[Review] Sensasi Mencium Lutut di Hotel Bayview Garden Labuan Bajo

/ February 19, 2019

Seorang bapak yang membawa kertas bertuliskan nama rombongan sudah siap menunggu kami di pintu keluar bandara. Senyum yang lebar dan sapaan selamat siang ramah dengan aksen Indonesia timur yang khas meyakinkan saya kalau memang sudah berada di tanah Flores.

Dia bergegas memasukkan barang-barang kami ke dalam bagasi. Perjalanan dari Bandara Komodo ke Hotel Bayview Garden hanya membutuhkan waktu 7 menit saja.
Lobby hotel yang hanya "seuprit" memang kurang meyakinkan, karena dari bawah tidak begitu terlihat kamar hotelnya.

Untuk menuju kamar, saya masih harus menarik koper melewati jalan berbatu dengan jalur yang memutar dan cukup jauh. Ternyata hotel ini memanfaatkan lereng bukit dan dijadikan berundak-undak mirip di Santorini.

 

Cukup lelah juga perjalanan dari bawah menuju kamar yang letaknya di atas, bagaimana kalau ada yang tertinggal, mau nggak mau harus naik turun. Sebenernya untuk menuju kamar, tersedia dua pilihan jalur, yang landai tapi jauh atau yang dekat tapi terjal menaiki anak tangga. Sebuah pilihan yang sulit, karena di sini memang nggak tersedia elevator.

Setiap kamar memiliki fasilitas dan interior yang berbeda. Saya menempati kamar No. 7 bersama Ernest yang dari Kupang. Balkonnya cukup luas, tapi sayangnya pemandangan ke arah laut tertutup tanaman dan juga krei bambu. Ada bed / dipan panjang dan juga meja untuk bersantai sambil tiduran. Hal itu mengingatkan saya pada Babeh Sabeni di film Si Doel yang suka tiduran di luar.



 


Hotel ini cukup ramah lingkungan juga karena disediakan air mineral galon. Jadi kita bisa mengisi ulang air minum di botol ataupun membuat teh / kopi menggunakan pemanas air.
Ada satu hal yang unik. Di pojokan balkon disediakan obat nyamuk bakar, karena saat itu, Labuan Bajo memang sedang dilanda wabah demam berdarah. Kalo nyium aroma obat nyamuk bakar begini, berasa lagi begadang di pos ronda sambil main gaple.



Interior di dalam kamar yang saya tempati biasa saja. Di sini tersedia 1 kasur besar dan 1 kasur kecil, jadi bisa dipakai untuk 3 orang. Selain itu juga ada kulkas kecil dan deposit box. Uniknya lagi di sini tidak terdapat televisi. Tapi masuk akal juga sih, karena tujuan kita ke Labuan Bajo ingin eksplorasi dan di hotel hanya untuk istirahat atau menikmati pemandangan yang ada.

Suasana di luar
Suasana dari dalam

Di kamar no. 5 yang ditempati Ade dan Kama lebih bagus lagi, meskipun dari luar terlihat hanya seperti ruangan petugas resto, karena lokasinya tepat berada di tempat makan.
Dari tempat sarapan ini kita bisa melihat aktivitas pelabuhan dan juga matahari terbenam tanpa terhalang tanaman.

Balkon di dalamnya tidak terlalu luas, tapi interiornya lebih bagus, dengan dominasi kayu dan bambu pada dinding, lantai, dan langit-langit.



Bagian tengahnya pun terdapat kasur panjang yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan. Kalau dilihat sekilas yaa mirip di luar negeri gitu, karena banyak terlihat kapal layar.


Toilet di kamar ini pun bagus interiornya dan air panas bisa berfungsi dengan baik, tidak seperti di kamar no. 7.

 


Untuk makan malam berada di dekat kolam renang, jadi habis makan tinggal langsung nyemplung, bagi yang minat.

Makan malam yang disajikan enak banget, tapi sayangnya saya sedikit terganggu karena ada anjing besar yang suka mondar-mandir di kolong. Tapi anak anjingnya sih nggak masalah soalnya lucu.

 


Menu sarapan di sini hanya roti gandum, telor orek atau mata sapi, pie pisang, dan juga buah-buahan ala bule. Bagi yang perutnya nggak cocok mungkin 1 jam bakal laper lagi karena emang nggak pakai nasi.

