuah pelataran dengan lantai merah keabu-abuan dan dibatasi pagar besi berwarna hitam. Ternyata yang saya injak adalah kamar doa. Jadi, di lereng bukit ini dibuatkan bilik-bilik kamar yang berjumlah 26 untuk digunakan berdoa dan berkontemplasi. Wisata Bukit Doa ini dirintis sejak tahun 1996 oleh Pdt. Abraham Hutabarat, namun sempat terhenti karena masalah pendanaan. Namun, pada akhirnya pembangunan tahap pertama bisa selesai tahun 2012 dan tetap dilanjutkan hingga sekarang.

Menurut pemandu wisata yang mendampingi saya, tujuan dibangun Rumah Doa ini untuk memberkati daerah Tapanuli. Jadi wisatawan yang datang untuk berdoa di kamar tersebut akan lebih khusyuk dalam berdoa karena ketenangan dan kesejukan suasananya sambil menikmati pemandangan Danau Toba. Oh iya, selain itu juga, konon jika berdoa di sini doanya akan cepat dikabulkan.

Ada satu hal yang unik, yaitu di dalam kamarnya terdapat gambar ilustrasi orang yang sedang dipasung. Hal itu mengingatkan saya akan buku cerita "Siksa Neraka" yang tergolong sadis buat dikonsumsi anak-anak pada jaman itu.

Bagi wisatawan yang beragama lain juga boleh mengunjungi tempat ini kok. Di sini kita bisa menikmati hamparan lembah Danau Toba dan sejuknya udara di ketinggian 1550 mdpl. Tak hanya itu, kita juga bisa menuruni tangga hingga bawah, lalu duduk-duduk di bangku yang beralaskan rumput. Susunan tangga berbentuk zig-zag dan warna dinding bangunan yang berwarna merah sangat instagramable bila berfoto dari atas maupun bawah.

Sebenarnya, wisata Danau Toba tidaklah kalah indah dengan Labuan Bajo, namun sayangnya popularitasnya kalah karena jarang terekspos. Padahal banyak sekali Padahal banyak sekali yang bisa kita pelajari di sini seperti tentang kegunungapian, sosial, budayanya yang kental, selain itu juga banyak terdapat spot foto yang menarik dan belum mainstream di sini. Untuk fasilitas jalan pun sudah memadai, penginapan, dan rumah makan juga banyak kita temukan di sini. Maka dari itu pemerintah pusat akan menggenjot pariwisata di sini dan menjadikannya Destinasi Super Prioritas untuk menarik wisatawan dari berbagai daerah dan negara lain. Yahh, semoga hal itu bisa didukung dengan murahnya tiket penerbangan ke sana, sehingga banyak yang menawarkan paket wisata ke sana.




Instagram merupakan salah satu platform yang digandrungi anak muda masa kini. Tak hanya untuk berbagi karya fotografi dan aktivitas sehari-hari, juga banyak yang menggunakannya untuk mempromosikan usahanya.

Hal tersebut bisa dibilang sangat efektif karena sebagian besar pengguna sosmed menggunakan waktu luangnya untuk mencari informasi maupun hiburan lewat Instagram. Salah satu strategi brand untuk meningkatkan jumlah follower dan meningkatkan pembelian adalah mengadakan giveaway / kuis / kompetisi semacamnya itu dengan iming-iming hadiah menarik. Dari situ terlihat banyak sekali para pengguna yang tertarik mengikutinya agar mendapatkan hadiahnya itu.

Perlu diketahui bahwa giveaway atau kuis di Instagram sifatnya adalah "ringan". Jadi berbeda dengan kompetisi fotografi yang terkesan sangat serius dengan menitikberatkan penilaian pada konsep, teknis fotografi, jangka waktu pengambilan gambar, dan juga akan dipertanggungjawabkan yang memotret atau yang memencet tombol shutter. Karena ini menyangkut hak cipta pada foto tersebut.

Sedangkan dalam giveaway Instagram beberapa hal tersebut ditiadakan. Jadi tidak masalah jika foto yang diikutkan kompetisi itu yang memotret orang lain, dan kita bertindak sebagai modelnya.

Banyak yang tanya bagaimana cara dapet informasi tentang kuis-kuis tersebut.

