Ngerinya Terombang-ambing di Pantai Timang

/ May 18, 2018

Sosial media memang sangat berperan penting dalam perkembangan pariwisata di Indonesia. Kini dengan mudahnya tiap orang mendapatkan informasi berbagai obyek wisata yang dahulu tidak pernah di-expose. Seperti contohnya Pantai Timang di Gunung Kidul ini. Saat kali pertama saya mengunjungi tempat ini pada tahun 2012 terlihat sangat sepi sekali, hampir tidak ada aktivitas apapun,  karena dulu hanya digunakan untuk mencari lobster dan memancing ikan oleh warga sekitar. Namun kini telah ramai oleh pengunjung yang hilir-mudik menggunakan mobil off-road. Salah satu yang mempengaruhi tempat ini jadi ramai adalah tayangan Running Man dari Korea. Para penggemar K-Pop atau K-Drama pasti pada penasaran ingin mengunjungi tempat ini.

Untuk akses mencapai Pantai Timang, dari kota Yogyakarta bisa melalui Jl. Wonosari. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 42 menit. Jauh memang, karena pantai tersebut letaknya sebelum Pantai Siung. Ada beberapa jalur yang bisa digunakan untuk masuk ke pantai tersebut, tapi saya merekomendasikan jalur yang dekat tikungan sebelum Pantai Siung, karena dari situ jalur aspalnya cukup panjang sebelum melewati jalur berbatu.

Di beberapa titik di depan, nantinya ada pos yang dikelola oleh warga, di situ biasanya kendaraan pengunjung diberhentikan dan mereka menganjurkan untuk menggunakan mobil off-road ataupun ojek karena akan melewati jalur yang sempit dan berbatu. Para warga memberikan informasi seolah-olah jalurnya tersebut sama sekali tidak bisa dilewati. Untung sebelumnya saya sudah pernah ke sini dua kali, jadi saya paham jalurnya dan tidak terpengaruh dengan bujuk rayuan mereka untuk menggunakan jasa transportasi mereka, karena mobil Mitsubishi Xpander kami sudah cukup mumpuni untuk melewati jalur seperti itu. Yahh…lumayan menghemat karena untuk naik ojek harus membayar Rp 50.000 dan mobil off-road sekitar Rp 350.000.


Bayangan jalan yang lebih bagus daripada tahun 2012 sirna sudah, karena saat ke sini kembali tidak ada perubahan yang berarti. Seharusnya semakin terkenal, aksesnya dibuat lebih baik lagi, toh, pendapatan Kab. Gunung Kidul dari retribusi tiket area sudah sangat besar sekali, belum lagi jika mendapat dukungan dari pihak swasta.

Memang perlu kehati-hatian saat melewati jalur berbatu ini, terlebih lagi saat hujan yang membuat jalur semen menjadi sangat licin. Tapi sangat disayangkan sekali, saat kami beberapa kali berpapasan dengan mobil off-road yang disewakan untuk pengunjung, mereka tidak mau minggir untuk berbagi jalan dengan kami. Sudah tahu sempit mereka mengeluh dan enggan untuk mengalah, padahal mobil yang kami tumpangi sudah mengalah. Tapi, lain halnya ketika berpapasan dengan mobil penduduk desa setempat, mereka dengan sadar untuk saling berbagi, dan sangat ramah saat kami melewatinya.


Ketika sampai lokasi, saya dibuat takjub karena tempat ini sudah ramai sekali. Dahulu hanya ada gondola kereta gantung tradisional saja, namun saat ini sudah terdapat warung, spot selfie, dan jembatan gantung. Untuk menyeberang ke Pulau Panjang yang ada di seberangnya ada dua pilihan, naik gondola seharga Rp 150.000 / orang atau menggunakan jembatan gantung dengan tarif Rp 100.000. Ternyata dua “wahana” itu dikelola oleh kelompok yang berbeda, sehingga terdapat 2 loket untuk membeli tiketnya. Cukup mahal juga ternyata dengan peralatan tradisional seperti itu yang kurang memenuhi standar. Namun, dengan harga segitu sudah termasuk asuransi kecelakaan atau kematian, tapi alangkah lebih baik jangan sampailah kita menggunakan asuransi tersebut :D


Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya mencoba menyeberang menggunakan jembatan gantung. Tiket yang dibayarkan, selain ada asuransi juga sudah termasuk pendamping (bukan pendamping hidup lho yaa). Tujuan pendamping di sini untuk memastikan keselamatan agar pengunjung tidak berfoto di area berbahaya, dan juga membantu memotret. Jadi gak perlu bawa tripod karena sudah ada yang motretin, lumayaaan. Eh, iya, mereka juga mengerti beberapa teknis fotografi lho, seperti framing dan juga siluet, mungkin belajar dari selera para pengunjung atau referensi dari internet.