Secara keseluruhan sebenarnya hotel Bayview Garden ini bagus, pegawainya pun ramah-ramah. Cuma memang lahannya kecil, jadi nggak ada tempat untuk parkir. Dan yang jadi masalah bagi yang tidak suka olahraga
adalah kita harus mengeluarkan tenaga ekstra dari bawah (jalan raya) untuk ke kamar yang posisinya di atas. Udah seperti naik gunung aja karena harus melewati beberapa "pos". Selain itu juga, jalur tangga yang terjal itu sama seperti jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu. Jadi lutut akan ketemu hidung, dan dipastikan bakal ngos-ngosan sedikit berkeringat.

Selamat mendaki Bayview Garden.


Seorang bapak yang membawa kertas bertuliskan nama rombongan sudah siap menunggu kami di pintu keluar bandara. Senyum yang lebar dan sapaan selamat siang ramah dengan aksen Indonesia timur yang khas meyakinkan saya kalau memang sudah berada di tanah Flores.

Dia bergegas memasukkan barang-barang kami ke dalam bagasi. Perjalanan dari Bandara Komodo ke Hotel Bayview Garden hanya membutuhkan waktu 7 menit saja.
Lobby hotel yang hanya "seuprit" memang kurang meyakinkan, karena dari bawah tidak begitu terlihat kamar hotelnya.

Untuk menuju kamar, saya masih harus menarik koper melewati jalan berbatu dengan jalur yang memutar dan cukup jauh. Ternyata hotel ini memanfaatkan lereng bukit dan dijadikan berundak-undak mirip di Santorini.

 

Cukup lelah juga perjalanan dari bawah menuju kamar yang letaknya di atas, bagaimana kalau ada yang tertinggal, mau nggak mau harus naik turun. Sebenernya untuk menuju kamar, tersedia dua pilihan jalur, yang landai tapi jauh atau yang dekat tapi terjal menaiki anak tangga. Sebuah pilihan yang sulit, karena di sini memang nggak tersedia elevator.

Setiap kamar memiliki fasilitas dan interior yang berbeda. Saya menempati kamar No. 7 bersama Ernest yang dari Kupang. Balkonnya cukup luas, tapi sayangnya pemandangan ke arah laut tertutup tanaman dan juga krei bambu. Ada bed / dipan panjang dan juga meja untuk bersantai sambil tiduran. Hal itu mengingatkan saya pada Babeh Sabeni di film Si Doel yang suka tiduran di luar.



 


Hotel ini cukup ramah lingkungan juga karena disediakan air mineral galon. Jadi kita bisa mengisi ulang air minum di botol ataupun membuat teh / kopi menggunakan pemanas air.
Ada satu hal yang unik. Di pojokan balkon disediakan obat nyamuk bakar, karena saat itu, Labuan Bajo memang sedang dilanda wabah demam berdarah. Kalo nyium aroma obat nyamuk bakar begini, berasa lagi begadang di pos ronda sambil main gaple.



Interior di dalam kamar yang saya tempati biasa saja. Di sini tersedia 1 kasur besar dan 1 kasur kecil, jadi bisa dipakai untuk 3 orang. Selain itu juga ada kulkas kecil dan deposit box. Uniknya lagi di sini tidak terdapat televisi. Tapi masuk akal juga sih, karena tujuan kita ke Labuan Bajo ingin eksplorasi dan di hotel hanya untuk istirahat atau menikmati pemandangan yang ada.

Suasana di luar
Suasana dari dalam

Di kamar no. 5 yang ditempati Ade dan Kama lebih bagus lagi, meskipun dari luar terlihat hanya seperti ruangan petugas resto, karena lokasinya tepat berada di tempat makan.
Dari tempat sarapan ini kita bisa melihat aktivitas pelabuhan dan juga matahari terbenam tanpa terhalang tanaman.

Balkon di dalamnya tidak terlalu luas, tapi interiornya lebih bagus, dengan dominasi kayu dan bambu pada dinding, lantai, dan langit-langit.



Bagian tengahnya pun terdapat kasur panjang yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati pemandangan. Kalau dilihat sekilas yaa mirip di luar negeri gitu, karena banyak terlihat kapal layar.


Toilet di kamar ini pun bagus interiornya dan air panas bisa berfungsi dengan baik, tidak seperti di kamar no. 7.

 


Untuk makan malam berada di dekat kolam renang, jadi habis makan tinggal langsung nyemplung, bagi yang minat.

Makan malam yang disajikan enak banget, tapi sayangnya saya sedikit terganggu karena ada anjing besar yang suka mondar-mandir di kolong. Tapi anak anjingnya sih nggak masalah soalnya lucu.

