Rest Area Banjaratma Brebes

/ Saturday, September 11, 2021

 



coming soon...

 



coming soon...

Continue Reading

 



Siang itu raut wajah sang istri nampak lebih murung dari biasanya. Ia memang tak marah dan bisa mengerti kondisi pandemi ini semakin sulit, apalagi setelah saya terkena PHK. Meskipun ada dana cadangan, tapi sepertinya mengkhawatirkan karena semakin menipis dan tak tahu lagi kapan perekonomian bisa kembali normal.

 

Ketika masih bekerja di perusahaan pun saya memilki pekerjaan lain sebagai fotografer lepas. Namun dengan adanya pandemi ini membuat semua jadi kacau, sulit mendapatkan orderan karena minimnya event dan juga turunnya daya beli masyarakat. Bahkan pernah juga memotret dengan menurunkan harga jauh di bawah standar demi mendapatkan keuntungan yang tak seberapa, malah bisa dibilang rugi.

 


Sampai suatu ketika saya mendapatkan sebuah orderan namun membutuhkan modal untuk operasional pembelian perlengkapan dan peralatan. Setelah dilihat, ternyata uang tabungan tak mencukupi karena sudah dianggarkan untuk beli kebutuhan bayi kami. Awalnya kami berniat untuk pinjam ke orang tua, namun malu karena kondisi ini. Sempat juga terbesit untuk melakukan pinjaman online, tapi takut dengan kasus yang sudah-sudah. Tak lama kemudian. setelah diingat-ingat ternyata ada fintech yang aman dan terpercaya karena sudah terdaftar di OJK, yaitu Maucash.

 

Saya pun mencari aplikasinya di ponsel dan ternyata sudah tidak ada karena keterbatasan memory, jadi ada beberapa yang terpaksa dihapus. Mau tak mau harus menginstalnya lagi dan ternyata menemukan sesuatu yang baru di GooglePlay, yaitu MOXA.

 


Sekadar info, Moxa ini merupakan aplikasi “induk” dari grup perusahaan Astra yang dioperasikan oleh Astra Financial. Melalui aplikasi ini kita dapat menikmati berbagai layanan, mulai dari pinjaman, tabungan, pembiayaan kendaraan, sewa mobil atau alat berat, beli furniture, alat elektronik, tabungan, asuransi, umroh, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya jadi buuuaanyakkk.

 

Moksa

Dari sekilas mendengar namanya saya sudah bisa menebak kalau ini diambil dari bahasa Sansekerta yaitu “Moksa” yang berarti kebebasan atau pelepasan. Bagi saya sendiri istilah moksa tidaklah asing, karena sebagai penyuka sejarah saya mengamati beberapa tokoh yang moksa, salah satunya adalah Prabu Brawijaya V. Beliau dipercaya moksa di Gunung Lawu. Jiwa dan raganya lepas dari dunia namun memberikan manfaat bagi semuanya. Sama seperti aplikasi Moxa.

 

Meskipun terbilang sangat baru, hadirnya Moxa ke tengah masyarakat menjadi solusi transformasi digital dalam pengembangan ekosistem jasa keuangan di Indonesia. Pada awal launching di bulan Maret 2021 hanya menaungi 7 brand afiliasi Astra Financial seperti :

  • FIF Group - Federal International Finance FIFASTRA, DANASTRA, SPEKTRA, AMITRA.
  • ACC - Astra Credit Companies
  • TAF - Toyota Astra Finance
  • SANF - Surya Astra Nusantara Finance
  • Asuransi Astra
  • Astra Life
  • AWDA - Astra WeLab Digital Astra ( Maucash )

Namun seiring perkembangan waktu, brand tersebut bertambah hingga puluhan. Saya sebagai nasabah Bank Permata dan pengguna Astra Pay sangat dimudahkan dengan aplikasi ini.


Segera Instal Moxa

Setelah mengetahui hal itu saya jadi penasaran lalu menginstal Moxa dari GooglePlay untuk mencoba berbagai fiturnya. Tersedianya layanan chat memudahkan kita dipandu oleh "Mona" sebagai asisten virtual untuk menjelajahi isi aplikasi ini. Untuk menggunakannya registrasi terlebih dahulu seperti aplikasi biasanya. Mulai dari memasukkan alamat e-mail, nomor ponsel, data diri, dan membuat PIN. Nantinya akan dikirimkan kode OTP ke nomor ponsel untuk verifikasi.

 

Kebutuhan saya kali ini adalah melakukan peminjaman dengan memilih menu Pinjaman Tunai. Di situ tersedia dua pilihan, yaitu dengan jaminan dan tanpa jaminan. Nantinya kita akan tersambung dengan layanan Maucash.

 

Limit pengajuan pinjaman tanpa jaminan tersedia hingga Rp 12.500.000. Syarat pengajuannya cukup mudah, yang penting ada E-KTP dan beberapa identitas pendukung. Tak perlu datang ke kantor dan menyiapkan fotokopi yang berlembar lembar. Hanya perlu smartphone dan koneksi internet saja kita bisa melakukan pinjaman atau bahkan beli mobil sambil rebahan di tempat tidur. Hal ini sangat penting sekali di masa pandemi ini yang mengharuskan kita membatasi kegiatan di luar dan bertemu orang-orang banyak.

