Hotel di Jakarta Rasa Manhattan

/ September 19, 2018

Ibukota negara Indonesia, yaitu Jakarta adalah kota metropolitan yang sangat padat. Kemacetan yang semakin hari semakin menggila membuat saya jadi suntuk, ditambah rumah kontrakan kami yang kecil di daerah Pamulang menambah bosan akhir pekan karena tidak ada aktivitas. Untuk mengobati rasa penat itu, istri saya mengajak untuk menginap di Manhattan Hotel. 

Bukan.

Ini bukan Manhattan yang ada di USA, tapi Hotel Manhattan yang berada Jakarta. Dengan mengusung nama yang sama, Hotel Manhattan ingin menyajikan suasana mewah seperti sedang berada di Manhattan. Penasaran dengan berbagai hal yang ada di sana ? Yukk kita bahas.


Bagaimana cara ke sana ?

Dengan berlokasi di daerah Kuningan, Manhattan Hotel sangat mudah kita datangi, yaitu tepatnya di Jl. Prof Dr. Satrio No. 1, Kav. 22, Cassablanca, Jakarta Selatan. Bila dari arah Selatan, ambillah menuju Jl. Rasuna Said, lalu saat sampai di perempatan Cassablanca, tinggal belok ke kiri atau ke arah barat. Hotelnya terlihat menjulang tinggi.

Secara lokasi, hotelnya pun sangat strategis, karena berada di dekat pusat perbelanjaan, yaitu Kuningan City, Lotte Shopping Avenue, Mal Ambassador, dan juga Cartenz Store.


Desain Hotel

Sejak awal masuk saya langsung merasakan aroma kemewahan di sini, lobby-nya sangat besar dan disediakan ruang tunggu yang nyaman. Serta memiliki NYC Bar & Lounge di bagian pojoknya. Perpaduan desain yang modern dan minimalis dikemas apik pada hotel ini.
Lobby Hotel

Fasilitas Hotel
Kamar yang saya tempati merupakan tipe Mars and Venus Suites dengan range harga sekitar Rp. 1.190.000/malamnya. Untuk fasilitasnya di dalamnya terdapat kulkas, microwave, TV, mini bar, DVD player, dan ruangan kamar yang sangat lega sekali. Ini adalah kali pertama saya menginap di hotel yang memiliki total 36 lantai. Pemandangan sekitarnya keren banget, kita bisa melihat pemandangan dari 2 sisi, karena letak kamarnya berada di sudut, jadi ini sangat cocok sekali untuk memotret cityscapes. 

Mars & Venus Suites
Ada satu hal lagi yang menarik, yaitu kamar mandinya memiliki bath tub dengan jendela kaca yang mengarah ke luar. Wihh, jadi asik nih buat berendam sambil melihat kemacetan di kota Jakarta yang ternyata keren untuk dilihat dari atas dan menyebalkan ketika menjalaninya.


Sore hari menjelang malam saya dan istri santai sejenak melihat gedung-gedung Jakarta yang terlihat dekat sambil menikmati orange juice di The 8 Pub & Lounge. Suasananya tidak ramai, karena bukan peak season, jadi terasa seperti dibooking untuk hanya kita berdua. Saat kami menginap bertepatan dengan pertandingan Piala Dunia. Sejak awal saya berharap bisa nonton dengan santai dan nyaman di kamar yang luas ini, tapi sayangnya itu tidak terjadi karena channel tv di hotel tidak menyediakan siaran piala dunia karena terkait lisensi hak siar. Jadi dengan terpaksa saya nonton melalui layar ponsel. Untung saja akses wifi di sini cukup kencang.


Pagi sebelum sarapan adalah waktunya yang tepat bagi kami untuk berenang. Udara Jakarta yang masih cukup segar di hari Minggu membuat kami betah bersantai di sini sambil lihat pemandangan gedung-gedung Jakarta dan orang-orang yang berlarian di Car Free Day. Yahh, sambil membayangkan kalau sedang berada di Manhattan. Untungnya saat itu hari Minggu, karena saat hari kerja, kemungkinan kita yang sedang berenang akan jadi tontonan para karyawan di Gedung Bank Muamalat yang tepat berada di sebelahnya, jadi berasa seperti sirkus lumba-lumba -_-.

Sauna, Spa, Salon, dan Fitness Center
Bagi yang tidak suka berendam air dingin, sepertinya kolam renang ini tidak cocok bagi kalian, soalnya airnya dingin banget, ditambah letaknya yang berada di ketinggian, membuat angin bisa dengan mudah menerpa badan kita. Tapi jangan khawatir, di ruang ganti dekat kolam renang terdapat ruangan sauna, cocok untuk menghangatkan badan dan juga mengeluarkan keringat tanpa perlu capek olahraga. Tidak hanya itu, fasilitas lain untuk memanjakan tubuh juga hadir di sini seperti fitness center, salon, dan juga Ayur Bali Spa, yang dari kejauhan sudah tercium aroma terapinya.