“Mas, gimana sih, kok bisa tau kalo ada kuis gitu ?”

Gini lho dek, sekarang kan udah ada akses internet, dan kita bisa dengan mudah cari informasinya. Caranya coba cari aja di Instagram dengan mengetikkan keyword “Kuis” di kolom Searching, nanti bakal muncul beberapa pilihan akun yang isinya tentang kuis, tinggal follow deh.


Tapi ada cara lain sih, yaitu kita sering-sering aja cek atau follow brand-brand besar, mulai dari Fashion, E-commerce, Online Travel Agent, Perbankan, dan yang paling banyak sih produsen makanan dan minuman ringan. Biasanya kalo mereka ngadain kuis gitu tiba-tiba suka nongol iklannya di timeline kita maupun Instastory, meskipun kita gak follow. Makanya itu jangan lupa langsung di-save dan follow akunnya.


HADIAHNYA APA ?

Cem-macemlah…mulai dari Hampers sebagai hadiah hiburan, voucher belanja, voucher hotel, voucher makan, pakaian, gadget, tiket, uang tunai puluhan juta, paket liburan, hingga kendaraan berupa sepeda motor lho. Kan lumayan banget buat mengisi perabotan rumah atau dijual kembali buat tambahan menghidupi keluarga.

Nah, untuk memenangkan giveaway atau kuis Instagram perlu strategi khusus yang bisa diterapkan oleh siapa saja. Yukk simak tipsnya berikut :

1. MENCOBA
Semua itu berawal dari niat yang baik dan rasa yang optimis. Banyak sekali teman-teman saya yang belum mencoba tapi udah takut kalah duluan.

“Duhh, pengen sih ikutan kuis Instagram, tapi takut kalah. Apalagi saingannya fotonya bagus-bagus. Gak jadi deh kalo gitu”.

Nyett, gimana kita tau kalo kita bakal menang, kalo kita aja gak pernah NYOBA untuk ikutan. Ini sama aja mengharapkan uang banyak, tapi kita gak bekerja, atau mencoba membuat usaha. Mau melihara tuyul ??

Saya sampai bosen ditanya, “Lo gimana sih bisa sering menang kuis ?”. Ya elu nyobalah ikutan, kalo diem-diem bae ya gak bakal tau hasilnya. Belum apa-apa udah ngeluh, dasar mental pemalas.

“Gw udah ikutan kok gak pernah menang yaa ?”.

Lo kira main sulap kali langsung bisa dapet. Semua itu butuh proses. Kalah menang itu adalah hal yang wajar. Yang gak wajar adalah kalo lo punya orang dalem buat menangin.
Nihh yaa…dari sekian ratus saya ikutan kuis Instagram, puluhan kali mengalami kekalahan dan itu gak menghalangi saya untuk ikutan lagi. Hingga akhirnya perbandingannya kisaran 10 kali ikutan, dan 5 kali meraih kemenangan. Sangat lumayan sekali, karena udah cukup sering. Maka dari itu tetaplah berusaha, niscaya rejeki akan datang sendirinya.

2. BACALAH !

Pada tahap ini banyak sekali peserta yang gagal menang karena malas membaca secara lengkap. Maka dari itu bacalah dan pahami, lalu patuhi semua rules atau aturannya.

3. ATUR TIMELINE
Buatlah catatan atau reminder kapan deadline kuisnya dan kapan kita mulai mengeksekusinya. Jangan terlalu terburu-buru posting, dan jangan terlalu mepet, apalagi telat, karena kalo terlalu banyak pesertanya dan bagus-bagus, biasanya juri udah punya kandidat sendiri, jauh sebelum deadline.


4. PETAKAN KEKUATAN
Widihh, udah kayak perang aja nih. Eh, tapi emang iya, kita harus bisa memetakan kekuatan lawan lho. Mana yang konsepnya bagus tapi eksekusi biasa aja, mana yang biasa semuanya, dan mana yang eksekusinya bagus banget.