 

Alasan Harus Instal Moxa

Moxa telah hadir ke tengah masyarakat sebagai solusi finansial. Daripada bingung dan ragu, inilah alasan kenapa kita sebaiknya memakai Moxa :

 

1. Wide Array Financial Selections :  

Moxa memiliki lebih dari 20 pilihan produk finansial, mulai dari Pembiayaan Mobil, Pembiayaan Motor, Asuransi Kesehatan, Asuransi Jiwa, Pembiayaan Alat Berat, Pinjaman Multiguna, Pembiayaan Perjalanan Umroh dan lainnya hanya dalam 1 aplikasi saja. Mudah dan praktis.

 

2. Friendly UX With Conversational UI

Dengan desain menggunakan pendekatan yang berfokus pada user-centric, Moxa menghasilkan sebuah User Experience yang sederhana, intuitif, dan mudah dipahami. Mereka memiliki UI Berbasis Percakapan yang memungkinkan aplikasi berinteraksi untuk menemukan apa yang anda inginkan melalui dialog interaktif.

 

3. Trusted Astra Brand  in One Ecosystem

Tidak seperti agregator finansial yang hanya mengumpulkan beragam produk dari perusahaan yang berbeda, Moxa bagian dari Astra Financial, dan semua produk yang ditawarkan membawa reputasi dari dari Astra yang sudah ternama sebagai salah satu bagian dari Unit Bisnis Astra Financial.

Fakta tentang Moxa

Bicara soal keamanan, aplikasi Moxa ini ternyata berkolaborasi dengan Alibaba Cloud yang menyediakan keamanan canggih dan sistem pemulihan yang terpercaya. Jadi sebagai pengguna, kita tak perlu khawatir, soalnya data akan dijamin aman. Bahkan sampai bulan September 2021 ini terhitung sedikitnya 4 juta kali di-download. Wahh, Sebuah capaian yang luar biasa dan menandakan bahwa aplikasi ini sangat dibutuhkan sekali oleh masyarakat.

Bertransaksi sambil rebahan.


Satu Pintu Untuk Semua

Di era digital ini sudah tidak relevan lagi yang namanya birokrasi sulit. Semua harus bisa dilakukan secara terintegrasi, apalagi berada di “keluarga” yang sama seperti Moxa ini. Ibaratnya kita gak perlu bolak-balik ke kantor untuk urus ini - itu kalo bisa dilakukan di satu pintu, alias one stop financial services. Kalau caranya seperti ini, kita gak bakalan ribet dan bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan lainnya. Selain itu juga bagi pemilik ponsel tak perlu bingung karena semua layanan finansial ada di satu aplikasi, jadi space memory bisa lebih hemat.

 

Dengan tampilan user interface yang artistik, serta fitur yang interaktif memudahkan penggunanya menjelajah aplikasi ini. Bahasanya pun mudah dipahami karena Moxa ini didesain beginner friendly.



Berbagai program dan kemudahan akan memanjakan penggunanya. Selain chat, juga ada fitur kalkulator simulasi pengajuan kredit yang sangat akurat, hingga pengecekan status pengajuan produk pinjaman. Ini sih seperti menghadirkan  karyawan Astra sebagai asisten pribadi :)


Dalam pengajuan pinjaman terkadang membutuhkan waktu yang lama untuk pencairannya. Namun melalui Moxa cukup hanya beberapa menit setelah disetujui oleh MauCash. Nantinya dana akan ditransfer ke rekening ataupun bisa diambil di Alfamart. Bagi yang menggeluti usaha atau sedang membutuhkan pinjaman dana darurat, langkah ini jadi opsi penting agar roda perekonomian terus berputar. Hal ini sejalan dengan visi Astra Financial, yaitu menjadi mitra keuangan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Diharapkan pula perekonomian Indonesia semakin tumbuh setelah sempat terpuruk akibat pandemi ini. Jadi, Moxa memang layak mendapat julukan Super App karena terintegrasi satu sama lainnya sehingga memudahkan kita untuk berbagai hal.

 

Mengetahui hal itu, istri pun mengecek seperti apa aplikasi Moxa dan tak sengaja melihat produk kategori Perjalanan Religi. Sambil melihat ke arahku dengan tatapan yakin.

“Mas, nanti kita nabung haji atau umroh ya lewat sini”.

“Iya, Insya Allah kalo dapet rejeki dari kerjaan ini” jawabku meyakinkan.

:)

Wisata Mangrove Tanjung Peni

Kota Cilegon memang tidak memiliki banyak tempat wisata alam, karena di sebagian besar wilayah perairannya telah dibangun pabrik. Namun untungnya di kota ini masih memiliki hutan mangrove alias bakau yang tak kalah indah dengan hutan bakau di wilayah Banten lainnya. Tanjung Peni namanya.

 

Sabtu pagi itu, saya Epil dan Lia menyambangi Tanjung Peni, soalnya mau ke Anyer udah terlalu sering dan lumayan jauh. Sedangkan ke Tanjung Peni paling 30 menit juga udah sampai dan gratis pula, gak kayak Anyer yang parkirnya mahal.

 

Untuk menuju ke sini aksesnya cukup mudah. Dari Cilegon kota masuklah melalui Kawasan Industri, dulu aksesnya bisa lewat sebelah PT. KHI, tapi sekarang udah ditutup lalu dialihkan melewati depan PT. Krakatau Osaka Steel. Setelah melewati pabrik tersebut nantinya jalan beton akan berakhir, lalu beloklah ke kiri melewati jalan tanah yang cukup panjang.