Manhattan Hotel sendiri memiliki 5 restoran dengan tema yang berbeda, namun saat sarapan, semua dipusatkan di Central Park Restaurant yang memang buka 24 jam. Di restoran ini menyajikan berbagai macam masakan, mulai dari Indonesia, Chinese, dan juga Western, jadi banyak sekali pilihan variannya.


Oh iya, untuk keperluan booking Manhattan Hotel ini saya pakai Mister Aladin, caranya pun mudah, bisa lewat ponsel. Pernah kejadian waktu ada promo saya agak kesulitan memasukkan kode bookingnya, terus saya minta bantuan customer service-nya, lalu dipandu dan dilayani dengan baik dehh.

Pergi ke US membutuhkan banyak biaya dan persyaratan yang tidak mudah, namun menginap di Manhattan Hotel ini sedikit mengobati keinginanku untuk ke Manhattan yang sebenarnya. Yahh, anggap saja latihan, karena bukan tidak mungkin, suatu saat saya dan istri bisa berkunjung ke US secara gratis :D

Aamiin.

Ibukota negara Indonesia, yaitu Jakarta adalah kota metropolitan yang sangat padat. Kemacetan yang semakin hari semakin menggila membuat saya jadi suntuk, ditambah rumah kontrakan kami yang kecil di daerah Pamulang menambah bosan akhir pekan karena tidak ada aktivitas. Untuk mengobati rasa penat itu, istri saya mengajak untuk menginap di Manhattan Hotel. 

Bukan.

Ini bukan Manhattan yang ada di USA, tapi Hotel Manhattan yang berada Jakarta. Dengan mengusung nama yang sama, Hotel Manhattan ingin menyajikan suasana mewah seperti sedang berada di Manhattan. Penasaran dengan berbagai hal yang ada di sana ? Yukk kita bahas.


Bagaimana cara ke sana ?

Dengan berlokasi di daerah Kuningan, Manhattan Hotel sangat mudah kita datangi, yaitu tepatnya di Jl. Prof Dr. Satrio No. 1, Kav. 22, Cassablanca, Jakarta Selatan. Bila dari arah Selatan, ambillah menuju Jl. Rasuna Said, lalu saat sampai di perempatan Cassablanca, tinggal belok ke kiri atau ke arah barat. Hotelnya terlihat menjulang tinggi.

Secara lokasi, hotelnya pun sangat strategis, karena berada di dekat pusat perbelanjaan, yaitu Kuningan City, Lotte Shopping Avenue, Mal Ambassador, dan juga Cartenz Store.


Desain Hotel

Sejak awal masuk saya langsung merasakan aroma kemewahan di sini, lobby-nya sangat besar dan disediakan ruang tunggu yang nyaman. Serta memiliki NYC Bar & Lounge di bagian pojoknya. Perpaduan desain yang modern dan minimalis dikemas apik pada hotel ini.
Lobby Hotel

Fasilitas Hotel
Kamar yang saya tempati merupakan tipe Mars and Venus Suites dengan range harga sekitar Rp. 1.190.000/malamnya. Untuk fasilitasnya di dalamnya terdapat kulkas, microwave, TV, mini bar, DVD player, dan ruangan kamar yang sangat lega sekali. Ini adalah kali pertama saya menginap di hotel yang memiliki total 36 lantai. Pemandangan sekitarnya keren banget, kita bisa melihat pemandangan dari 2 sisi, karena letak kamarnya berada di sudut, jadi ini sangat cocok sekali untuk memotret cityscapes. 

Mars & Venus Suites
Ada satu hal lagi yang menarik, yaitu kamar mandinya memiliki bath tub dengan jendela kaca yang mengarah ke luar. Wihh, jadi asik nih buat berendam sambil melihat kemacetan di kota Jakarta yang ternyata keren untuk dilihat dari atas dan menyebalkan ketika menjalaninya.


Sore hari menjelang malam saya dan istri santai sejenak melihat gedung-gedung Jakarta yang terlihat dekat sambil menikmati orange juice di The 8 Pub & Lounge. Suasananya tidak ramai, karena bukan peak season, jadi terasa seperti dibooking untuk hanya kita berdua. Saat kami menginap bertepatan dengan pertandingan Piala Dunia. Sejak awal saya berharap bisa nonton dengan santai dan nyaman di kamar yang luas ini, tapi sayangnya itu tidak terjadi karena channel tv di hotel tidak menyediakan siaran piala dunia karena terkait lisensi hak siar. Jadi dengan terpaksa saya nonton melalui layar ponsel. Untung saja akses wifi di sini cukup kencang.


