Cafe di Sini Semua Pegawainya "Berkebutuhan Khusus"

Siang itu saya bela-belain ke Serang hanya untuk mengganti SIM Card di salah satu provider berwarna kuning, karena di Cilegon nggak ada gerainya. Saat saya ingin masuk ke gerainya, perhatian saya teralihkan ke sebelah kiri, melihat spanduk yang berisikan :


 
Dari situlah timbul rasa penasaran untuk memasukinya. Ternyata Bubble Cafe & Gallery yang terletak di Jl. Raya Cilegon No. 73 Kepandean Serang ini memiliki konsep yang sangat berbeda dengan yang lainnya yang terletak. Dari namanya terkesan biasa saja, seperti cafe lain pada umumnya. Namun bila kita berkunjung ke sana kita akan melihat keunikan di dalamnya, yaitu semua pegawainya adalah orang-orang berkebutuhan khusus, seperti autisme, tunagrahita, dan juga tunarungu.

Saat sebelum masuk, pada bagian depannya telah dipasang spanduk yang menjelaskan bahwa cafe tersebut dikelola oleh orang-orang berkebutuhan khusus agar memakluminya. Bagian luarnya terdapat sebuah ayunan dan ditata sangat menarik sehingga sangat fotogenik, lalu bagian dalamnya pun sangat bagus sekali, karena di dindingnya banyak terdapat lukisan karya anak-anak berkebutuhan khusus.



Makanan yang disediakan juga cukup unik. Kita bisa menikmati berbagai macam olahan bakso yang berbentuk kotak, yang pastinya tanpa bahan pengawet dan juga MSG alias micin makanan favorit kids jaman now. Selain itu juga terdapat pilihan lain seperti nasi gepuk, siomay, dan batagor. Untuk makanan penutupnya kita bisa mencicipi pudding, es krim, dan jus yang disajikan dengan menarik. Semua makanan itu dibuat juga oleh anak-anak berkebutuhan khusus tadi, dan rasanya juga tidak kalah lezat dengan makanan pada umumnya. Harganya pun juga sangat terjangkau, dan bagusnya lagi, setiap bertransaksi di sini, 2,5% dari keuntungannya akan didonasikan untuk pendidikan dan tumbuh kembang anak-anak berkebutuhan khusus di pelosok Banten. Jadi kita bisa makan sambil beramal kepada sesama.
 


Ada hal yang lucu saat saya bertransaksi di sini. Ketika ingin membayar di kasir, tiba-tiba salah seorang pegawainya berbicara dengan nada tinggi seolah-olah seperti membentak. 

"ADA UANG PAS NGGAK ?!!!" kata orang itu.

"Wah, nggak ada" jawab saya pelan.
Awalnya saya ingin marah, tapi langsung teringat dengan puisi di dekat pintu masuk bahwa kita sedang berada di kawasan bebas dari rasa marah, kesal, sedih, dan kecewa, karena yang kita hadapi adalah orang-orang berkebutuhan khusus., jadi harus memakluminya dan banyak bersabar.

 

Dari kejadian itu, tidak lama kemudian seorang pemiliknya yang bernama bu Kris, yang juga merupakan ketua yayasan datang menghampiri saya dan menjelaskan bahwa kasirnya tersebut adalah seorang autisme, jadi emosinya seperti tidak terkendali dan berbicara dengan nada tinggi, padahal sebenarnya dia tidak marah dan tidak ada maksud untuk menyinggung orang lain. Tapi meskipun begitu dan sudah dijelaskan oleh pengelolanya, masih ada saja pengunjung lain yang terbawa perasaan sehingga memutuskan untuk memilih tempat makan lain.

Tidak mudah memang mempekerjakan orang-orang berkebutuhan khusus seperti ini, karena dibutuhkan lebih banyak kesabaran untuk mengajarkan berbagai hal yang baru yang sesuai standar pada umumnya. Sejak dibuka pada 3 September 2017 lalu, Bubble Cafe & Gallery memiliki sedikit kendala, seperti perhitungan keuangan yang salah dengan selisih mencapai Rp 200.000 dalam sehari dan juga masalah komunikasi. Meskipun begitu, pemiliknya tidak terlalu mempermasalahkan karena mereka juga dalam tahap adaptasi  dan masih belajar.

 

Selain menjual aneka makanan dan minuman, cafe ini juga terdapat galeri seni yang terletak di lantai 2. Di sini mereka memajang berbagai macam karya dari anak-anak berkebutuhan khusus seperti lukisan, kerajinan tangan berupa selimut, sarung bantal, gantungan kunci, dan berbagai macam souvenir lainnya yang dijual untuk umum. Tidak hanya itu, galeri ini pun juga bisa digunakan untuk tempat rapat ataupun acara perayaan ulang tahun. Cafe ini buka setiap hari mulai dari jam 10.00 -  21.00.
 

Untuk bisa bekerja di sini, para pegawainya telah lulus sekolah khusus dan telah mendapatkan berbagai pelatihan keterampilan, jadi mereka diberdayakan untuk bekerja agar bisa setara dengan orang-orang normal pada umumnya.