Akses ke Tanjung Peni Cilegon

Sebenernya mobil bisa lewat sini, tapi cukup beresiko karena jalannya tanah berpasir, sempit, dan kerap berpapasan dengan kendaraan besar. Jadi disarankan naik motor aja. Asiknya, selama perjalanan ini kita bakal nemuin beberapa tempat yang unik nan ikonik. Di sebelah kiri jalan kita akan menjumpai area berpasir yang cukup luas, mirip suasana Dubai pada tahun 1980 sebelum berjaya seperti saat ini.

Padang Pasir Cilegon

Nah, gak jauh dari situ kita akan melewati padang rumput tempat menggembala kerbau. Ya, mirip-miriplah sama Taman Nasional Baluran, cuma bedanya di sekelilingnya ada pabrik. Dari padang rumput, kita akan menjumpai tempat yang mirip gumuk pasir Parangkusumo Jogja, sebenernya tempat ini bisa juga dibuat sandboarding. Tapi sepertinya gak lama lagi bakal dibikin pabrik, soalnya udah dikasih patok bendera sebagai tanda.

Africa Van Cilegon

Pada dasarnya, Tanjung Peni bukanlah tempat wisata, melainkan kampung nelayan. Di sini fasilitas pendukungnya kurang memadai, dan tidak ada tulisan atau papan penunjuk arah, sehingga gak banyak orang yang tau. Sesampainya di Tanjung Peni, kita bisa parkir atau menitipkan kendaraan di warung. Jangan lupa beli jajanan buat bantu perekonomian mereka. Di situ kita bisa langsung nanya ke pemilik warung buat sewa perahu.

Tanjung Peni Cilegon

Untuk sewa perahu sebenernya mereka gak netapin tarif, justru menyerahkan pada kita mau bayarnya berapa. Cuma pas waktu itu saya mau kasih 50.000 tapi si bapak minta 100.000 untuk 3 orang. Cukup mahal sih kalo cuma rutenya di sekitar situ aja, dan sebentar. Tapi ya udahlah, itung-itung bantu rejeki saat pandemi.

 

Waktu yang tepat untuk menjelajah ke mangrove adalah pagi hari, karena air sedang pasang. Saya belum tau pasti luas mangrove di Tanjung Peni ini. Cuma bagi saya tempat ini cukup bagus untuk foto preweding, wildlife, ataupun aktivitas memancing. Start dari warung, perahu perlahan jalan masuk ke dalam hutan yang semakin menyempit, sebelum terjebak, si mamang perahu memutarkan perahunya dan berjalan mundur supaya bisa keluar dengan mudah. Beberapa kali perahu terhenti karena cadiknya tersangkut daun bakau di sampingnya.


Air dan angin pagi itu terlihat tenang, saya pun mencoba memberanikan diri menerbangkan drone dari atas perahu. Setelah sampai di atas, dari remote mengirimkan sinyal pertanda bahwa baterainya udah hampir habis dan otomatis bakal turun sendiri. Saya pun baru ingat kalo drone Dji Mavic mini gak punya fitur follow me, jadi drone-nya bakal mendarat tepat di titik di mana ia diterbangkan. Karena saat pengambilan gambar perahunya jalan, artinya dia bakal turun di atas air alias nyemplung. Sadar akan hal itu, saya pun panik dan langsung minta mamangnya untuk balik lagi menjemput drone yang lagi hovering di atas air. Syukurlah, masih bisa ditangkap sebelum tenggelam akibat kehabisan baterai.

 

Dari kejadian itu saya kapok dan gak mau gegabah lagi soal nerbangin drone di atas air, apalagi jam terbang saya masih sedikit. Untuk menenangkan diri, dari hutan mangrove, biar gak rugi, saya coba meminta mamangnya untuk mengantar ke daratan pantai yang ada di seberang. Sekilas dari kejauhan nampak seperti pulau berpasir putih, tapi ternyata ini masih daratan yang sama dengan Pulau Jawa, dan warna putihnya itu terbentuk dari pecahan karang yang telah mati.

Pantai Tanjung Peni Cilegon

Saat saya berada di sana, ada satu keluarga yang sedang berenang di pantainya. Airnya cukup tenang, nyaris tak ada ombak, karena sudah tertahan batu karang pembatas di tengah laut. Di sini memang gak ada fasilitas apa-apa, jadi kalo mau berenang ya bilasnya di rumah masing-masing. Begitupun saya saat itu lagi mules, jadi terpaksa boker di semak-semak. Untungnya ada botol air minum si mamang, trus ditambahinlah pakai air laut buat ceboknya. Yaa, lumayanlah, daripada cebok pake pasir :D

 

Secara kesimpulan, Tanjung Peni bisa dijadikan tempat wisata alternatif bagi warga Cilegon, kalo Anyer sedang macet, terutama bagi yang ingin wisata hutan mangrove. Tapi ya itu, jangan berharap lebih karena belum ada fasilitas apa-apa. Maka dari itu persiapkan diri, jangan buang sampah sembarangan. Semoga kehadiran hutan mangrove di Cilegon bisa terus bertahan dari kepungan pabrik yang semakin meluas dan menjadi hiburan murah-meriah bagi warga sekitar.

 

Wisata Mangrove Cilegon



Sebagai orang yang gemar mendaki gunung, tidur di dalam tenda sempit beralaskan matras tipis adalah hal yang biasa. Bahkan jika ada yang tidur beralaskan sleeping pad merk "Klymit" itu udah tergolong suatu hal yang mewah karena harganya tidak murah. Sebenernya, camping di gunung mengajarkan kita untuk hidup sederhana, menyatu dengan alam, mengindahkan kenyamanan untuk sementara waktu. Namun, semua itu bisa sirna akibat saat ini mulai dikenal dengan konsep Glamping alias Glamour Camping.