Pagi sebelum sarapan adalah waktunya yang tepat bagi kami untuk berenang. Udara Jakarta yang masih cukup segar di hari Minggu membuat kami betah bersantai di sini sambil lihat pemandangan gedung-gedung Jakarta dan orang-orang yang berlarian di Car Free Day. Yahh, sambil membayangkan kalau sedang berada di Manhattan. Untungnya saat itu hari Minggu, karena saat hari kerja, kemungkinan kita yang sedang berenang akan jadi tontonan para karyawan di Gedung Bank Muamalat yang tepat berada di sebelahnya, jadi berasa seperti sirkus lumba-lumba -_-.

Sauna, Spa, Salon, dan Fitness Center
Bagi yang tidak suka berendam air dingin, sepertinya kolam renang ini tidak cocok bagi kalian, soalnya airnya dingin banget, ditambah letaknya yang berada di ketinggian, membuat angin bisa dengan mudah menerpa badan kita. Tapi jangan khawatir, di ruang ganti dekat kolam renang terdapat ruangan sauna, cocok untuk menghangatkan badan dan juga mengeluarkan keringat tanpa perlu capek olahraga. Tidak hanya itu, fasilitas lain untuk memanjakan tubuh juga hadir di sini seperti fitness center, salon, dan juga Ayur Bali Spa, yang dari kejauhan sudah tercium aroma terapinya.


Manhattan Hotel sendiri memiliki 5 restoran dengan tema yang berbeda, namun saat sarapan, semua dipusatkan di Central Park Restaurant yang memang buka 24 jam. Di restoran ini menyajikan berbagai macam masakan, mulai dari Indonesia, Chinese, dan juga Western, jadi banyak sekali pilihan variannya.


Oh iya, untuk keperluan booking Manhattan Hotel ini saya pakai Mister Aladin, caranya pun mudah, bisa lewat ponsel. Pernah kejadian waktu ada promo saya agak kesulitan memasukkan kode bookingnya, terus saya minta bantuan customer service-nya, lalu dipandu dan dilayani dengan baik dehh.

Pergi ke US membutuhkan banyak biaya dan persyaratan yang tidak mudah, namun menginap di Manhattan Hotel ini sedikit mengobati keinginanku untuk ke Manhattan yang sebenarnya. Yahh, anggap saja latihan, karena bukan tidak mungkin, suatu saat saya dan istri bisa berkunjung ke US secara gratis :D

Aamiin.
Continue Reading
Berita tentang tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba beberapa pekan lalu membuat hati saya sedih. Bagaimana tidak, saya sendiri pernah menelusuri dan berenang seru di danaunya. Ternyata di balik keindahan Danau Toba yang tenang itu, menyimpan banyak misteri yang banyak tidak diketahui orang-orang pada umumnya termasuk saya. Bahkan saya sendiri sempat meragukan karena danau ini terlihat "aman” dan normal seperti danau-danau pada umumnya.
 


Tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk berenang di danau terluas se-Asia Tenggara ini. Namun, saat itu saya hanya ingin menjawab dan membuktikan tantangan yang diberikan oleh pihak sponsor yang membiayai saya selama di sini. 

 
Kapal kecil dengan kapasitas sekitar 35 orang itu telah siap mengangkut kami dari Parapat menuju ke Air Terjun Binangalom. Anak-anak di sekitar juga turut “menyambut” dengan meminta beberapa dari kami untuk melemparkan uangnya ke danau supaya mereka ambil. Hal tersebut mengingatkan saya pada aksi bocah-bocah di Pelabuhan Merak yang rela lompat dari kapal Ferry ke laut sambil meminta uang kepada para penumpangnya. Sangat berbahaya memang. Untungnya kapal di Danau Toba tidak sebesar di Merak dan jarak lompatannya pun tidak jauh dari daratan.

Secara perlahan kapal yang bernama Toba Cruise 2 meninggalkan dataran membawa kami semua mengarungi indahnya danau Toba menuju air terjun Binangalom. Ternyata tidak jauh dari tempat kami menaiki kapal, terdapat rumah tempat pengasingan Bung Karno. Tapi sayang, kita tidak sempat mampir ke sana, karena bukan tujuan utama perjalanan ini.

Untuk mencapai ke air terjun membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Luasnya Danau Toba membuat kita terasa seperti berada di lautan, apalagi gugusan dinding kaldera yang hijau dan diselingi pepohonan sangat memanjakan mata kita untuk menikmatinya. Unik sekali, bentang alamnya mirip seperti di Pulau Padar NTT yang saat ini hanya bisa saya lihat dari foto saja.

Ombus-ombus.
Sementara perjalanan masih lumayan, jadi saya putuskan untuk duduk di bagian depan kapal sambil menikmati ombus-ombus, panganan tradisional Batak yang berasal dari Siborongborong. Ombus-ombus ini terbuat dari tepung beras yang di dalamnya terdapat gula merah, mirip sekali dengan kue putu, namun cara membuatnya bukan disodok pake anu…..alat sodokan maksudnya, tapi dikepal lalu dibungkus dengan daun pisang.
 