Setelah mengetahui potensi kekuatan lawan, kita bisa dong mengukur kemampuan sendiri. Misalnya, peralatan foto kita dan propertinya kurang, tapi kita gak bisa maksain untuk jadi perfect, pakai lighting di sana sini, lensa mahal, lokasinya bagus. Cukup eksplorasi dari konsepnya aja agar lebih “mengena” terhadap pesan yang ingin disampaikan brand tersebut. Hal ini bisa juga didukung dengan copywriting caption yang baik. Maka dari itu kita harus riset kecil-kecilan pada produk atau jasa perusahaan yang mengadakan kuis tersebut. Ibaratnya, maksimalkan kelebihan agar kelemahan bisa tertutupi. Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah.

Dengan memetakan kekuatan lawan, kita bisa juga mendapatkan referensi baru, jadi kita udah tau gambaran eksekusinya nanti seperti apa.


5. TELITILAH SEBELUM MEMBELI
Khusus untuk kuis berupa produk, sebelum membeli alangkah baiknya diteliti terlebih dahulu tentang produk yang akan dilombakan. Jangan sampai ketika sudah dieksekusi harusnya beli produk rasa stroberi, eh belinya malah rasa coklat. Kan lumayan buang-buang waktu dan uang. Begitu juga perhatikan dengan seksama, dimanakah kewajiban untuk membeli produk, apakah di Indomacet atau di Alphamaz, karena pihak produsen biasanya bekerjasama dengan beberapa supermarket. Dan jangan lupa untuk menyimpan struknya sebagai bukti, biasanya juga diwajibkan untuk menyantumkan kode unik transaksinya.

6. IKUTI KUIS YANG TIDAK POPULER
Bagi yang udah kebelet pengen ngerasain gimana menang giveaway, cobalah ikutan giveaway atau kuis yang tidak populer. Carilah brand-brand yang tidak terlalu populer atau jadi favorit, biasanya parenting atau rumah tangga, meskipun hadiahnya berupa voucher atau hampers yang
tidak seberapa. Tak ada salahnya untuk dicoba.
Untuk pesertanya, kebanyakan sih ibu-ibu, bisa dicek seberapa banyak peserta melalui hashtag. Ibu-ibu biasanya motret "sekenanya" tanpa memikirkan teknis dan estetika lebih dalam. Maka dari itulah celah yang baik untuk membuat foto yang lebih bagus.

7. EKSEKUSI YANG BAIK
Memotret yang baik bukan sekadar visual yang tajam dan terang semata. Tapi juga mampu menggugah orang lain akan foto yang kita ciptakan. Persiapkanlah segala properti penunjang foto, kalau bisa totalitaslah. Tapi jangan norak atau alay. Seleramu menentukan imejmu sendiri. Biasanya juri sangat menghargai peserta yang sudah melakukan totalitas.

Untuk mendapatkan hasil yang baik kadang memang butuh modal lebih. Cobalah pergi ke tempat-tempat wisata atau tempat yang unik untuk mendapatkan background penunjang yang menarik sesuai dengan tema. Buatlah stok yang banyak, dengan dan tanpa produk, karena biasanya suatu saat foto yang tanpa produk bisa terpakai di kuis yang lain, jadi tidak rugi bolak-balik.

Contohnya : Saya akan melakukan perjalanan mudik via udara dari Jakarta ke Yogyakarta. Selama perjalanan saya bisa memaksimalkan bisa untuk foto produk makanan, minuman ringan, obat-obatan, maskapai, asuransi perjalanan, OTA, fashion, dan lain-lain, di beberapa spot bandara maupun dalam pesawat. Maka dari itu kita harus tau kuis apa yang akan dieksekusi.

Perhatikan proporsi produk. Usahakan tidak ada hal lain yang mengganggu keberadaan produk, apalagi sampai ada merk kompetitor. Pahami tema apa yang dimaksud, lalu bebaskanlah berekspresi dengan memperhatikan komposisi agar terlihat menarik dan dramatis. Jika itu produk makanan atau minuman, cobalah ajak temanmu untuk in frame berinteraksi bersama, akting seolah-olah bahagia ((bahagia)).

Harus berani malu itu pasti. Tapi jangan sampai malu-maluin. Buatlah foto yang "berani" jika lokasinya di tempat umum. Sesuaikan lokasi, properti, dengan tema yang diangkat.

Jika menggunakan kamera ponsel, jangan memotret menggunakan flash built in-nya, karena hasilnya akan flat, cahayanya akan keras dan tidak rata. Tapi coba gunakanlah cahaya alami seperti matahari, atau bisa juga pakai lampu belajar yang berwarna putih, sehingga bisa diatur posisi arah datangnya cahaya.