 


Menu sarapan di sini hanya roti gandum, telor orek atau mata sapi, pie pisang, dan juga buah-buahan ala bule. Bagi yang perutnya nggak cocok mungkin 1 jam bakal laper lagi karena emang nggak pakai nasi.

Secara keseluruhan sebenarnya hotel Bayview Garden ini bagus, pegawainya pun ramah-ramah. Cuma memang lahannya kecil, jadi nggak ada tempat untuk parkir. Dan yang jadi masalah bagi yang tidak suka olahraga
adalah kita harus mengeluarkan tenaga ekstra dari bawah (jalan raya) untuk ke kamar yang posisinya di atas. Udah seperti naik gunung aja karena harus melewati beberapa "pos". Selain itu juga, jalur tangga yang terjal itu sama seperti jalur Cemoro Sewu Gunung Lawu. Jadi lutut akan ketemu hidung, dan dipastikan bakal ngos-ngosan sedikit berkeringat.

Selamat mendaki Bayview Garden.

Continue Reading
Tak ada yang menjadi pelipur lara hari itu selain terpilihnya saya untuk ikut trip ke Labuan Bajo. Pada trip ini saya tergabung sebagai Pasukan CLBK (Cinta Lingkungan Bersih Kinclong) bersama Journesia dan juga Teman Rakyat. Dari temanya saja saya sangat tertarik, karena selama ini saya membutuhkan wadah dan dukungan dari orang banyak untuk kampanye masalah lingkungan, demi menyadarkan para masyarakat. Paling tidak lingkungan terdekat sendiri.
 
Hari itu saya masih sangat kecewa karena kedua kalinya ditolak visa Inggris, namun kini bisa sedikit tersenyum sambil membayangkan indahnya pantai dan pulau di Labuan Bajo, serta menggemaskannya para komodo (((menggemaskan))).

Perjalanan ini bukan perjalanan biasa, karena kita semua punya misi untuk kampanye hidup ramah lingkungan dan mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari. Jadi, dari hari pertama hingga akhir, semua sampah pribadi (non organik) yang dihasilkan akan dikumpulkan untuk dianalisa, karena sebisa mungkin mengurangi sampah plastik. Untuk mendukung hal itu, semua peserta dibekali dengan tas kain, sedotan stainless steel, botol minum, dan juga kain untuk sapu tangan yang bisa dipakai berulang kali.

"Alat Perang" terhadap sampah plastik
Waktu keberangkatan pun tiba. Setelah bergabung dengan peserta lain, kami bergegas masuk pesawat. Gambaran bandara berisi binatang komodo yang siap menyambut kami sirna begitu saja setelah sadar kalau Bandara Komodo hanya sekedar nama saja, karena komodo habitatnya ada di Pulau Komodo dan Rinca.

Hhhmmmm
....ini gara-gara Kak Seto.




Senang rasanya bisa menginjakkan kaki di tanah Flores untuk kali pertama. Ini adalah pulau paling timur Indonesia yang pernah saya singgahi. 

Setelah menyelesaikan urusan di bandara, kami menuju hotel Bayview Garden yang letaknya hanya 7 menit dari bandara. Saat masuk ke kamar untuk beristirahat, ternyata di dalam sudah ada Ernest, salah satu peserta dari Kupang yang sudah sampai duluan dan dia jadi teman sekamar selama perjalanan ini.

Kesan orang Indonesia timur yang galak, sirna begitu saja setelah saya berkenalan dengannya sambil disodorkan Oreo Ice Cream rasa blueberry. Di sini kami ngobrol panjang lebar, terutama soal kisahnya yang resign dari pekerjaannya sebagai pegawai bank dan memilih hidup dari laut. Dari situlah saya semakin penasaran dan suatu saat pasti akan mengunjungi Kupang, Sumba, dan Indonesia bagian timur lainnya.

Senja di hari pertama masih malu-malu untuk keluar, karena memang bulan ini bukanlah musim terbaik untuk berlayar. Saya masih berharap besok dan seterusnya akan cerah dan gelombang lebih bersahabat.

Makan malam hari ini, kita makan sama anjing. Iya anjing ! Bukan makan daging anjing, tapi makan malam bareng anjing yang minta makanan dari kita. Agak nggak nyaman bagi saya, karena si anjing yang besar suka bolak-balik masuk kolong. Makanya itu saya makan malam dengan pisuhan...

Asu !
Su...
Dasar uasuuu !