Bagian dalam kapal.
 Meskipun kecil, kapal ini ada toiletnya, dan terdapat ruang karaoke yang menyatu dengan ruang kemudi. Pada bagian atasnya terdapat beberapa kursi, jadi bisa digunakan untuk bersantai sambil melihat pemandangan 360 derajat dari kapal, namun bagi yang mudah masuk angin tidak disarankan berada di sini. Sebagai angkutan resmi, kapal ini terpampang jelas surat ijin operasional beserta nama dan foto pengemudinya yang menempel pada pintu, selain itu juga terdapat peta Danau Toba dan beberapa spot tujuan yang dilukis secara manual pada dinding kapal sebagai informasi tambahan untuk para penumpang. Ada satu hal yang membuat saya tercengang, di lukisan itu terdapat keterangan bahwa kedalamannya mencapai 700 meter. Sulit dipercaya memang.

Lantunan lagu-lagu khas Batak yang dinyalakan di ruang kemudi membuat perjalanan ini tambah seru, karena ini dapat menambah rasa yakin saya kalau sedang berada di Sumatera Utara.
 


Tak terasa lama, akhirnya sampai juga di air terjun Binangalom, tapi ada juga yang menyebutnya air terjun Situmurun.  Air terjun yang langsung jatuh ke Danau Toba ini memiliki tinggi sekitar 70 meter. Nama Binangalom sendiri berasal dari bahasa Batak yaitu “Binanga” yang artinya sungai atau aliran air, dan “Lom” yang artinya penyejuk hati, jadi bisa disimpulkan air terjun Binangalom ini adalah air terjun penyejuk hati, jadi cocok nih buat yang lagi gundah gulana dan galau merana.

Menurut penuturan awak kapal, bagi yang mandi langsung di bawah air terjun akan awet muda dan enteng jodoh nih, jadi layak dicoba, maka dari situ saya semakin tertantang untung berenang di sana. Sebelum nyemplung, saya pemanasan terlebih dahulu, dan tidak lupa menggunakan life jacket untuk keselamatan, karena kedalamannya mencapai 700 meter. Awalnya saya tidak percaya, tapi 1 tahun kemudian saat tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba, barulah saya percaya. Selain itu juga, ternyata di dasarnya masih terdapat aktivitas vulkanik, karena Danau Toba pada awalnya merupakan gunung yang pernah meletus dahsyat sepanjang sejarah.


Waktunya menjawab tantangan.
Dari 4 orang yang ditantang, hanya 2 orang saja yang berani nyemplung, yaitu saya dan Vivi yang mewakili masing-masing kelompok. Saya siap, berani menerima tantangan selama ada perlengkapan keselamatannya, karena ini adalah hal yang paling utama untuk meminimalkan resiko kecelakaan.


“Byurr…”


Terjun sudah kami berdua melalui samping kapal. Ternyata airnya sangat dingin sekali. Dengan susah payah saya berenang melawan arus menuju bawah air terjun. Tidak mudah memang, karena harus terus bergerak untuk mengatasi dingin, dan sempat juga kaki saya kram karena kedinginan. Vivi yang sudah berusaha berenang tetap tak mampu mendekat ke air terjun, bahkan dia harus terbawa arus hingga tersangkut di bawah kapal, untungnya ada kru kapal yang siap menahannya agar tidak jauh lagi, dan dari situlah dia memutuskan untuk menyerah.

Saya yang masih bertahan terus mencoba tetap berenang sambil mencari cara untuk bisa mencapat air terjunnya. Ternyata saya harus melipir untuk menghindari arus dari kucuran air terjun di atas. Beberapa kali saya tertelan air danau karena arus yang sangat kuat, untungnya berupa air tawar, sehingga tidak pedih di mata. Saya berharap semoga gak ada yang boker dari atas air terjun. Setelah bersusah payah, akhirnya saya berhasil mencapai tepi di bawah air terjun. Wuaahh….sensasi yang luar biasa bisa berenang di Danau Toba dan mandi di bawah kucuran air terjun Binangalom yang indah ini. Tapi tetap harus waspada, karena batuannya sangat licin. Setelah berenang di sini, saya tidak merasa lebih muda, malah jadi semakin keriput, soalnya terlalu lama berendam di air dingin sihh, lebih kecewanya lagi, gak ada yang motret saya saat berada di dekat air terjun :(
Matahari sudah terbenam seluruhnya, namun saya masih berada di kapal, di tengah-tengah danau yang luasnya bagai lautan. Akhirnya sekitar pukul 19.30 saya sampai juga di Samosir Villa Resort. Iringan musik tradisional khas Batak Gondang 9 menyambut kami malam itu. Rasa lelah dan dingin seolah-olah menghilang ketika mendengar tabuhan perkusi yang mempunyai ketukan dengan tempo yang sangat cepat. Setelah menyantap makan malam, seorang penari menarik salah satu dari kami dan mengajaknya untuk menari bersama. Tidak sulit rasanya untuk mengikuti gerakan tarian yang biasa digunakan untuk penyambutan itu. 