Namun jika dirasa kurang meyakinkan, ya apa boleh buat. Sewalah fotografer profesional, agar bisa lebih tenang berekspresi.


Untuk beberapa brand besar, mereka punya kualitas tersendiri dalam menentukan pemenang. Pelajari dulu temanya, banyak dari mereka yang tidak menginginkan direct selling pada produknya. Misal, brand celana jeans memiliki imej bahwa brand mereka cocok untuk petualangan, dan mereka mencari petualang yang bisa memaknai petualangannya itu serta memberikan kebaikan kepada masyarakat. Jadi tampilkanlah pengalaman itu ke dalam sebuah foto beserta ceritanya, tak harus mengenakan brand tersebut, dan jangan sampai terkesan "jualan".

Selain itu juga perhatikanlah aturannya, apakah boleh diedit hanya sekadar tone-nya, apakah boleh sampai Digital Imaging (penambahan elemen, composite, dsb).


8. POSTING
Ini dia yang paling krusial, yaitu tahapan posting. Sebelum posting perlu diperhatikan beberapa hal yang penting sebagai berikut :
  • Akun Pribadi
    Gunakanlah akun pribadi, bukan akun jualan, ataupun akun repost. Tak harus ribuan follower, yang penting aktif dan ada interaksi. Tapi jangan cuma 1 foto ya di akunnya, harus udah ada beberapa, karena jika tidak, bisa dicurigai itu akun bermasalah. Bukan juga akun khusus kuis hunter, karena biasanya juri males memenangkan akun yang isinya kuis semua tanpa ada selingan postingan yang biasa.

    Dan ini yang paling penting, akunnya jangan "digembok" alias di-private mode. Yaelahh, itu akun instagram apa folder foto bokep pake digembok segala -_-.
  • Follow
    Follow terlebih dahulu semua akun sosmed yang menyelenggarakan kuis / giveaway tersebut, jangan sampai lupa, karena ini syarat utamanya agar mereka followernya bertambah. Dulu pernah ada kejadian, setelah dinyatakan menang dan diumumkan, akhirnya dibatalkan karena syarat utamanya tidak dipenuhi.


  • Share / Regram / Repost
    Sebenernya ini optional, tergantung aturan masing-masing penyelenggara. Tapi jika mewajibkan, maka sebelum posting haruslah repost poster kuis yang bersangkutan.
  • Caption
    Buatlah caption yang menarik, jangan bertele-tele, tapi buatlah yang mengedukasi tentang keunggulan produknya, bisa juga berdasarkan pengalaman. Jangan menghina atau menyebutkan produk lain dan menyinggung SARA. Jangan lupa juga, caption dan foto harus nyambung yaa.

  • Hashtag
    Hashtag ini sangatlah penting bagi juri untuk mencari calon kandidat pemenangnya. Jangan sampai ada hashtag lain di luar syarat ya, meskipun itu hashtag pribadimu. Jika ingin mencantumkan hashtag lain, silahkan tulis di kolom komentar agar tertutup.
  • Mention & Tag
    Mention dan tag-lah akun penyelenggaranya untuk menandainya. Selain itu jika diwajibkan, mention juga beberapa akun instagram temenmu. Jangan akun jualan, atau akun selebritis ya.

    9. BERDOA
    Setelah yakin dengan foto dan captionnya, langkah terakhir yaitu posting lalu berdoa. Boleh berharap menang tapi jangan terlalu. Biasanya sih kalo terlalu berharap dan menggebu-gebu malah gak jadi menang. Justru setelah berdoa dan kita lupakan, tau-tau ada aja yang DM ngucapin selamat kalo kita menang :D



    Tambahan :Saya gak akan mau ikut giveaway yang dinilai berdasarkan jumlah likes, karena menurut saya itu gak objektif, bisa saja ada yang beli jasa "likes" untuk bisa menang. Ikutilah yang dinilai berdasarkan kreatifitas dan penilaian juri. Jika penentuan pemenang berdasarkan undian, kita gak perlu susah-susah bikin karya foto, buatlah yang biasa aja dengan budget minim, toh diundi ini.


