Unik, Ada Pemandangan Mirip Chocolate Hills di Wonogiri

Bagi saya, libur lebaran kurang lengkap rasanya tanpa mudik ke kampung halaman orangtuaku di Wonogiri. Di Kabupaten Wonogiri memang tidak setenar Bali atau Jogja untuk urusan obyek wisatanya, tapi di sini juga banyak lokasi menarik yang tidak boleh dilewatkan begitu saja seperti Bukit Cumbri di Kecamatan Purwantoro.



Ada banyak cara menuju Bukit Cumbri, yaitu bisa naik bis atau pun menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil. Bagi yang berangkat dengan rombongan, memang lebih efektif menggunakan mobil.

Untuk mencapai lokasi Bukit Cumbri ini dapat ditempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Wonogiri. Sebagai patokan jalannya, 20 meter sebelum gapura perbatasan Ponorogo beloklah ke kiri, menuju jalan desa yang menanjak. Di sini terdapat 3 jalur yang dapat dilalui untuk mencapai puncaknya. Saat sampai di pertigaan desa, bisa mengambil jalan yang lurus jika ingin mencoba jalur yang terjal. Namun, pada kali itu saya memilih belok kanan untuk melalui jalur yang lebih landai.



 Di basecamp pendakian terdapat tempat yang bisa digunakan untuk beristirahat, warung, dan juga terdapat mushola. Uniknya lagi, di sini juga tersedia wifi, jadi kita bisa tetap update di sosial media. Malam itu saat sampai basecamp pendakian, saya memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, lalu melanjutkan pendakian pada pukul 03.00. Hal ini biasa dilakukan jika ingin melihat sunrise tanpa perlu mendirikan tenda di atas.

Foto : @dolanmburiomah

Perjalanan menuju puncak bukit dapat ditempuh sekitar 1 jam dengan berjalan kaki. Saat sampai di puncak, ternyata sudah banyak orang yang bersiap-siap untuk memotret matahari terbit. Tidak hanya pengunjung dari luar kota, tapi juga banyak warga sekitar yang turut menikmati sunrise di puncak bukit ini. Akses menuju puncak Cumbri ini memang tergolong mudah dan aman, namun kita tetap perlu hati-hati saat melewati punggungan dan mencapai puncak, karena tempat yang tidak besar dan terdapat jurang di sekelilingnya.


Setelah mempersiapkan kamera, yang ditunggu-tunggu pun tiba juga, yaitu matahari terbit di balik megahnya Gunung Lawu dari kejauhan. Namun sayang, saat itu tidak ada kabut di sekeliling bukit ini, padahal justru kabut itulah yang membuat lebih dramatis tempat ini, jadi seolah-olah berada di atas awan.


Salah satu pemandangan yang khas di sini adalah adanya kumpulan perbukitan yang mirip sekali dengan Chocolate Hills di Filipina. Keindahannya dapat memanjakan mata dan memberikan ketenangan. Sebagai informasi, perbukitan ini termasuk Kawasan Geopark Karst Gunung Sewu lho dan telah diakui dunia dan ditetapkan sebagai World Natural Heritage karena memiliki nilai ilmiah dan estetika yang tinggi. Maka dari itu kita sebagai pengunjung harus menjaganya dan merawatnya, dengan tidak meninggalkan sampah, merusak atau mengotori kawasan ini.

Pagi itu dari kejauhan terdengar seperti ada suara meriam yang bersahutan, dan tidak lama kemudian ada beberapa balon udara yang terbang. Ternyata ini adalah salah satu tradisi di Ponorogo dalam merayakan lebaran. Jika diperhatikan, suasana balon-balon yang berterbangan ini mirip sekali dengan suasana di Cappadocia Turki.

Meskipun begitu, ternyata tradisi menerbangkan balon udara di sini sangat membahayakan penerbangan, karena melalui jalur penerbangan, dan sudah banyak juga kasus balon udara yang jatuh menimpa pemukiman warga. Jadi sangat disayangkan sekali. Namun begitu, pemandangan yang indah di sini sudah cukup memuaskan mata saya dalam menikmatinya.