Saya dan Rifki menempati kamar standar yang menghadap langsung ke danau. Di dalamnya terdapat juga ruang tamu, televisi, lemari es, dan kamar mandi yang ada bath tub-nya. Samosir Villa Resort ini berada di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba. Untuk menuju ke sini bisa menyeberang menggunakan kapal melalui Parapat, lokasi tepatnya berada di Jl. Lingkar Tuktuk Siadong, Simanindo. Ada banyak fasilitas yang disediakan di penginapan ini, yaitu wifi, AC, air panas, restoran, dan juga kolam renang. Tapi sayangnya saat itu air panasnya gak berfungsi. Makanan yang ada di restoran ini pun enak-enak, terutama makanan khas Batak yang memiliki cita rasa unik.
 

Desain arsitektur penginapan ini sangat bagus sekali, karena menggunakan desain rumah tradisional Batak, dengan atap yang mencuat dan meruncing di kedua sudutnya, mirip seperti rumah Gadang. Dinding bata merah membuatnya jadi semarak, apalagi ditambah dengan corak motif Batak di tiap sudutnya.


Udara di danau Toba cukup sejuk, karena merupakan dataran tinggi yang membentuk kaldera sangat luas, tidak seperti di pantai yang lembab dan mudah membuat kulit jadi lengket. Bagi saya, saat traveling, bangun pagi hari adalah suatu keharusan, karena ada banyak aktivitas yang bisa kita lakukan di sini yaitu berenang, sarapan, dan juga memotret, selain itu juga setelah sarapan, cobalah mengeksplor di berbagai sudut, karena jika dilihat sekilas suasananya mirip sekali dengan danau-danau di Eropa.

 


Meskipun banyak sekali turis asing Pulau Samosir, suasana di sini tetaplah tenang, tidak seperti di Bali yang selalu hingar bingar dengan segambreng aktivitas yang ada. Ada banyak obyek wisata menarik yang bisa dikunjungi di sekitar pulau Samosir ini, seperti Batu Gantung, “Pantai” Pasir Putih, Museum Batak, Huta Siallagan, rumah pengasingan Bung Karno, Air Terjun Binangalom, dan Pusuk Buhit.


Jadi, paling tidak dibutuhkan 2 malam menginap di sini agar bisa puas mengeksplor berbagai keunikan di Pulau Samosir ini. Duhh, semoga suatu saat bisa kembali berkunjung ke sini lagi bersama istri.
Menjelang lebaran memang banyak acara buka puasa bersama. Beruntung saat itu saya dan istri diundang untuk buka puasa bersama Asuransi Astra di Harlequin Bistro Kemang.

Tidak hanya buka puasa bersama ini, tapi juga adanya sharing oleh Marcell Kurniawan, SDKV dari RDC (The Real Driving Centre) tentang keselamatan berkendara saat mudik menggunakan mobil pribadi atau sewaan. Beliau memaparkan data tingkat kecelakaan selama mudik lebaran tahun 2016 terjadi 4550 kecelakaan dan di tahun 2017 terjadi penurunan menjadi 3168. Meskipun begitu, kerugian materiil menjadi naik, karena korban meninggal sebagian besar adalah pengemudi yang menjadi tulang punggung keluarga, sehingga tingkat kesejahteraan menurun.


Maka dari itu, sebelum berkendara sebaiknya mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatunya, karena “If we fail the prepare, we prepare the fail”. Ada beberapa yang harus diperhatikan sebelum berkendara, yaitu :

1. Servislah kendaraan terlebih dahulu di tempat resmi agar kendaraan dipastikan aman dan siap digunakan.

2. Pastikan kondisi fisik dan psikologis pengemudi dalam keadaan sehat, karena mempengaruhi kinerja dalam mengemudi, serta siapkan pengemudi cadangan bila perlu.

3. Bawalah kelengkapan berkendara seperti SIM dan juga STNK. Selain itu juga jangan lupa untuk membawa perlengkapan darurat untuk kendaraan seperti ban cadangan, dongkrak, kunci, dan juga kotak P3K.

4. Saat berkendara, fokuslah pada jalanan, jangan lengah sedikitpun. Jangan menggunakan ponsel meskipun telepon menggunakan earphone sekalipun. Begitu juga saat melihat GPS ataupun speedometer tidak lebih dari 3 detik.

5. Idealnya beristirahatlah jika sudah mengemudi 3 jam, karena pada masa itu konsentrasi mulai berkurang.

6. Makanlah makanan bergizi. Jangan mengkonsumsi minuman beralkohol, dan minumlah air putih secukupnya agar tidak untuk menghindari dehidrasi saat sahur.