Tak ada salah dengan konsep tersebut, karena Glamping itu hadir bagi orang yang punya budget lebih tapi males untuk capek-capek naik gunung dan masang serta bongkar tenda. Pokoknya semua udah jadi, tinggal terima beres aja dan bisa tidur tanpa harus cari posisi wenak sambil nahan tulang ekor yang sakit karena kerasnya tanah.

Glamping sejauh yang saya tahu selama ini dari beberapa lokasi, menyediakan tenda berukuran besar dengan kasur super tebal, listrik, toilet, dan juga pendingin ruangan. That's it, gak perbedaan yang signifikan. Tapi,  semua kesan "biasa" itu musnah ketika saya beserta keluarga "tak sengaja" menginap di Sandat Glamping Tent di Ubud, Bali.
Sandat Glamping Tent
Suasana malam hari

Dibilang tak sengaja, karena kami gak tau gambaran apa-apa soal penginapannya, bahkan juga namanya. Hanya "clue" dari supir yang mengantarkan berupa penginapan Glamping di dekat sawah, dan saya pun belum sempat searching karena memang gak ada nama di itinerary-nya.

Memang benar, untuk menuju penginapannya melewati jalan yang cukup sempit dan hanya muat untuk 1 mobil karena kanan kirinya ada sawah. Bahkan ketika sudah sampai di lokasi, saya masih pesimis,

"Serius, ini tempat Glamping mewah itu ?"

Soalnya parkirannya cukup sempit, hanya muat sekitar 6 mobil Mitsubishi Xpander Cross, dan itu mepet banget.

Semua rasa pesimis itu mulai sedikit sirna saat saya mulai melewati lobby-nya. Meja resepsionisnya memang kecil karena konsep yang tradisional. Sebelum masuk pun kami diperiksa suhu tubuhnya dan disemprot handsrub untuk mengantisipasi penularan virus Corona.

Ruang yoga dan olahraga
Suasana yang asri mulai terasa di sini, berbagai tanaman dan pepohonan tersedia di setiap sudutnya. Bangunannya yang didominasi dengan kayu dan bambu ini memberi kesan sederhana namun mewah dalam segi desainnya. Siang itu saat check in, semua barang bawaan kami dibawakan oleh karyawannya. Ternyata, untuk menuju kamar, kita harus melewati hutan buatan, jalan berundak dan berliku. Pantas saja, barang bawaan kami dihimbau untuk dibawakan mereka.

Saat sampai di depan kamarnya, kami cukup tercengang karena konsepnya bagus banget. Ini sih bener-bener glamour camping namanya. Ylang-ylang nama kamarnya. Bangunan yang kita tempati memang terbuat dari bahan non permanen seperti kain untuk tenda namun lebih tebal dan lantainya terbuat dari kayu.


Sandat Private Pool

Asiknya lagi, tiap kamar ada private pool dan langsung menghadap ke hutan. Ketika memasuki kamar, kita langsung berpapasan dengan tempat tidur yang berbentuk lingkaran yang dikelilingi kelambu. Sebelah kanannya terdapat dua kursi santai, dan di seberangnya ada lukisan dan juga kulkas.


Kamar Mandi Sandat Glamping
Kamar mandi tipe kering


Bagian paling dalam, kamar mandi dan klosetnya tidak ada pintu pembatasnya, jadi kamar ini memang cocoknya sih buat bulan madu. Soalnya kalo nginep bareng temen cowok pasti bakal direkam pas mandi atau boker.

Secara keseluruhan sih, kamar yang kita tempati ini mengingatkan saya pada resort-resort ala safari di Afrika. Cuma kurang auman singa dan tongolan kepala jerapah aja.

Ada hal-hal unik yang bisa kita temukan di Sandat Glamping Tent :

1. Tidak ada Televisi.
TV sucks ! Memang benar. Buat liburan dengan suasana seperti ini, TV gak diperlukan, karena pemandangan udah jadi hiburannya.

2. Banyak nyamuk.
Adalah hal yang wajar saat berada di kebon atau di hutan bakal dikerumuni banyak nyamuk. Maka dari itu, tempat tidurnya disediakan kelambu dan ada petugas yang bakal menawarkan mau pakai lotion anti nyamuk apa obat nyamuk bakar.

3. Tidak ada telepon intercom.
Jadi, kalo mau manggil petugasnya untuk ke kamar, harus pake kentongan kayak di pos ronda. Seru banget, soalnya dulu pas masih kecil pernah mukul kentongan, abis itu didatengin warga :D

4. Bel berupa lonceng.
Memang listrik sangat diminimalkan di sini. Jadi, beberapa meter sebelum area yang kita tempati ada lonceng tergantung di pohon yang digunakan sebagai bel kamar. Petugas yang ingin masuk pasti akan membunyikan bel terlebih dahulu dan menanyakan pada kita apakah diperkenankan untuk masuk ke area atau nggak.


Berenang di Private pool

Bener-bener ya, Sandat Glamping ini memanjakan privasi tamunya. Hadirnya kolam renang pribadi berbentuk oval di depan kamar bisa bikin kita puas berenang tanpa canggung ketemu orang lain. Selain itu juga, konsep infinity pool-nya jadi poin plus untuk mendapatkan foto bagus tanpa bocor di mana-mana.