    Sedangkan giveaway yang hanya perlu komentar dan dinilainya berdasarkan undian, tak ada ruginya juga untuk ikutan, meskipun komentarnya udah ribuan, coba saja, siapa tau beruntung, karena kita tidak memerlukan modal untuk eksekusi karya.

    Penjurian
    Pada umumnya, para juri memiliki pilihan kandidat masing-masing setelah ada penyeleksian dari ribuan peserta yang ikut. Mereka (juri) akan saling adu argumen dengan juri yang lain tentang pilihannya masing-masing untuk menentukan manakah yang layak jadi juaranya. Itu bukanlah hal yang mudah, karena menentukan reputasi juri maupun brand penyelenggaranya.

    Tapi perlu diperhatikan ada juga Faktor X nya. Setelah kita semua melakukan tahapan di atas dan yakin akan karya kita akan menang, eh ternyata yang menang orang lain. Jangan terlalu kecewa, karena ada buanyakkk kasus yang menurut saya ada beberapa orang lain (bukan saya) yang sangat layak menang, unggul dalam berbagai aspek, eh ternyata yang menang fotonya cuma gitu doang.

    Memang sih agak kesal, tapi ya gimana lagi, ini tergantung selera jurinya sih. Biasanya ada aja sindiran kasarnya dari para peserta.

    "Oh ini kirain kompetisi bagus-bagusan foto, ternyata jelek-jelekan foto" :D

    Boleh aja untuk komplain tapi jangan berlebihan. Untuk lebih jelasnya akan saya bahas etika pasca menang giveaway di artikel terpisah.

    Sementara ini, sampai di sini dulu, kalo ada tambahan monggo silahkan komentar di bawah ini.




    *artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi sebagai peserta maupun sebagai juri giveaway / kuis di beberapa brand.



Kabupaten Tangerang merupakan wilayah industri yang terdapat banyak pabrik. Setiap melewati jalan raya Serang ini, rasanya saya ingin cepat-cepat sampai tujuan karena tak tahan dengan panasnya matahari, debu, deru, dan asap kendaraan besar yang lalu-lalang di sini.

Semenjak pindah ke Jakarta, setidaknya satu bulan sekali saya melewati jalan ini untuk pulang ke Cilegon naik sepeda motor dan sama sekali tak tertarik mengeksplor wilayahnya. Siang itu kebetulan jadwalnya pulang ke Cilegon bersama istri. Dia bersikukuh untuk mampir dulu untuk mengunjungi Kandang Godzilla.

Ok, baiklah…demi istri tercinta.

Jakarta memang keras, tapi lebih keras lagi Kab. Tangerang, karena mempunyai “Kandang Godzilla” atau biasa disebut juga Tebing Koja. Ini bukan Godzilla beneran lho yaa, tapi merupakan tempat wisata alam yang suasananya mirip dengan habitat Godzilla. 

Untuk menuju ke sana, saya naik motor dari Pamulang (Tangerang Selatan) menuju Jalan Raya Serang, yang ditempuh sekitar 1,5 - 2 jam perjalanan. Jika dari arah timur, setelah Balaraja nantinya akan menjumpai pertigaan Cisoka, dari jalan raya sudah terlihat jelas kok tulisan petunjuknya. Setelah itu belok kiri ikuti terus Jl. Raya Cisoka ke arah selatan. Untuk lebih meyakinkan bukalah Google Map dengan mengetik Koja Cliff Park, nanti akan diarahkan.

Obyek wisata ini dahulu merupakan lahan tambang pasir. Karena sudah tidak terpakai dan hanya menyisakan bekas galian, lama-kelamaan bentuknya terlihat artistik dan bagus untuk difoto. Akhirnya oleh warga sekitar dijadikanlah tempat wisata. Yaa mirip-mirip dengan bukit kapur Arosbaya di Madura dan Brown Canyon di Semarang.

Lokasi Tebing Koja memang tidak terlalu jauh dari Danau Cisoka, jadi jika berminat bisa mampir sekalian. Akses jalannya pun sudah dicor, namun mendekati lokasi jalan akan menyempit dan berbatu-batu. Waktu itu sesaat akan sampai lokasi, kami dihadang oleh dua orang warga setempat dan meminta retribusi Rp 3.000 untuk kas desa. 