7. Obat mengantuk itu bukanlah minum kopi, tapi tidur ! Jadi jika sudah terasa mengantuk, segera cari rest area terdekat untuk beristirahat, atau gantian dengan teman yang lain.

8. Sebelum memulai perjalanan, berdoalah terlebih dahulu, dan jangan lupa beri kabar kepada kerabat lain tentang rencana mudik ini agar dapat membantu jika butuh pertolongan.

9. Nahh, ini yang paling penting, asuransikan kendaraanmu untuk mengantisipasi resiko selama di perjalanan.

10. Patuhi rambu lalu lintas, memperbanyak rasa sabar dan harus saling menghormati antar pengguna jalan lain.


Ngomong-ngomong soal asuransi, ada salah satu cara unik untuk mengetahui mana asuransi yang baik. Cobalah telepon call center di atas pukul 21.00, karena penyedia asuransi yang baik akan melayani pelanggan 24 jam :D  

Oh iya, asuransi memberi perlindungan atas kendaraan bermotor terhadap berbagai resiko, seperti tabrakan, benturan, pencurian, dan juga kebakaran. Tapi polis asuransi tidak berlaku jika kendaraan digunakan untuk lomba/karnaval, penggelapan, kelebihan muatan, aus/sifat material, di bawah pengaruh alkohol, dan tidak memiliki SIM. Jadi harap patuhi peraturan yaa.




Buka puasa bersama Astra yang dihadiri oleh travel blogger, influencer, dan juga vlogger itu berlangsung meriah, terutama saat pembagian door prize. Ketika menyantap menu berbuka, kami juga disuguhkan tayangan film dokumenter tentang kampanye #PijarIlmu yang diadakan Asuransi Astra bulan Mei lalu. Di kampanye ini Astra memberi kelas inspirasi dan revitalisasi perpustakaan SD negeri di 28 sekolah, termasuk yang di daerah pelosok. Sangat menginspirasi sekali, mengingat masih banyak anak-anak Indonesia yang masih kurang akses pendidikannya.



Waahh...sangat bermanfaat sekali acaranya, seneng banget bisa ketemu temen-temen lainnya. Terima kasih buat Asuransi Astra yang telah mengundang saya dan memberikan sharing tentang tips mengemudi kendaraan saat mudik, semoga bermanfaat bagi semuanya.

Selamat mudik...

Ingat, utamakan keselamatan yaa...



Sore itu saya harus pulang kantor lebih awal dari biasanya untuk mengikuti acara buka bersama d’Traktir Bukber Detik Travel & Tiket.com di The Hook Resto. Dengan memacu kecepatan lebih cepat dan nyelap-nyelip kemacetan sana sini tanpa melanggar lalu lintas, akhirnya saya bisa sampai lokasi yang berada di Kebayoran Baru dengan tepat waktu. Aroma keseruan sudah terasa ketika baru memasuki The Hook, yang saat itu didominasi dengan warna biru.
 
foto : Detik Travel


Acara sesi pertama dimulai dengan sharing tentang keseruan bekerja sebagai travel jurnalis oleh Fitraya Ramadhani dari Detik Travel. Perlu diketahui, Travel jurnalis adalah salah satu profesi yang disukai oleh para traveler atau orang-orang yang gemar jalan-jalan. Bagaimana tidak, kita bisa jalan-jalan gratis dan dibayar pula, jadi tidak perlu susah-susah untuk mengajukan cuti untuk jalan-jalan. Di saat yang bersamaan, Metha Tri Riska selaku PR Manager Tiket.com juga sharing dengan memberikan tips bagaimana traveling mendapatkan tiket murah di operator yang dipercaya, seperti yang biasa promo diberikan Tiket.com, ada banyak kemudahan di sana. Ini sih sangat berguna sekali buat traveler yang minim budget seperti saya.
 

Selanjutnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba, sesi sharing pengalaman bersama Jebraw dan juga Cia Wardhana. Di sesi ini berlangsung penuh candaan, karena kedua narasumber aslinya memang rame banget, selalu bikin heboh. Sempat juga para peserta dibuat terharu karena mendengarkan pengalaman Jebraw saat traveling ke salah satu kota di Maluku, yang saat ini menjunjung tinggi toleransi pasca kerusuhan antar agama beberapa tahun silam. Tak kalah dengan Jebraw, Cia Wardhana pun turut membagikan pengalaman menariknya melalui video saat wisata kuliner di Korea.

Cia yang gemar makan, mencoba makan di sebuah tempat yang menyajikan seafood dalam keadaan hidup. Iyahh, dimakan dalam keadaan hidup, dan bagian tubuhnya yang masih bergerak-gerak langsung disantap hanya dengan diolesi bumbu dan beberapa sayuran. Sontak saja peserta yang datang bergidik geli membayangkan tentakelnya bergerak-gerak di kerongkongan dan masuk ke perut sambil menari-nari. Memang sih dibutuhkan keberanian untuk melakukan hal ini. Bagi saya….hhhmmm…mending disuruh bungee jumping atau sky diving sekalian daripada disuruh makan yang aneh-aneh.