Untuk kedalamannya sih lumayan, saya yang tingginya 165 cm pun agak kaget karena batas airnya nyaris sampai leher. Ini sih, kayak ukuran untuk bule deh. Oh iya, airnya pun cukup dingin, jadi bakal kaget kalo pagi-pagi langsung nyemplung situ. Menurut saya, waktu terbaik untuk berenang adalah pukul 08.15, karena pada waktu tersebut, area teras dan kolam renang telah dibersihkan oleh petugasnya dari dedaunan dan ranting yang rontok.

Suasana hutan yang tenang dan hanya terdengar suara serangga bikin kita jadi rileks. Terlebih lagi di dekat kolamnya ada matras busa untuk rebahan. Buat bilasnya pun disediakan shower di pojokan sebelah kiri, bentuknya pun cukup unik karena dibuatkan instalasi dari bambu.
Sandat swimming pool


Pijat enakk...

Hari itu pas banget saya baru turun dari Gunung Batur. Setelah merileksasikan diri di kolam air panas Toya Devassya, kami langsung menuju penginapan untuk istirahat. Untungnya di Sandat terdapat fasilitas massage. Sore itu saya berjalan menuju tempat massage, di sana sudah tersedia 4 ranjang tanpa sekat dalam satu ruangan.

"Mas, pakaiannya dilepas semua ya, tinggal pakai CD aja" kata salah seorang mbak terapisnya.

"Tinggal pakai CD aja mbak ?" tanyaku meyakinkan.

Saya pun sempat bimbang dan berpikir sekian detik untuk memutuskan berani pakai CD doang di depan para wanita selain istri sendiri. Padahal saya udah pakai celana boxer, sengaja untuk pijat, tapi tetap disuruh lepas. Meskipun saya sering pijat, tapi baru kali ini pijat nyaris bugil, dan yang mijat juga wanita, bikin canggung aja.

Setelah melepaskan pakaian, salah seorang mbaknya yang masih muda mempersilahkan saya untuk tengkurap di ranjangnya. Saya pun masih kepikiran, kenapa mbaknya yang muda yang melayani, padahal di situ masih ada ibu-ibu. Duhh, semoga gak ada fasilitas ganti bolam deh, hahahaa...aaouuu... :p

Tak terasa, setelah sejam lebih dipijat, saya jadi terbangun dari tidur karena nyaman dengan pijatannya gak sakit. Denny Sumargo yang ada di sebelah kiri saya pun juga tertidur, begitu juga Manda yang berada paling ujung.


Makan malam romantis.

Dari kamar menuju tempat makannya harus melewati hutan yang berliku. Memang sih agak gelap dan sunyi, tapi tenang aja, sepanjang jalurnya dikasih penerangan berupa lampu minyak kok. Jadi, masing-masing kamar punya jalurnya sendiri-sendiri untuk menuju tempat makannya.

Dengan didominasi lampu berwarna kuning kecoklatan, seolah menyatukan ambience dengan bangunannya. Konsepnya yang semi outdoor membuat tempat tersebut tak perlu pendingin ruangan karena angin semilir yang hilir mudik.

Salah satu hal yang unik dari tempat ini adalah adanya instalasi seni berupa banyak cermin dari berbagai bentuk dan ukuran. Lantainya yang licin dan bersih pun sepertinya bisa sekali dipakai untuk nongkrong atau tiduran di situ.




Di sini terdapat dua area, yang pertama berupa meja panjang dan yang satu berupa sofa. Meja panjang digunakan untuk makan bersama, sedangkan yang sofa biasanya untuk nongkrong sambil ngerokok.


Menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari tradisional Bali hingga western. Bayangan saya bakalan lama penyajiannya karena temen-temen yang lain memesan menu-menu yang berbeda, ternyata diluar dugaan, cukup cepat rupanya.

Keseruan malam itu diisi dengan berbagai cerita pengalaman hidupnya Densu, mulai dari keluarga, percintaan, gosip, pekerjaan, hingga ngomongin pengalaman spiritualnya yang sulit diterima akal sehat.


Sandat Glamping Tent
Kamar tipe Lumbung

Saya pun baru tau kalo Densu dan timnya menginap di Lumbung. Jadi, di Sandat ini ada dua tipe kamarnya, yaitu tenda dan lumbung. Untuk Lumbung sendiri, dinamakan demikian karena bentuknya seperti lumbung padi tradisional. Di kamar ini bisa muat banyak orang, tapi bagian bawahnya nggak terdapat AC, cuma lantai 2 nya aja. Sedangkan kolam renangnya lebih besar karena digunakan bersama-sama dengan penghuni kamar yang lainnya.

Ada satu lagi hal menarik. Jadi ternyata kamar mandinya ini agak terbuka. Saat Densu naik ke lantai 2, gak sengaja liat manajernya lagi mandi.

"Waduhh, nyesel gw, abis itu gw langsung wudhu biar gak kepikiran terus, hahaha" canda Densu.

Malam semakin larut, bangunannya yang terbuka membuat nyamuk leluasa mencari mangsanya. Aroma obat nyamuk bakar yang cukup mengganggu pernapasan saya sepertinya kurang nampol itu nyamuk-nyamuk nakal. Walhasil saya seringkali menggaruk kaki sampai kulit saya bisa buat nulis.

Saking keasikannya, waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WITA, saya pun menyudahi perbincangan malam itu, dan yang lainnya akhirnya pada bubar juga. Mereka baru sadar kalo nanti jam 02.00 harus bangun untuk mendaki Gunung Batur.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, suasana di Sandat Glamping Tent ini natural banget, suara serangga khas hutan tropis saling bersahutan saat malam hari. Selama 3 hari 2 malam itu memang dibuat privat hanya untuk rombongan kami. Cahaya bintang pun cukup jelas terlihat di balik rimbunnya hutan. Gak salah banget kalo tempat ini dijuluki Five Billion Stars Resort. Petualangannya dapet, mewahnya juga dapet.