Setelah makan malam, dilanjutkan dengan perkenalan semua peserta. Sempat pesimis akan nggak cocok dengan yang lainnya, tapi ternyata semuanya asik-asik. Dan yang pasti, saya nggak perlu khawatir soal sampah, karena semuanya sudah pasti sadar akan tanggungjawabnya terhadap sampah, makanya itu kita bisa berkumpul di sini.

Ada Ernest dari Kupang yang toketnya bisa gerak-gerak, si Dea dari Planet Bekasi yang cablak tapi rame, Oki yang berpenampilan gembel ala seniman, Aam yang pelor dari Kendari. Khusus untuk Aam, saya agak kurang paham dengannya, soalnya dia masih campur menggunakan nada dan istilah bahasa daerahnya yang masih asing di telinga saya. Tapi kadang lucu juga sih cara bicaranya. 

Poto dulu pi...

Hahh ?! Pipi mimi maksud lo ?

 
Selain itu juga di tim Journesia ada mas Ade temennya Uki Wardoyo dan Kama yang vegetarian, Putra dari Teman Rakyat yang lihai tusuk menusuk alias atlet anggar, Feri sang videografer kinclong, dan juga Ratu Vashti, Miss Earth 2018 yang jebul uwong Banten.

Hari ke-2
Destinasi hari ini semua berada di Pulau Flores, jadi mengeksplorasi menggunakan minibus. Sepanjang perjalanan selalu diisi gelak tawa Dea, dan diiringi lagu-lagu Petualangan Sherina. Tak terasa sudah sampai di destinasi pertama yaitu air terjun Cunca Wulang, kemudian dilanjutkan menyeberang menggunakan perahu ke Goa Rangko. Di pantainya kita beraktivitas memungut sampah yang tersebar, lalu dilanjutkan berenang di dalam goanya. Awalnya sempat ragu, karena sudah terlalu sore untuk menuju destinasi terakhir yaitu Amelia Sunset View. Tapi untungnya si supir punya jalan pintas dan bisa sampai lokasi sebelum gelap.


Cunca Wulang
Goa Rangko
Amelia View Sunset
Mediterraneo

Meskipun begitu, saat sampai lokasi, cahaya matahari yang diharapkan tidak keluar karena mendung. Tapi ya sudahlah, yang penting bisa menyelesaikan destinasi yang ada untuk hari ini dan ditutup dengan makan malam di Mediterraneo resto.

Hari ke-3
Waktunya untuk Live On Board atau tinggal di kapal. Jadi, selama 2 malam ke depan, kita akan tidur di kapal, karena harus pindah pulau ke pulau yang lainnya (Hopping Island). Yang pertama adalah Pulau Kelor. Sepintas namanya sama dengan pulau di Kepulauan Seribu, tapi bentuknya sangat berbeda sekali. Pulau kecil ini memiliki bukit dengan pemandangan yang indah sekali.

Pulau Kelor
Destinasi selanjutnya adalah Pulau Rinca yang merupakan habitat komodo. Aktivitas yang dilakukan adalah trekking untuk melihat sarang komodo dan yang paling menegangkan adalah berfoto dekat dengan komodo. Saya sih, nggak terlalu khawatir sama diri sendiri, tapi khawatirnya sama Ranger yang memotret kita, karena dekat sekali dengan mulut komodo.



Tapi meskipun begitu, saya berharap bisa ngelus-ngelus kepala komodonya. Kan kata orang, binatang kalo dielus-elus bakal nurut kayak ngelus-ngelus burung gitu.



Matahari mulai turun di batas cakrawala, saatnya para kelelawar / kalong keluar dari sarangnya untuk cari nafkah. Di pulau kalong ini kita tidak bisa mendarat, karena sebagian besar terendam air dan pepohonan bakau, jadi hanya menikmatinya dari kejauhan.

Kebetulan hari itu matahari menampakkan wajahnya. Saya coba bawa tripod, lalu naik ke dek atas kapal untuk memotret. Saat naik tangga, nggak sengaja lensa terbentur tangganya dan mengakibatkan Filter Holder saya jatuh ke laut.

Wassalam....

Selalu ada aja printilan barang yang hilang. Padahal kru kapal sudah coba bantu cari tapi nggak ketemu, karena kapalnya sedang melaju. Walhasil, sore itu saya memotret dengan pisuhan lagi.

Hari ke-4
Pagi-pagi sekali kapal sudah bergerak menuju Pulau Padar. Sambil santai di depan, kami berkutat dengan ponsel masing-masing. Bukan karena asik sendiri, tapi membuat konten dan melaporkan hal yang menarik selama perjalanan. Ini merupakan bagian dari misi kita. Untungnya di kepulauan sini, sinyal Telkom*sel bagus banget, berasa seperti di kota.