Semakin sore keseruan pun menjadi-jadi, karena ada games menarik dari panitia yang menuntut kekompakan tim dalam adu menyanyikan lagu yang bersahut-sahutan. Meskipun puasa, tidak nampak kelelahan atau kelesuan para peserta dalam mengikuti tantangan ini. Ya iyalah, ini demi mendapatkan hadiah menarik dari Tiket.com, yaitu voucher belanja jutaan rupiah. Lumayan buat lebaran :D

Setelah mengikuti games, peserta dihibur oleh kepiawaian Jebraw yang menciptakan lagu secara spontan saat itu juga. Hanya dengan bermodalkan gitar dan beberapa kata kunci, dia sudah bisa menciptakan lagu yang bagus, sama seperti ketika di video Jalan-Jalan Men yang fenomenal itu.

Tak terasa waktu sudah Magrib yang mengharuskan kita buka puasa bersama. Sajian makanan dari The Hook yang enak membuat para peserta asik dan tenang menikmatinya. Pada sesi terakhir, bagi-bagi hadiah dari Tiket.com pun masih berlanjut, tapi sayangnya saya belum beruntung pada kali ini, begitupun foto-foto yang saya dokumentasikan melalui ponsel terhapus, jadi menyisakan 1 saja yang layak posting T_T.

Yahh…mudah-mudahan di lain kesempatan saya bisa ikutan acara dari Detik Travel dan juga Tiket.com seperti ini lagi. Selain menambah wawasan di dunia traveling juga menambah teman yang sehobi, karena bersama teman yang baik, traveling ke destinasi biasa, jadi luar biasa.

Jadi, mau ke mana ? Ke manapun, Tiket.com aja !




Kota Jakarta memang memiliki ragam keunikan budaya dan aktivitasnya. Di bulan suci ramadan ini banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu sambil menunggu berbuka puasa seperti berkunjung ke Taj Mahal-nya Jakarta.
 
Sore itu saya bersama istri dan temannya sengaja mengunjungi bangunan “Taj Mahal” tersebut karena penasaran. Untungnya lokasinya sangat mudah ditemui, yaitu berada di wilayah Sunter Jakarta Utara, tepatnya di Jalan Danau Sunter Raya Selatan. Ternyata bangunan tersebut merupakan sebuah masjid.

Masjid yang bernama Ramlie Musofa ini, selain untuk beribadah, juga bisa menjadi tempat wisata religi karena keunikan dan keindahan arsitektur bangunan tersebut. 


Pada tahun 2016, Masjid Ramlie Musofa diresmikan oleh Ramli Rasidin, sang pemilik yang merupakan keturunan Tionghoa asal Aceh. Ramlie Musofa sendiri adalah singkatan dari nama anggota keluarganya, yaitu Ram = Ramli Rasidin, Lie = Lie Njoek Kim, Mu = Muhamad Rasidin, So = Sofyan, dan Fa = Fabian Rasidin.

Dengan perpaduan tiga unsur budaya Melayu, Arab, dan China, membuat masjid ini sangat unik. Ditambah lagi adanya tulisan aksara Mandarin yang membuat kita jika berfoto di depannya, seolah-olah berada di China. Sang pemilik memilih konsep desain seperti Taj Mahal ini karena ingin masjid ini tetap abadi seperti bangunan Taj Mahal di India yang dipenuhi jamaah sepanjang masa.

Saat memasuki masjid melewati tangga, di sebelah kanan dan kirinya terdapat ukiran terjemahan Surat Al-Fatihah dalam bahasa Indonesia dan Mandarin. Dinding pembatas bagian depan terdapat ukiran Surat Al-Qoriah dalam 3 bahasa. Pada bagian dalam tempat berwudhu juga terdapat ukiran tata cara berwudhu. Jadi ini sangat membantu sekali bagi para mualaf yang atau orang-orang yang ingin belajar tentang Islam.


Setelah berkunjung dari masjid, kami mencoba untuk mengeksplor Danau Sunter yang letaknya berseberangan dari masjid ini. Di danau ini pinggirnya terlihat bagus karena berwarna-warni. Tapi saya merasa aneh, karena bentuk danaunya berbeda seperti apa yang diberitakan selama ini. 


Dari situ kami memutuskan untuk pulang dengan putar balik, tapi sayangnya kami kebablasan untuk cari celah putaran baliknya. Saat ingin putar balik di depan ternyata ada danau juga, dan itu ternyata Danau Sunter yang “asli”, persis sama dengan apa yang diberitakan di media. Danau Sunter ini memang sempat fenomenal belakangan ini, karena kondisinya kini telah bersih dan pernah dijadikan tempat ajang ketangkasan berenang antara Menteri Susi Pudjiastuti dan Wagub DKI Sandiaga Uno. 