Dag…dig…duggg…byurrr….

“Pegangan tali yang warna putih mas” kata salah seorang petugas.

Jembatan dan juga gondola di sini sangat unik, karena dibuat secara tradisional menggunakan tali tambang dan kayu batang pohon sebagai penyangganya, jadi sebenarnya keamanannya kurang terjamin, namun ya seperti itulah, ada asuransi ini…((asuransii))).


Begitulah yang saya rasakan saat terombang-ambing di tengah-tengah jembatan gantung ini. Angin yang sangat kencang membuat jembatan sepanjang sekitar 125 meter ini naik turun, sehingga harus dijaga 2 orang lagi untuk menyeimbangkannya. Sesekali ombak yang terhempas ke karang membuat cipratannya naik ke atas, jadi harus hati-hati, terutama bagi yang membawa kamera, karena tiada maaf lagi bila sampai terkena sensornya.


Sesampainya di Pulau Panjang, para pengunjung akan disuguhi segelas air mineral, namun jangan sampai sampahnya ditaruh sembarangan, karena akan tertiup angin ke laut. Sebenarnya, tidak ada yang spesial sih di pulau berbatu ini, hanya tulisan Timang saja, namun kita bisa sedikit mengeksplor berbagai angle untuk foto dengan bantuan mas-mas pendamping tadi.

Memang untuk ke Pantai Timang ini tidak dikenai biaya masuk, tapi jika ingin foto-foto di beberapa spot selfie di sekitarnya akan dikenai biaya mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per orang untuk fasilitas yang tak seberapa bagusnya. Jadi harap membawa uang lebih banyak, karena untuk obyek wisata sekelas Jogja tergolong menguras kantong.


Tips :

- Jika membawa kendaraan, pastikan kendaraan dalam keadaan sehat.
- Tidak disarankan menggunakan kendaraan sedan atau yang kendaraan berbentuk ceper.
- Parkir mobil tidak lebih dari Rp 10.000.
- Jangan mencoba bongkar pasang lensa, karena di sini anginnya sangat kencang, rawan terkena sensor.
- Pakailah sepatu untuk melindungi dari tajamnya batu karang.


Sosial media memang sangat berperan penting dalam perkembangan pariwisata di Indonesia. Kini dengan mudahnya tiap orang mendapatkan informasi berbagai obyek wisata yang dahulu tidak pernah di-expose. Seperti contohnya Pantai Timang di Gunung Kidul ini. Saat kali pertama saya mengunjungi tempat ini pada tahun 2012 terlihat sangat sepi sekali, hampir tidak ada aktivitas apapun,  karena dulu hanya digunakan untuk mencari lobster dan memancing ikan oleh warga sekitar. Namun kini telah ramai oleh pengunjung yang hilir-mudik menggunakan mobil off-road. Salah satu yang mempengaruhi tempat ini jadi ramai adalah tayangan Running Man dari Korea. Para penggemar K-Pop atau K-Drama pasti pada penasaran ingin mengunjungi tempat ini.

Untuk akses mencapai Pantai Timang, dari kota Yogyakarta bisa melalui Jl. Wonosari. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 42 menit. Jauh memang, karena pantai tersebut letaknya sebelum Pantai Siung. Ada beberapa jalur yang bisa digunakan untuk masuk ke pantai tersebut, tapi saya merekomendasikan jalur yang dekat tikungan sebelum Pantai Siung, karena dari situ jalur aspalnya cukup panjang sebelum melewati jalur berbatu.