Pulau Padar         (foto : Kama)

Sesaat ketika sampai Pulau Padar, hujan deras disertai angin mulai turun. Setelah reda, kami merapat dengan perahu kecil dan naik susunan anak tangga yang telah tersusun rapi hingga ke atas bukit yang fenomenal itu.
 

Perjalanan selanjutnya ke Long Beach yang masih di berada di Pulau Padar namun di sisi yang lain. Pantai ini pasirnya berwarna pink, jauh lebih pink daripada Pink Beach yang selama ini dikenal, namun sayangnya kotor sekali. Banyak sampah rumah tangga yang terdampar di sini. Untungnya kita bawa trash bag, dan tanpa basa-basi membersihkan tempat tersebut. Ada cerita unik bagaikan terdampar di pulau ini yang membuat semuanya panik, tapi nanti bakal saya ceritain di postingan lain.

Pink Beach

Setelah semua tenang, akhirnya dilanjutkan ke Pink Beach. Di pantai ini memang bersih sekali dan terumbu karangnya pun bagus, cocok untuk syuting film Baywatch ataupun Tarzan X. 

Hari semakin sore, waktunya untuk mendekat Kampung Komodo di Pulau Komodo. Sebenarnya ada jadwal untuk merapat ke pulau ini, namun sayang waktu dan perahunya tidak memungkinkan. Jadinya saya hanya bisa lihat aktivitas anak-anak di pesisir sambil menyaksikan Elang Laut yang sedang menyelamatkan ikan yang hampir tenggelam.

Kami memang tinggal di kapal, namun saat malam hari kapalnya berhenti untuk bermalam di perairan dekat kampung, karena selain gelombangnya lebih tenang juga kalau terjadi apa-apa bisa minta bantuan.

Suatu ketika di tengah malam, saat semuanya tertidur, Amenk tour leader kami bangun untuk ke kamar mandi, setelah itu dia tersadar kalau kapalnya hanyut ke tengah lautan menjauhi pulau. Lantas secara spontan dia membangunkan semua kru dan kapten kapal untuk mengembalikan ke lokasi semula. Agak kaget, karena saat itu angin kenceng banget dan menerpa layar penutup tempat kami biasa tidur. Saya sempat terbangun, namun dipikir hanya angin biasa, eh ternyata kapalnya malah hanyut.

Hari ke-5
Tak terasa ini adalah hari terakhir Live On Board. Pagi itu gelombang lebih tinggi dari biasanya, seharusnya kita bisa menyelam bersama Manta. Namun manta atau ikan pari yang ditunggu tidak kunjung terlihat, akhirnya perjalanan langsung dialihkan ke Takka Makassar yang letaknya hanya sekitar 350 meter dari Manta Point.

Takka Makassar
 
Takka Makassar adalah sebuah gundukan tanah kosong berwarna putih nan bersih tanpa sampah. Cocok buat jomblo yang ingin menyepi dari hiruk pikuk dan tekanan teman-teman maupun keluarga. Aktivitas yang bisa kita lakukan di sini adalah, bengong sambil nulis-nulis di pasir, tanning, teriak-teriak, maupun snorkling.

Mendung sudah semakin menjadi, petir pun mulai nampak, sementara yang snorkling harus bergegas merapat ke kapal karena arus bawah semakin kencang. Siang itu kami menyudahi petualangan bersama kapal Aqua Luna dan kembali ke Labuan Bajo. Total setidaknya ada 4 destinasi yang gagal kita singgahi karena faktor cuaca. Tapi kami tergolong beruntung, karena kapal masih bisa mengarungi lautan hingga ke pulau Komodo, karena beberapa hari sebelumnya gelombang tinggi yang membuat kapten kapal lain membatalkan perjalanannya. Jika kapten kapal saja sudah takut, artinya memang benar-benar parah, karena idealnya untuk berwisata ke TN. Komodo adalah pada musim kemarau.

Acara puncak dari rangkaian perjalanan ini ditutup dengan makan malam di Plataran Resto. Di sini semua menceritakan keluh kesahnya selama perjalanan yang seru ini. Tapi memang ya acaranya seru banget, banyak kejadian menarik selama 5 hari ini terutama saat "terdampar" di pulau itu, dan semua bikin semua jadi akrab. Malam itu, kita tutup dengan rencana memberikan kejutan untuk ulang tahunnya Vashti, yang udah dia kodein dari hari pertama, tapi pada pura-pura nggak tau.