Setelah menemukan danaunya, kami memutuskan untuk mampir terlebih dahulu untuk menikmati suasananya.

Trotoar yang rapi dan bersih membuat kita nyaman menelusurinya.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sini, seperti jogging di trotoar, memancing, bermain bebek-bebekan, ataupun bersantai di pinggirnya sambil menikmati angin yang berhembus sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Anak-anak sekitar yang ngabuburit dengan menikmati suasana danau.
Bagi yang belum bawa makanan untuk berbuka jangan khawatir, karena di sepanjang pinggiran danau sudah tersedia berbagai hidangan takjil seperti kolak, es cendol, es campur, gorengan, kue-kue tradisional, dan juga tidak ketinggalan es kepal yang sedang hits itu. 

Sebenarnya, oleh Pemkot, kawasan Danau Sunter ini memang dijadikan pusat jajanan ramadan Jakarta Utara, jadi sangat cocok sekali untuk tempat ngabuburit bersama keluarga sambil menikmati suasana di danau yang saat ini sudah bersih, sambil mencoba berbagai alternatif sajian menu berbuka puasa.


#Genpi #PesonaRamadan2018 #PesonaIndonesia



Tak salah memang Venezia atau Venice di Italia diklaim menjadi salah satu tempat romantis di muka bumi. Banyak sekali pasangan dari berbagai belahan dunia yang berbulan madu atau sekadar foto prewedding di kota yang terkenal dengan kanal airnya itu. Untuk mencapai ke sana tidaklah mudah, karena harus melalui perjalanan yang panjang dan biaya yang tidak sedikit. Namun semua itu bisa disiasati bagi yang memiliki dana terbatas seperti saya ini, yaitu ke Little Venice di kawasan Kota Bunga, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat.


Kota Bunga sebenarnya adalah kompleks Villa mewah yang disewakan, namun di dalamnya terdapat tempat wisata yang dibuka untuk umum, seperti kolam renang, kolam pancing, arena fantasi, tempat bermain anak, dan juga Little Venice. Untuk menuju ke sana, dari Jakarta arahkan ke kawasan Puncak, Cipanas yang ditempuh sekitar 2 jam. Setelah jembatan Ciloto terdapat pertigaan yang ada tulisan Taman Bunga Nusantara lalu belok kiri. Tidak jauh dari situ akan menemukan pintu gerbang Kota Bunga di sebelah kiri. Perlu dicatat, bahwa Kota Bunga itu berbeda dengan Taman Bunga Nusantara, jadi jangan sampai salah.


 Saat masuk kawasan Kota Bunga kita akan melewati villa mewah dengan berbagai macam tema arsitektur, seperti Jepang, China, Belanda, dan berbagai negara lainnya yang fotogenik dan membuat kita ingin foto-foto di situ. Tidak jauh dari situ kita akan sampai di gerbang Little Venice. Tiket masuknya pun cukup murah, hanya Rp 25.000 untuk hari biasa, dan Rp 40.000 saat hari libur. 



Apa saja yang bisa kita lakukan di sana ?


Di Little Venice terdapat berbagai wahana air seperti gondola/perahu, Kapal Mississipi, bebek-bebekan, sepeda air, banana boat, dan perahu naga. Namun yang paling ikonik adalah gondola ala Venice. Untuk menaiki wahana ini harus membayar lagi Rp 20.000 per orang, uniknya di sini semua wahana transaksinya menggunakan kartu khusus semacam e-money. Oh iya, satu gondola minimal diisi oleh 2 orang. Pastikan kamu membawa pasangan yahh supaya terlihat romantis, soalnya kalau sesama jenis kan kesannya gimana gitu :D


Gondola ini mengarungi hanya 1 lap kawasan, sekitar 15 menit. Nantinya kita akan melewati bangunan seolah-olah kanal seperti di Venice aslinya. Cobalah eksplorasi beberapa angle untuk mendapatkan foto terbaik, bisa dari pinggir ataupun dari atas. Memang diperlukan kecermatan, karena jika ramai pengunjung akan “bocor” dan bisa mengurangi estetika. Maka dari itu bisa juga pakai jasa saya untuk memotretnya, nanti akan saya arahkan supaya mendapatkan momen terbaik :D


Setelah merasakan gondola ala Venice, cobalah bermain di arena ketangkasan, atau bisa juga mengeksplor lokasi lain untuk berfoto, karena di sini ada beberapa spot ikonik seperti Merlion, Torii alias gapura tradisional Jepang, dan bangunan ala Eropa lainnya. Jadi bawalah busana yang bagus untuk memperkuat foto di lokasi.

Well, beginilah salah satu cara saya untuk menikmati romantisme ala Venezia dengan budget murah. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa menaiki gondola di Venezia aslinya di Italia bersama istri tercinta. Aamiin.