Di beberapa titik di depan, nantinya ada pos yang dikelola oleh warga, di situ biasanya kendaraan pengunjung diberhentikan dan mereka menganjurkan untuk menggunakan mobil off-road ataupun ojek karena akan melewati jalur yang sempit dan berbatu. Para warga memberikan informasi seolah-olah jalurnya tersebut sama sekali tidak bisa dilewati. Untung sebelumnya saya sudah pernah ke sini dua kali, jadi saya paham jalurnya dan tidak terpengaruh dengan bujuk rayuan mereka untuk menggunakan jasa transportasi mereka, karena mobil Mitsubishi Xpander kami sudah cukup mumpuni untuk melewati jalur seperti itu. Yahh…lumayan menghemat karena untuk naik ojek harus membayar Rp 50.000 dan mobil off-road sekitar Rp 350.000.


Bayangan jalan yang lebih bagus daripada tahun 2012 sirna sudah, karena saat ke sini kembali tidak ada perubahan yang berarti. Seharusnya semakin terkenal, aksesnya dibuat lebih baik lagi, toh, pendapatan Kab. Gunung Kidul dari retribusi tiket area sudah sangat besar sekali, belum lagi jika mendapat dukungan dari pihak swasta.

Memang perlu kehati-hatian saat melewati jalur berbatu ini, terlebih lagi saat hujan yang membuat jalur semen menjadi sangat licin. Tapi sangat disayangkan sekali, saat kami beberapa kali berpapasan dengan mobil off-road yang disewakan untuk pengunjung, mereka tidak mau minggir untuk berbagi jalan dengan kami. Sudah tahu sempit mereka mengeluh dan enggan untuk mengalah, padahal mobil yang kami tumpangi sudah mengalah. Tapi, lain halnya ketika berpapasan dengan mobil penduduk desa setempat, mereka dengan sadar untuk saling berbagi, dan sangat ramah saat kami melewatinya.


Ketika sampai lokasi, saya dibuat takjub karena tempat ini sudah ramai sekali. Dahulu hanya ada gondola kereta gantung tradisional saja, namun saat ini sudah terdapat warung, spot selfie, dan jembatan gantung. Untuk menyeberang ke Pulau Panjang yang ada di seberangnya ada dua pilihan, naik gondola seharga Rp 150.000 / orang atau menggunakan jembatan gantung dengan tarif Rp 100.000. Ternyata dua “wahana” itu dikelola oleh kelompok yang berbeda, sehingga terdapat 2 loket untuk membeli tiketnya. Cukup mahal juga ternyata dengan peralatan tradisional seperti itu yang kurang memenuhi standar. Namun, dengan harga segitu sudah termasuk asuransi kecelakaan atau kematian, tapi alangkah lebih baik jangan sampailah kita menggunakan asuransi tersebut :D


Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya mencoba menyeberang menggunakan jembatan gantung. Tiket yang dibayarkan, selain ada asuransi juga sudah termasuk pendamping (bukan pendamping hidup lho yaa). Tujuan pendamping di sini untuk memastikan keselamatan agar pengunjung tidak berfoto di area berbahaya, dan juga membantu memotret. Jadi gak perlu bawa tripod karena sudah ada yang motretin, lumayaaan. Eh, iya, mereka juga mengerti beberapa teknis fotografi lho, seperti framing dan juga siluet, mungkin belajar dari selera para pengunjung atau referensi dari internet.


Dag…dig…duggg…byurrr….

“Pegangan tali yang warna putih mas” kata salah seorang petugas.

Jembatan dan juga gondola di sini sangat unik, karena dibuat secara tradisional menggunakan tali tambang dan kayu batang pohon sebagai penyangganya, jadi sebenarnya keamanannya kurang terjamin, namun ya seperti itulah, ada asuransi ini…((asuransii))).


Begitulah yang saya rasakan saat terombang-ambing di tengah-tengah jembatan gantung ini. Angin yang sangat kencang membuat jembatan sepanjang sekitar 125 meter ini naik turun, sehingga harus dijaga 2 orang lagi untuk menyeimbangkannya. Sesekali ombak yang terhempas ke karang membuat cipratannya naik ke atas, jadi harus hati-hati, terutama bagi yang membawa kamera, karena tiada maaf lagi bila sampai terkena sensornya.


Sesampainya di Pulau Panjang, para pengunjung akan disuguhi segelas air mineral, namun jangan sampai sampahnya ditaruh sembarangan, karena akan tertiup angin ke laut. Sebenarnya, tidak ada yang spesial sih di pulau berbatu ini, hanya tulisan Timang saja, namun kita bisa sedikit mengeksplor berbagai angle untuk foto dengan bantuan mas-mas pendamping tadi.