Karena keseruannya itu, bahkan saya masih teringat-ingat sampai saya menuliskan di blog ini. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan, semoga apa yang udah kita lakuin di Labuan Bajo bisa memberikan dampak positif buat orang-orang lainnya, dan lebih peduli tentang sampah yang semakin menggila.
Jakarta adalah kota metropolitan yang terkenal tinggi biaya hidupnya. Meskipun begitu, masih banyak destinasi wisata yang bisa kita kunjungi dengan hanya bermodalkan Rp 50.000. Berikut ini adalah 10 destinasi wisata yang murah-meriah tapi layak untuk dikunjungi.

 
1. Monumen Nasional (Monas)
    Tiket : Rp 20.000

Tak lengkap rasanya jika ke Jakarta tapi belum pernah mengunjungi Monas yang merupakan ikon kota Jakarta dan juga monumen kebanggan negara Indonesia. Di Monas, kita bisa belajar tentang sejarah kemerdekaan Indonesia dan juga melihat pemandangan Kota Jakarta dari puncaknya. Untuk menuju ke Monas banyak sekali aksesnya, karena letaknya tepat di pusat Jakarta. Salah satunya adalah menggunakan bis Transjakarta. Untuk masuk ke pelatarannya tidak dikenakan biaya. Namun jika ingin masuk ke dalam dan naik sampai puncaknya dikenakan tiket sebesar Rp 20.000.




2. Masjid Istiqlal
    Tiket : Gratis


Sebagai warga Indonesia, kita harus bangga mempunyai masjid terbesar se-Asia Tenggara, yaitu Istiqlal. Letaknya yang tidak jauh dari Monas dan berdekatan dengan Gereja Katedral, membuat masjid ini mudah didatangi. Nama Istiqlal sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti “merdeka”, karena masjid ini dibangun sebagai ungkapan rasa syukur karena terbebas dari penjajahan. Oh iya, bagi wisatawan non-muslim pun dapat mengunjungi masjid ini untuk mengenal tentang Islam, namun harus dengan pemandu.




Foto : Wikipedia

3. Kota Tua
    Tiket : Gratis


Di Kawasan Kota Tua, kita bisa mengenal sisa-sisa bangunan peninggalan jaman kolonialisme. Suasana dan tiap sudutnya menampilkan sisi romantisme pada masa lampau. Hal ini dipercantik pula dengan ditatanya kawasan sungainya agar seperti di Eropa. Bagi yang hobi fotografi, kawasan ini cocok sekali untuk pemotretan dengan tema vintage dan juga hunting street photography.
 



 
 


4. Museum Fatahillah (Sejarah Jakarta)
    Tiket : Rp 5.000


Berada di Kawasan Kota Tua, membuat bangunan Museum ini menjadi ikonik dan kerap jadi pemandangan wajib para wisatawan saat berfoto di kawasan ini. Di dalam museum ini terdapat bermacam koleksi bersejarah dari beberapa kerajaan Indonesia dan juga koleksi tentang kebudayaan Betawi.




Museum Fatahillah.  Foto : Jet


5. Museum Seni Rupa dan Keramik
    Tiket : Rp 5.000


Museum ini masih berlokasi di Kawasan Kota Tua dan menyimpan koleksi keramik peninggalan beberapa kerajaan di Indonesia. Tidak hanya menyanjikan koleksi, museum ini juga membuka praktek pembuatan kendi dari tanah liat seperti di salah satu adegan film Ghost.





 

6. Taman Prasasti
    Tiket : Rp 5.000


Kuburan adalah tempat menyeramkan bagi kebanyakan orang. Namun di Taman Prasasti ini kita bisa berwisata kuburan sambil belajar mengingat sejarah. Sebenarnya, yang kita temui di Taman Prasasti ini tidak lagi kuburan yang sebenarnya, namun hanya berupa prasasti atau batu nisannya saja. Di sini kita bisa melihat peti yang digunakan untuk mengangkut jenazah Bung Karno dan juga Bung Hatta, dan juga batu nisan Soe Hok Gie yang fenomenal itu.




Baca juga : Cara Mengingat Sejarah Melalui Wisata Kuburan


 

7. Danau Sunter
    Tiket : Gratis


Dahulu Menteri Susi pernah membuat tantangan Wagub SandiagSetelah dirombak total, kini wajah Danau Sunter telah bersih dan jadi destinasi andalan warga Sunter. Ada banyak hal menarik yang bisa kita lakukan di sini seperti memancing, bermain sepeda air, dan juga menikmati makanan di pinggir danau yang telah bersih ini.
 




8. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
    Tiket : Rp 10.000


Jika ingin keliling Indonesia dengan budget murah, TMII adalah jawabannya. Karena di sini menyajikan rumah adat dari semua Provinsi di Indonesia beserta pernak-perniknya. Tiap sudutnya pun fotogenik, seolah-olah kita sedang berada di provinsi lain.



 
9. Kebun Binatang Ragunan
    Tiket : Rp 4.000


Memang terkesan tidak masuk akal, tapi tiket masuk Ragunan sebesar Rp 4.000 memang benar adanya. Tiket masuk yang sangat murah-meriah membuat orang-orang banyak yang mengunjunginya. Di sini kita bisa melihat  berbagai macam koleksi satwa langka ataupun sekedar bersepeda santai sambil mengelilingi kawasan bersama keluarga.



 

10. Bus Wisata Keliling Jakarta
      Tiket : Gratis


Pada masa tahun 90-an, Jakarta memiliki bis tingkat yang biasa digunakan untuk angkutan umum. Namun setelah era reformasi bis itu ditiadakan. Namun saat ini, pemerintah DKI Jakarta menyediakan kembali Bis Tingkat tapi hanya untuk wisata keliling Jakarta. Dengan memliki desain 2 lantai yang futuristik, membuat bis ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Selama perjalanan, pemandu di bis akan menjelaskan bangunan bersejarah di Jakarta yang dilewati. Untuk menaiki Bis Wisata Keliling Jakarta tidak dikenakan biaya sepeserpun alias gratis dan kita pun bisa memilih rute tour-nya.




Nah itulah 10 destinasi wisata Jakarta yang bisa dikunjungi dengan modal Rp 50.000. Jadi kita bisa tetap berwisata murah tapi berkualitas ala backpacker.




*tiket belum termasuk parkir.



Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang masa dari goresan prasasti mereka yang pergi. Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan.

Bangunan putih dengan pilar-pilar yang tinggi ala Yunani ternyata menjadi pintu gerbang menuju dunia kematian itu. Pintunya terbuka lebar, seolah mempersilahkan saya memasuki ke dunianya. Meskipun begitu, bagi saya tidak ada hal yang menyeramkan ketika berada di dalam Museum Taman Prasasti. Itu karena saya berkunjung saat pagi hari dan di samping pemakamannya sedang ada tim Paskibraka yang sedang dihukum nyanyi lagu Boyband Korea - BTS (kok saya bisa tau ya ?).




Museum Taman Prasasti adalah museum cagar budaya yang menyimpan koleksi prasasti nisan kuno dari jaman kolonialisme. Dahulu, Museum Taman Prasasti ini merupakan tempat pemakaman orang-orang Eropa bernama Kebon Jahe Kober yang ada sejak 1795. Pada rentang waktu dari tahun 1950 - 1970 dilakukan pemindahan jenazah ke beberapa tempat lain, dan ada juga yang dibawa keluarganya ke negara asal. Sehingga yang ada saat ini hanya batu nisan aja, tidak ada jenazah atau tulang belulangnya.


Lalu apa saja yang ada di dalamnya ?

 
Berbagai macam bentuk prasasti atau batu nisan tersebar di museum ini yang memiliki jumlah koleksi sekitar 900. Saat memasuki area pemakaman di sebelah kiri, kita akan melihat patung Crying Lady. Konon (jangan dibalik), patung ini dibuat untuk merefleksikan penderitaan seorang pengantin yang suaminya baru meninggal karena wabah malaria di Batavia.
Crying Lady

Tidak jauh dari sini, terdapat prasasti batu bertuliskan aksara Jepang yang dibuat untuk mengenang 30 tentara kekaisaran Jepang yang tewas melawan sekutu.

Beberapa langkah ke depan kita akan menemukan sebuah atap yang di bawahnya terdapat dua peti bersejarah, yaitu peti yang digunakan Bung Karno dan Bung Hatta saat wafat. Bung Karno sendiri dimakamkan di Blitar, sedangkan Bung Hatta di pemakaman Tanah Kusir.

