Mengamati Tempat Pengamatan Satwa Liar dari Canopy Trail Ciwalen


 Memang agak susah ya cari temen yang mau diajak jalan secara dadakan gini. Rencana itu ada saat hari Kamis, dan saya menggebu-gebu pengen banget main ke Cibodas sekedar untuk mencari kesejukan dan menenangkan pikiran dari kepenatan ibukota.

Jumat malam selepas pulang kerja, saya melaju sendiri naik motor ke Cibodas. Dari Jakarta saya sempatkan mampir ke Cozmeed Depok untuk mengembalikan tas Chumbu Step X60 ke Mas Ade. Saat sampai Bogor Selatan menuju Ciawi, saya berhenti sejenak, menepikan motor untuk mengecek instagram :D Tidak lama kemudian ada seorang bapak-bapak yang datang menghampiri saya.

"Mas, mau ke mana ?" kata bapak itu.

"Oh, mau ke puncak pak, ke Cibodas" kata saya.

"Boleh saya numpang sebentar gak ? deket kok satu arah ke situ".

Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 22.30 dan sudah tidak ada angkutan umum lagi. Saya sempat berpikir sejenak, bukannya tidak ingin menolong, tapi was-was takut dia berbuat jahat. Karena yang saya takutkan adalah dia membawa saya ke hotel atau villa lalu disodomi rame-rame bersama teman-temannya.

Setelah saya berdoa dalam hati meminta perlindungan Tuhan dan pasrah akhirnya saya menyetujui untuk mengantarkan bapak itu ke tempat tujuannya. Sepanjang perjalanan bapak ini tanya-tanya maksud dan tujuan saya pada malam itu. Untung saja semua yang saya khawatirkan itu tidak terjadi, dan keperjakaan saya masih tetap utuh. Bapak itu turun tidak jauh dari tempat menumpang, ya sekitar 3 km. Dari situ saya langsung melaju dengan cepat menembus gelap dan dinginnya daerah puncak.

img_20161119_073601

Sekitar pukul 00.15 saya sampai Cibodas dan langsung menuju basecamp Green Ranger Indonesia untuk bermalam. Di sana ternyata sudah ada dua orang pendaki yang ingin trail running ke Puncak Gede. Bang Idhat Lubis langsung menyambut saya dan mempersilahkan untuk langsung istirahat di dalam. Tak lama kemudian datang rombongan pendaki dari Bogor sekitar 5 orang, mereka semua masih ABG dan bermaksud untuk menyewa perlengkapan mendaki. Si Mama keluar dari ruangan bersama 3 anjingnya yang lucu untuk menyapa para pendaki itu. Tak lama kemudian mereka dimarahin Mama gara-gara mereka tidak membawa peralatan lengkap. Saya di situ hanya bisa tersenyum sambil menyantap indomie melihat mereka dimarahi.

img_20161119_0742591

Pagi yang cerah membuka semangat hari itu. Saya langsung menuju resort taman nasional untuk melakukan registrasi. Untuk masuk ke canopy trail Ciwalen tidak perlu membooking terlebih dahulu seperti pendakian ke puncak. Saat ingin membayar saya kaget karena harganya mahal sekali, mereka mematok harga Rp 90.000 karena saya datang sendiri. Padahal menurut Satya Winnie harga tiket masuknya per orang Rp 31.000 sudah termasuk pemandu. Lalu saya coba menawar, dan akhirnya diputuskan harga Rp 60.000, meskipun buat saya masih mahal tapi ya ok lah, daripada sudah sampai sini tapi tidak jadi.

img_20161119_085148

Untuk menuju canopy trail, dari resort ditempuh sekitar 15 menit. Di sini diwajibkan menggunakan pemandu, karena merupakan area khusus yang biasa digunakan untuk pengamatan satwa arboreal dan juga macan tutul. Pada awalnya jalur ini adalah jalur khusus yang biasa digunakan untuk penelitian dan pendidikan, namun pada bulan Oktober 2014, lokasi ini sudah dibuka untuk umum.

ren_5281

Saat itu saya ditemani oleh Bang Jack dari Montana. Dia membukakan gembok yang mengunci pintu canopy nya. Ketika melewati jembatannya saya agak sedikit pusing, karena jembatannya bergoyang-goyang dan terombang-ambing seperti naik kapal tradisional. Canopy Trail yang dibangun pada tahun 2010 ini memiliki panjang lintasan 130 m, tinggi 40 m, dan memiliki kapasitas 300 kg atau sekitar 5 orang dewasa. Jadi bagi yang ingin berfoto di sini harus gantian dan berhati-hati.

Memang tidak mudah untuk menemukan macan tutul di sini, karena macan tutul adalah binatang nocturnal yang aktif di malam hari. Butuh waktu pengamatan lebih lama dan kebetulan waktu itu saya tidak membawa lensa tele, jadi saya hanya mengamati tempat pengamatannya saja.


img_20161119_084136

Dari canopy trail saya lanjutkan menuju Curug Ciwalen yang letaknya tidak jauh dari situ. Nama curug (air terjun) ini diambil dari nama pohon Ciwalen yang berada di sekitar air terjun. Kebetulan saya datang saat musim hujan, jadi debit airnya banyak sekali. Di curug ini sangat cocok untuk bersantai, nyusu sambil menikmati suasana alam yang tenang, karena tidak banyak pengunjung yang datang ke sini.

Di pertigaan jalan utama saya dan Bang Jack berpisah, karena memandunya hanya sampai di sini, lalu saya putuskan untuk lanjut naik ke Curug Cibeureum. Bagi yang telah memiliki tiket ke Canopy Trail tidak perlu membayar lagi jika ingin ke Curug Cibeureum, sebaliknya, bagi yang dari Cibeureum dan ingin ke canopy harus membayar lagi tiket yang berbeda.

img_20161119_101433-011

Di Curug Cibeureum tidak terlalu ramai seperti biasanya, di situ saya mencari pohon untuk menggantungkan perasaan hammock, tapi sayangnya saya tidak menemukan spot yang bagus dan tenang. Maka dari itu saya memutuskan turun kembali menuju ke Telaga Biru.

DCIM101MEDIA

Di Telaga Biru letaknya di pinggir jalur pendakian, jadi seringkali orang yang ingin mendaki mampir ke tempat ini untuk sekadar foto. Telaga Biru disebut demikian karena airnya berwarna kebiruan, tapi kadang juga berubah menjadi hijau bahkan coklat, tergantung pertumbuhan alga di dalamnya. Dulu saat saya ke sini tahun 2004 ada dermaganya, tapi sekarang dermaganya rusak dan tidak diperbaiki sampai sekarang.

img_20161119_115718

Awalnya saya memasang hammock tepat di pinggir telaga, namun ternyata lokasi tersebut merupakan spot yang biasa digunakan untuk berfoto, jadi saya memutuskan untuk pindah lokasi agar tidak mengganggu pemandangan orang-orang :D

Menurut bang Idhat, ada 2 tipe pendaki, yang pertama adalah yang fokus berolahraga dan mencapai target dengan cepat seperti trail runner, dan yang kedua adalah penikmat alam, yaitu orang-orang yang benar-benar menikmati alam setiap jengkalnya secara mendalam dan menyatu dengannya. Saya termasuk yang kedua. Di sini saya benar-benar menikmati ritual dengan alam tanpa gangguan. Tidak masalah jalan sendiri, yang penting berkualitas dan lebih intim dengan alam. Tapi gak enaknya adalah gak ada yang bisa disuruh-suruh untuk motretin :D