Memang untuk ke Pantai Timang ini tidak dikenai biaya masuk, tapi jika ingin foto-foto di beberapa spot selfie di sekitarnya akan dikenai biaya mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per orang untuk fasilitas yang tak seberapa bagusnya. Jadi harap membawa uang lebih banyak, karena untuk obyek wisata sekelas Jogja tergolong menguras kantong.


Tips :

- Jika membawa kendaraan, pastikan kendaraan dalam keadaan sehat.
- Tidak disarankan menggunakan kendaraan sedan atau yang kendaraan berbentuk ceper.
- Parkir mobil tidak lebih dari Rp 10.000.
- Jangan mencoba bongkar pasang lensa, karena di sini anginnya sangat kencang, rawan terkena sensor.
- Pakailah sepatu untuk melindungi dari tajamnya batu karang.

Continue Reading
Setelah tidak puas dengan pemandian air panas Gunung Panjang, kami memutuskan untuk ke destinasi selanjutnya yang tidak jauh dari lokasi sebelumnya, yaitu Gunung Peyek. Untuk menuju lokasi tersebut, kami melewati kompleks militer lalu tiba di sebuah perkampungan. Dari perkampungan ini kita bisa menitipkan motor di rumah warga, dengan membayar parkir sebesar Rp 5.000. 


Dari rumah warga, perjalanan masih harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati pematang sawah dengan jarak sekitar 200 meter. Saat melewati sawah haruslah waspada, karena saat melintas, kami menemukan ular sawah sedang memangsa kodok. Beruntung, ular itu tidak terinjak oleh kaki saya. 

Dari kejauhan sudah nampak gundukan berwarna putih kecoklatan, dan itulah yang disebut warga sekitar sebagai Situs Gunung Peyek. Tempat ini memang dianggap sakral, jadi hanya untuk keperluan tertentu.

Saat sampai lokasi, saya terheran-heran. Ada yang berbeda ketika saya kembali menyambangi “jacuzzi” Gunung Peyek dan membandingkan keadaannya seperti pada tahun lalu. Di lokasi Situs Gunung Peyek ini sudah sangat berubah drastis, sehingga membuat saya pangling. Lubang-lubang sumber air panas yang berada di bukit kapur, kini telah ditutupi oleh besi dan diberi pagar, kondisinya pun memperihatinkan, kotor dan berbuih. Pada bagian bawah bukit juga sudah dibangun kolam pemandian air panas dan terdapat warung-warung semi permanen. 

Awalnya saya dan istri ingin berendam air panas di sana sambil menikmati suasana pemandangan sawah nan asri. Tapi begitu melihat kondisinya seperti itu, saya mengurungkan niat, karena tidak ada lagi yang bisa dinikmati. Padahal orang-orang pada umumnya datang ingin menikmati suguhan sumber air panas alami yang dipadukan dengan keindahan pemandangan layaknya di Jepang, tapi malah dibangun seperti kolam renang. Tidak ada yang spesial lagi. Maka dari itu, kini saya telah mencoret dari daftar destinasi yang ingin saya rekomendasikan kepada rekan-rekan semuanya.


Lagi-lagi saya kecewa...semoga mereka bisa berbenah diri lebih baik lagi. 




*padahal dulunya begini
Saat masih tinggal di Jogja, istri saya selalu mandi menggunakan air panas di rumahnya. Namun setelah sudah menikah dan tinggal bersama saya, dia jadi jarang mandi pakai air panas, karena malas harus merebus air dulu :D Nah, suatu pagi saat libur, saya sempatkan mengajaknya untuk mencoba berendam di air panas alami yang letaknya sekitar 1 jam dari Pamulang, yaitu di pemandian air panas Gunung Panjang, Ciseeng, Parung, Kabupaten Bogor.

Dengan lokasi yang tidak jauh dari kota Jakarta, membuat pemandian ini cukup ramai bila akhir pekan. Di Ciseeng sendiri terdapat kawasan gunung kapur yang memiliki sumber air panas alami. Di kawasan ini pula terdapat beberapa tempat pemandian air panas yang yang telah dikelola swasta maupun oleh masyarakat setempat, seperti Tirta Sanita, Gunung Panjang, dan juga Gunung Peyek. Namun pada hari itu, saya memutuskan untuk berendam ke air panas Gunung Panjang.