"Ok lahh, kalo untuk kas desa nggak masalah, ada bukti pembayarannya juga". 


Tak jauh dari situ ambil jalan yang menurun menuju pintu masuknya. Saya pikir retribusi tadi sudah termasuk tiketnya, ternyata berbeda. Ketika sampai sini saya kembali ditarik tiket masuknya sebesar Rp 5.000 per orang, ditambah parkir motor Rp 5.000. Memang kurang efektif sih, karena sedikit-sedikit ada penarikan, seharusnya dijadikan satu pintu sekali bayar agar jelas.

Seorang warga sekitar tiba-tiba menawarkan diri menemani kami dan menunjukkan spot yang biasa digunakan untuk foto. Dia menceritakan bahwa lahan Tebing Koja ini merupakan milik pribadi dan ternyata ada 2 kubu yang mengelolanya. Sebenarnya pernah ada rencana untuk menggabungkannya, namun itu tak kunjung terealisasikan karena perbedaan pendapat. Akhirnya diputuskan tetap ada dua pembagian wilayah dengan pintu masuk yang berbeda.

Katanya batu yang depan itu mirip Godzilla.

Tempat yang saya masuki ini Tebing Koja 1, di spot inilah yang terdapat batu yang konon (jangan dibalik) berbentuk Godzilla. Namun jika ingin mengeksplorasi bagian bawahnya yang berupa padang rumput itu akan dikenai biaya lagi, karena itu sudah beda wilayah. Menurut saya sih, tempat yang terbaik berada di Tebing Koja 1, karena minim gangguan visual. Sedangkan di Tebing Koja 2 yang letaknya berseberangan, terdapat banyak spot foto buatan manusia seperti tulisan bentuk love, hiasan-hiasan, bahkan warung, yang menurut saya malah merusak estetika dari tempat tersebut.

Waktu yang terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah pagi dan sore hari hingga menjelang magrib, karena selain tidak terlalu panas juga foto yang dihasilkan akan lebih bagus lagi. Menurut penuturan warga, saat menjelang matahari terbit terdapat kabut tipis dan embun di bulir-bulir padi yang membuat dramatis. Maka dari itu, tempat ini juga kerap digunakan untuk foto pre-wedding, conceptual, maupun produksi film. 
 


Nilai tambahnya adalah pada bagian bawahnya terdapat genangan air seperti sungai di tengah tebing. Kita bisa menyusurinya menaiki perahu dengan membayar Rp 10.000 per orang. Bagi yang ingin foto, harap berhati-hati karena tebingnya sangat tinggi dan genangan airnya cukup dalam. Begitu juga yang ingin memotret harus memperhatikan posisinya sudah aman atau belum.

Sebenernya masih banyak spot yang harus dieksplorasi, tapi karena hari itu masih siang dan matahari di sini seolah-olah ada banyak, maka saya memutuskan untuk menyudahi pencarian Godzilla kali ini. Siang itu biarlah para domba melakukan tugasnya membasmi rerumputan.


Kehadiran Tebing Koja alias Kandang Godzilla di desa ini cukup membantu perekonomian warga sekitar. Angkutan umum, ojek, maupun warung tradisional pun turut kecipratan rejeki dari pengunjung yang datang. Meskipun begitu, seharusnya para pengelola dan warga sekitar bisa memperbaiki sistem tiket yang jelas agar pengunjung nyaman, dan juga mengurangi hal-hal yang mengganggu estetika alami.

Seperti biasanya, hari ke-3 lebaran selalu kami sempatkan untuk liburan. Ada destinasi baru yang sangat unik di Bawen, Kabupaten Semarang tahun ini, yaitu Dusun Semilir. Perjalanan dimulai dari Jogja menuju Bawen yang ditempuh sekitar 2,5 jam karena kondisi lalu lintas saat itu cukup ramai. 

Hamparan sawah dan gunung-gunung yang indah membentang sepanjang jalan saat melewati Ambarawa. Tak lama, dari kejauhan di atas bukit nampak terlihat bangunan unik yang berderet menyerupai genta atau lonceng. Ternyata itulah destinasi yang akan kami tuju.

