Ngerinya Terombang-ambing di Pantai Timang


Sosial media memang sangat berperan penting dalam perkembangan pariwisata di Indonesia. Kini dengan mudahnya tiap orang mendapatkan informasi berbagai obyek wisata yang dahulu tidak pernah di-expose. Seperti contohnya Pantai Timang di Gunung Kidul ini. Saat kali pertama saya mengunjungi tempat ini pada tahun 2012 terlihat sangat sepi sekali, hampir tidak ada aktivitas apapun,  karena dulu hanya digunakan untuk mencari lobster dan memancing ikan oleh warga sekitar. Namun kini telah ramai oleh pengunjung yang hilir-mudik menggunakan mobil off-road. Salah satu yang mempengaruhi tempat ini jadi ramai adalah tayangan Running Man dari Korea. Para penggemar K-Pop atau K-Drama pasti pada penasaran ingin mengunjungi tempat ini.

Untuk akses mencapai Pantai Timang, dari kota Yogyakarta bisa melalui Jl. Wonosari. Perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 42 menit. Jauh memang, karena pantai tersebut letaknya sebelum Pantai Siung. Ada beberapa jalur yang bisa digunakan untuk masuk ke pantai tersebut, tapi saya merekomendasikan jalur yang dekat tikungan sebelum Pantai Siung, karena dari situ jalur aspalnya cukup panjang sebelum melewati jalur berbatu.

Di beberapa titik di depan, nantinya ada pos yang dikelola oleh warga, di situ biasanya kendaraan pengunjung diberhentikan dan mereka menganjurkan untuk menggunakan mobil off-road ataupun ojek karena akan melewati jalur yang sempit dan berbatu. Para warga memberikan informasi seolah-olah jalurnya tersebut sama sekali tidak bisa dilewati. Untung sebelumnya saya sudah pernah ke sini dua kali, jadi saya paham jalurnya dan tidak terpengaruh dengan bujuk rayuan mereka untuk menggunakan jasa transportasi mereka, karena mobil Mitsubishi Xpander kami sudah cukup mumpuni untuk melewati jalur seperti itu. Yahh…lumayan menghemat karena untuk naik ojek harus membayar Rp 50.000 dan mobil off-road sekitar Rp 350.000.

Bayangan jalan yang lebih bagus daripada tahun 2012 sirna sudah, karena saat ke sini kembali tidak ada perubahan yang berarti. Seharusnya semakin terkenal, aksesnya dibuat lebih baik lagi, toh, pendapatan Kab. Gunung Kidul dari retribusi tiket area sudah sangat besar sekali, belum lagi jika mendapat dukungan dari pihak swasta.

Memang perlu kehati-hatian saat melewati jalur berbatu ini, terlebih lagi saat hujan yang membuat jalur semen menjadi sangat licin. Tapi sangat disayangkan sekali, saat kami beberapa kali berpapasan dengan mobil off-road yang disewakan untuk pengunjung, mereka tidak mau minggir untuk berbagi jalan dengan kami. Sudah tahu sempit mereka mengeluh dan enggan untuk mengalah, padahal mobil yang kami tumpangi sudah mengalah. Tapi, lain halnya ketika berpapasan dengan mobil penduduk desa setempat, mereka dengan sadar untuk saling berbagi, dan sangat ramah saat kami melewatinya.


Ketika sampai lokasi, saya dibuat takjub karena tempat ini sudah ramai sekali. Dahulu hanya ada gondola kereta gantung tradisional saja, namun saat ini sudah terdapat warung, spot selfie, dan jembatan gantung. Untuk menyeberang ke Pulau Panjang yang ada di seberangnya ada dua pilihan, naik gondola seharga Rp 150.000 / orang atau menggunakan jembatan gantung dengan tarif Rp 100.000. Ternyata dua “wahana” itu dikelola oleh kelompok yang berbeda, sehingga terdapat 2 loket untuk membeli tiketnya. Cukup mahal juga ternyata dengan peralatan tradisional seperti itu yang kurang memenuhi standar. Namun, dengan harga segitu sudah termasuk asuransi kecelakaan atau kematian, tapi alangkah lebih baik jangan sampailah kita menggunakan asuransi tersebut :D


Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya mencoba menyeberang menggunakan jembatan gantung. Tiket yang dibayarkan, selain ada asuransi juga sudah termasuk pendamping (bukan pendamping hidup lho yaa). Tujuan pendamping di sini untuk memastikan keselamatan agar pengunjung tidak berfoto di area berbahaya, dan juga membantu memotret. Jadi gak perlu bawa tripod karena sudah ada yang motretin, lumayaaan. Eh, iya, mereka juga mengerti beberapa teknis fotografi lho, seperti framing dan juga siluet, mungkin belajar dari selera para pengunjung atau referensi dari internet.


Dag…dig…duggg…byurrr….

“Pegangan tali yang warna putih mas” kata salah seorang petugas.

Jembatan dan juga gondola di sini sangat unik, karena dibuat secara tradisional menggunakan tali tambang dan kayu batang pohon sebagai penyangganya, jadi sebenarnya keamanannya kurang terjamin, namun ya seperti itulah, ada asuransi ini…((asuransii))).


Begitulah yang saya rasakan saat terombang-ambing di tengah-tengah jembatan gantung ini. Angin yang sangat kencang membuat jembatan sepanjang sekitar 125 meter ini naik turun, sehingga harus dijaga 2 orang lagi untuk menyeimbangkannya. Sesekali ombak yang terhempas ke karang membuat cipratannya naik ke atas, jadi harus hati-hati, terutama bagi yang membawa kamera, karena tiada maaf lagi bila sampai terkena sensornya.


Sesampainya di Pulau Panjang, para pengunjung akan disuguhi segelas air mineral, namun jangan sampai sampahnya ditaruh sembarangan, karena akan tertiup angin ke laut. Sebenarnya, tidak ada yang spesial sih di pulau berbatu ini, hanya tulisan Timang saja, namun kita bisa sedikit mengeksplor berbagai angle untuk foto dengan bantuan mas-mas pendamping tadi.

Memang untuk ke Pantai Timang ini tidak dikenai biaya masuk, tapi jika ingin foto-foto di beberapa spot selfie di sekitarnya akan dikenai biaya mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 30.000 per orang untuk fasilitas yang tak seberapa bagusnya. Jadi harap membawa uang lebih banyak, karena untuk obyek wisata sekelas Jogja tergolong menguras kantong.


Tips :

- Jika membawa kendaraan, pastikan kendaraan dalam keadaan sehat.
- Tidak disarankan menggunakan kendaraan sedan atau yang kendaraan berbentuk ceper.
- Parkir mobil tidak lebih dari Rp 10.000.
- Jangan mencoba bongkar pasang lensa, karena di sini anginnya sangat kencang, rawan terkena sensor.
- Pakailah sepatu untuk melindungi dari tajamnya batu karang.