Sandat Glamping Tents


Jl. Subak Sala Banjar Sala Pejeng Kawan 
Ubud Gianyar, Bali 80552
www.glampingsandat.com


Mencoba helm paling ringan di dunia.

Pandemi Covid 19 membuat semua kebiasaan berubah. Diantara perubahan ini ternyata membuat suatu tren baru yang saat ini menjadi gaya hidup, yaitu bersepeda. Orang-orang kini mulai sibuk membeli sepeda dan perlengkapannya untuk menunjang aktivitasnya.

Salah satu yang krusial dalam membeli perlengkapan bersepeda adalah helm, karena helm merupakan perangkat keselamatan yang wajib. Selama ini saya bosen liat desain helm sepeda yang gitu-gitu aja. Suatu ketika saya iseng cari helm di Shopee dan menemukan helm sepeda Snapback.

 

Apa itu Helm Snapback ?

Jadi helm ini bentuknya seperti topi, lebih tepatnya gabungan topi dengan helm. Ada lidah di depannya untuk melindungi mata agar tidak silau terkena sinar matahari.

Helm Sepeda Paling Ringan di Dunia


Gimana cara dapetinnya ?

Untuk mendapatkan helm ini saya beli di Shopee dengan search 902Lab (https://shopee.co.id/902lab.id). Setelah saya baca, ternyata barangnya dikirim langsung dari Korea. Wiww…mantapp. Di situ ada beberapa pilihan desain, lalu saya pilih yang yang Carbon black HS10-CB, soalnya topinya bisa dilepas, jadi bisa multifungsi dong.

Waktu hari Minggu lalu, saya sengaja pakai helm ini untuk bersepeda dengan komunitas.  Beberapa teman saya bahkan gak menyangka kalau yang saya pakai ini adalah helm, bukan sekadar topi. Helm sepeda Korea unik ini sempet jadi bahan omongan, dan mereka penasaran akhirnya cobain satu persatu untuk pakai helm tersebut.


Beli helm sepeda di Shopee.
Kelengkapan helm snapback Libelle.

 

Bicycle Helmet KC Certification

Bicara keselamatan, helm sepeda ini ber-sertifikasi keamanan Korea (KC), jadi gak perlu ragu lagi untuk dipakai bersepeda. Uniknya lagi, helm ini juga cocok untuk digunakan main skateboard. Gak cuma buat gaya, tapi bisa mengamankan kepala juga dong.

Struktur dalam cetakannya terdapat PC Shell dan busa EPS yang berpadu erat. Untuk ukuran terdapat 3 pilihan yaitu :

S 49~53

M 54~57

L 58~61

Untuk mengukurnya melalui lingkar dahi. Saya sendiri beli yang ukuran M, dan strapnya adjustable alias bisa diatur.  Bagi wanita yang rambutnya diikat juga gak perlu khawatir, soalnya bagian belakangnya terdapat lengkungan berbentuk setengah lingkaran supaya bisa tetap masuk.

Helm snapback impor dari Korea.

Desain dan Fisik

Dengan desain yang fashionable bikin kita yang pakai berasa jadi bintang film Korea, hehehe…. Oh iya, sebenernya asik juga tuh bikin konsep foto ala Drama Korea pakai properti helm ini. Soalnya di Korea banyak banget yang pakai helm ini.

Desain yang inovatif begini bikin mudah dipadupadankan dengan topi, soalnya tinggal langsung pakai aja di atas topi, tanpa ada yang mengganjal. Untuk warna terdapat beberapa varian, tergantung tipenya.  Kalo yang saya pilih ini ada 2 warna, hitam dan putih, lalu bisa pilih yang polos dan juga yang ada patternnya.

 

Pada bagian luarnya ada lapisan antigoresnya yang doff, jadi gak mantul jika terkena cahaya matahari.  Saat pakai helm pun rasanya kayak pakai topi biasa. Kepala gak gampang capek. Ya iyalah wajar, soalnya ini merupakan helm paling ringan di dunia. Beratnya aja cuma 140 gram.

Wuahh…pagi itu main sepeda tampak lebih pede aja dari biasanya, soalnya pakai helm yang keren dan unik. Jadi lebih aman dan gak khawatir lagi terkena sinar UV saat beraktivitas di luar. Berasa lagi muter-muter Kota Seoul.

 

Annyonghaseo…

 

902lab Bicycle stylish fashion helmet.

 

 

 

“Bro, lo kenapa milih gunung daripada pantai ?” tanya Densu pada saya.

“Soalnya, di pantai panas, takut item (lebih item), mendingan gunung adem, hahaha” jawab saya realistis.

“Sebenernya, gw lebih cenderung ke pantai daripada gunung, soalnya gunung capek banget, pengen yang santai-santai aja. Ehh, apa karena gw kalah ganteng ya dari Nicholas Saputra, makanya disuruhnya ke Tim Gunung ? hahahaaa” timpal Densu.