Lokasinya yang strategis membuatnya sangat ramai, karena mudah dilalui wisatawan, yaitu di Jl. Soekarno Hatta No. 49. Mungkin sekitar 300 meter dari Exit Toll Semarang - Bawen. Pokoknya cari saja bangunan yang mirip stupa candi.


Dusun Semilir adalah tempat wisata terintegrasi yang berkonsep ecopark nan asri dengan suasana pedesaan yang dipadukan dengan desain modern. Di dalamnya terdapat restoran, foodpark, taman, pusat souvenir, dan juga selfie spot. Untuk tiket masuknya sendiri sangatlah murah, hanya Rp 5.000 / orang. Namun harus menggunakan kartu khusus, karena di dalam sini menerapkan cashless untuk segala transaksinya. Satu kartu minimal Top up saldo Rp 50.000 dan bisa digunakan untuk orang banyak sejumlah saldo tersebut. Bagusnya lagi, jika masih ada sisa saldo yang tidak terpakai, saat pulang bisa melakukan refund. Tapi khusus berlaku top up menggunakan uang cash ya, tidak berlaku pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit.

Desain arsitektur Dusun Semilir ini unik sekali, terdiri dari 7 stupa yang menjadi satu, karena mengusung konsep Stupa Candi Borobudur yang merupakan representasi logo Provinsi Jawa Tengah.
 

Saat memasuki bangunannya, kita akan “terhadang” pohon besar yang letaknya di tengah-tengah. Instalasi khas hutan tropis itu menjadi landmark tempat wisata ini. Pengelolanya memang sudah mempersiapkan dan menandai di lantainya, dari titik mana sajakah angle yang terbaik untuk memotret.


Dari pohon besar, perjalanan kita akan melewati Warisan Indonesia yang menjual berbagai macam souvenir dan kerajinan khas Indonesia, lalu dilanjutkan menuju Teras Gunung yang berada di belakangnya. Di sini akan terhubung dengan Jembatan Senggol yang terbuat dari bambu, dan memiliki pola zig-zag pada jalurnya yang menurun. Sepanjang jembatan ini terdapat beberapa stand makanan makanan tradisional yang bisa menggoda kita untuk berhenti dan mencicipinya. Jembatan yang lebarnya 10 meter ini cukup lega sekali untuk lalu lalang pengunjung. Jika sedang terik matahari, lantainya akan terlihat bergaris-garis membentuk bayangan kerangka bambunya. Keren banget buat difoto.


Jembatan Senggol
Perjalanan melintasi Jembatan Senggol berakhir di Sepoi-Sepoi Foodcourt di bagian bawah. Berada di punggungan bukit membuat Dusun Semilir memiliki udara yang cukup sejuk saat malam sekitar 20-23 derajat, tapi saat siang yaa tetap panas, maka dari itu saat datang pakaiannya harus disesuaikan.

Sepoi-Sepoi Foodpark

Sebenarnya Dusun Semilir tempat yang bagus untuk liburan keluarga, namun sayangnya saat itu kondisi bangunannya belum 100% selesai, mungkin baru sekitar 65%. Pada area belakang dan sekelilingnya masih terlihat proses pengerjaannya. Menurut website resminya, nanti akan tersedia penginapan berkonsep Exotic & Glamping Villas, danau buatan, pet village, dan taman bermain anak. Semoga saja bisa segera berbenah dan menyediakan mushola atau tempat sholat yang lebih luas.


Cemilan Indonesia
Untuk menuju pintu keluar, kita harus naik lagi melewati Jembatan Senggol lalu belok ke kiri. Sebelum pintu keluar kita akan melewati pusat oleh-oleh Cemilan Indonesia. Di sini menyediakan berbagai macam oleh-oleh nusantara yang diproduksi oleh berbagai UKM lokal. Satu hal yang pasti akan terngiang-ngiang di kepala ketika kita pulang adalah jingle lagu Dusun Semilir, karena sepanjang hari diputar terus hingga kita hapal sendiri.



Di kaki gunung-gunung berjajar megah…
Danau biru awan putih.
Sejuk terasa menyegarkan jiwa.

Dusun Semilir tempat wisata keluarga bahagia.
Ayo kita wisata ke Dusun Semiliiiiirrrrrrr…..