Setahun sebelumnya, saya sudah pernah mengunjungi tempat ini sendirian. Saya sangat berharap di kunjungan yang ke-dua ini obyek wisatanya semakin maju dan terawat. Tapi sayangnya, saat ke sana, tidak ada perubahan sama sekali dalam hal pengelolaannya. Malah semakin mahal. Untuk parkir harus merogoh kocek Rp 5.000, menurut saya ini masih batas wajar. Namun saat masuk lokasi dikenakan tarif sebesar Rp 10.000 per orang. Itu pun hanya untuk masuk kawasan yang tidak bagus-bagus amat. 

Untuk menuju tempat pemandiannya masih harus berjalan kaki menaiki bukit. Saat sampai di lokasi, ternyata masih dikenakan biaya lagi jika ingin berendam di air panas, yaitu sebesar Rp 10.000 per orang.  Padahal tahun kemarin hanya Rp 5.000. Lha terus kenapa gak dijadiin 1 aja karcis dan tarifnya di depan, tanpa perlu bayar lagi. Sungguh merepotkan sekali. 

Memang hanya Rp 20.000 per orang, tapi menurut saya, dengan uang sebesar itu tidaklah sebanding dengan fasilitas apa yang kita dapatkan, karena bahkan untuk mandi membilas badan atau toilet pun masih dikenakan tarif lagi sebesar Rp 5.000.

What the ffff….

Dikit-dikit bayar, kalau dijumlahkan juga jadi besar dengan fasilitas yang minim sekali. Memang jika di foto nampak indah sekali, karena saya poles sedikit dengan angle tertentu. Padahal, pada kenyataanya tidak seperti itu. Sampah berserakan di mana-mana. 


Kurangnya tempat sampah dan kesadaran pengunjung serta pengelola, membuat banyak lalat yang mengerubungi tempat ini dan menjadi kumuh. Bahkan saat kami datang, ada beberapa keluarga yang “kecele” dengan tempatnya, sehingga memutuskan untuk pulang lagi daripada harus membayar sebesar Rp 10.000. Begitu juga dengan istri saya yang enggan nyemplung ke dalam kolam, karena merasa tidak nyaman. Yahh, apa boleh buat, karena demi pekerjaan, akhirnya saya berendam sejenak di kolam itu.

Bila dibandingkan dengan destinasi lain, pengelolaan di Gunung Panjang ini sangat kurang sekali. Sangat disayangkan, apa yang dibayarkan tidak sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Seharusnya mereka berbenah diri dan berkaca pada obyek wisata lain.


Jadi, sudah cukup tahulah tempat ini.

Tiap orang yang baru menikah pasti ingin merencanakan bulan madu di tempat romantis. Bukan Maldives atau Paris tempat tujuan kami saat itu tapi Bandung yang kami pilih sebagai destinasi bulan madu kali ini. Selain tiap sudutnya menampilkan keromantisan, kota Bandung juga cukup dekat dan mudah aksesnya, tapi yang paling penting adalah menyesuaikan budget kami saat itu :D 

Untuk mewujudkan semua kenyamanan selama traveling di Bandung, saya dan istri @rezadiasjetrani menginap di Hotel Best Western Premier La Grande. Dengan berlokasi di pusat kota Bandung membuat hotel ini sangat mudah ditemui, yaitu di Jl. Merdeka No. 25-29. Tapi saat sudah sampai lokasi, awas jangan sampai salah gedung, karena lokasinya menyatu dengan apartemen La Grande.


Saat memasuki lobby hotel, kami sudah disambut oleh resepsionis yang ramah dan melayani kami dengan aksen Sunda yang kental di setiap kata yang diucapkan. Berbagai ornamen warna merah pun menyemarakkan pagi itu, karena saat itu masih bernuansa Imlek. 