Peti Jenazah Bung Karno dan Bung Hatta
Pastor Van Der Grinten
Pada bagian tengah di bawah pohon yang rindang terdapat patung barwarna coklat gelap. Patung itu adalah Pastor Van Der Grinten yang merupakan kepala Gereja Katholik Batavia yang pertama. Pastur tersebut sangat dihormati banyak orang karena jiwa kemanusiaan yang tinggi.
Makam Kapitan Jas
Salah satu prasasti yang legendaris di sini adalah Kapitan Jas. Nama Kapitan Jas diduga ada hubungannya dengan Jassen Kerk, yaitu Gereja Portugis yang terletak di luar kota lama. Hingga saat ini, banyak masyarakat dari dalam dan luar negeri untuk berziarah ke makam Kapitan Jas dengan harapan permohonan mereka akan terkabul. Padahal, mungkin sesungguhnya sosok Kapitan Jas itu tidak pernah ada.


Di sebelah kanan makam Kapitan Jas terdapat makam Olivia Mariamne Raffles yang merupakan istri pertama Sir Thomas Stamford Raffles. Sebelum meninggal karena malaria, Olivia berpesan ingin dimakamkan di sebelah makam sahabatnya, John Casper Layden. Dan uniknya, makam Olivia ini berada tepat di depan Kantor Walikota Jakarta Pusat. Jadi seolah-olah menjadi pintu gerbang menuju gedung walikota.

Beralih ke area lain kita akan melihat tugu prasasti berwarna hijau yang menjulang tinggi. Tugu itu merupakan monumen Jendral Johan Jacob Perrie yang berkebangsaan Belanda. Karena banyak jasa dan keberaniannya dalam berperang, pemerintah Hindia Belanda membuat monumen ini untuk mengenang jasa-jasanya. Inilah yang menjadi prasasti paling ikonik di Museum Taman Prasasti yang sering digunakan syuting video klip, iklan, ataupun pemotretan model.

Monumen JJ. Perrie

Lanjut berjalan ke area belakang terdapat beberapa patung wanita dan representasi dari malaikat. Beberapa ada yang sudah rusak karena usia dan juga ulah vandalisme pengunjung. Namun, yang paling ingin saya datangi adalah prasasti makam Soe Hok Gie. Beliau adalah seorang aktivis gerakan mahasiswa tahun 1960-an dan juga pendiri Mapala UI. Karya tulisan, kiprah, dan karakternya sangat mempengaruhi kehidupan saya untuk terus tegap berdiri dalam kebenaran.


Tapi sayang, Soe Hok Gie meninggal di usia yang sangat muda, tepat 1 hari sebelum ulang tahunnya ke-27 karena menghirup gas beracun di puncak Mahameru. Meskipun begitu, karya dan pemikirannya masih tetap hidup hingga kini, dan melecut semangat anak-anak muda untuk berkegiatan di alam bebas.

Pada awalnya, Gie dimakamkan di Menteng Pulo, namun telah dipindahkan ke sini. Tapi beberapa rekannya ingat bahwa semasa hidupnya Gie pernah berujar jika meninggal ingin dikremasi dan abunya ditebar di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango.

Gie pernah berkata "Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda".

Dan semuanya kini telah terwujud. Gie telah meninggal di tempat yang diidamkan, yaitu di puncak gunung agar bisa menyatu dengan alam bebas tempat bermainnya.

Sebenarnya tanah Taman Prasasti hanya untuk orang-orang nonpribumi, namun ada dua makam atas nama orang Indonesia, yaitu Soe Hok Gie dan Miss Riboet alias Tan Kim Nio. Miss Riboet adalah orang kelahiran Aceh yang memiliki kemampuan olah vokal dan sandiwara yang baik, sehingga cukup dekat dengan petinggi VOC. Oleh sebab itu makamnya ditempatkan di sini.
 
Museum Taman Prasasti tidak hanya mengingatkan kita tentang sejarah, tapi juga mengingatkan tentang kematian dan juga orang-orang terkasih yang ditinggalkannya. Semoga kita bisa meninggal dalam keadaan baik, khusnul khotimah, dan meninggalkan segala hal yang baik dan bermanfaat bagi semuanya.

Aamiin.





MUSEUM TAMAN PRASASTI

Buka : 
Selasa - Minggu, 08.00 - 16.00
Senin : TUTUP
Parkir : Gratis

Tiket Personal
Dewasa : Rp 5.000
Mahasiswa : Rp 3.000
Anak-anak : Rp 2.000

Syuting Film / iklan komersial : Rp 1.500.000
Pemakaian ruangan / taman : Rp 1.000.000 

Lokasi : Jl. Tanah Abang I, RT. 01/08, Petojo Selatan, Jakarta Pusat.