Faktor udara yang sejuk dan ketenangan di atas sana adalah salah dua alasan saya memilih gunung ketimbang eksplorasi di pantai. Terlebih lagi saya udah 2 tahun lebih gak menginjakkan kaki di gunung pasca menikah. Semua difokuskan ke keluarga terlebih dahulu. Sebenernya pengen banget naik gunung bareng anak dan istri, cuma berhubung Saga masih 8 bulan. Sangat beresiko untuk diajak naik gunung, lagipula sepertinya belum ada tas carrier yang pas untuk gendong bayi seukuran Saga.

Puncak Gunung Batur

Gunung Batur adalah gunung di Bali pertama yang saya daki, dari dulu pengen banget meskipun bukan jadi gunung prioritas untuk didaki. Alhamdulillah kali ini kesampaian mendaki bersama Denny Sumargo dan tim Mitsubishi.

Tujuan utama dari pendakian ini adalah melihat sunrise dari puncaknya. Jadi pukul 02.00 sudah harus berangkat dari hotel menuju basecamp di kaki gunungnya. Malam itu kami menuju basecamp menaiki Xpander Cross melewati jalur yang meliuk-liuk. Di basecampnya ini kita bisa memesan mie instan untuk sekadar mengisi perut sebelum pendakian. Bagi yang ingin berurusan dengan kamar kecil harap menyiapkan uang lebih banyak, karena tarifnya Rp 5.000 sekali pakai.

Untungnya udara di sini tidak terlalu dingin, mungkin sekitar 24 derajat. Jadi saya gak perlu memakai jaket karena nanti saat jalan bakal kepanasan. Sekitar pukul 03.30, anggota tim sudah siap dan membawa senternya masing-masing. 

Gunung Batur merupakan gunung yang ramah bagi para pendaki, kalau di Jawa tingkat kesulitannya mirip Gn. Andong. Jalurnya cukup lebar seperti di Ijen dan sangat jelas meskipun ada percabangan. Ada beberapa jalur pendakian. Namun kami mendaki dari bawah melewati rumah-rumah warga, ladang, dan juga Pura.

Sebenarnya si Densu bawa sepatu trekking untuk mendaki, cuma dia pikir-pikir lagi dengan jalurnya yang mudah, cukup pakai sepatu Vans aja, soalnya sepatu TNF nya takut kotor. Yaelah…

Waktu tempuh normal untuk sampai puncak adalah 2 jam. Dalam tim pendakian ini tidak semuanya memiliki background pendaki gunung, jadi ritme langkahnya agak lama. Saat sampai di Pos 1 yang ada warungnya, kami terpecah jadi 2 tim karena yang sebagian gak sanggup untuk melanjutkan perjalanan. 

Densu pun mempertanyakan kesanggupan kami, kalo saya sih jelas masih sanggup. Sempat juga ada opsi dari videografernya untuk pindah destinasi yang lebih gampang untuk liat sunrise, tapi saya langsung menolaknya karena udah sampai sini, nanggung banget. Akhirnya diputuskan yang masih kuat, lanjut sampai atas.

Dalam perjalanan ke atas, terdengar deru motor trail yang semakin mendekat dari kegelapan. Sudah kuduga, jalur ini pasti sering dilewati motor, soalnya terdapat cekungan bekas hempasan bannya. Inilah hal yang paling menyebalkan ketika mendaki gunung, udah capek-capek jalan nanjak, ehh ada motor lewat.



Naik motor ke gunung batur
Pos batas sepeda motor.

Untuk menumpang sepeda motor sampai atas dikenakan tarif sekitar Rp 350.000 bagi bule, mungkin bagi WNI Rp 150.000. Tarif itu untuk naiknya saja, kalo turun ada biaya tambahan namun lebih murah.

Semburat cahaya jingga perlahan mulai menampakkan kilaunya sebelum Pos 2 yang merupakan area terbuka. Di sini kita bisa melihat indahnya Danau Batur dan Gunung Abang di seberangnya. Jika mata jeli, terlihat juga siluet Gunung Agung yang seolah olah mengintip di balik Gn. Abang. Begitu pula Gunung Rinjani dari kejauhan.


Danau Batur dan Gunung Abang
Danau Batur dan Gunung Abang.

Di pos inilah tim memutuskan untuk menyudahi pendakiannya karena sesuai targetnya melihat sunrise meskipun tidak sampai puncak. Kondisi fisik anggota yang lain juga tidak memungkinkan untuk ke puncak karena kalau dipaksakan nanti kesiangan.

Karena sudah kepalang tanggung sampai sini, saya pun bertekad untuk melanjutkan perjalanan sampai puncak. Meskipun ini baru pertama kali mendaki Gn. Batur, saya sudah memperkirakan estimasi waktu tempuh sampai puncak jika saya yang mendaki sendirian. Akhirnya anggota tim yang lain setuju dan menyuruh salah satu guidenya menemani saya ke puncak.

Trek bebatuan gunung batur

“Madeee…” panggil saya pada guidenya.

Seketika aja beberapa orang di sana menoleh.

Saya itu bingung kalau kenalan sama orang Bali. Yang ini Made yang itu Made, yang ini Wayan dan yang itu juga Wayan. Jadi kalau mau manggil nama orangnya di tempat umum, mendingan dibisikin aja biar yang lain pada nggak nengok. Lha…lu kate Limbad pake bisik-bisik.

Made yang menemani saya ke puncak masih berusia 19 tahun, tapi dia udah nikah dan mau punya anak lho…hebat kali. Saya mikir sebentar, kalo usianya 19 tahun berarti dia lahir tahun 2001 dong. Hihihi…berasa kayak bayar gorengan :p

Berhubung yang naik kita berdua, jadi waktu tempuhnya lebih cepat karena mudah menyesuaikan ritmenya dan bisa diprediksi jam berapa sampai bawah lagi. 