Setelah check in kami langsung menuju kamar di lantai 16 (kalo gak salah). Saat membuka pintu, di atas tempat tidur sudah tersusun rapi sepasang handuk berbentuk “love”, serta ucapan selamat Honey Moon dari manajemen hotel. Memang, saat sebulan sebelumnya saya booking dengan keterangan tambahan ingin Honey Moon di sana supaya dijamu lebih spesial :D


Kamar yang kami tempati merupakan tipe kamar Deluxe dengan tempat tidur yang berukuran besar, meja rias / meja kerja, kulkas mini, dan lemari pakaian dengan lampu otomatis. Pemandangan di luar jendela langsung mengarah ke perkotaan, jadi kita bisa memantau kepadatan jalan dari sini.

Menjelang Magrib, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar, ternyata salah seorang pegawai hotel yang mengantarkan makanan. Makanan yang diantar berupa kue tart yang bertuliskan “Happy Honey Moon”.



“Waaaww….surprise sekali”. 

Malam harinya untuk mengisi waktu kosong, kami sempatkan untuk nonton ke bioskop yang terdapat di seberang jalan. Lokasi hotel ini memang strategis, persis di depannya ada Bandung Indah Plaza, di sebelahnya juga terdapat KFC dan berbagai makanan lain ala pedagang kaki 5. Jadi tidak perlu membawa kendaraan, cukup menyeberang jalan melewati jembatan penyeberangan. 


Untuk sarapan di hotel sudah tersedia mulai pukul 06.00 - 10.00 di Parc De Ville Restaurant yang berada di lantai 3. Makanan yang disajikan berupa makanan Asia dan juga Western, semuanya dijamin enak. Oh iya, restoran ini buka setiap hari dan tersedia juga layanan kamar 24 jam.


Sarapan hari pertama.
Sarapan hari ke-2.
Setelah sarapan asiknya adalah berenang di Cordial Pool Bar yang berada di lantai 4. Kolam renang ini merupakan semi outdoor, dan arahnya langsung berseberangan dengan Bandung Indah Plaza. Yang unik dari kolam renang ini adalah airnya yang hangat, lumayan untuk melancarkan peredaran darah dan membuat rileks tubuh sebelum mengeksplor kota Bandung. 

Well, asik banget bisa menginap di Hotel ini, selain nyaman, yang penting lokasinya sangat strategis, karena banyak spot menarik di sekitar sini, dan juga tidak jauh bila ingin menuju ke Lembang.

Selamat berbulan madu ^_^!
Usia 30 tahun adalah usia yang matang untuk membina rumah tangga. Alhamdulilah saya telah mewujudkan hal itu. Memang, saya menikah baru dua bulan, maka dari itu sejak awal pernikahan saya harus memikirkan segala aspek untuk masa yang akan datang seperti investasi perlindungan kesehatan dan juga pendidikan anak-anak nanti.

Sebagai seorang yang gemar traveling dan menggeluti olahraga ekstrim, saya sangat concern terhadap kesehatan dan keselamatan, karena dua hal itulah modal utama untuk melakukan aktivitas tersebut. Saya sadar bahwa aktivitas outdoor memiliki resiko yang tinggi, maka dari itu saya butuh perlindungan melalui asuransi jiwa.




Bicara soal asuransi, banyak orang yang menyepelekan hal ini, padahal pada kenyataannya memang memberikan manfaat yang sangat besar buat kehidupan sehari-hari kita. Seperti contohnya ketika saya sakit dan membutuhkan obat-obatan yang tidak murah, langsung segera asuransi meng-covernya, jadi sangat membantu sekali kondisi keuangan kita saat bermasalah, terutama bagi yang sudah berumah-tangga. Proses klaimnya pun sangat mudah.


Ada banyak pilihan penyedia jasa asuransi saat ini, salah satunya adalah Commonwealth Life yang layanannya tersebar di lebih dari 20 kota besar Indonesia dan telah melayani lebih dari 500.000 nasabah. Selain itu juga produk-produk yang ditawarkan Commonwealth Life seperti Proteksi, Program Unit Link (Investra Link), Asuransi Jiwa Tradisional, dan lain-lain, telah mendapatkan otorisasi dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi kredibilitasnya tidak perlu diragukan lagi.

http://www.commlife.co.id
Maka di usia saya yang sekarang ini, rencana untuk 10 tahun mendatang sudah tersusun matang. Harapan saya ketika usia 40an nanti bisa ter-cover semua kebutuhannya pada jangka panjang dengan mengikuti program Investra Link Extra dari Commonwealth Life. 

