Cara Mengingat Sejarah Melalui Wisata Kuburan




Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang masa dari goresan prasasti mereka yang pergi. Di sini pula tertanam kehijauan yang kita dambakan.

Bangunan putih dengan pilar-pilar yang tinggi ala Yunani ternyata menjadi pintu gerbang menuju dunia kematian itu. Pintunya terbuka lebar, seolah mempersilahkan saya memasuki ke dunianya. Meskipun begitu, bagi saya tidak ada hal yang menyeramkan ketika berada di dalam Museum Taman Prasasti. Itu karena saya berkunjung saat pagi hari dan di samping pemakamannya sedang ada tim Paskibraka yang sedang dihukum nyanyi lagu Boyband Korea - BTS (kok saya bisa tau ya ?).




Museum Taman Prasasti adalah museum cagar budaya yang menyimpan koleksi prasasti nisan kuno dari jaman kolonialisme. Dahulu, Museum Taman Prasasti ini merupakan tempat pemakaman orang-orang Eropa bernama Kebon Jahe Kober yang ada sejak 1795. Pada rentang waktu dari tahun 1950 - 1970 dilakukan pemindahan jenazah ke beberapa tempat lain, dan ada juga yang dibawa keluarganya ke negara asal. Sehingga yang ada saat ini hanya batu nisan aja, tidak ada jenazah atau tulang belulangnya.


Lalu apa saja yang ada di dalamnya ?

 
Berbagai macam bentuk prasasti atau batu nisan tersebar di museum ini yang memiliki jumlah koleksi sekitar 900. Saat memasuki area pemakaman di sebelah kiri, kita akan melihat patung Crying Lady. Konon (jangan dibalik), patung ini dibuat untuk merefleksikan penderitaan seorang pengantin yang suaminya baru meninggal karena wabah malaria di Batavia.
Crying Lady

Tidak jauh dari sini, terdapat prasasti batu bertuliskan aksara Jepang yang dibuat untuk mengenang 30 tentara kekaisaran Jepang yang tewas melawan sekutu.

Beberapa langkah ke depan kita akan menemukan sebuah atap yang di bawahnya terdapat dua peti bersejarah, yaitu peti yang digunakan Bung Karno dan Bung Hatta saat wafat. Bung Karno sendiri dimakamkan di Blitar, sedangkan Bung Hatta di pemakaman Tanah Kusir.

Peti Jenazah Bung Karno dan Bung Hatta
Pastor Van Der Grinten
Pada bagian tengah di bawah pohon yang rindang terdapat patung barwarna coklat gelap. Patung itu adalah Pastor Van Der Grinten yang merupakan kepala Gereja Katholik Batavia yang pertama. Pastur tersebut sangat dihormati banyak orang karena jiwa kemanusiaan yang tinggi.
Makam Kapitan Jas
Salah satu prasasti yang legendaris di sini adalah Kapitan Jas. Nama Kapitan Jas diduga ada hubungannya dengan Jassen Kerk, yaitu Gereja Portugis yang terletak di luar kota lama. Hingga saat ini, banyak masyarakat dari dalam dan luar negeri untuk berziarah ke makam Kapitan Jas dengan harapan permohonan mereka akan terkabul. Padahal, mungkin sesungguhnya sosok Kapitan Jas itu tidak pernah ada.


Di sebelah kanan makam Kapitan Jas terdapat makam Olivia Mariamne Raffles yang merupakan istri pertama Sir Thomas Stamford Raffles. Sebelum meninggal karena malaria, Olivia berpesan ingin dimakamkan di sebelah makam sahabatnya, John Casper Layden. Dan uniknya, makam Olivia ini berada tepat di depan Kantor Walikota Jakarta Pusat. Jadi seolah-olah menjadi pintu gerbang menuju gedung walikota.

Beralih ke area lain kita akan melihat tugu prasasti berwarna hijau yang menjulang tinggi. Tugu itu merupakan monumen Jendral Johan Jacob Perrie yang berkebangsaan Belanda. Karena banyak jasa dan keberaniannya dalam berperang, pemerintah Hindia Belanda membuat monumen ini untuk mengenang jasa-jasanya. Inilah yang menjadi prasasti paling ikonik di Museum Taman Prasasti yang sering digunakan syuting video klip, iklan, ataupun pemotretan model.

Monumen JJ. Perrie

Lanjut berjalan ke area belakang terdapat beberapa patung wanita dan representasi dari malaikat. Beberapa ada yang sudah rusak karena usia dan juga ulah vandalisme pengunjung. Namun, yang paling ingin saya datangi adalah prasasti makam Soe Hok Gie. Beliau adalah seorang aktivis gerakan mahasiswa tahun 1960-an dan juga pendiri Mapala UI. Karya tulisan, kiprah, dan karakternya sangat mempengaruhi kehidupan saya untuk terus tegap berdiri dalam kebenaran.


Tapi sayang, Soe Hok Gie meninggal di usia yang sangat muda, tepat 1 hari sebelum ulang tahunnya ke-27 karena menghirup gas beracun di puncak Mahameru. Meskipun begitu, karya dan pemikirannya masih tetap hidup hingga kini, dan melecut semangat anak-anak muda untuk berkegiatan di alam bebas.

Pada awalnya, Gie dimakamkan di Menteng Pulo, namun telah dipindahkan ke sini. Tapi beberapa rekannya ingat bahwa semasa hidupnya Gie pernah berujar jika meninggal ingin dikremasi dan abunya ditebar di Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango.

Gie pernah berkata "Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda".

Dan semuanya kini telah terwujud. Gie telah meninggal di tempat yang diidamkan, yaitu di puncak gunung agar bisa menyatu dengan alam bebas tempat bermainnya.

Sebenarnya tanah Taman Prasasti hanya untuk orang-orang nonpribumi, namun ada dua makam atas nama orang Indonesia, yaitu Soe Hok Gie dan Miss Riboet alias Tan Kim Nio. Miss Riboet adalah orang kelahiran Aceh yang memiliki kemampuan olah vokal dan sandiwara yang baik, sehingga cukup dekat dengan petinggi VOC. Oleh sebab itu makamnya ditempatkan di sini.
 
Museum Taman Prasasti tidak hanya mengingatkan kita tentang sejarah, tapi juga mengingatkan tentang kematian dan juga orang-orang terkasih yang ditinggalkannya. Semoga kita bisa meninggal dalam keadaan baik, khusnul khotimah, dan meninggalkan segala hal yang baik dan bermanfaat bagi semuanya.

Aamiin.





MUSEUM TAMAN PRASASTI

Buka : 
Selasa - Minggu, 08.00 - 16.00
Senin : TUTUP
Parkir : Gratis

Tiket Personal
Dewasa : Rp 5.000
Mahasiswa : Rp 3.000
Anak-anak : Rp 2.000

Syuting Film / iklan komersial : Rp 1.500.000
Pemakaian ruangan / taman : Rp 1.000.000 

Lokasi : Jl. Tanah Abang I, RT. 01/08, Petojo Selatan, Jakarta Pusat.