Semakin ke atas, pohon semakin jarang, yang ada hanya semak-semak dan rerumputan. Sampai ketika kita akan menjumpai pos terakhir sebelum sampai puncak. Di sinilah batas motor bisa naik, karena setelahnya akan melewati jalur bebatuan yang cukup terjal.

Jalur Punggungan Gunung Batur

Sesampainya di puncak, jalur berubah jadi sempit karena berupa punggungan dan bibir kawah. Seminggu yang lalu ada seorang pendaki yang tewas karena tertidur dan jatuh ke dalam kawah. Jadi jangan sampai lengah gara-gara terlena akan pemandangan yang indah.


Warung di Puncak Gunung Batur

Di puncak Gunung Batur terdapat beberapa bangunan non permanen yang bisa digunakan untuk berteduh. Berbeda dengan Gn. Andong, Gunung Batur nggak ada yang camping di puncaknya, entah gak boleh atau apa. Yang jelas di sini pada tektok semua untuk melihat sunrise dan langsung turun lagi pagi itu juga. Selain itu juga area yang sempit menyulitkan untuk mendirikan tenda.

Suasana di Puncak Gunung Batur

Saya pikir hari ini akan sangat sepi dari pendaki, ternyata di atas sudah cukup banyak pendaki yang didominasi oleh turis asing. Saya yang berada di sini malah terasa seperti di negara orang. Namun untuk kebersihannya ini layak dapat acungan jempol, karena gak sekotor gunung-gunung populer lainnya.

Oh iya, hati-hati juga bila membawa makanan. Di sini kawanan monyetnya cukup agresif kalo denger kresek-kresek bungkus makanan. Bahkan sang rajanya bisa lari kencang dari jarak yang cukup jauh untuk merebut makanan. Beberapa kali saya dibuat kaget dan latah karena tiba-tiba mereka ada di samping berusaha membuka tas.

Macaca Fasciscularis

“Monyet lu pada” maki saya pada kawanan mereka.

Untung aja mereka gak jawab,

“Emang iya, pweeekkk :p"

Saya baru tau kalo Gunung Batur memiliki kaldera yang sangat luas seperti Bromo. Ternyata perbukitan yang saya lewati saat menaiki mobil adalah bagian dari kalderanya. Bila memantau dari puncak ke arah barat daya, kita bisa melihat bekas lelehan lava yang berwarna hitam dan membatu. Area tersebut mirip sekali dengan Anak Gunung Krakatau yang memuntahkan material dan membentuk lahan baru. Di sebelah tenggaranya terdapat Danau Batur. Danau itu terbentuk akibat letusan Gunung Batur. Kebayang ya gimana dahsyatnya saat itu hingga kini terbentuk kaldera dan danau yang cukup luas.


Kawah Gunung Batur
Sauna di Gunung Batur
Siapa yang bakar sampah di sini ya ?

Hal unik lainnya yaitu adanya uap panas yang keluar dari dinding kawah. Dari kejauhan saya melihat orang-orang bule itu takjub pada asap yang keluar dari dalam tanah, mereka pun foto-foto di dalam cerukannya. Dalam hati saya berkata, 

"Dasar ndeso".

Gak lama kemudian saya pun ikutan foto di dalam cerukannya itu, dan ternyata anget, hahahaaa....

Menurut orang sekitar, agar asapnya bertambah tebal caranya adalah "dipancing" menggunakan rokok atau dupa yang menyala dan ditiup ke dalam lubangnya. Ternyata cukup efektif juga sih. 

Pemandangan Kaldera Gunung Batur

Gunung Batur sendiri adalah gunung berapi yang memiliki ketinggian 1717 mdpl. Area punggungannya bisa dibilang berbentuk bulan sabit karena terputus pada bagian lain akibat letusan. Sayangnya karena keterbatasan waktu, saya gak sempat ekplorasi semuanya, jadi pagi itu saya harus turun dan bergabung dengan anggota tim lainnya.

Di tengah perjalanan turun, saya kebelet pengen pipis. Saya pun menanyakan hal itu pada Made, takutnya ada larangan untuk pipis di sini. Setelah mendapatkan tempat yang aman, saya pipis di semak-semak sambil clingak-clinguk takut ada monyet yang narik dikira itu pisang.

Akhirnya tepat sesuai perkiraan, pada pukul 07.30 saya sampai di pos 2 dan bergabung dengan yang lainnya. Destinasi selanjutnya adalah berendam air hangat di Toya Devasyya, wuaahh...pas banget ini abis pegel turun gunung langsung berendam.

Dalam bahasa Banten dan Sunda, "Batur" artinya teman atau sahabat. Sedangkan dalam bahasa Jawa artinya pembantu. Entahlah jika dalam bahasa Bali artinya apa, mungkin sama juga dengan teman (saya belum nemu artinya). Namun jika dikorelasikan dengan perjalanan ini, menurut saya Gunung Batur adalah gunung yang bersahabat sekali untuk pemula dan sangat membantu jika ingin belajar di alam. Jadi sangat direkomendasikan untuk mendaki gunung ini, tentunya dengan persiapan yang baik yaa.


Mitsubishi Xpander Cross

Akhirnya kesampaian juga mendaki salah satu gunung di Bali, jadi nambah deh ceklist gunung-gunung di Indonesia. Terima kasih Mitsubishi yang telah mendukung penuh pendakian ini dan menjadi bagian #TimGunung.

#XpandYourAdventure