Dengan mengikuti program tersebut, kita bisa merencanakan berbagai macam tujuan masa depan seperti pendidikan anak, kesehatan, akumulasi pertumbuhan, persiapan masa pensiun, dan juga sekaligus melindungi kekayaan kita. Jadi program tersebut merupakan perpaduan asuransi jiwa dan juga investasi secara fleksibel. 

Keunggulan lain dari Investra Link Extra adalah adanya Commitment Bonus sebesar 25% dari nilai premi dasar berkala tahun pertama, dan akan diakumulasikan ke dalam nilai investasi pada tahun ke 9 Polis. Pas banget untuk rencana hingga umur 40 tahunan nanti. Jadi, asuransi itu tidak hanya untuk perlindungan, tapi juga merupakan investasi terbaik untuk masa depan, sehingga banyak sekali manfaatnya, bukan cuma diri sendiri tapi juga anggota keluarga yang lain. Jadi tidak perlu ragu lagi. 

Dengan begitu, saya bisa lebih tenang dan bahagia menjalani hidup sehari-hari dan melakukan kegiatan traveling ke berbagai penjuru bersama keluarga.

#HappyLifeBefore40

Sebuah gundukan berwarna putih agak kecoklatan menjadi pusat perhatian mata saya ketika melangkahkan kaki melewati lorong pepohonan di Nami Island Korea Selatan. Awalnya saya pikir itu adalah garam, namun setelah didekati ternyata adalah sisa-sisa salju musim dingin. Saya beruntung saat datang di musim semi masih menemukan salju. Bagi orang yang tinggal di negara tropis pasti akan senang sekali bisa merasakan dinginnya salju. 


Tak lama kemudian datang beberapa turis Indonesia lainnya ke gundukan salju ini untuk bermain membuat bola-bola salju untuk dilemparkan ke temannya. Karena penasaran sekali, saya mencoba menggenggam salju itu, ternyata rasanya sama seperti es serut, namun jumlahnya saja lebih banyak. Seandainya ditambah sirup pasti akan lebih enak, pikir saya.  


Meskipun sudah musim semi, namun udara di sini masih cukup dingin, sekitar 18 derajat Celcius saat siang menjelang sore. Angin yang sesekali berhembus menambah dingin kala itu dan sempat juga terjadi hujan salju tipis saat di perjalanan. Daun-daun pepohonan dan bunga belum seutuhnya bermekaran, karena akhir Maret ini merupakan masa peralihan musim.


Perjalanan selanjutnya adalah ke Mount Seorak menggunakan Cable Car, salju di gunung ini jumlahnya lebih banyak karena memang letaknya di ketinggian jadi udaranya lebih dingin. Warnanya pun lebih putih daripada salju di Nami Island karena di Mount Seorak medannya berupa batuan bukan berupa tanah. Saat berada di cable car saya berbarengan dengan ibu-ibu sosialita, beberapa dari mereka teriak kegirangan ketika mengetahui di puncaknya terdapat banyak salju.

"Wihhh.....SALJU, saljuuu.....ada saljunya" kata mereka.

Dalam hati saya berkata,

"Hihh, dasar ndeso....ndeso,....so...sooooo".

Padahal sebenernya saya juga girang sekali pertama kali ke gunung bersalju dan pengen lompat-lompat. Tapi saya harus tetap tenang dan menjaga image supaya tidak dibilang "Ihh geuleuh" sama orang-orang Korea yang ada di cable car :D


Saya takjub melihat keindahan gunungnya yang beberapa bagiannya masih ditutupi putihnya salju yang berserakan hingga ke lerengnya. Hal itu mengingatkan saya pada gunung-gunung di Indonesia, namun bedanya yang berserakan di Indonesia adalah warna-warni sampah, sungguh miris sekali.

Sebenarnya untuk merasakan dinginnya salju tidak perlu ke luar negeri, tapi bisa juga ke puncak Pegunungan Jayawijaya di Papua, namun untuk menuju ke sana membutuhkan latihan khusus dan biaya yang tidak sedikit. 


Ada keinginan terbesar saya saat ingin sekali merasakan salju pertama kali yaitu ingin menyentuh salju tropis Papua, karena tiap tahun wilayah yang tertutupi salju semakin berkurang karena pemanasan global. Meskipun begitu saya sangat bersyukur sekali bisa diberi kesempatan merasakan salju pertama kali di tanah Korea. Akhirnya rasa penasaran saya terhadap salju selama ini terjawab sudah di tahun 2017 ini.