Oh may gosh, bahkan sampe ngetik tulisan ini nadanya pun masih hapal :D
Bagi saya yang tumbuh besar di tahun 90an dan sering menonton acara anak-anak di Indosiar selalu terngiang-ngiang akan lokasi studionya di Jalan Daan Mogot yang terkenal itu. Jalan Daan Mogot Jakarta Barat adalah jalan yang sangat panjang membentang  27,5 km dari Tangerang Banten hingga Grogol, DKI Jakarta. Selain Indosiar, di jalan ini juga banyak terdapat perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan dan juga kampus besar ternama.
 


Sabtu siang itu saya berkesempatan untuk staycation di Grand Tjokro Jl. Daan Mogot. Ini adalah kali kedua saya menginap di sini, sehingga terasa seperti rumah sendiri.

Grand Tjokro merupakan sebuah hotel kontemporer yang dikelola oleh SAS Hospitality dan memiliki 7 jaringan hotel Tjokro di beberapa kota di Indonesia.

Sambutan yang ramah dari resepsionis membuka awal proses menginap saya dan istri di sana. Untuk melakukan pemesanan kamar sangatlah mudah. Kini di berbagai aplikasi seperti Tiket.com maupun Traveloka tersedia layanannya, tinggal pesan lewat smartphone. Grand Tjokro menawarkan tiga tipe kamar, yaitu Superior, Deluxe, dan Suite Room, dengan fasilitas modern standar hotel bintang 4.



Kali ini saya menempati kamar di lantai 8 yang mendapat jendela mengarah ke timur. Jadi bisa mendapatkan lanskap yang cukup bagus untuk memotret cityscape. Secara estetika, Grand Tjokro memiliki desain interior minimalis dan cantik, serta memadukan desain modern dan budaya lokal yang klasik.

Bagi yang gemar wisata kuliner, cobalah untuk eksplorasi ke area kampus dekat Terminal Grogol. Dari hotel beloklah ke kanan lalu lurus terus melewati perempatan lampu merah. Setelah sampai di Terminal Grogol beloklah ke kiri masuk kompleks, dan di sinilah banyak terdapat berbagai macam makanan, mulai dari street food hingga modern.


Aktivitas pagi hari yang bisa kita lakukan di Grand Tjokro adalah berolahraga di lantai 2, karena di sini tersedia fitness center dan juga kolam renang. Bagi yang membawa anak-anak tidak perlu khawatir, di sini juga tersedia kolam kecil untuk anak-anak, sehingga sangat aman sekali.

 


Setelah puas berenang, yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah sarapan di lantai dasar. Di sini banyak sekali ragam sajian makanan, mulai dari tradisional Indonesia, sampai Western. Soal rasa, tidak perlu diragukan deh kelezatannya. Yang jadi favorit istri saya selama ini adalah bubur ayam dan mie-nya, katanya sih endesss...Ada satu hal lagi yang menarik, yaitu sajian Jamu tradisional. Di sini kita bisa menyajikan sendiri jamunya, mulai dari kunyit, beras kencur, jahe, dan macam-macam. Berasa sedang di Jogja deh rasanya.



Eh, tapi jangan lupa yah, maksimal sarapan itu pukul 10.00, karena setelah itu akan tutup, dan juga ambillah makanan secukupnya, jangan berlebihan, karena kalau berlebihan nanti sisanya akan terbuang percuma.

Salah satu fasilitas andalan Grand Tjokro ini adalah meeting room dan juga business center yang cukup luas. Cocok sekali digunakan untuk keperluan acara kantor maupun gathering karena lokasinya strategis. Selain itu juga kita bisa dengan mudah berkunjung ke beberapa atraksi hiburan yang ada di sekitar hotel yaitu Mall Ciputra, Mall Taman Anggrek, dan juga Central Park yang hanya 3 km saja.

Bagi para keluarga dari luar kota yang anaknya mau wisuda pun sangat dimudahkan dengan adanya hotel ini, karena lokasinya tidak jauh dari kampus Universitas Tarumanegara dan Trisakti. Begitu juga ketika di hotel ingin belanja makanan dan minuman ringan cukup ke Superindo yang letaknya tepat bersebelahan.


Dengan memadukan kenyamanan dan lokasi yang bagus membuat Grand Tjokro memberikan kesempurnaan pertemuan bisnis dan liburan keluarga di Jakarta Barat.