Kesejahteraan Sosial Bagi Seluruh Ibu-ibu Ciseeng


Deru mesin mobil yang saya tumpangi terhenti tepat di pinggir jalan Desa Parigi Kecamatan Ciseeng, Kab. Bogor. Dengan perlahan dan kehati-hatian saya berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang agak becek karena hujan tadi malam. Pagi itu kami sudah disambut dengan baik oleh Ibu Ratna di depan rumahnya yang sedang dalam proses upgrading.

Sok atuh neng, A’a, masuk. Maaf rumahnya kecil, berantakan” ujar Bu Ratna merendah.

“Ahh, nggak bu, nggak apa-apa, rumah saya juga kecil” timpal yang lainnya.


Sambil menganyam bahan kain untuk dibuat keset, beliau dengan senang menceritakan proses awal bergabungnya dengan Amartha. Kunjungan saya ke desa ini adalah salah satu aktivitas Village Tour yang diadakan oleh Amartha bersama C2live dengan mengajak calon investor untuk berinteraksi dengan pengusaha mikro.


Mendengar kata “investor”, yang biasa terbesit adalah orang kaya atau perusahaan yang memiliki uang bermilyar-milyar untuk menanamkan modalnya. Tapi tidak demikian. Kita sebagai karyawan biasa, bisa juga kok jadi investor, dengan bergabung bersama Amartha.

Amartha sendiri dahulunya berupa koperasi yang berdiri tahun 2010. Namun kini telah menjadi sebuah wadah yang mempertemukan calon peminjam dengan pemberi dana (investor) secara langsung, dan menjadi perantara serta mengawasi pembayarannya. Semua itu diawasi melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet atau bahasa kerennya Financial Technology (Fintech). Layanan ini disebut Peer-to-peer (P2P) Lending alias investasi online.

Sebagai investor, kita bisa ikut menanamkan modalnya dengan meminjamkan modal usaha kepada keluarga prasejahtera untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik lagi. Dengan begitu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang sedang dirintis bisa maju, berkembang, dan semakin kompetitif, seperti apa yang dialami Bu Ratna ini.

Sampai saat ini, Bu Ratna sudah lebih dari 5 tahun bergabung dengan Amartha. Proses awal bergabungnya itu hanya dapat pinjaman modal Rp 500.000. Setelah dinilai lancar pengembaliannya, Bu Ratna kembali mendapatkan modal yang lebih besar untuk usahanya, dan alhamdulillah, kini beliau sudah bisa merenovasi rumah menjadi lebih besar, menyekolahkan anak, dari membantu perekonomian suaminya dengan memproduksi keset dari kain bekas.

Masih berada di Desa Parigi, Ibu Lilis sang pengusaha golok yang rumahnya hanya berjarak 30 meter dari Bu Ratna juga turut bergabung dengan Amartha. Di sini mereka tergabung dalam Majelis Ciremai yang beranggotakan 25 wanita tangguh. Oh iya, di Desa Parigi ini juga terkenal dengan sentra usaha pembuatan golok. Jadi jangan heran bila para laki-lakinya banyak yang berprofesi sebagai pandai besi.



Di desa yang berbeda, saya bertemu dengan perempuan tangguh lainnya, yaitu Ibu Apsiah. Di sini beliau memiliki usaha ikan cupang dengan berbagai jenis, termasuk jenis unggulan yang berharga mahal. Setelah bergabung dengan Amartha pada tahun 2011, kini Bu Apsiah bisa semakin mengembangkan usaha budidaya ikan cupang dan tidak khawatir lagi soal permodalan usahanya.


Memang, untuk mendapatkan pinjaman modal dari Amartha mengharuskan syarat untuk membentuk kelompok usaha yang disebut Majelis, karena dari majelis ini bisa secara kolektif untuk melakukan pembayaran dan memudahkan dalam koordinasinya. Jadi, nanti setiap Minggunya akan ada petugas dari Amartha yang datang untuk menarik iuran dari majelis. Bagusnya lagi, di majelis ini tidak ada jaminan apapun untuk peminjaman modal dari Amartha, sehingga para mitra tidak terbebani. Namun, di sini mengenal adanya istilah Tanggung Renteng yang artinya bila ada salah satu anggota yang gagal bayar, maka seluruh anggota akan menanggung pembayarannya itu. Jadi, hanya ada "sanksi sosial" secara otomatis yang akan terjadi di dalam majelisnya. Maklum, anggotanya kan ibu-ibu semua, jadi lebih baik bayar iuran daripada jadi bahan omongan satu majelis. Nah, maka dari itu kualitas majelis akan tetap terjaga karena setiap peminjam akan saling mengawasi kredibilitas satu sama lain.

Oh iya, dalam satu majelis itu berisi mulai dari 15 sampai 25 orang wanita, karena itu jumlah idealnya agar lebih mudah dan tidak memberatkan bila harus tanggung renteng. Untuk membedakan majelis satu dengan yang lainnya akan diberi nama sesuai kesepakatan bersama. Nama yang digunakan pun bebas, mulai dari nama buah-buahan, sayuran, bahkan nama pemain sinetron. 

Setelah majelis dibentuk dan sebelum siklus pembiayaan dimulai, setiap anggota wajib mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Field Officer Amartha. Pelatihan tersebut meliputi Financial Literacy, strategi pemasaran, dan kedisplinan. Maka dari itu, para anggota tidak hanya menerima modal usaha saja, melainkan juga dapat pengetahuan dalam berbisnis, sehingga bisa turut meningkatkan roda perekonomian bangsa.

Dalam setiap majelis itu terdapat berbagai bidang usaha, mulai dari produksi barang, jasa, maupun usaha non-produktif. Dan bila ada kesamaan dengan anggota lain pun juga tidak menjadi masalah.

 
Para Mitra Amartha


Bagaimana cara investasinya ?
 
Dengan modal awal mulai dari Rp 3.000.000, kita bisa meminjamkan modal usaha tersebut kepada ibu-ibu mitra Amartha. 


Pertama, daftar terlebih dahulu di Amarta.com dan meng-klik “Daftar Sebagai Pendana”. Isi formulirnya, setelah selesai, nanti akan diverifikasi oleh tim Amartha. 


Pemberi pinjaman sendiri nantinya akan mendapatkan imbal hasil hingga 15% pertahun dan cashflow mingguan, sehingga angsuran dapat diambil kapan saja, dan tidak ada pemotongan. Jadi, bisa mendapatkan dana secara penuh. Begitu juga bagi peminjam akan mendapatkan dana penuh.  Dengan banyaknya keuntungan yang didapat, hal ini bisa dibilang lebih tinggi daripada rata-rata investasi konvensional seperti deposito dan tabungan bank. Dan investasi ini dijamin, karena telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

#PerempuanTangguh
#FintechTerpercayaYaAmartha