Taman Impian Jaya Ancol tidak hanya terdapat Dunia Fantasi saja, tetapi ada juga Ocean Dream Samudra, Atlantis, dan juga SeaWorld. Rasanya tidak cukup hanya satu hari untuk mengeksplor semua tempat itu.

Tapi setidaknya membutuhkan waktu tiga hari agar lebih puas dan maksimal menikmatinya. Untuk mendukung segala aktivitas tersebut kita bisa menginap di Putri Duyung Cottage yang masih berada di kawasan Ancol.


Sebuah patung putri duyung besar berwarna putih menyambut kedatangan saya saat itu. Payudadanya yang besar dengan puting yang terlihat jelas, membuat mata saya autofokus ke area tersebut. Saya belum sempat bertanya kenapa si putri tidak mengenakan bra. Untung saja patung ini tidak berada di tengah kota, karena bisa-bisa nasibnya seperti patung kaki raksasa di Yogyakarta yang dipaksa pindah oleh komunitas orang seperti itu karena dianggap pornografi.


Hari itu saya berkesempatan mengeksplorasi Ancol dan menginap di Putri Duyung Cottage bersama tim Detik Travel.

Kenapa harus menginap di sini? Karena Putri Duyung Cottage merupakan satu-satunya hotel resor pantai yang eksotis di Jakarta. Lokasinya pun strategis, hanya berjarak sekitar 20 km saja dari Bandara Soekarno Hatta, jadi memudahkan sekali bagi yang berasal dari luar Jakarta.



Ada banyak fasilitas tambahan yang ditawarkan jika menginap di sini, yaitu masuk gratis kawasan Ancol, lalu saat weekend para tamu akan mendapatkan harga spesial masuk ke Dufan. Dengan memiliki wilayah yang cukup luas, di sini kita bisa lari pagi mengelilingi kompleks cottage sambil melewati danau yang indah, ataupun menggunakan sepeda, dan semuanya gratis.

Setelah berolahraga pagi, cobalah untuk berenang di kolam renang yang letaknya di tepi pantai. Kolam renang ini memiliki bentuk yang unik yaitu menyerupai kapal laut, jadi sangat cocok sekali untuk berenang bersama keluarga sambil bermain ala bajak laut.


Bangunan dengan desain arsitektur ala tahun 90an membuat saya bernostalgia saat jaman keemasan jaman dahulu, karena sering kali lokasi ini dipakai untuk keperluan syuting film.

Cottage yang tersedia memiliki beragam tipe dan bentuknya. Nama-namanya pun menggunakan nama hewan laut yang unik, seperti Paus, Marlin, Hiu, Kakap, Ubur-ubur, dan lain-lain. Hal itu digunakan untuk memudahkan pengunjung untuk mengingatnya dan juga untuk lebih mengenal dunia kelautan.



Tiap cottage kapasitasnya berbeda-beda, mulai dari 4 orang hingga 7 orang, tergantung tipenya. Tapi yang pasti semuanya nyaman dan bikin betah, karena terasa seperti rumah sendiri. Satu hal lagi yang asyik ketika menginap di sini, yaitu pelayanannya 24 jam.

Jadi ketika para peserta acara Piknik detikTravel di Ancol ingin keluar kamar menuju lobby, agak kesulitan, karena saat malam itu hujan deras, sementara jarak dari kamar menuju lobby lumayan jauh jika berjalan kaki.

Tak habis akal, kami langsung saja menelpon resepsionis untuk meminta dijemput menuju lobby menggunakan mobil. Tanpa menunggu lama, mobil jemputan langsung datang dan membawa kami ke tempat tujuan. 




*Saat saya pergi ke pinggir pantai, saya melihat sesuatu yang menyangkut di bebatuan, setelah saya dekati ternyata itu adalah sebuah bra tanpa isinya. Berdasarkan pengamatan itu saya jadi yakin kalau patung putri duyung tadi saat malam berenang di laut, dan ketika siang berubah menjadi batu. Jadi sepertinya malam itu si putri kesiangan untuk balik ke cottage, makanya tidak sempat memakai bra :D